Forwarded message:
From apakabar@clark.net Tue May 26 21:59:45 1998
Date: Tue, 26 May 1998 19:50:05 -0600 (MDT)
Message-Id: <199805270150.TAA02338@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] BCA, Haruskah Dimatikan?
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Date: Wed, 27 May 1998 07:47:22 +0700
From: Darwin Tjoe <darwin-tjoe@usa.net>
To: apakabar@clark.net
Subject: BCA, Haruskah dimatikan ?
Hari-hari terakhir ini BCA, bank swasta nasional terbesar di
Indonesia sedang di rush habis-habisan. Presdir BCA Bp. Abdullah Ali
komisaris Bp. Anthony Salim yang tampil marathon didepan TV belum mampu
meredam semangat rush masyarakat yang sedemikian menggebu-gebu. Saya
sendiri terus terang tidak tahu ada masalah intern apa sebenarnya
disana, tetapi ada beberapa hal yang bisa dijelaskan dengan logis
tentunya.
Pada hari-hari kerja biasa, tanpa rush, tanpa menerima
pengalihan nasabah dari cabang lain pun, melakukan transaksi perbankan
di BCA juga tidak terlalu menyenangkan. Melakukan salah satu transaksi
yang paling sederhana misalnya setor tunai, tarik tunai, setor kliring,
transfer saja paling tidak juga harus antri 10 - 15 menit. Untuk
melakukan satu transaksi di atas, teller yang telah megetikkannya di
komputer harus menunggu seorang supervisor untuk me-validasi. Terkadang
kalau sang supervisor sedang ada urusan lain, terpaksalah nasabah dan
teller yang bersangkutan harus menunggu, sungguh tidak efisien rasanya.
Pegawai BCA juga tidak bisa disebut ramah dan menyenangkan. Senyum manis
sebagaimana pegawai bank lain pada umumnya agaknya lumayan langka bisa
ditemukan di BCA.
Setelah dilanda kerusuhan besar pada tanggal 14 - 15 Mei yang
lalu, tercatat BCA yang mengalami kerusakan paling banyak pada
cabang-cabang dan mesin-mesin ATM-nya. Pada saat yang sama, kebanyakan
orang juga mulai kehabisan stock uang tunai karena tidak bisa keluar
untuk beberapa hari sehingga memang sudah diperkirakan banyak bank yang
akan diserbu untuk penarikan tunai. Satu hari sebelumnya gubernur BI
sudah memberikan jaminan BI akan menyediakan cadangan tunai berapapun
jumlahnya.
Baru beroperasi penuh dua hari, Jakarta diancam lagi dengan isu
Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei sehingga praktis semua bank
kembali meliburkan diri beberapa hari. Bisa dimengerti begitu buka
kembali bank-bank kembali diserbu oleh penabung yang sudah kehabisan
dana tunai. Lambatnya pelayanan BCA serta menumpuknya nasabah-nasabah
yang cabangnya rusak atau terbakar menyebabkan antrian nasabah menjadi
sedemikian panjang. Ada cerita dari beberapa teman,
"Saya melihat BCA sedang di-rush, pasti ada apa-apanya. Saya
jadi ngeri dan mau memindahkan dana saya yang disana. Peduli isunya
benar ataupun tidak."
"Saya mulanya mau setor uang, tetapi karena juga terpaksa harus
ikut antrian dan selama dalam antrian banyak terdengar bisik-bisik kiri
kanan, akhirnya sampai didepan teller saya tidak jadi setor uang yang
saya bawa, kemudian malah ikut-ikutan narik. Lumayanlah, bikin hati
tambah tenang."
"Tadinya sih mau memperpanjang deposito saja (yang tidak ada
sangkut paut dengan tarik setor tunai) juga disuruh ikut antri. Kesal
dong, jadi nanti kalau jatuh tempo saya pindahin saja ke bank lain."
"Kita butuh sedikit tunai untuk transaksi sehari-hari. Kalau
harus antri sekian lama, mendingan saja sekalian tarik semuanya. Siapa
yang tahan saban hari harus antri di sini."
"Bagaimana bisa bisnis dengan kondisi seperti ini, dana saya
sudah saya transfer semuanya ke bank lain, biar dari sana saja transaksi
sehari-hari untuk sementara."
Isu pun semakin berkembang menjadi "Mayoritas saham BCA ditangan
putra putri presiden", "Suharto narik 5 Triliun", sampai "BCA mau
bangkrut". Isu terakhir semakin lama semakin kuat gaungnya, bersamaan
dengan semakin bersemangat nasabah-nasabah menguras habis tabungannya di
BCA. Semakin banyak orang mempercayai isu tersebut, semakin bank
bersangkutan mendekati ajalnya. Sebaliknya semakin orang tidak
mempercayai isu tersebut, maka kemungkinan bank bersangkutan lolos dari
maut semakin besar.
Bank yang paling sehat pun, kalau di-rush sebagian besar
nasabahnya terus menerus, hampir bisa dipastikan akan ambruk. Nah,
terlepas dari benar tidaknya isu kesehatan BCA, bagaimanapun juga selama
ini hampir sebagian besar masyarakat nasabah BCA pasti sudah menikmati
manfaat dan fasilitas yang disediakan BCA. Kemanapun, nasabah tidak
perlu mengantongi uang tunai yang berlebihan, karena hampir diseluruh
pelosok kota bisa ditemui ATM-ATM yang siap melayani 24 jam. Pembayaran
telepon, kartu kredit, PLN, handphone, bahkan sampai uang sekolah bisa
dilakukan kapan saja, dimana saja, dan hampir semuanya bebas biaya.
Berbeda dengan yang ditawarkan bank-bank lain, BCA juga tidak mendorong
nasabahnya berpola hidup konsumtif. Sejauh yang bisa saya amati, BCA
adalah bank yang paling berdedikasi kepada nasabah-nasabah kecil.
Kebanyakan produk perbankan dari BCA umumnya membuat hidup ini menjadi
lebih mudah sehingga alangkah sayang apabila BCA harus "mati" juga
karena ulah nasabah-nasabahnya.