[INDONESIA-L] KMP - Biaya Cuci Dara

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Feb 26 1998 - 16:00:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Thu Feb 26 19:59:45 1998
Date: Thu, 26 Feb 1998 17:59:05 -0700 (MST)
Message-Id: <199802270059.RAA12268@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Biaya Cuci Darah di RSCM Bisa Turun
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

   Kompas Online
     _________________________________________________________________
   
                          Jumat, 27 Februari 1998
     _________________________________________________________________
   
                      Biaya Cuci Darah di RSCM Bisa Turun
                                       
   Jakarta, Kompas
   
   Biaya cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta bisa
   turun hingga sepertiga dari biaya keseluruhan dengan digunakannya
   tambahan 10 perangkat hemodialisis atau alat cuci darah. Bantuan ini
   disumbangkan oleh Yayasan Pembina Asuhan Bunda.Hal itu diungkapkan
   Direktur RSCM, dr M Ahmad Djojo-sugito, dalam acara serah terima
   dengan yayasan yang mengelola Rumah Sakit Khusus RA Habibie, Kamis
   (26/2) di Jakarta. Yayasan Pembina Asuhan Bunda diwakili Ny Sri
   Soedarsono.
   
   Menurut Ahmad, beban pasien cuci darah cukup tinggi dengan adanya
   kenaikan harga. Oleh karena itu, pihak RSCM berusaha memberi pelayanan
   yang lebih murah dengan meminta bantuan alat cuci darah. RSCM juga
   bekerja sama dengan Yayasan Pembina Asuhan Bunda untuk membeli
   komponen alat cuci seperti tabung (dializer) dan selang (blood line)
   dari Thailand, dengan harga lebih murah.
   
   Pada kesempatan itu, RSCM juga menerima sumbangan satu set perangkat
   pengolah air untuk hemodialisis (Reverse Osmosis Watertreatment), dari
   PT Sinar Roda Utama, penyalur alat hemodialisis.
   
   Alat cuci darah yang disumbangkan sebetulnya bukan baru, berasal dari
   Belanda. "Na-mun tetap dapat digunakan setelah terlebih dahulu
   di-reconditioning," katanya.
   
   Sri Soedarsono mengatakan, bantuan alat ini memang tidak dibeli tetapi
   sumbangan dari Belanda. "Kualitas alat tersebut 80 persen baik,"
   katanya. (bb)