[INDONESIA-L] Tan Malaka (3)

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Dec 09 1997 - 16:16:00 EST


Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Tue Dec 9 20:09:28 1997
Date: Tue, 9 Dec 1997 18:03:53 -0700 (MST)
Message-Id: <199712100103.SAA11867@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Tan Malaka (3)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

From: "TanMalaka Merahputih" <merahputih45@hotmail.com>
To: apakabar@clark.net
Subject: TanMalaka
Date: Tue, 09 Dec 1997 08:27:17 PST

TAN MALAKA; PEJUANG REVOLUSIONER YANG KESEPIAN (3)

SEWAKTU di Semarang, dia sudah menunjukan sikap bebasnya dalam pemikiran
atau ide yang dikemukakannya, kadang-kadang bahkan mengambil posisi
yang berlawan dengan tokoh-tokoh PKI lainnya. Visi revolusi Tan Malaka
dari semula adalah menentang kolonialis-imperialis Belanda. Masyarakat
Indonesia versus kekuasaan kolonial sebagai titik tolaknya. Tidaklah
mengherankan kalau dia kemudian menetang sikap garis keras yang
diperlihatkan oleh sebagian tokoh penting PKI dalam percekcokan mereka
dengan Sarekat Islam.

Perpecahan seperti ini menurut Tan Malaka hanya melemahkan kekuatan
bangsa Indonesia secara keseluruhan dalam menentang penjajah, dan oleh
karena itu perlu dihindari.

Sikap keras yang ditunjukan tokoh-tokoh PKI rupanya sebagian dipengaruhi
oleh kebijaksanaan politik Komintern di Moskow yang menentang PAN
Islamisme (Modernisme Islam) sebagai corak baru dari imperialisme. Tan
Malaka tidak bisa menerima sikap Komunis Internasional itu, antara lain
karena menurut dia Pan Islamisme justru bangkit menentang imperialisme
Barat yang menjajah kaum Muslimin di berbagai negara di dunia ini. Ciri
Pan Imperialisme juga anti imperialisme. Di samping itu, Tan Malaka
rupanya juga memahami juga bahwa jiwa mordernis yang dibawa Pan
Islamisme sesuai dengan sikap anti dogmatisnya. Tambahan lagi, Islam
secara realistis merupakan kekuatan politik yang besar di Indnesia.

Itu menyebabkan Tan Malaka menilai bahwa sikap anti PAN Islamisme
Moskow tidaklah mencerminkan realita suasana perkembangan dunia pada
waktu itu, dan sejalan dengan itu sikap anti Sarekat Islam dari PKI
tidak pula sesuai dengan keadaan sebenarnya dari masyarakat Indonesia.
Setia kepada pandangan politknya yang berasal dari hasil pemikirannya
sendiri, Tan Malaka meneruskan sikap bebasnya itu sewaktu dia
berkesempatan berbicara di muka Kongres Komintren sebagai wakil PKI,
tidak lama sesudah dia dibuang ke Belanda.

Tan Malaka tetap mengemukakan kekeliruan kebijakasanaan Komintern
terhadap Pan-Islamisme dan menghendaki agar sikap itu diubah. Namun,
Komintern tidak menghiraukan apa yang dikatakan Tan Malaka.

Dari uraian di atas jelas kelihatan bahwa Tan Malaka mengembangkan dan
berani mengemukakan pemikirannya sendiri, walau pun dia berbeda atau
bertentangan dengan garis politik yang ada.

Salahsatu kasus lagi ialah pertentangannya dengan tokoh-tokoh PKI
mengenai pemberotankan tahun 1926/1927. Sewaktu Tan Malaka mengetahui
bahwa tokoh-tokoh PKI akan mencetuskan pemberontakan (Putusan Prambanan
1925), Tan Malaka berusaha mencegahnya karena menganggap saatnya belum
tiba. PKI masih kecil, belum berkuku tak mungkin mampu menggerakkan
massa rakyat. Lagi pula gerak-geriknya selalu diawasi secara ketat oleh
pengusaha kolonial.

Tan Malaka menganalisa, kalau pemberontakan itu jadi dilakukan akan
mengalami kegagalan. Usahanya untuk mecegah memang tidak berhasil.
Pemberontakan meletus di Sumatera Barat dan Banten, tetapi dalam waktu
pendek berhasil dilumpuhkan pengusaha pengusaha kolonial.

Analisa Tan Malaka terbukti benar. Dilhat dari kacamatanya, tokoh-tokoh
PKI yang mencetuskan pemberontakan itu tampak berfikir atau mengikuti
ideologi secara dogmatis dan oleh karena itu nekad.

Sikap bebas yang diperlihatkan Tan Malaka, baik dalam tingkah laku
politik mau pun pemikirannya merupakan sumber penting dalam
perselisihannya dengan kaum komunis di belakang hari, apalagi kalau
mereka dianggapnya terlalu dogmatis terhadap ideologi.

Sebagaimana diketahui kemudian, Tan Malaka berpisah dengan orang-orang
komunis, karenanya kaum komunis memperlihatkan sikap tak senangnya
terhadap Tan Malaka dengan berbagai macam cara antara lain dengan jalan
menuduh Tan Malaka sebagai beraliran atau menjadi pengikut Trotsky,
seorang tokoh yang dibenci dalam dunia komunis, karena dianggap
menyeleweng.

Bahkan Tan Malaka kemudian dituduh penghianat yang menyebabkan gagalnya
pemberontakan 1926/1927.

Orang yang amat mengharagai kebebasan berfikir seperti Tan Malaka tak
mungkin mampu menyesuaikan diri dengan organisasi yang dikendalikan
oleh sikap dogmatis terhadap idelogi secara ketat. Orang seperti Tan
Malaka akan mampu melihat dan mengemukakan apa yang dianggapnya baik
(atau buruk) di mana pun letaknya. Dalam hal ini pendangan Tan Malaka
tentang Barat merupakan contoh terbaik dari hasil kebebasan berfikirnya.
Sungguh pun dia secara politik dan ekonomis menantang kapitalis dan
imperialisme Barat. Namun, ia masih bisa melihat segi-segi positif dari
sana dan menganjurkan agar itu diambil tanpa malu-malu.

"Akuilah dengan putih bersih," tulisnya. "Bahwa kamu (orang Indonesia)
sanggup dan mesti belajar dari Barat. Tapi kamu jangan peniru Barat,
melainkan seorang murid dari timur yang cerdas.....Juga jangan dilupakan
bahwa kamu belum seorang murid, bahkan belum seorang manusia , bila kamu
tak ingin merdeka dan belajar bekerja sendiri.....Seseorang yang ingin
menjadi murid Barat atau manusia, hendaknya ingin merdeka dengan memakai
senjata Barat yang orisinil..."

Pada waktu yang sama hasil pemikirannya juga mengemukakan secara berani
dari segi-segi kelemahan masyarakat Indonesia yang ingin dikikisnya,
terutama sikap yang sangat menghargai kebudayaan kuno yang dianggap Tan
Malaka penuh berisi kesesatan, kefasifan dan tahayul yang menyebabkan
mereka bersemangat budak.

Dalam MADILOG, kebudayaan kuno yang dianggapnya menghalangi orang
berpikir bebas, kritis dan dinamis ialah kebudayaan Hindu-Jawa.
Kebudayaan Hindu yang datang dari India ke Indonesia, dan terutama
berpengaruh di Pulau Jawa, menurut Tan Malaka telah melahirkan
mentalitas budak sebagaimana terlihat dari sisa-sisa feodalisme.
Di sini dia, apakah untuk keperluan pengontrasan, memang terasa
memperlakukan kebudayaan Hindu-Jawa secara kurang simpatik. Sebagian
dari itu mungkin disebabkan oleh pengetahuannya yang relatif terbatas,
atau juga mungkin karena dia menganggap bahwa visi kebudayaan
Minangkabau yang asli jauh lebih unggul, sehingga mendorongnya untuk
mengambil generalisasi yang tampak sulit untuk dipertahankan.

Kalau seandainya Tan Malaka membaca pemikiran-pemikiran Soekarn,
seperti yang terbit antara tahun 1926 dan 1933, dia akan menemui
bagaimana seorang yang sedikit banyaknya terpengaruh oleh sisa-sisa
kebudayaan Hindu-Jawa yang dikutuknya itu berhasil melahirkan ide-ide
yang berbobot dan berani. Dalam suasananya sendiri, yaitu secara
pribadi membaca literatur-literatur Barat, Soekarno sebenarnya secara
mental melakukan perantauan. Dia melakukan cara berfikir aktif dan
dinamis, darimana lahir pula konsep-konsepnya yang orisinil dan tajam
seperti "Marhanenisme".

Secara garis besarnya, cara berfikir Soekarno tidak jauh berbeda,
kalaulah tidak identik, dengan Tan Malaka, di mana ciri-ciri dimanis
atau dialektisme jelas terlihat sebagaimana Tan Malaka, Soekarno secara
kritis mempelajari pemikiran-pemikiran Barat, terutama yang berasal dari
kaum sosialis, yang sering dipakainya sebagai alat buat memperjelas
hasil-hasil pemikirannya sendiri.

Barangkali, setiap masyarakat dalam pertemuan dengan dunia dan
kebudayaan luar, seperti Barat, akan terpaksa membuka dirinya buat
menerima kemungkinan lahirnya orang-orang yang berani berfikir dinamis
dan kritis sebagai akibat langsung dari pertemuan dua kebudayaan itu.
Orang-orang inilah yang melahirkan syinthesis berupa pemikiran-pemikiran
baru yang dianggapnya relevan dan oleh karena itu bisa dipakai buat
suasana baru yang sedang atau akan muncul.

Kalau di Minangkabau salah seorang dari mereka itu adalah Tan Makaka,
maka di Jawa salah seorang dari mereka adalah Soekarno.

VI

Sebagaimana dapat dilihat tadi, Tan Malaka hampir selalu menemukan
dirinya dalam suasana konflik, yaitu melihat hal atau ide yang tak
sesuai dengan yang diharapkan atau dipunyainya. Dia hampir selalu
berhadapan dengan kondisi thesis-antithesis yang menuntut kepadanya
untuk melahirkan Synthesis. Suasana yang tegang itu, sebagaimana antara
lain terlihat dalam otobiografinya, merupakan tantangan yang diterimanya
dengan sepenuh hati, dan itu telah menjadikannya seorang intelektuil
yang amat produktif. Sesuai dengan dinamika jalan pikirannya, ia tak
pernah menyerah pada suatu tantangan, karena yakin bahwa pada akhirnya
kekuatan intelektuilmenya akan berhasil mengatasinya dan keluar sebagai
pemenang. Konflik, kontadiksi atau tantangan baginya adalah wajar dan
lumrah.

Pada esensinya pemikiran-pemikiran dan perjuangan Tan Malaka terpusat
pada tujuan untuk memerdekakan bangsanya dan sekaligus merombaknya
secara total dan dratis dalam segala bidang-- politik, ekonomi, sosial
dan budaya.

Sewaktu di pembuangan dan menjadi salah seorang agen Komintern di
Canton, dia menerbitkan buku (1925) "Menuju Republik Indonesia" (titel
aslinya; Naar de Republik Indonesia). Dalam karyanya ini ia mengemukakan
program-program untuk mencapai atau menuju berdirinya Republik Indonesia
yang menyangkut berbagai macam bidang seperti politik, ekonomi, sosial,
pendidikan bahkan militer. Program-program ini sebenarnya dimaksud Tan
Malaka sebagai pegangan partainya (PKI) yang diinginkannya untuk
mengambil atau memainkan peranan pimpinan revolusioner ke arah yang
dicita-citakannya.

Akan tetapi, hubungannya dengan tokoh-tokoh PKI, sebagaimana yang telah
diungkapkan tadi, kemudian memburuk dan akhirnya rusak sama sekali
setelah terjadi pemberontakan 1926/1927. Pemberontakan yang dikecam Tan
Malaka sebagai perbuatan konyol itu praktis melumpuhkan PKI sebagai
kekuatan politik waktu itu.

Kritik Tan Malaka terhadap kegagalan pemberontakan itu melahirkan
karyanya "Massa Aksi", di mana ia menekankan bahwa suatu revolusi
Indonesia hanya mungkin terjadi dengan berhasil kalau didukung oleh
massa rakyat yang tersusun/teroganisir. Di sini kembali tampak denhan
jelas bahwa dia menginginkan agar kaum proletar memegang pimpinan
revolusioner, tetapi syarat untuk sukesnya revolusi itu baginya tetap
dukungan massa yang kuat. Bahkan, kalau sudah berhasil, yaitu
kemerdekaan Indonesia tercapai, dia masih melihat bahwa kerjasama dan
persauan antara berbagai golongan, terutama antara proletar dengan yang
bukan proletar, tetap meupakan syarat mutlak dan perlu dipertahankan.

Bilamana kerjasam itu, kata Tan Malaka, sampai terputus, ia
memperkirakan kemungkinan lahirnya suasana yang menuju kepada perbudaan
nasional, atau kasarnya penjajahan oleh bangsa sendiri, oleh satu
golongan yang berkuasa. (Lihat dalam buku "Menuju Republik
Indonesia"-1925)

Tetapi mengapa revolusi?
Di samping pengamatannya yang melihat bahwa itu lah yang terbaik untuk
mengeyahkan kaum kolonialis-imperialis dari bumi Indonesia, dia juga
mempunyai alasan atau argumentasi lain.

Menurut Tan Malaka, bangsa Indonesia belum mempunyai riwayat sendiri
selain dari perbudakan, baik perbudakan dalam bentuk feodalisme (oleh
bangsa sendiri) mau pun dalam bentuk penjajahan (oleh bangsa asing).
Implikasinya, bangsa Indonesia baru akan mempunyai sejarah sendiri yang
tidak bersifat perbudakan kalau berhasil mengadakan revolusi total,
yakni mengeyahkan penjajah ke luar dan sekaligus membersihkan diri ke
dalam. Revolusi Indonesia, kata dia, mempunyai dua tombak , yaitu
mengusir imperialis Barat dan mengikis sisa-sisa feodalisme.

Revolusi semacam itulah, bilamana berhasil dilaksanakan akan
mendatangkan perubahan yang berarti dan menyeluruh dalam politi,
ekonomi, sosial dan bahkan mental, dan itu berarti lahirnya masyarakat
baru yang tidak lagi diwarnai oleh perbudakan. Masyarakat Indonesia
baru yang diinginkan Tan Malaka dan sekaligus menjadi tujuan
revolusinya adalah masyarakat Indonesia yang merdeka dan sosialis.
Masyarakat semacam itu hanya bisa lahir kalau dilandasi oleh dasar
kerakyatan.
Kerakyatan itulah, dalam terminologi politiknya "murbaisme, yang menjadi
tujuan akhir dari revolusi Tan Malaka.

Setelah PKI praktis dihancurkan oleh pengusaha kolonial, dalam bulan
Juli 1927 Tan Malaka bersama-sama dengan Subakat dan Djamaludin Tamim
mendirikan "Partai Republik Indonesia" atau PARI di Bangkok. Pendirian
PARI ini menarik perhatian, terutama dalam hubungan Tan Malaka sebagai
tokoh komunis di pembuangan pada waktu itu dari segi kelanjutan
usahanya merealisir cita-cita revolusinya.

Inisiatifnya mendirikan PARI sebagian berasal dari percekcokannya dengan
kaum komunis Indonesia (peristiwa pemberontakan 1926/1927 dan
ketidaksesuaiannya dengan sikap politik Komintern (terutama yang
menyangkut PAN Islamisme).

 Sementara itu, Moskow juga tampak lebih banyak memakai Komintern buat
kepentingan "hegemony" internasional Rusia daripada kepentingan
perjuangan kaum nasionalis di daerah-daerah jajahan. Di sini, kalau
analisa di atas betul, jelas kelihatan bahwa warna nasionalime dalam
diri Tan Malaka jauh lebih tajam daripada fanatisme terhadap ideologi
(komunisme). Itulah salahsatu faktor yang telah memungkinkannya
mendirikan sebuah partai baru (PARI) tanpa merasa terikat untuk
memasukan kata komunis di dalamnya. Hal ini tentu juga berkaitan erat
dengan sistim pemikirannya yang mengutamakan kebebasan dan dinamika.
(BERSAMBUNG)