[INDONESIA-L] TEMPO - Peluang di Te

From: apakabar@Radix.Net
Date: Mon Dec 07 1998 - 14:04:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Dec 7 18:01:51 1998
Date: Mon, 7 Dec 1998 16:02:32 -0700 (MST)
Message-Id: <199812072302.QAA26404@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@Radix.Net
Subject: [INDONESIA-L] TEMPO - Peluang di Tengah Pengangguran
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi.asp?rubrik=med&nomor=1
   
   Peluang di Tengah Pengangguran
   
   Tabloid politik bermunculan. Tapi Peluang memilih menjadi satu-satunya
   media yang menggarap tema lowongan kerja, yang pernah gagal dilakukan
   Paron.
     _________________________________________________________________
   
   Sampul mukanya tak ubahnya tabloid hiburan. Tiga nomor awal Peluang
   memasang wajah penyiar Ira Koesno, artis Elma Theana, dan penyanyi
   Yuni Shara. Padahal tabloid yang mulai dilempar ke pasar November lalu
   itu tak ada urusannya dengan artis. Ini satu-satunya tabloid di
   Indonesia yang khusus menginformasikan lowongan kerja, di tengah
   membanjirnya tabloid politik.
   
   Melawan arus? Mungkin tidak. Di tengah krisis ekonomi ini, ada 18 juta
   korban pemutusan hubungan kerja. Belum lagi angkatan kerja yang baru
   lulus dari perguruan tinggi. Teorinya, mereka membutuhkan informasi
   lowongan pekerjaan dan ide usaha yang bisa memberikan penghasilan
   ekstra.
   
   Tabloid ini lahir dari gagasan Joko Santosa H.P., yang bertahun-tahun
   berkutat di industri iklan. Ide itu muncul setelah ia terkesan oleh
   suplemen sebuah terbitan Hong Kong yang isinya hanya lowongan kerja.
   Kemudian ia mencoba membuat dummy dan mentabulasikan iklan lowongan di
   berbagai media. "Ketika selesai, saya kaget, ternyata guntingan koran
   yang saya kumpulkan itu bisa menjadi satu koran sendiri. Sejak itu
   saya dalami ide ini dan saya buat proposal. Tapi waktu itu saya nggak
   dapat-dapat investor,'' ujar Joko, yang kini dipercaya menjadi
   pemimpin redaksi Peluang.
   
   Dari sudut segmen pencari kerja, sebenarnya Peluang bukanlah yang
   pertama. Beberapa tahun lalu pernah ada tabloid Paron, yang sebelum
   mengubah haluan menjadi tabloid politik, sempat menggarap dunia kerja.
   Tapi tabloid ini akhirnya gulung tikar juga di jalur politik.
   
   Peluang tak ingin seperti Paron, yang terkesan membidik pencari kerja
   kelas menengah ke bawahsegmen yang tidak diminati pengiklan. "Target
   audience kami bukanlah penganggur, tapi lebih kepada yang ingin pindah
   kerja,'' kata Joko.
   
   Tak berarti jalan Peluang menambang iklan jadi mulus. Menurut media
   buying manager biro iklan multinasional JWT AD-Force, Latifah, tabloid
   pada umumnya kurang diminati pengiklan. Apalagi media yang sangat
   spesifik seperti Peluang. Alasannya, kertas koran yang dipakai tabloid
   kurang bergengsi untuk mengangkat citra merek yang diiklankan. "Orang
   lebih memilih memasang iklan di majalah. Ini sudah menjadi rumusan
   baku," ujar Latifah. Itu sebabnya pengiklan yang memasang iklan di
   Nova, misalnya, masih merasa perlu beriklan pula di Femina. Padahal
   tiras tabloid Nova jauh lebih besar daripada majalah Femina.
   
   Namun, banyak juga yang memanfaatkan jasa Peluang. Beberapa perusahaan
   yang iklan lowongan kerjanya terpasang, misalnya, mengaku mendapat
   respons lumayan dari pembaca media baru ini. Very Ryang Hepat,
   managing partner sebuah perusahaan pencari tenaga profesional yang
   biasa disebut headhunters, mengaku telah menerima 40 surat lamaran
   setelah iklannya dimuat di tabloid ini. Karena itu, ia bermaksud
   merancang iklan lowongan satu halaman penuh lagi. "Saat ini banyak
   sekali perusahaan yang bergerak dalam bidang apa saja yang membutuhkan
   karyawan," kata Very, tapi ia tak menyebutkan seberapa besar order
   yang ia terima. Ia menduga banyaknya permintaan ini karena setelah
   krisis berakhir mencari tenaga kerja tidak akan semudah sekarang.
   
   Anehnya, Peluang justru tidak akan menjaring iklan sebagai penopang
   bisnisnya. Gratis pada nomor-nomor awal, iklan lowongan selanjutnya
   hanya kena "tarif sumbangan untuk sembako". "Itu tidak untuk income
   kami," kata penyandang dana dan Pemimpin Umum Peluang, Hajah Endang
   Pudjiastuti. Dengan target tiras 75 ribu eksemplar, mereka yakin bahwa
   modal Rp 3,5 miliar yang telah dikeluarkan akan kembali dalam dua
   tahun.
   
   Menurut ahli pemasaran Rhenald Kasali, ide Peluang sebetulnya cerdik.
   Tapi tabloid itu masih belum digarap dengan baik sehingga pembaca
   tidak bisa langsung membedakannya dengan tabloid lain. "Tampaknya
   mengarah kepada mereka yang mencari side job, lebih mengarah pada
   kewirausahaan, bukan lowongan. Ini kesan pertama saya, dan kesan
   pertama itu penting," kata Rhenald.
   
   Apakah Peluang berpeluang untuk maju, sulit ditebak di tengah ratusan
   Surat Izin Usaha Penerbitan Pers yang terbit dengan gampang seperti
   sekarang.
   
   Gabriel Sugrahetty, Setiyardi, dan Raju Febrian