[INDONESIA-P] KMP - Lagu-lagu Rakya

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Mar 06 1998 - 18:43:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Fri Mar 6 22:43:17 1998
Date: Fri, 6 Mar 1998 20:42:52 -0700 (MST)
Message-Id: <199803070342.UAA23817@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Lagu-lagu Rakyat Timtim Perlu Dinotasi
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com

   Kompas Online
     _________________________________________________________________
   
                            Sabtu, 7 Maret 1998
     _________________________________________________________________
   
                    Lagu-lagu Rakyat Timtim Perlu Dinotasi
                                       
   Dili, Kompas
   
   Lagu-lagu rakyat Timor Timur (Timtim) perlu dinotasikan dalam buku
   nyanyian lagu daerah Timor Timur. Sampai saat ini, belum ada seniman
   yang berminat meneliti lagu daerah dan membukukan atau menyebarkan
   kepada masyarakat terutama kalangan generasi muda. Timtim terdiri dari
   39 suku, masing-masing suku mempunyai kekhasan bahasa daerah, lagu
   daerah, dan adat istiadat sendiri.
   
   Kepala Taman Budaya Timor Timur Drs Domingos de Sousa M.Ed di Dili,
   Kamis (5/3) mengatakan, upaya menotasikan lagu-lagu daerah mutlak
   dibutuhkan agar lagu-lagu tersebut dapat disebarkan di
   sekolah-sekolah. Sampai hari ini, lagu-lagu daerah itu, dipertahankan
   oleh masyarakat secara turun temurun berdasarkan pendengaran. Ribuan
   lagu daerah yang menyebar di kalangan masyarakat Timtim belum
   diteliti, ditulis, atau dibukukan.
   
   "Yang terjadi adalah pengembangan lagu-lagu pop daerah oleh kaum muda
   yang ingin menampilkan kebolehan mereka melalui alunan lagu-lagu
   daerah. Lagu-lagu tersebut diciptakan berdasarkan jiwa muda serta
   selera pendengar, dan mudah hilang dari kalangan masyarakat pada suatu
   jangka waktu tertentu" kata Domingos.
   
   Lagu daerah klasik lebih bermuatan religius dan sosial, tetap bertahan
   dari generasi ke generasi melalui pendengaran lisan. Lagu-lagu
   tersebut tercipta berhubungan dengan kegiatan keagamaan dan kejadian
   sosial kemasyarakatan. Lagu-lagu itu tidak diberi notasi, tetapi asal
   dibunyikan berdasarkan pendengaran. Sering motif dan warna lagu-lagu
   itu berubah dari generasi ke generasi.
   
   "Sebaiknya seniman yang mau mengumpulkan dan membukukan lagu-lagu
   rakyat adalah putra Timtim agar kata dan nilai rasa bahasa yang
   digunakan di dalam sebuah lagu daerah lebih mengena di hati
   masyarakat. Tetapi belum ditemukan orang muda atau tokoh-tokoh
   masyarakat yang berminat mempelajari, mengumpulkan, dan membukukan
   lagu-lagu daerah," kata Domingos.
   
   Keragaman budaya di Timtim sangat tergantung pada suku dan bahasa
   daerah masing-masing. Artinya, seorang seniman dari Kabupaten Baucau
   yang berbahasa daerah Makasae misalnya, belum tentu dapat mempelajari
   kebudayaan atau lagu daerah dari Kabupaten Lautem yang menggunakan
   bahasa daerah Fataluku.
   
   Saat ini pihak taman budaya sedang mengirim seorang putra Timtim dari
   Kabupaten Manatuto mengambil jurusan Etnomusikologi di Institut Seni
   Yogyakarta. Namun putra Manatuto yang menggunakan bahasa daerah Tetum
   itu, belum tentu menguasai budaya di kabupaten Ermera yang menggunakan
   bahasa daerah Mambae. (kor)