[INDONESIA-L] KONTAN - Misteri 14 M

From: apakabar@access.digex.net
Date: Fri Nov 06 1998 - 11:59:00 EST


----- Forwarded message from apakabar@access.digex.net -----

From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Nov 6 15:57:30 1998
>From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Nov 6 15:57:30 1998
Received: from indopubs.com (indopubs@indopubs.com [192.41.9.64])
        by pony-2.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id PAA13332
        for <apakabar@access.digex.net>; Fri, 6 Nov 1998 15:57:29 -0500 (EST)
Received: from localhost (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id NAA20242; Fri, 6 Nov 1998 13:57:21 -0700 (MST)
Received: by indopubs.com (bulk_mailer v1.9); Fri, 6 Nov 1998 13:57:21 -0700
Received: (indopubs@localhost) by indopubs.com (8.8.5) id NAA20202; Fri, 6 Nov 1998 13:57:19 -0700 (MST)
Date: Fri, 6 Nov 1998 13:57:19 -0700 (MST)
Message-Id: <199811062057.NAA20202@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@access.digex.net
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Misteri 14 Mei di Makostrad
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

X-URL: http://www.kontan-online.com/03/07/nasional/nas1.htm
   
   EDISI 7/III/1998 Tanggal 9 November 1998
   
                        Misteri 14 Mei di Makostrad
                Hasil laporan TGPF soal kerusuhan 13-15 Mei
                                      
                    Nugroho Dewanto, Hendrika Yunapritta
                                      
   Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) meminta Prabowo Subianto dan Sjafrie
   Sjamsoeddin dihadapkan ke meja hijau. Ada indikasi, keseluruhan
   peristiwa kerusuhan bersifat politis. Untuk mengusutnya harus dimulai
   dari pertemuan tanggal 14 Mei di Makostrad.
   
   Bisa juga TGPF menunjukkan taringnya. Setelah melalui perdebatan
   selama tiga bulan, diwarnai aksi walk out, akhirnya Selasa lalu, tim
   yang terdiri dari pejabat pemerintah, anggota Komnas HAM, dan aktivis
   LSM itu mengumumkan penyelidikannya tentang peristiwa kerusuhan 13-15
   Mei 1998. Ada yang mengejutkan: penyebutan nama personel dan institusi
   militer yang direkomendasikan untuk diproses secara hukum. Padahal,
   semula yang banyak meragukan tim yang dibentuk lewat keputusan bersama
   beberapa menteri dan Jaksa Agung itu bisa berani begitu.
   Tak kurang Ketua TGPF Marzuki Darusman sendiri pun awalnya ragu.
   Misalnya, ketika dua pekan sebelum pengumuman itu ia menyebut bahwa
   pelaku kerusuhan itu adalah kelompok terorganisasi. Kendati ia sempat
   mengembel-embeli: "Jelas lah pelakunya, siapa lagi?" Cuma, "Siapa
   laginya ini kan tak mungkin disebutkan." Seorang anggota TGPF yang
   lain menunjukkan kepada KONTAN foto seorang pelaku kerusuhan yang
   sedang melontar bom molotov. "Cara melontarnya sama dengan teknik
   melempar granat," katanya.
   Kenyataannya, berhamburanlah nama institusi ABRI disebut dalam laporan
   TGPF. Kopassus, misalnya, disebut dalam kaitan kerusuhan di kota Solo.
   Demikian pula penyebutan terang-terangan nama mantan Pangkostrad
   Prabowo Subianto dan mantan Pangdam Jaya Sjafrie Sjamsoeddin. Keduanya
   dimintai pertanggungjawaban karena kasus penculikan aktivis dan
   kerusuhan di Jakarta. Yang malah aneh, organisasi sipil yang terlibat
   cuma disebut sebagai ormas pemuda dan orsospol saja.
   Jadi, kalau memang pemerintah - dan ABRI - berniat membongkar
   "misteri" kerusuhan Mei lalu berikut kasus-kasus penculikan,
   penembakan mahasiswa Trisakti, dan pemerkosaan massal itu, sebetulnya
   sudah terbuka jalannya. Tak perlu sampai berlarut-larut, dan tak
   ketahuan juntrungannya, seperti sekarang. Soalnya, menurut TGPF,
   indikasi keterlibatan para pejabat militer dan jaringannya yang penuh
   dengan kepentingan politik: dimulai dari Pemilu 1997, krisis ekonomi,
   Sidang Umum MPR 1998 (yang memberikan kewenangan tak terbatas pada
   Presiden Soeharto), demonstrasi simultan mahasiswa, penculikan
   aktivis, dan tertembaknya mahasiswa Trisakti, hingga pertarungan
   memperebutkan kepemimpinan nasional.
   
   Silaturahmi dengan menumpang panser
   
   Kuncinya, lanjut TGPF, adalah menyelidiki pertemuan di Markas Kostrad,
   kantornya Letjen Prabowo, tanggal 14 Mei lalu. Hari itulah dari pagi
   hingga malam hari, Prabowo dan orang-orang dekatnya - seperti
   Kaskostrad Kivlan Zen dan Danjen Kopassus Muchdi Pr. - bertemu dengan
   beberapa tokoh masyarakat. Siapa saja mereka? Ada pengacara Adnan
   Buyung Nasution, Ruhut Sitompul, Hotma Sitompul, Adityawarman Toha,
   dan Bambang Widjojanto. Ada pula Fadli Zon dan Farid Prawiranegara
   (keduanya kini Ketua Partai Bulan Bintang) yang memang dikenal akrab
   dengan Prabowo. Lalu ada lagi penyair Rendra, pengusaha Setiawan
   Djody, Hashim Djojohadikusumo, Fahmi Idris (kini Menteri Tenaga
   Kerja), serta bos biro perjalanan haji "Maktour" Fuad Hasan Masyhur.
   Nah, apa sebenarnya yang istimewa dari pertemuan itu? Mungkin karena
   hari itu situasi politik begitu genting. Panglima ABRI Wiranto
   dikabarkan sulit mengendalikan keadaan dan Prabowo disiapkan menjadi
   Panglima Kopkamtib, sebagai operator Presiden Soeharto yang memegang
   kewenangan penuh dari MPR untuk mengamankan negara. Wajah Jakarta kala
   itu hancur lebur dalam lautan api. Sampai-sampai Fadli Zon dan Fahmi
   Idris - menurut Hashim - hanya bisa tiba dengan menumpang panser.
   Wajarlah bila muncul pertanyaan, "Situasi sedang panas, kok
   kumpul-kumpul di situ?" kata Abdul Hakim Garuda Nusantara, salah
   seorang anggota TGPF (lihat boks).
   Sementara itu, waktu itu bertiup isu akan terjadinya kudeta militer
   untuk membentuk junta. Kerusuhan itu sendiri dilihat sebagai upaya
   menciptakan situasi darurat sehingga ada alasan untuk pembentukan
   kekuasaan ekstrakonstitusional baru. Tapi, kecurigaan ini segera
   ditepis Jenderal Wiranto. "Itu cuma pertemuan biasa, tak menyangkut
   makar ataupun kriminal," katanya. Penjelasan senada disampaikan Hashim
   Djojohadikusumo. "Itu cuma pertemuan silaturahmi antarteman untuk
   menanyakan situasi terakhir," jelas adik Prabowo yang segera menggelar
   konferensi pers untuk menanggapi laporan TGPF itu.
   Tapi, di sinilah kejanggalannya. Bila sekadar menanyakan situasi
   terakhir, kenapa mesti hadir secara fisik dari pagi hingga larut
   malam, padahal situasi di luar begitu genting. Dan prajurit-prajurit
   Kostrad sangat ditunggu-tunggu bantuannya. Nah, untuk jelasnya,
   rangkaian misteri ini mesti disingkap lewat proses hukum - tak perlu
   ditutup-tutupi dan dibela-bela begini.
   
   Abdul Hakim Garuda Nusantara
   "Situasi Panas, kok Kumpul-Kumpul di Situ?"
   
   Para anggota MPR yang akan melakukan sidang istimewa mungkin perlu
   belajar dari Abdul Hakim Garuda Nusantara. Soal apa? Mempraktekkan
   kekuatan aksi walk out. Ceritanya begini. Menjelang pengumuman laporan
   TGPF hari Rabu lalu, situasi terasa begitu tegang. Maklum, semula
   dijadwalkan laporan itu akan dibacakan pukul 16.00. Tapi, setelah
   molor satu setengah jam, tim itu masih juga saling berdebat. Tak lama
   berselang, berturut-turut Rosita Noer dan Abdul Hakim Garuda Nusantara
   meninggalkan ruangan. Bila Rosita Noer belakangan ketahuan pulang
   karena sakit, apa yang menyebabkan Abdul Hakim G.N meninggalkan rapat?
   "Saya pulang untuk memberi tekanan agar laporan TGPF diumumkan hari
   itu juga," kata Hakim tegas. Nah, mungkin berkat aksi-aksi walk out
   begitu, sekitar pukul 19.00 laporan itu jadi dibacakan juga. Berikut
   penuturan Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) itu
   tentang laporan TGPF:
   
   KONTAN: Hasil kerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sudah diumumkan.
   Melihat isi dan waktu pengumumannya, orang melihat ini sebagai
   kemenangan kelompok LSM dalam TGPF, apa komentar Anda?
   HAKIM: Enggak, bukan kemenangan kelompok LSM. Itu hasil bersama kok.
   
   KONTAN: Soal waktu pengumuman, kabarnya tadinya ada usulan untuk
   mengumumkan laporan TGPF setelah SI-MPR?
   HAKIM: Usulan resmi seperti itu tidak ada. Cuma, ada sebagian
   teman-teman baik yang LSM maupun non-LSM yang berpendapat bagaimana
   kalau pengumumannya ditunda. Tapi, yang lain tak setuju, sebab kita
   sudah berakhir masa tugasnya per-23 Oktober 1998 lalu. Jadi,
   pengumuman itu tak bisa ditunda lagi.
   
   KONTAN: Apa maksud TGPF merekomendasikan pada pemerintah untuk
   menyelidiki pertemuan di Makostrad tanggal 14 Mei 1998, karena menurut
   Pangab Wiranto dan Hashim Djojohadikusumo, pertemuan itu cuma
   pertemuan biasa?
   HAKIM: Rumusan TGPF soal pertemuan di Makostrad itu bisa memberi
   informasi untuk memastikan keadaan keseluruhannya. Karena mereka yang
   bertemu itu bukan militer saja. Berdasar laporan yang ada, ternyata
   macam-macam kelompok yang datang ke situ. Tak jelas kelompok itu siapa
   saja dan siapa yang mengambil prakarsa.
   KONTAN: Bukankah Fahmi Idris, salah satu peserta pertemuan, sudah
   dimintai kesaksian oleh TGPF. Apa hasil testimoni Fahmi?
   HAKIM: Fahmi tidak bisa menceritakan semua, karena ada
   pertemuan-pertemuan yang Fahmi tak ikut. Itu menurut Fahmi.
   
   KONTAN: Jadi, apakah pertemuan di Makostrad tanggal 14 Mei itu
   sifatnya bergelombang?
   HAKIM: Itu yang tak jelas, makanya harus diperjelas. Yang dipersoalkan
   TGPF dari pertemuan itu bukan soal makar atau tidak makar. Yang
   direkomendasikan TGPF adalah kalau pertemuan itu diusut, mungkin itu
   bisa memberi informasi. Itu saja.
   
   KONTAN: Bukan karena kecurigaan, soalnya saat itu bau akan terjadi
   kudeta militer begitu kuat?
   HAKIM: Ya, situasi sedang panas, kok ada kumpul-kumpul di situ. Nah,
   siapa-siapa yang kumpul di situ, dan ada apa itu? Maka perlu diusut
   siapa yang mengambil prakarsa, siapa saja yang diundang, apa yang
   diomongkan, kan begitu. Ya, supaya transparan lah.
   
   KONTAN: Dalam kesimpulan laporan, TGPF menyebut kerusuhan 13-15 Mei
   merupakan akibat proses pergumulan elite politik dan juga upaya
   menciptakan situasi darurat yang diperlukan untuk pembentukan
   kekuasaan konstitusional yang ekstra. Jadi, keseluruhan peristiwa itu
   bersifat politik?
   HAKIM: Iya. Tapi yang bagian itu mungkin kau lebih baik tanya ke
   Marzuki Darusman. Saya cuma anggota, tak punya otoritas.
   
   KONTAN: Bagaimana nasib laporan TGPF bila pemerintah tak
   menindaklanjuti?
   HAKIM: Terserah pemerintah. TGPF secara resmi sudah tak
   ada.

----- End of forwarded message from apakabar@access.digex.net -----