Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sat Nov 21 19:34:25 1998
Date: Sat, 21 Nov 1998 17:35:04 -0700 (MST)
Message-Id: <199811220035.RAA15830@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@access.digex.net
Subject: [INDONESIA-L] UMMAT - Kesaksian dari Jalanan
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
X-URL: http://www.ummat.co.id/ummat/No.20_IV_23nov98/rampai.htm
Rampai
[INLINE]
Kesaksian dari Jalanan
Anak jalanan meniti nasib berdasarkan dua nilai: kebebasan dan
pengakuan. Tapi kebanyakan masyarakat dan pemerintah melihatnya dari
sisi yang terlalu naif. Bahwa, kehadiran "bunga-bunga trotoar" itu
merusak keindahan kota dan menebarkan kejahatan di lampu-lampu merah.
Rasanya, hanya sedikit saja yang mau mengerti bahwa mereka juga rindu
diakui eksistensinya. Anak jalanan: realitas ataukah deviasi sosial?
Inilah hasil investigasi Tim UMMAT yang terdiri dari Tulus Widjanarko,
Telni Rusmitantri, Agus Faisal Karim, Yadi Sastro, dan Hamid Abidin
selama beberapa pekan ke kantong-kantong anak jalanan Ibu Kota.
[INLINE]
Anak Jalanan:
Kebebasan dan Pengakuan
Jakarta menjelang tengah malam. Sisa-sisa romantika kehidupan siang
tadi belum tuntas benar. Lima anak dekil tampak berkelebat membelah
jalanan. Sepenggal hari-sama dengan hari-hari kemarin-kembali telah
mereka lakoni. Hari ini "kerja" telah dituntaskan. Kini, mereka
memutuskan melewati malam bersama-sama. Dari balik kaos, tersembul
lima kaleng lem aica aibon.
Sebuah bus kota jurusan Blok M - Tanjung Priok perlahan melintas.
Sigap kaki-kaki dekil itu melompat masuk untuk segera menguasai jok
paling belakang. Di sanalah mimpi-mimpi berusaha mereka wujudkan
dengan menghirup sekaleng lem aica aibon-seraya mempersetankan
penumpang lain. Fly.
Apakah yang mereka cari dari sekaleng lem pemantik khayal itu? Bisa
jadi mereka sedang berusaha merekatkan harapan-harapan yang nihil
diperoleh dari kehidupan rumah dengan realitas jalanan. Di rumah tak
ada ketenteraman, kenyamanan, apalagi kehangatan hubungan
antarkeluarga. Anak jalanan dilihat banyak kalangan sebagai anak yang
tercerabut dari kehidupan keluarganya atas nama seribu alasan.
"Ayah meninggal waktu saya masih kecil. Lalu ibu kawin lagi dan ayah
tiri tak menghendaki saya," kisah Edi Rahmat (12 tahun), anak jalanan
di kawasan Pasar Minggu. Edi dulu tinggal di Medan dan memilih kabur
atas penolakan ayah tirinya itu.
"Kedua orang tua saya cerai. Kedua-duanya tak mau mengurus saya.
Sampai kini, saya tak mau lagi mengaku mereka sebagai kedua orang
tua," tutur Yono, bocah asal Tegal rekan Edi.
Tetapi alasan yang lebih besar agaknya adalah faktor kemiskinan.
Rata-rata anak jalanan yang ditemui UMMAT terpaksa memilih kehidupan
jalanan tersebut untuk membantu keluarga mencari nafkah.
Adalah Rizal (6 tahun), yang tiap hari mengasong permen jahe di
sekitar stasiun Pasar Minggu sekadar untuk menambal biaya kebutuhan
dasarnya sendiri. Abangnya, Siyon (8 tahun), melakukan hal serupa di
sekitar peron stasiun yang sama. Ibu kedua anak malang ini sudah
meninggal, sementara ayah mereka tak jelas apa pekerjaannya.
Menurut I.B. Karyanto (35 tahun), penanggung jawab Sanggar Akar yang
biasa menangani pembinaan anak jalanan, biasanya anak-anak tersebut
memang memiliki latar belakang keluarga kurang sedap. "Mereka memilih
menghindari keluarga dan survive di jalanan," katanya. Dan, sejatinya
di jalanan itulah eksistensi mereka diterima-tentu oleh sesama anak
jalanan lainnya.
Roostien Ilyas (48 tahun), Ketua Yayasan Dian Nusantara, memberikan
ilustrasi berikut. Menurutnya, tak sedikit anggota masyarakat yang
kebetulan bernasib baik gagal memahami keberadaan anak jalanan. Mereka
menanyakan, kenapa anak-anak itu suka keluyuran di jalan yang panas,
berdebu, dan dingin di waktu malam?
Inilah salah satu faktanya. Rumah tinggal anak jalanan biasanya
hanyalah berukuran sepetak, 4x4 meter, dengan 8 penghuni. Saking
dempetnya jarak antar-rumah, matahari tak pernah menyentuh ruang
dalam. Kesumpekan ruang ini masih sering ditambahi sumpeknya batin
akibat kekerasan yang datang dari keluarganya sendiri-biasanya dampak
ikutan dari ketidakberuntungan ekonomis. "Maka larilah mereka ke jalan
untuk merebut kebebasannya. Di sana mereka bisa cari duit sekaligus
main-main sepanjang hari," urai Roostien.
Oleh perjalanan waktu, cara hidup macam itu tak jarang menjadi semacam
"pandangan hidup". Di jalanan mereka menemukan dua hal terpenting:
kebebasan dan pengakuan. Berdasarkan dua hal itulah mereka "berkelahi"
dengan nasib hingga tetap survive.
Itu sebabnya, ketika pemerintah belakangan melancarkan program
pembersihan anak jalanan dari jalan-jalan Ibu Kota dengan batas waktu
yang fantastis, yakni 3 bulan, tak banyak yang optimistis. Bagaimana
mungkin sebuah cara hidup yang telah begitu mendarah daging ditebas
begitu saja dengan solusi yang terkesan instan?
Sejak awal November, Pemda DKI Jaya telah melakukan penggarukan paksa
sekitar 400 anak jalanan dari perempatan jalan untuk ditempatkan di
rumah-rumah singgah. Anak-anak itu diberi biaya Rp 7.500 per hari dan
masih diperbolehkan melakukan aktivitasnya di terminal, stasiun, atau
pasar.
"Penggarukan paksa itu tidak manusiawi dan dana yang tersedia (Rp
7.500 per hari per anak) malah membuka celah korupsi," demikian
pernyataan protes Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI). "Tindakan itu
juga tidak memikirkan dampak sosial psikologis anak jalanan," ujar
Erwin Pardede, Koordinator FPAI.
Bagi Roostien, political will pemerintah macam itu hanya akan membuat
aparat pemerintah di bawah berpikir, pokoknya anak jalanan harus
bersih dalam tiga bulan-apa pun caranya. Pikiran Roostien ini ada
benarnya. Sebab, terjemahan secara sederhana macam itulah yang acap
terjadi di masa Orde Baru dulu. "Sebenarnya mereka mau menghilangkan
kemiskinan atau orang miskin?" tanya Roostien.
Cara kerja pemerintah itu juga mengabaikan definisi anak jalanan yang
mereka bikin sendiri. Intinya, anak jalanan dibagi ke dalam empat
kategori: mereka yang sepenuhnya hidup di jalan, anak yang bekerja di
jalanan, anak yang rentan menjadi anak jalanan, dan mereka yang
berusia di atas 16 tahun. Kategori kedua dan ketiga biasanya masih
memiliki dan tinggal dengan orang tua. Bagaimana mungkin mereka
dipaksa tinggal di "rumah singgah"?
Anak jalanan adalah kenyataan sosial yang memiliki hak-haknya sendiri
untuk mencari nafkah. Mereka bukanlah bagian dari deviasi sosial yang
harus dienyahkan dari jalan-jalan dan lampu merah. Menggaruk mereka
secara paksa pada hakikatnya adalah mencampakkan sebagian dari diri
kita sendiri ke dalam lumpur noda.
Rizal hari itu tahu, permennya tak laku semua. Mungkin ia akan makan
malam tanpa lauk...
[INLINE]
Tembang Sepanjang Jalan
"Kalau pertama mencoba, sih, biasanya gratis, Mas. Kadang malah
pelacurnya yang ngasih duit," kata Galib, seorang anak jalanan di
Pasar Minggu, mesem. Pengakuan Galib ini-ia tak mau disebut nama
aslinya-barangkali mengejutkan sebagian dari kita. Tapi apa daya,
itulah yang sebenarnya terjadi. Bahkan, bukan hanya Galib seorang yang
mengalaminya. Barangkali bagi kaum moralis hal ini akan cepat menjadi
bahan untuk menghujat dengan keanggunan kata-katanya.
Tetapi, seks hanyalah satu soal saja dalam kehidupan anak-anak
jalanan. Dan khotbah saja mustahil mampu menuntaskan problematika
sosial "kaum Galib" itu? Problematika anak jalanan adalah lebih pada
menjawab pertanyaan: apa yang bisa mereka makan hari ini? Di balik
pertanyaan inilah tersimpan tembang kehidupan yang kadang lebih ngenes
dari apa yang kita bayangan.
Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, misalnya, pertarungan melawan nasib
sudah dimulai sejak pukul 03.00 dini hari. Anak-anak jalanan di sana
bekerja sebagai kuli membantu pedagang pasar mengangkuti barang
dagangan. Biasanya di antara mereka sudah saling memiliki langganan
masing-masing. Upah yang diperoleh lalu dibelikan tas plastik untuk
kembali dijual kepada para ibu yang tengah belanja.
"Status" kuli sendiri tetap disandang jika ada ibu-ibu yang
membutuhkan tenaga mereka. Fase ini berlangsung antara pukul 05.00
sampai 08.00 WIB. "Setelah itu, baru kami istirahat atau sarapan
pagi," kisah Mohtar, rekan Galib, di Pasar Minggu. Mohtar mengaku,
dalam sehari ia bisa mengumpulkan pendapatan antara Rp 3.000 hingga Rp
5.000. Ia menyebut angka sebesar itu dengan kategori, "Lumayan."
Bagi yang beroperasi di terminal, stasiun KA, atau jalan-jalan raya,
jam kerjanya agak lebih siang. Tingkat kerajinan mereka pun kadang
dipengaruhi oleh siklus kerja pegawai formal (kantoran). Pukul 06.00
pagi, saat para pegawai berangkat kerja, anak-anak jalanan menyerbu
lokasi-lokasi yang ramai. Ngamen, jualan koran, menawarkan jasa semir
sepatu, atau jenis-jenis pekerjaan lain adalah pilihan mereka. Seperti
rekan-rekannya di Pasar Minggu, mereka bekerja sampai mendapatkan uang
untuk sarapan pagi. "Tapi kalau lagi males, saya cuma kerja sampai
tengah hari, Mas," kata Udin (13 tahun) enteng, pengamen di atas KA
Bogor-Jakarta.
Memang, di sekitar tengah hari anak-anak jalanan juga mengendorkan
kegiatan mencari nafkahnya. Mereka biasanya beralih menyerbu
tempat-tempat keramaian macam bioskop, mal, atau pertokoan. "Yah, main
ding-dong, aja," cetus Rudi (12 tahun), yang sehari-hari mangkal di
kawasan Tanah Abang. Sebagian yang lain memilih tidur seraya menunggu
petang hari saat mereka menawar nasib kembali di sekitar pukul 16.00
WIB. Inilah saatnya orang pulang kantor.
Mencermati cara anak jalanan memperlakukan waktu, bisa diambil
petunjuk bahwa kebebasan adalah sendi utama kehidupan mereka. Yang
mengatur mereka bukanlah norma-norma formal atau etik sosial.
Anak-anak sejarah itu sepenuhya bergerak dengan insting mereka
sendiri. Alias, jangan dibayangkan bahwa informasi jam kerja di atas,
misalnya, merupakan pola baku siklus kerja anak jalanan.
Andri (12 tahun), contohnya, terbiasa begerak dari pukul 09.00 sampai
sore hari. "Kantornya" adalah setiap bus kota yang biasa melintas di
sepanjang Jalan Diponegoro, Jakarta Selatan. Di atas bus kota itulah
Andri menjual suaranya yang lumayan diiringi ketimpring Imam Kusnadi
(11 tahun), seorang rekannya. Toh, Andri yang jebolan kelas V SD
Paseban, Jakarta Pusat, ini merasakan kebebasan yang dimilikinya belum
maksimal. "Saya ingin cepat gede, biar bisa ngapain saja," katanya
bercita-cita.
Jika Andri masih harus menyerahkan sebagian penghasilannya kepada
orang tuanya yang berdagang kecil-kecilan di Pasar Pramuka, tidaklah
demikian dengan anak jalanan tulen (yang 100% hidupnya di jalanan).
Adalah Yono (15 tahun) yang memilih berkeringat di jalanan sejak orang
tuanya cerai. Penghasilan yang diperolehnya seharian selain untuk
makan-minum juga untuk main ding-dong. Yang terakhir ini tentu bukan
kebutuhan dasarnya. "Kalau ada lebihnya, kadang untuk mandi," ujarnya
kalem. Maklum, mandi di pasar juga butuh biaya.
Kebebasan itu juga tampak pada apa yang ingin mereka kerjakan hari
ini-meski tak semuanya begitu. Tengoklah Yadi (13 tahun), seorang anak
jalanan yang biasa beroperasi di perempatan Kebayoran Lama, Jakarta
Selatan. Kalau lagi tak ingin jualan tas plastik di pasar, anak asal
Rangkasbitung, Jawa Barat, ini biasanya menawarkan jasa semir sepatu.
"Tapi yang paling saya sukai adalah ngamen," ujarnya. "Habis, sering
dapat uang banyak, sih.
Kebebasan paling mutlak-selain seks-tentulah saat mereka ingin ngelem,
yaitu merangsang khayalan dengan cara menghirup lem aica aibon. Yadi,
misalnya, mengaku akan melakukannya jika ada yang mengajak. "Habis,
rasanya enak, sih," katanya beralasan. Toh, ia tak ingin melakukannya
lama-lama. "Bisa sempoyongan, Mas."
Yadi sebaiknya memang tak usah melakukan itu terlalu sering. Lebih
baik baginya mungkin tetap menggantung cita-cita semampu yang ia
bayangkan. Seperti cita-cita Ali Aprilianto (12 tahun), anak jalanan
di Pasar Minggu, yang ingin menjadi ABRI-sekalipun ia paham bahwa itu
mustahil diraihnya. "Kini saya sudah cukup senang bisa menulis dan
membaca. Agar tak ditipu-tipu orang terus," ujar anak yang acap
dipanggil Ali Topan ini.
Bukankah cukup sederhana apa yang mereka inginkan?
[INLINE]
Pada Bahasa, Mereka Nyablang
Di kalangan anak jalanan, bahasa menjadi alat untuk melepaskan diri
dari nilai-nilai. Makna sebuah kata tidak berhubungan langsung dengan
perilaku baik atau buruk. Misalnya, tidak seperti ketika kita bilang
"munafik" untuk para badut politik atau "penjilat" bagi birokrat
bermental rendah. Kedua kata tersebut jelas sekali makna negatifnya
(meskipun sering yang bersangkutan selalu siap dengan tetek-bengek
pembenaran).
Bagi anak jalanan, bahasa-bahasa yang mereka ciptakan sendiri lebih
merupakan simbol atas marginalisasi sosial yang mereka alami.
Misalnya, mereka menyebut garukan atau digaruk saat terjadi
penangkapan oleh aparat pemerintah. Dalam keseharian, kosa kata itu
kita gunakan untuk sebuah perkejaan yang berhubungan dengan tanah.
Bagi anak-anak jalanan yang beroperasi di atas kerata api, berlaku
istilah hoyen atau ngoyen. Artinya, mengais makanan sisa di gerbong.
Istilah malak cukup dikenal sebagai kegiatan meminta uang dari pihak
lain yang lebih lemah. Sementara kalau hal itu mereka lakukan terhadap
anak-anak sekolah, sebutannya berubah menjadi narget atau majek. Yang
terakhir ini barangkali dari asal kata pajak.
Sama-sama mengambil hak barang orang lain, kalau dilakukan dengan
mencuri atau merampas, diberi cap nothok atau nyablang. Tapi kalau
barang itu dicuri dari sesama anak jalanan yang lagi tidur,
diistilahkan dengan ndidis. Anda penah kehilangan kaca spion mobil
sewaktu di perempatan jalan? Nah, anak jalanan yang melakukan itu
sedang melakukan kegiatan nguping. Kaca spion memang mirip kuping
manusia-setidaknya dari letaknya yang ada di samping.
Istilah teler biasa disematkan bagi mereka yang lagi mabuk. Tapi anak
jalanan menyebutnya ngelem, karena sarana teler mereka adalah lem aica
aibon. Untuk kawannya yang keranjingan mabuk, akan disapa dengan
mabal, beler, atau giteng, yang berarti minuman keras. Kalau telernya
karena ganja, disebut dengan cimeng atau nggelek.
Nah, sekarang bagian paling seru, yaitu yang menyangkut hubungan
laki-perempuan (atau sejenis). Di- bool, adalah hubungan seksual
sesama anak jalanan lewat anus. Tapi, istilah itu bersifat dominatif,
karena yang melakukan lebih kuat secara fisik dan tidak atas dasar
suka sama suka. Ingat kisah Robot Gedek?
Sedangkan kalau dilakukan suka sama suka antara laki-perempuan,
istilahnya esek-esek atau nyolok. Anak jalanan juga punya sebutan
untuk sejawatnya sesama kaum marginal. Pelacur, misalnya, mereka
panggil dengan abal-abal atau bispak (bisa dipakai). Sedangkan pelacur
di bawah umur, namanya pecun atau perek culun.
Seperti hukum jalanan yang tak pernah pasti, sebutan-sebutan antar
mereka juga terus berkembang. Hanya nasib saja yang tak pernah menjadi
lebih baik.
[INLINE]
Pertaruhan Dua Jam di Bongkaran
"Terus saja, Mas, ikuti rel itu. Nanti ada bangunan berterpal biru. Di
situ tempat mereka belajar," kata seorang laki-laki menerangkan.
Sementara, tangannya tetap sibuk mengasah golok-entah untuk apa.
Hari itu matahari pukul 11.00 siang memanggang kawasan pelacuran
Bongkaran, Tanah Abang. Tak banyak orang lalu lalang. Hanya
sekali-sekali lewat kerata api meninggalkan suara menggemuruh.
Beberapa perempuan muda dengan penampilan kusut duduk-duduk di bangku
depan warung. Kentara mereka baru bangun tidur setelah semalam
menjaring nasib berbekal bedak-gincu dan sedikit harga diri.
Di kompleks itu ada belasan warung minum yang dibangun mirip ruang
dalam sebuah bar. Tak terlihat banyak kegiatan di sana. Tapi malam
hari, kawasan ini akan berubah menjadi banal. Musik dangdut
dimuntahkan dari stereo-stereo dengan kualitas ala kadarnya.
Perempuan-perempuan menor duduk seenaknya. Laki-laki penghamba nafsu.
Bir. Dan, transaksi harga diri demi lembar-lembar rupiah.
Sekitar 300 meter lebih ke dalam, Rosmaili (Rosi) setiap siang
mengunjungi anak-anak didiknya di sebuah kelas sederhana. Yang disebut
kelas adalah sebuah ruangan berukuran sekitar 15 meter persegi,
berdinding triplek setinggi pundak orang dewasa. Untuk menahan panas
dan hujan, ditebarkan plastik biru yang ditopang beberapa kayu.
Lantainya terbuat dari semen kasar yang dilapis karpet bekas tempat
anak-anak duduk. "Di sinilah proses belajar-mengajar dilakukan," kata
perempuan berusia 30-an itu. Tak jarang suaranya harus beradu keras
dengan suara kereta api yang lewat tepat di samping kelas.
Semula kawasan Bongkaran bukanlah tempat yang ramah bagi ibu dua anak
itu. Sudah sejak 1995 ia berusaha masuk ke sana. "Tapi germo-germo di
depan menghalang-halangi saya," kenangnya. Tampaknya, mereka cemas
bisnis syahwatnya akan terhambat oleh kehadiran perempuan berjilbab
tersebut. Tak hanya itu, aparat birokrasi yang menguasai kawasan
Bongkaran pun tak sepenuhnya nyaman dengan rencana Rosi.
Dengan berbagai pendekatan, akhirnya Rosi bisa diterima oleh dua
komunitas masyarakat yang mendiami Bongkaran. Baik komunitas yang
mengisi denyut kehidupan malam di warung remang-remang di bagian depan
Bongkaran, maupun komunitas masyarakat kelas bawah di bagian
dalam-yang menggantungkan hidup dari mengemis atau memulung. Dari
komunitas kedua inilah anak-anak jalanan binaan Rosi berasal.
Menyusul berbagai aksi kerusuhan yang memanggang Jakarta pada Mei
silam, sekolah Rosi resmi dibuka. Dan untuk berhadapan dengan segala
tetek-bengek birokrasi, Rosi mendirikan Yayasan Anak Bangsa untuk
memayungi kegiatannya itu. Maka, kelas yang didirikan di antara
permukiman liar dan jaringan rel KA itu pun memberikan aksen lain
dalam kehidupan marginal dunia Bongkaran. Suara anak-anak mengaji
mulai menyusup di antara gubuk karton dan warung-warung bir.
Anak-anak jalanan asal Bongkaran itu kini memiliki satu kegiatan baru
dalam siklus harian mereka. Dua jam dalam sehari, mereka menyisihkan
waktu untuk mencicipi suasana belajar. Tak tanggung-tanggung, menurut
pengakuan Rosi, ada 75 anak yang menunjukkan minatnya. "Kami terpaksa
membagi ke dalam dua kelas, yaitu pagi dan sore," terang lulusan
Universitas Padjadjaran, Jurusan Hubungan Internasional itu.
Mereka yang mendapat giliran pagi (pukul 10.00--12.00) akan belajar
agama dan pendidikan umum sebelum manjajal nasib di jalanan. Sementara
pukul 15.00--17.00, adalah jatah kelas sore, setelah seharian mereka
bertarung di jalan-jalan Ibu Kota. Entah dengan menjual koran, ngamen,
menyemir sepatu, atau sekadar mengemis.
Rosi cukup beruntung bahwa ia tak harus sendirian menghadapi anak-anak
jalanan itu. Ia hanya perlu mengajar "kelas pagi" dengan ditemani
Rosa, seorang lulusan PTS di Jakarta. Sementara "kelas sore",
dipercayakan kepada Mohammad Rosyid (49 tahun) --yang biasa disapa
Joni. Pria ini adalah salah seorang pemukim asli di Bongkaran dan
dituakan oleh kalangan pemukim liar di sana.
"Saya ikut pedih, Mas, menyaksikan nasib anak-anak itu. Sudah orang
tuanya susah, bagaimana pula nasib mereka nanti?" ujarnya. Maka,
harapannya mulai berbenih dengan kehadiran Rosi. Sepenuh hati ia
berusaha terlibat dalam proyek yang hingga kini minim perhatian
pemerintah tersebut.
Rosi, Joni, dan Rosa bukanlah aktivis LSM yang sering tampil membusa
di layar kaca atau media cetak mengatasnamakan rakyat tertindas-dan
sering tak bisa dibedakan dengan kegenitan politisi. Mereka hanya
berusaha menjalani panggilan hati tanpa pretensi apa pun. Sebab,
bukankah bisa dibayangkan apa yang dihayati anak-anak yang tumbuh
dengan aturan jalanan dan bertetangga dengan kawasan perdagangan
syahwat itu?
Sebuah kereta api lewat siang-siang. Suaranya bercampur ejaan
alif-ba-ta dari pita suara anak-anak jalanan. Siang semakin terik...
[INLINE]
Atas Nama Bapak, Emak, Adik...
Mereka Suka Minta Dipijitin
Yudi
(13 tahun), pengamen di perempatan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta
Kalau ngeliat anak-anak pakai seragam sekolah, saya suka ngiri.
Rasanya senang banget, ya. Tapi saya harus kerja. Pagi-pagi jualan
kantong plastik di pasar. Kadang keliling nyemir sepatu. Tapi, yang
saya paling suka ngamen. Habis, suka dapat duit banyak. Kalau
beruntung, sehari bisa dapat Rp 5 ribu. Tapi duitnya sering habis
untuk makan saja. Juga untuk bayar mandi di pasar. Kalau ada sisa,
uangnya ditabung di Bu Guru (Yudi adalah salah satu anak yang
dibimbing Yayasan Dian Nusantara pimpinan Roostien Ilyas _--Red.).
Dulu, saya pergi dari kampung (Rangkasbitung --Red.) waktu kelas II
SD. Habis, emak dan bapak di kampung hidupnya susah. Kemarin dulu,
saya pernah pulang kampung nengok keluarga. Saya kangen. Eh, sesampai
di sana ternyata keluarga telah pindah. Tetangga tak tahu pindah ke
mana. Saya sedih sekali. Soalnya, saya bela-belain ngumpulin duit buat
ongkos dan beli oleh-oleh. Sekarang, biar saya tinggal di Jakarta
saja.
Di sini seneng, gampang cari duit. Tapi saya sebel sama preman yang
sering minta duit. Mereka juga suka minta dipijitin. Kadang suka
ngerjain juga. Keamanan pasar sini juga galak sekali. Tapi temen-temen
di sini suka tolong-menolong. Kami sering main bola di lapangan. Kalau
lagi kepengin, kami juga suka nge-lem aica aibon. Enak aja. Ngamen
jadi lebih enak. Tapi ngelemnya jangan lama-lama. Bisa sempoyongan.
Saya pengin punya duit banyak, untuk modal buka kios sendiri. Biar
emak sama bapak tinggal di rumah saya. Dulu cita-cita saya pengin jadi
guru ngaji. Di kampung guru ngaji itu kan hebat. Tapi sekarang saya
sudah nggak pernah ngaji lagi. Sudah lupa baca Qur'an.
Kalau Sebel, Saya Bentak
Siti Khoiriyah
(13 tahun), anak jalanan di Pasar Kramat Jati
Saya anak yatim. Bapak meninggal ketika saya masih kecil. Ibu kawin
lagi dan pindah ke Cirebon. Sejak kecil saya dititipkan sama nenek di
Jakarta. Sekarang nenek sudah tua. Saya harus bekerja membantu dia.
Dulu saya pernah ngamen. Tapi saya diejek sama teman-teman dekat
rumah. Dibilangin suka maling duitnya orang. Sekarang saya suka
mungutin bawang yang jatuh waktu diturunin dari truk. Kalau sudah
dapat banyak, dijual. Lumayan, setiap hari bisa dapat tiga sampai lima
ribu rupiah. Uangnya habis buat makan sama nenek. Juga disisain buat
kontrak rumah.
Di pasar, suka ada orang yang malakin. Anak-anak pasar atau preman
suka minta duit Rp 1.000. Kalau nggak dikasih, saya ditendang atau
ditonjok. Kalau ada yang iseng, suka juga megang-megang saya. Tapi
kalau lagi sebel, suka saya bales bentak.
Cita-cita saya kepengin bisa kayak Mbak Susi Susanti. Makanya saya
senang diajak ikut bimbingan bulu tangkis sama Pak Rudy Hartono
(sebagai duta kemanusiaan Unicef, Rudy Hartono sempat melatih
anak-anak jalanan --Red.). Saya pengin punya banyak uang. Biar nggak
mungutin bawang lagi. Saya beli rumah yang bagus buat nenek. Biar bisa
punya kios sendiri.
Suka Dipeluk-peluk Waria
Nahrowi (14 tahun), anak jalanan Pasar Minggu
Saya benci sekolah. Saya benci guru-guru sekolah yang dulu ngajarin
saya. Saya dikeluarin dari sekolah sejak kelas VI gara-gara tak bisa
bayar SPP. Padahal, sejak kelas satu saya juara satu terus. Waktu itu
sebenarnya tinggal beberapa bulan ujian akhir. Sekarang, cita-cita
saya untuk jadi musisi jadi kandas.
Tiap pagi saya jualan kantong plastik di Pasar Minggu. Apa boleh buat,
ini untuk menghidupi keluarga. Bapak nganggur dan ibu sakit-sakitan.
Setiap hari saya bisa menyisihkan dua sampai tiga ribu rupiah untuk
kebutuhan keluarga. Sementara adik-adik saya, melakukan pekerjaan
serupa dengan saya.
Kalau nggak dapat duit, saya malu untuk pulang. Kalau sudah gitu, saya
terpaksa tidur di emperan pasar, tempat parkir, atau di samping rel
kereta. Tak jarang, kalau malam, saya sering dipeluk-peluk waria.
Bahkan teman saya ada yang pernah di- bool. Sering juga, sih,
teman-teman diajak main para pelacur. Gratis.
Buat Emak Pulang ke Jawa
Imam Kusniadi (11 tahun), pengamen bus kota
Saya berhenti sekolah kelas IV SD. Sekarang ngamen atas kemauan
sendiri. Sebenarnya, sih, sama orang tua nggak boleh. Bapak kerjanya
kuli bangunan dan ibu buruh cuci. Mereka tinggal di Pondok Gede. Saya
sendiri ikut kakek-nenek di Jakarta Timur.
Saya punya adik dua orang. Yang terkecil masih orok. Kalau sudah gede,
mereka tidak boleh ngamen seperti saya. Kalau nekat, nanti saya pukul.
Mereka harus jadi orang yang punya cita-cita, biar tidak kayak saya.
Tapi saya suka ngamen karena dapat duit. Tapi nggak enaknya, sering
ditangkap sama tramtib. Kadang, lagi enak-enak duduk, eh di- jenggut,
ditendang, terus dimasukin mobil.
Penghasilan saya sehari antara lima sampai sepuluh ribu rupiah. Ada
yang buat jajan, ada yang ditabung. Sekarang tabungan saya Rp 170
ribu. Itu buat ongkos emak pulang ke Jawa (Kuningan, Jawa Barat
_--Red.). Buat jajan, paling-paling Rp 1.000 saja.
[INLINE]
LSM di antara Anak Jalanan
Menjadi anak jalanan, jelas bukan cita-cita. Ia sebuah keputusan yang
lahir dari keterpaksaan. Betapa tidak. Kebanyakan mereka memang punya
latar belakang keluarga yang tidak baik. Selain kemiskinan, anak-anak
jalanan juga datang dari keluarga yang tak harmonis.
"Atau yang lebih ekstrem, bila sang anak jadi objek kekerasan orang
tua. Dipukuli atau dipaksa bekerja," ujar I.B. Karyanto, penanggung
jawab Sanggar Akar (untuk anak jalanan_pinggiran).
Sanggar Akar yang bernaung di bawah Institut Sosial Jakarta (ISJ)
pimpinan Romo Sandiyawan, kini mengasuh sekitar 80 anak berusia 8-16
tahun. Sempat juga mengasuh anak 6 tahunan. Cuma, sang anak lari
setelah diasuh hampir dua tahun.
Sanggar Akar, menurut Karyo (panggilan akrab Karyanto), mencoba
mencari peluang bagi pengembangan potensi anak. Maka, programnya,
selain melalui pelatihan (belajar), juga dengan eksplorasi berbagai
media yang bisa mengembangkan potensi kreatif anak. Misalnya, lewat
teater, musik, menggambar, kerajinan, perpustakaan, dan tabloid untuk
mengarang.
"Kalau kami, membuka beberapa tempat belajar bagi anak jalanan atau
yang kurang mampu," ujar Ny Roostien Ilyas. Di bawah bendera Yayasan
Nanda Dian Nusantara (YNDN) --berdiri sejak 1990-- Roostien juga punya
"sekolah" bagi anak-anak sekitar Pasar Kramat Jati, Rawa Bunga, Pasar
Minggu, dan Kebayoran Lama. Lainnya, seperti di Mangga Dua, sudah kena
gusur.
Berkali-kali Roostien menolak ketika itu disebut sekolah. "Itu tempat
belajar," sahutnya. Tempat belajar? "Ya, karena yang saya jabarkan
adalah wajib belajar, bukan wajib sekolah." Lagi pula, sekolah harus
pakai seragam, sepatu, ada gedung dan bangku. Sementara tempat belajar
Roostien memang amat sederhana. Bisa di mushala, gubuk reyot, atau
kantor RT di sekitar pasar. "Yang penting, materi masuk," tandas
Roostien.
Untuk menjangkau seluruh wilayah garapan, YNDN cuma bertumpu pada 11
orang pekerja sosial inti. Tenaga lepas memang sampai puluhan
jumlahnya, berasal dari penduduk sekitar. Ada juga sejumlah mahasiswa
dari berbagai universitas.
YNDN boleh jadi LSM yang cukup beruntung. Kendati tak punya donatur
tetap, lembaga ini banyak mendapat bantuan. Bisa dari perorangan atau
perusahaan. Beberapa perusahaan yang bisa disebut Tigaraksa, Bank
Niaga atau Gramedia yang memberi bantuan buku bacaan, alat tulis, atau
mainan bekas layak pakai.
Dunia anak jalanan, secara khusus juga diminati oleh sekelompok
mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kajian Kemasyarakatan Mahasiswa.
Para mahasiswa dari IAIN, Pendidikan Guru TK (PGTK), Institut Ilmu
Al-Qur'an (IIQ), dan Bina Sarana Informatika Pondok Labu mengaku
intensif mengkaji masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Setelah turun dari gerakan reformasi Mei, mereka lantas melirik anak
jalanan dan bergerak dengan nama Bina Anak Pertiwi Puskami (Pusat
Kreasi Anak Mandiri Indonesia).
"Kami sepakat untuk menampilkan sebuah reformasi gaya baru yang
bersentuhan dengan kehidupan kemasyarakatan," kata Jayadi, Ketua Bina
Anak Pertiwi Puskami. Awal Juni lalu, Jayadi c.s. memulai kegiatan
pendampingan dan pembinaan anak-anak jalanan di Pasar Minggu.
Pendidikan dilakukan di mesjid pada Senin-Kamis pukul 10.00-12.00.
"Sebanyak 18 orang dewan guru siap membimbing. Namun, dari 78 anak
yang terdaftar cuma 20-30 anak saja yang rutin datang."
Berbeda dengan YNDN, Bina Anak Pertiwi malah punya 10 donatur tetap.
Ada yang dari kelompok pengajian dan lembaga sosial. "Tapi ada juga
dari pribadi," ujar Jayadi.
Seberapa pun kadarnya, kiprah LSM-LSM itu memang memberikan manfaat
bagi anak-anak jalanan. Jayadi, misalnya, tekun memompa anak jalanan
agar jadi mandiri dan bisa kembali ke keluarganya.
Lantas, ratusan anak Roostien menjadi tak kalah pintar dari mereka
yang di SD betulan. "Yang mendidik para mahasiswa, sih. Pakai sistem
CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif --Red.) lagi," ujar Roostien bangga.
Belum lagi, tentu saja, sejumlah pelatihan keterampilan yang bisa
direguk.
Itu bukan berarti tak ada hambatan. Pemerintah sendiri, selain belum
mengucurkan dana berarti, malah tidak akomodatif terhadap anak,
"Bahkan untuk menyelesaikan soal sepele saja mesti dengan kekerasan,"
ungkap Karyo.
[INLINE]
Copyright © 1998 by Ummat. All rights reserved.
WebHosting © 1998 by Insprint. All rights reserved.
Revised: 20 Nov 1998 08:49:55.