[INDONESIA-P] KMP - Pendapatan per

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Feb 18 1998 - 14:31:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Wed Feb 18 18:20:00 1998
Date: Wed, 18 Feb 1998 16:14:38 -0700 (MST)
Message-Id: <199802182314.QAA10847@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Pendapatan per Kapita Tahun Ini 610 Dollar
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com

   Kompas Online
     _________________________________________________________________
   
                          Selasa, 17 Februari 1998
     _________________________________________________________________
   
                  Pendapatan per Kapita Tahun Ini 610 Dollar
                                       
   jpe
   Ginandjar K Jakarta, Kompas
   
   Pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada tahun ini diperkirakan
   sebesar 610 dollar AS atau menurun dibandingkan tahun 1996 sebesar
   1.155 dollar, dan tahun 1997 sebesar 1.088 dollar AS. Dengan demikian,
   kalau dibandingkan dengan negara lain peringkat Indonesia turun
   kembali menjadi negara yang berada pada batas antara negara miskin dan
   negara menengah."Sebelumnya ketika kita mampu menembus angka
   pendapatan per kapita 1.200 dollar AS, Indonesia sudah hampir menuju
   pada negara industri baru (NIB)," kata Menneg Perencanaan Pembangunan
   Nasional/Ketua Bappenas, Ginandjar Kartasasmita, dalam rapat kerja
   dengan Komisi VIII DPR di Jakarta, Senin (16/2).
   
   Rapat dipimpin Wakil Ketua Komisi VIII, Jhony Alwi Banyo. Menurut
   Ginandjar, angka perkiraan pendapatan per kapita tahun 1998 sebesar
   610 dollar AS, didasarkan pada asumsi pertumbuhan nol persen, laju
   inflasi 20 persen, laju pertumbuhan penduduk 1,6 persen, serta nilai
   kurs Rp 5.000/dollar AS.
   
   Perhitungan pendapatan per kapita dalam mata uang dollar AS, kata
   Ginandjar, lebih ditujukan untuk membandingkan Indonesia dengan negara
   lain. "Sebenarnya kita tidak pernah mentargetkan sesuatu dalam dollar
   dan seharusnya sebagai negara berdaulat kita bisa menggunakan mata
   uang negara kita sendiri," tambahnya.
   
   Menjawab pertanyaan anggota Dewan, Ketua Bappenas mengatakan, dengan
   adanya gejolak moneter dan perubahan kurs jumlah penduduk miskin
   menjadi sulit diperkirakan. Menurut rencana, pada akhir tahun Repelita
   VI jumlah penduduk miskin akan tinggal enam persen.
   
   Berdasarkan hasil Susenas, jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun
   1996 tinggal 11 persen. Diharapkan pada akhir Repelita VI, atau pada
   tahun 1999, jumlah penduduk miskin bisa tinggal tujuh persen dengan
   asumsi setiap tahun turun satu persen. Perkiraan penurunan angka
   penduduk miskin itu dibuat sebelum terjadi gejolak.
   
   Dengan pertumbuhan ekonomi nol persen pada tahun anggaran 1998/1999,
   jelas Ginandjar, tidak akan ada tambahan lapangan kerja baru. Sehingga
   tambahan angkatan kerja baru yang diperkirakan sebesar 2,7 juta orang
   akan menjadi kelompok penganggur.
   
   Jumlah pengangguran pada tahun lalu, sekitar 4,4 juta orang dan jumlah
   penganggur yang mengalami musibah PHK (pemutusan hubungan kerja) di
   berbagai sektor diperkirakan mencapai 1,6 juta orang. Secara
   keseluruhan pada akhir tahun 1998, diperkirakan jumlah penganggur
   menjadi sekitar 8,7 juta orang atau 9,3 persen dari seluruh angkatan
   kerja.
   
   Harga solar
   
   Sementara itu, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR, Senin kemarin,
   Mentamben IB Sudjana mengungkapkan, harga baru minyak tanah dan solar
   yang dikonsumsi rakyat kecil dipastikan lebih rendah dengan yang
   dikonsumsi oleh industri. Namun besarnya persentase kenaikan dan cara
   pendistribusian kedua jenis bahan bakar tersebut masih dalam
   pembahasan.
   
   "Pembedaan harga baru kedua bahan bakar minyak (BBM) tersebut
   merupakan salah satu formulasi yang akan diterapkan. Formulasi
   selengkapnya masih terus dibahas. Ini merupakan pekerjaan rumah
   Pertamina dan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama," kata
   Sudjana.
   
   Dasar pertimbangan pembedaan harga tersebut, menurut dia, karena
   ternyata minyak tanah yang dikonsumsi rakyat hanya sekitar 50 persen.
   Sedang sisanya dimanfaatkan oleh industri. "Apakah kita setuju kalau
   industri-industri masih diberi subsidi," katanya. Karena itu, harga
   minyak tanah yang dikonsumsi langsung oleh rakyat tetap akan naik,
   namun tidak sebesar harga untuk industri. Supaya subsidi ini tidak
   salah sasaran, maka warna minyak tanah dibedakan antara yang dibeli
   rakyat dengan industri.
   
   Selain itu, menurut Sudjana, nantinya pendistribusian minyak tanah
   untuk rakyat akan disalurkan lewat koperasi. Ini sekaligus untuk
   memberikan kegiatan kepada koperasi.
   
   Cara yang sama juga diterapkan untuk minyak solar. Solar untuk
   industri dan gedung-gedung tinggi yang menggunakan diesel sendiri
   harganya tentu lebih tinggi dibanding solar yang dikonsumsi angkutan
   umum. Sebab, untuk angkutan umum ini mengandung kepentingan orang
   banyak. Sedangkan untuk harga baru premium dan avtur tidak ada
   pembedaan.
   
   Subsidi minyak tanah dan solar sekarang ini cukup besar. Minyak tanah
   diimpor dengan harga Rp 1.300 tetapi dijual Rp 280 per liter. Sedang
   solar diimpor dengan harga Rp 1.030 dan dijual dengan harga Rp 380 per
   liter.
   
   Dalam kesimpulan sementara, Komisi V DPR mendukung rencana penyesuaian
   harga BBM tersebut. Namun Komisi V mengharapkan, kenaikan harga BBM
   tidak dilakukan secara drastis, tetapi bertahap sehingga kenaikan itu
   tidak terasa memberatkan rakyat.
   
   Sementara itu, anggota Komisi V Joeslin Nasution meminta agar
   pemerintah tidak serta-merta menaikkan harga BBM tanpa sebelumnya
   mengharuskan Pertamina melakukan efisiensi. Sebab, jangan sampai
   karena Pertamina tidak efisien, beban biaya produksi ini dikenakan
   kepada rakyat. (gun/ose)