Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Feb 23 17:35:49 1998
Date: Mon, 23 Feb 1998 15:33:14 -0700 (MST)
Message-Id: <199802232233.PAA29964@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KMP - Dr. Karlina 'Dibawa' ke Polda
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Kompas Online
_________________________________________________________________
Selasa, 24 Februari 1998
_________________________________________________________________
Usai Aksi Damai
Dr Karlina "Dibawa" ke Polda
Kompas/ed
____________________
Jakarta, Kompas
Astronom pertama perempuan di Indonesia, Dr Karlina Leksono-Supelli
(39) dibawa ke Markas Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya (Mapolda
Metro Jaya) untuk dimintakan keterangannya usai bersama
rekan-rekannya, sesama ibu rumah tangga, menyampaikan aspirasinya di
seputar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (23/2) siang. Mereka
tergabung dalam suatu kelompok yang bernama "Suara Ibu Peduli" (SIP)
tiba di Mapolda Metro Jaya pukul 12.30 WIB.
Pemeriksaan masih berlanjut hingga berita ini diturunkan pukul 23.15
WIB. Karlina tetap didampingi dua pengacara dari LBH Jakarta, Apong
Herlina SH dan Daniel Panjaitan SH, serta seorang pengacara dari
Institut Sosial Jakarta (ISJ), Azas Tigor Nainggolan SH. Untuk
sementara, menurut Nainggolan, sangkaan masih tentang pelanggaran
ketertiban umum, pasal 510 KUHP. "Masih ada sekitar empat pertanyaan
lagi," kata Daniel Panjaitan.
Sekitar 20 menit
Aksi damai yang diawali pukul 11.50 WIB itu hanya berlangsung sekitar
20 menit. Polisi membubarkan aksi itu dan membawa tiga dari belasan
pelaku aksi damai untuk diperiksa. Pendukung SIP ini antara lain Guru
Besar Filsafat UI Prof Dr Toety Herati Nurhadi, aktivis Julia
Suryakusuma serta para aktivis perempuan lainnya. Mereka menyuarakan
keprihatinan ibu-ibu rumah tangga Indonesia yang paling merasakan
akibat harga-harga membubung.
Sekitar pukul 11.50 WIB, Karlina yang didampingi sekitar delapan orang
ibu rumah tangga lainnya datang dari arah Jl Prof Mohammad Yamin dan
Jl Sutan Syahrir yang berdekatan dengan Wisma Nusantara dan Gedung
Kedutaan Besar Kerajaan Inggris. Aparat kepolisian yang sudah sejak
pagi berada di bawah layar iklan SCTV hanya mengiringi mereka dari
belakang dan awalnya tidak mencegah kegiatan ibu-ibu rumah tangga itu.
Berlindung di bawah payung, kaca mata hitam, dan selendang yang
dikerudungkan, mereka menyeberang dan langsung masuk ke kawasan
sekitar kolam bundaran Hotel Indonesia. Karlina Leksono dan
kawan-kawannya langsung membuka spanduk kain dan poster kertas yang
intinya berisi keresahan ibu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari, khususnya kebutuhan susu bubuk bagi anak-anaknya.
Ditanya mengenai latar belakang melakukan kegiatan unjuk rasa ini,
Karlina dan rekan-rekannya menyatakan kesedihannya atas naiknya harga
serta sulitnya persediaan susu bagi anak-anak generasi mendatang di
Tanah Air. "Kami resah karena sulit mendapatkan susu di pasar. Selain
itu bagaimana generasi muda menghadapi tantangan masa depan, jika
kebutuhan gizi mereka sulit dipenuhi saat ini," kata Karlina dan
rekannya Taty Krisnawati.
Tuntutan yang disampaikan SIP adalah, menghendaki keluarga sehat serta
terpenuhi kebutuhan pokoknya, anak-anak mendapatkan gizi memadai,
menghendaki orang yang dicintai tetap aman dan selamat, dan
menghendaki bangsa ini menghormati martabat manusia.
Sebelumnya, di sebuah kafe Hotel Indonesia, guru besar ilmu filsafat
UI Ny Toety Herati Nurhadi yang juga pendukung SIP mengatakan, aksi
mereka sama sekali tidak bermuatan politik. "Tiap hari kami membaca
berita, namun tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Kenyataannya,
ibu-ibu mengeluhkan harga susu yang melambung naik," kata Toety
Heraty.
Dimintai keterangan
Selama aksi damai, ibu-ibu anggota SIP sempat membagi-bagi beberapa
kuntum bunga mawar merah dan diserahkan ke aparat kepolisian yang
hanya melokalisir kegiatan mereka. Dalam aksi itu mereka sempat
membacakan pernyataan keprihatinan, menyanyikan lagu Ibu Pertiwi dan
berdoa bersama yang diwarnai dengan perintah membubarkan diri dari
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Pusat, Letkol (Pol)
Iman Haryatna.
Karlina yang tercatat sebagai peneliti pada Pengkajian Ilmu Dasar dan
Terapan BPPT sejak tahun 1986 itu, saat ini menjadi pengajar luar
biasa pada Program Studi Filsafat dan Program Studi Lingkungan untuk
mata kuliah filsafat lingkungan, keduanya di bawah Program
Pascasarjana UI, membacakan pernyataan keprihatinan setebal dua
halaman.
Akhirnya ia bersama dua rekannya Gadis Arivia dan Wilarsih dibawa
dengan mobil Kijang bak terbuka ke Mapolda Metro Jaya di kawasan
Semanggi, Jakarta Selatan. "Saya yang bertanggung jawab. Jangan angkut
yang lain," teriak Dr Karlina Leksono untuk mencegah naiknya
rekan-rekan lain untuk menemani dirinya ke Mapolda Metro Jaya. Namun,
Gadis, dan Wilarsih tanpa dapat dicegah ikut naik ke mobil tersebut.
"Mereka hanya akan dimintakan keterangannya di Mapolda Metro Jaya. Ia
dan rekan-rekannya dapat terkena ketentuan pasal 510 Hukum Pidana
karena melakukan kegiatan di tempat umum tanpa izin serta mengganggu
ketertiban umum. Yang jelas dengan kegiatannya di Bundaran HI ini,
mereka telah mengganggu ketertiban umum dan kelancaran lalu lintas,"
ucap Kapolres Jakarta Pusat.
Ditanya mengenai diangkutnya mereka ke Mapolda Metro Jaya, Iman
Haryatna menyatakan hal itu terpaksa dilakukan. "Tindakan ini kami
ambil karena sudah diperingatkan berkali-kali untuk membubarkan diri
tetapi mereka mengabaikan perintah saya. Kalau keadaan ini dibiarkan
akan menarik perhatian orang," tegas Iman.
Karlina dan dua rekannya selama diperiksa di Mapolda Metro Jaya
didampingi pengacara Azas Tigor Nainggolan, Sri Wiyanti, Sriti Hesti
Astiti, Vincent Edwin Hasyim dan Daniel Panjaitan.
Kapolda Metro Jaya Mayjen (Pol) Hamami Nata saat menghadiri serah
terima Brimob dari Polda se Jawa-Sumatera-Bali kepada Polda Metro
Jaya, Senin sore, tidak bersedia berkomentar mengenai penangkapan
ketiga pelaku aksi damai di Bundaran HI.
Dengan pengacara
Sekitar pukul 12.30 WIB, ketiga tersangka tiba di Markas Polda Metro
Jaya. Lebih dari tiga jam mereka ditampung di Bagian Pelayanan
Masyarakat (Yanmas) sebelum akhirnya dipindahkan ke ruangan Kepala
Unit Vice Control untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sekitar pukul 17.00
tim pengacara yang dipimpin Azas Tigor Nainggolan SH dari Institut
Sosial Jakarta (ISJ) dipersilakan memasuki ruangan untuk melengkapi
berkas berita acara pemeriksaan.
Menurut Nainggolan, selama aksinya itu, Karlina sempat bernegosiasi
dengan petugas dari Polda Metro Jaya. Karlina meminta diberi
kesempatan melakukan aksinya dengan menyanyi, membaca puisi, membagi
bunga, dan doa bersama.
Aksi itu sendiri, menurut salah satu anggota tim pengacara dari LBH
Jakarta, Vincent E Hasjim SH, sulit dikategorikan sebagai kegiatan
melanggar ketertiban umum, apalagi memacetkan lalu lintas. Karena,
mereka sama sekali tidak mengganggu lalu lintas atau ketertiban umum.
Para wartawan yang berdesak-desak saat mengabadikan peristiwa, menurut
dia, yang sempat memacetkan lalu lintas.
Protes tertulis
Atas ditangkapnya sekelompok ibu-ibu rumah tangga yang menyuarakan
aspirasinya lewat SIP oleh aparat kepolisian, Direktur Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) Jakarta, Apong Herlina dalam siaran persnya semalam
menyatakan keberatannya.
Pada intinya LBH Jakarta menyatakan keberatan dan menyesali tindakan
yang mengekang aspirasi dan kebebasan para ibu rumah tangga itu
mengemukakan pendapatnya secara damai.
"Mereka melakukan aksi damai itu, lebih merupakan gerakan moral dan
tanpa maksud politis sama sekali. Ini karena beratnya beban yang
menghimpit akibat tidak terjangkaunya harga sembilan bahan pokok
belakangan ini," kata Apong. (Tim Kompas)