[INDONESIA-L] MEDIA - Kredit Macet

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Feb 23 1998 - 15:31:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Feb 23 19:27:18 1998
Date: Mon, 23 Feb 1998 17:24:17 -0700 (MST)
Message-Id: <199802240024.RAA23679@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] MEDIA - Kredit Macet di Perbankan Capai Rp 10 Triliun Lebih
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

   
      Selasa, 24 Pebruari 1998
      
Kredit Macet di Perbankan Capai Rp 10 Triliun Lebih
     _________________________________________________________________
   
   JAKARTA (Media): Total kredit macet di perbankan mencapai Rp 10,197
   triliun atau sekitar 2,32% dari total kredit. Jumlah kredit macet
   tersebut didasarkan pada catatan pemerintah per Oktober 1997.
   
   Dikhawatirkan, kredit macet di perbankan setelah Oktober berubah,
   akibat kondisi perbankan yang tidak membaik.
   
   Dirjen Lembaga Keuangan (LK) Departemen Keuangan (DK) Bambang Subianto
   menjelaskan hal itu dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VIII DPR
   di Jakarta, kemarin. Dia kemukakan hal tersebut, menjawab pertanyaan
   anggota Dewan perihal kredit macet yang kini ditanggung perbankan.
   
   Bambang mengkhawatirkan kredit perbankan setelah Oktober 1997 akan
   berubah ke arah yang kurang positif. Alasannya, dalam masa krisis
   belakangan, situasi perbankan nasional juga sulit. Karenanya, ia
   menekankan agar dalam pengelolaan perbankan didasarkan pada prinsip
   kehati-hatian.
   
   "Dalam bulan November hingga Januari ada badai angin topan, sehingga
   kemungkinan besar angka-angka itu bisa berubah. Karenanya, perlu
   dicari jalan untuk mengatasinya, misalnya, dipenuhinya standar
   prudential banking," kata Bambang yang juga Ketua Dewan Penyehatan
   Perbankan Nasional.
   
   Untuk lebih rincinya, Bambang mengemukakan tentang besarnya kredit
   macet di perbankan, serta bentuk kredit lainnya. Namun, Bambang enggan
   menjelaskan secara rinci siapa-siapa yang mempunyai kredit macet
   tersebut.
   
   Dalam rinciannya, jumlah kredit perbankan per Oktober 1997 secara
   total mencapai Rp 439,98 triliun, sekitar Rp 175,15 triliun di Bank
   BUMN. Secara keseluruhan, sekitar 91,82% dikategorikan kredit lancar,
   sisanya 2,74% kredit kurang lancar, 3,12% diragukan dan yang macet
   mencapai 2,32%.
   
   Secara persentase, jumlah kredit macet yang paling besar, kebanyakan
   terjadi di Bank Pembangunan Daerah (BPD) yakni 5,24%. Kemudian disusul
   oleh bank persero 3,6%, bank swasta nondevisa 2,3%, bank campuran
   1,83%, bank swasta devisa 1,8%, dan bank asing 0,92%.
   
   Khusus untuk bank BUMN, menurut Bambang, lebih detailnya jumlah kredit
   yang tergolong lancar mencapai Rp 151,905 triliun, kurang lancar Rp
   87,52 triliun, Rp 81,96 triliun diragukan, dan Rp 6,297 kredit macet.
   
   Dalam bank persero, rincian kreditnya adalah 86,73% kredit lancar, 5%
   kurang lancar, 4,68% diragukan. Sementara, untuk bank swasta devisa,
   sekitar 96,32% kredit lancar, 0,89% kurang lancar, dan 1,62%
   diragukan.
   
   Kredit di bank swasta nondevisa, yang lancar mencapai 88,16%, kurang
   lancar 3,98%, dan diragukan 5,56%. Sedangkan, rincian pemberian kredit
   di Bank BPD yang tergolong lancar adalah 88,37%, kurang lancar 2,03%,
   dan diragukan 4,36%.
   
   Untuk bank campuran dan bank asing, penyaluran kreditnya tergolong
   lebih baik. Lebih detailnya, untuk bank campuran sekitar 93,91%
   termasuk kredit lancar, 1,63% kurang lancar, dan 2,63% diragukan.
   (Hri/NB/T-1) bi
     _________________________________________________________________