[INDONESIA-L] XPOS---> Lebih Miskin

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Mar 04 1998 - 11:25:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Mar 4 15:24:27 1998
Date: Wed, 4 Mar 1998 13:23:20 -0700 (MST)
Message-Id: <199803042023.NAA16302@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] XPOS---> Lebih Miskin Dari Bangladesh
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: ekspos@hotmail.com
Xpos, No 9/I/28 Feb - 6 Mar 98
------------------------------

LEBIH MISKIN DARI BANGLADESH

(EKONOMI): GNP Indonesia merosot jadi 228 dolar AS per tahun. Termis-
kin di ASEAN.

Krisis moneter yang berkepanjangan, benar-benar membuat perekonomian
Indonesia terpuruk. Hal ini diakui sendiri oleh pemerintah. Dalam
sebuah pertemuan dengan anggota Komisi VIII DPR (20/2), Ketua Bappenas
Ginandjar Kartasasmita mengungkap pendapatan perkapita penduduk Indo-
nesia yang diperkirakan mengalami penurunan sebesar 43%. Dari 1.088
dolar AS pada tahun 1997, menjadi 610 dolar AS pada akhir tahun ini.

Perhitungan tersebut menurut Ginandjar, mengacu pada beberapa asumsi
yang tercantum dalam RAPBN 1998/1999. Yaitu, kurs rupiah sebesar Rp
5.000 per dolar AS, tingkat inflasi 20%, pertumbuhan ekonomi 0% dan
angka pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,6 juta orang per tahun.

Dengan pendapatan per kapita sebesar itu, maka Indonesia kini berga-
bung dengan negara-negara miskin, seperti halnya Vietnam dan Bangla-
desh. Penurunan status ini, benar-benar drastis. Sebab, pada 1996,
pendapatan per kapita Indonesia sempat mencapai 1.155 dolar AS.

Malah, menurut ekonom Faisal Basri, dengan keadaan yang seperti seka-
rang, pendapatan per kapita Indonesia hingga akhir tahun ini, di-
perkirakan cuma akan sebesar 228 dolar AS. "Angka ini lebih rendah
dari Bangladesh. Seperti halnya tahun 1967 - sewaktu pendapatan per
kapita Indonesia masih 70 dolar AS - yang juga kalah dengan Bangla-
desh," ungkap Faisal.

Perhitungan Faisal ini, dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS
yang berlaku sekarang, antara Rp 8.000 hingga Rp9.000. "Kalau kursnya
sampai Rp 20.000, pendapatan per kapita tinggal 100 dolar AS." Itu pun
dengan menggunakan model perhitungan GDP (Gross Domestic Product).
Yaitu, ikut menghitung penghasilan orang asing yang bekerja di Indone-
sia. Kalau menggunakan model perhitungan GNP (Gross National Product)
- seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat - angkanya bisa lebih
kecil lagi.

Bila membandingkan dengan Bangladesh, memang akan makin terasa an-
jloknya pendapatan per kapita Indonesia. Di tahun 1993, pendapatan per
kapita Bangladesh (dalam perhitungan GNP) cuma sebesar 220 dolar AS.
Sedangkan pada tahun yang sama, pendapatan per kapita Indonesia sudah
mencapai 740 dolar AS. Atau sudah middle income. Kini, keadaan sudah
menjadi terbalik.

Untuk ukuran ASEAN, Indonesia memang merupakan negara termiskin.
Negara jiran, Malaysia, sudah mencapai kategori upper middle dengan
pendapatan perkapita sebesar 3.500 dolar AS. Demikian pula Thailand,
yang telah mencapai 2.212 dolar AS. Filipina pun masih lebih unggul,
yakni sebesar 957 dolar AS. Sedangkan Singapura yang telah masuk
kategori negara kaya, pendapatan per kapitanya sudah mencapai 23.357
dolar AS.

Gambaran perekonomian Indonesia, sebetulnya lebih memprihatinkan lagi.
Mengingat, ada faktor daya beli yang harus diperhitungkan. "Tujuh
puluh dolar di masa lalu, jauh lebih berharga dari pada 228 dolar di
masa sekarang," ujar Faisal.

Seandainya konsumsi masyarakat Indonesia adalah seluruh barang-barang
dan jasa yang diproduksi di dalam negeri, pendapatan per kapita yang
merosot takkan terlalu jadi masalah. Namun, kenyataannya, sebagian
besar kebutuhan hidup masyarakat, masih mengandalkan impor. Terigu
misalnya, boleh dibilang seratus persen harus diimpor. Bahkan, beras
sekalipun, Indonesia masih mengimpor sebesar 4 juta ton.

Kalau nilai rupiah terus-menerus anjlok, kesejahteraan masyarakat
jelas makin turun, karena dalam perekonomian global, semakin banyak
barang-barang yang mesti dibeli dari luar negeri. Misalnya, sebelum
terjadinya penurunan nilai rupiah, harga tiket pesawat ke Amerika
Serikat yang berharga 1.000 dolar AS hanya setara dengan Rp. 2,5 juta.
Kini, untuk harga yang sama, harus dikeluarkan biaya sebesar Rp.10
juta. Artinya, orang Indonesia harus bekerja empat kali lebih keras
dari sebelumnya, bila hendak bepergian ke luar negeri.

Sialnya, bagi Indonesia, tak mungkin lagi menutup diri terhadap pere-
konomian global. Mestinya Indonesia bisa mengambil keuntungan dan
menambah pendapatan negara, asalkan mampu menggenjot ekspor. Namun,
untuk mengeskpor pun, Indonesia ternyata banyak bergantung bahan baku
impor. (*)