Wanita Aceh Korban Operasi Militer

From: apakabar@access.digex.net
Date: Thu Jul 30 1998 - 07:46:00 EDT


----- Forwarded message from Citra Desa Indonesia -----

From cdi@aceh.wasantara.net.id Thu Jul 30 02:38:44 1998
>From cdi@aceh.wasantara.net.id Thu Jul 30 02:38:44 1998
Received: from loas.clark.net (loas.clark.net [168.143.0.13])
        by pony-2.mail.digex.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id CAA15895
        for <apakabar@access.digex.net>; Thu, 30 Jul 1998 02:38:43 -0400 (EDT)
Received: from ns2.wasantara.net.id (ns2.wasantara.net.id [202.159.65.171])
        by loas.clark.net (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id CAA18668
        for <apakabar@clark.net>; Thu, 30 Jul 1998 02:39:51 -0400 (EDT)
Received: from aceh.wasantara.net.id (aceh.wasantara.net.id [202.159.83.163])
        by ns2.wasantara.net.id (8.8.5/8.8.5) with ESMTP id OAA01249;
        Thu, 30 Jul 1998 14:33:04 +0700 (JAVT)
Received: from ACEH/SpoolDir by aceh.wasantara.net.id (Mercury 1.40);
    30 Jul 98 07:29:25 +0700
Received: from SpoolDir by ACEH (Mercury 1.40); 30 Jul 98 07:29:10 +0700
Received: from aceh.wasantara.net.id (202.159.83.178) by aceh.wasantara.net.id (Mercury 1.40);
    30 Jul 98 07:29:05 +0700
Message-Id: <3.0.32.19980730132615.00695ef4@202.159.83.163>
X-Sender: cdi@202.159.83.163 (Unverified)
X-Mailer: Windows Eudora Pro Version 3.0 (32)
Date: Thu, 30 Jul 1998 13:27:52 +0700
To: siar@minihub.org
From: Citra Desa Indonesia <cdi@aceh.wasantara.net.id>
Subject: Wanita Aceh Korban Operasi Militer Diperkosa Tiga Oknum Aparat

Wanita Aceh Diperkosa Tiga Oknum Aparat
(Temuan TPF DPR-RI)

Serambi-Sigli
Tim Pencari Fakta (TPF) DPR-RI, kemarin disambut sekitar 1.000 warga di
DPRD setempat,
umumnya para janda dan anak yatim. Tim ini sempat kaget setelah seorang
wanita menceritakan ia
diperkosa hingga pingsan oleh tiga oknum secara bergiliran, setelah
ditangkap bersama suaminya, di
sebuah pos keamanan.
Kecuali itu, tiga wanita lainnya juga melaporkan perlakuan oknum aparat di
pos-pos Sattis. Ada yang
ditelanjangi, disetrum, dibakar, bahkan ada yang tangannya dipatahkan
hingga cacat. Dari sejumlah
pelapor yang tampil, kisah tersadis dan sangat menggugah tim DPR RI kemarin
adalah yang dialami
CS (disingkat), 42 tahun, warga Ujong Leubat, Bandar Baru. "Saya diperkosa
tiga orang tentara di
Pos Jim Jim (Pos Sattis Jim Jim -Red), Pak. Setelah itu, saya pingsan.
Paginya, saya disepak dan
didorong ke sungai. Disuruh mandi," ungkap CS dalam bahasa Aceh yang
diterjemahkan oleh
Ghazali Abbas Adan.
Yang mendengar, semua terkejut. Terdengar umpatan dan caci-maki masyarakat
lainnya. "Saya
diperkosa bergiliran Pak. Tapi, hanya satu malam. Setelah tiga hari di
situ, saya disuruh pulang," kata
CS, kaku, seakan menahan tangis. "Selanjutnya?" tanya anggota DPR RI. CS
diam lama, seperti
menetralisir kepedihan dan kemarahannya. "Tidak ada lagi," katanya,
singkat, lalu duduk.
Ditanya Serambi kemudian, CS mengisahkan pada 1992 ia dan suaminya M Yunus
ditangkap oleh
oknum dari Pos Jim Jim. Mereka ditempatkan di kamar terpisah. Pemerkosaan
--salah seorang
pelaku dikenal CS bernama A-- itu kemungkinan tak diketahui suaminya.
Sebelum dibebaskan, CS
sempat disiksa juga.
Sejak pulang itu, ia mengaku tak pernah melihat lagi suaminya. Belakangan
dikabarkan orang
kampung, bahwa M Yunus ditembak dengan tangan diikat di atas pentas
(dipertontonkan pada
warga) di Desa Cibrek, Kembang Tanjong.
Ditanya mengapa ia tak sampai menangis ketika bercerita di depan banyak
orang? "Saya sudah
capek menangis," katanya. Karena, menurut CS, mereka sudah "terbiasa"
mendengar kisah sadis dan
penyiksaan serupa itu. Lagi pula, ia khawatir kalau terlalu banyak bicara
nanti bakal diambil lagi oleh
oknum. "Kalau saya diambil, siapa yang mengurus anak-anak. Hidup kami
sangat susah. Siapa ya
yang mau bantu orang-orang seperti kami ini?" tutur korban perkosaan ini,
ditemani dua janda
sekampungnya.
Kisah Ramlah juga cukup menggugah. Ibu tua dari Simpang Jurong, Geumpang,
mengatakan pada
TPF DPR-RI, bahwa tahun 1992 ia diambil oknum tentara dan dibawa ke Pos.
Konon karena tak
ditemukan suami dan anaknya. Ramlah disiksa, ditelanjangi, digigitkan orang
hutan, dibakar, bahkan
dipatahkan tangannya. Tangan yang kini telah cacat itu diperlihatkan kepada
semua yang hadir.
Setelah suaminya ditemukan, baru Ramlah bebas. Tapi yang lebih
menyakitkannya, suami berikut
empat anaknya --laki-laki dan perempuan-- dibunuh oknum tersebut dan
dikubur secara massal di
Geumpang.
Akan halnya Khatijah dari Cot Baroh, Glumpang Tiga, melaporkan ia diambil
tentara setelah pulang
mengunjungi anaknya di Malaysia pada Februari 1998. Ia dipukuli,
ditelanjangi, dan siksaan lainnya
di Rumoh Geudong selama 15 hari. April 1998, diambil lagi dengan tuduhan
menyimpan senjata.
Rumahnya hancur diobrak-abrik, tapi senjata tak ditemukan. Khatijah pun
diangkut lagi ke Rumoh
Geudong dan kembali menjalani siksaan, lalu dipindah ke Rancung, dan
dibebaskan Juni 1998.
Terakhir, ia didatangi oknum penyiksanya, meminta uang Rp 500.000 agar
Khatijah tak diambil lagi.
"Saya kasih terus uang itu. Memang, sampai sekarang saya tak diambil lagi,"
ungkapnya, terus terang.
Sementara, Nyak Ubit dan Aminah Ali, keduanya warga Kecamatan Mutiara,
mempertanyakan
kemana suami mereka yang diculik tentara sekitar Maret 1998. "Suami saya
diambil tentara hanya
gara-gara di desa dia memegang dana IDT. Hanya karena IDT, Pak," kata Nyak
Ubit dengan wajah
duka.
Hari Subarno sering mempertanyakan darimana para pelapor tahu bahwa
pelakunya itu adalah
oknum dari sebuah kesatuan elit. Para pelapor itu dengan lancar menjawab.
Sebab keluarga korban,
saksi (warga desa), bahkan korban penyiksaan umumnya cukup kenal siapa
pelakunya. Penyiksaan
korban umumnya berlangsung di Pos Sattis terdekat, ataupun di Rumoh Geudong.
Lain lagi cerita Umar Abubakar dari Desa Jim Jim, Bandar Baru. Pada 1995,
ia ditembak oknum
tentara dan mengenai pahanya. Untunglah oknum itu "mau berbaik hati"
membawanya ke Rumah
Sakit Kesrem Lhokseumawe. Tapi, kakinya harus diamputasi. Kini Umar
berjalan dengan dua
tongkat. "Saya tak bisa bekerja lagi. Saya makan berkat dikasih-kasih
orang," ungkapnya.
Mengenai ketakutan para pelapor itu, Ir Faridah Ariani dari Forum Peduli
HAM minta TPF DPR RI
agar memberi "jaminan keamanan", sehingga masyarakat yang datang hari itu,
terutama para pelapor
yang telah memberi kesaksian, nantinya tidak "diapa-apakan" oleh oknum
tentara.
"Bagaimana, apakah di sini hadir dari unsur keamanan?," tanya Hari Sabarno.
Cari sana, cari sini,
muncul Pasi Intel Kodim 0102 Pidie Letda Inf Suyanto yang menyatakan ia
--mewakili Dandim--
dapat memberikan "jaminan keamanan" yang sangat diharapkan itu.
Kami yang hukum
Ketika Ketua Tim Hari Sabarno menanyakan apakah masyarakat di daerah itu
merasa "terganggu"
dengan GPK, dan apakah GPK memang masih ada? Mereka serentak menjawab
lantang, "Tidak.
Tidak ada!" Bahkan dari kelompok janda yang duduk di sayap kanan gedung
terdengar jeritan lemah
(dalam bahasa Aceh), "Kami bukan takut GPK. Tapi takut pada tentara!"
"Jika nanti muncul (GPK -red), apa yang dilakukan?" tanya ketua tim ini.
"Hukum saja! Kami hukum
mereka!" teriak masyarakat serentak.
Pertanyaan --tampaknya juga spontan-- itu dilontarkan TPF setelah mendengar
banyak laporan dari
korban dan keluarga korban tentang kisah penculikan maupun tindak kekerasan
selama operasi
militer di Pidie.
Jumlah masyarakat yang datang melapor ke DPRD Pidie kemarin sekitar 100-an
orang (pelapor
baru). Namun, karena diisi pertemuan dengan TPF DPR RI hari itu, para
anggota Komisi A tak
sempat mencatat. Mereka diminta kembali esok harinya.
Di akhir pertemuan, DPRD Pidie menyerahkan sebagian laporan sementara
masyarakat kepada tim
TPF DPR RI. Sebagaimana aspirasi masyarakat, para wakil rakyat di DPRD
Pidie dengan tanpa
ragu- ragu juga sepakat meminta pemerintah mencabut DOM di daerah itu.
Sebelumnya tim juga mengadakan pertemuan dengan Muspida Pidie di Pendopo.
Malam harinya,
TPF berdialog dengan LSM, tokoh masyarakat, dan akademisi dari perguruan
tinggi setempat.
Rencananya, Rabu pagi ini, TPF DPR RI yang berinti Hari Sabarno (ketua), Dr
Mochtar Azis,
Ghazali Abbas Adan, Sedaryanto, Prof Dr Endang Saefullah, Lukman R,
Chairuddin Harahap, dan
Suyanto, akan mengunjungi Desa Cot Keng, Bandar Dua, Pidie yang dijuluki
"Kampung Janda".
Selanjutnya tim menuju Lhokseumawe.
Saat ini, laporan yang tercatat di DPRD Pidie masih 440 kasus, mencakup
"orang hilang", kematian,
penyiksaan, pembakaran rumah dan penjarahan harta/Sepmor.(non)
  

----- End of forwarded message from Citra Desa Indonesia -----