Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Nov 16 21:11:13 1997
Date: Sun, 16 Nov 1997 19:06:39 -0700 (MST)
Message-Id: <199711170206.TAA21916@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] TI - Sempalan di Atas Jagad Nusantara
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
http://www.tempo.co.id/min/37/nas1.htm
[Image] Edisi 37/02 - 15/Nop/1997
Nasional
----------------------------------------------------------------------------
[Image]
----------------------------------------------------------------------------
Sempalan di Atas Jagad Nusantara
------------------------------------------------------------------
Di luar perseteruan KISDI dan Perhimpunan Penghayat Kepercayaan,
ternyata tumbuh berbagai sempalan agama. Semuanya tumbuh dalam
Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Mengapa mereka dilarang?
------------------------------------------------------------------
Kontroversi pengakuan aliran kepercayaan dalam GBHN mencuat lagi,
setelah dipicu protes KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas
Dunia Islam). Puluhan massa pendukung KISDI mendatangi FPP/MPR, 5
Nopember lalu. Mereka menuntut agar aliran kepercayaan dikeluarkan
dari GBHN. Sebab kelompok ini dinilai telah memanfaatkan legalitas
GBHN untuk memperkuat posisinya.
Selain itu, KISDI juga meneriakkan agar Direktorat Pembinaan
Penghayat Kepercayaan (DPPK) yang bernaung di bawah Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, dibubarkan dan pembinaan aliran
kebatinan ini diserahkan kembali kepada induk agamanya. Protes itu
disampaikan berkaitan dengan tengah dibahasnya naskah GBHN 1998
oleh MPR. "Keberadaan mereka jelas akan merongrong kewibawaan
Islam," ujar Ketua Pelaksana Harian KISDI HA Sumargono, sengit.
(lihat wawancara Sumargono: "Aliran ini Akan Merongrong Kewibawaan
Islam").
Buktinya, menurut Soemargono, aliran kebatinan ini tetap bertahan
dengan keyakinannya. Mereka menolak untuk kembali ke agamanya
masing-masing. Bahkan mereka terang-terangan membentuk sistem
sosial dan ritual tersendiri, seperti misalnya cara menikah,
bersumpah, mengurus mayat dan lain-lain. Tapi tuntutan ini justru
ditentang Zahid Hussein, Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan.
Menggugat keberadaan mereka dalam GBHN, atau bahkan menumpas
wadahnya, bukan berarti lantas melumpuhkan mereka—yang sudah
tumbuh beratus tahun. (lihat wawancara Zahid Hussein "Apakah
dengan Membunuh Organisasi, Aliran Kepercayaan Akan Mati?" )
Ketua FPP Yusuf Sayakir menambahkan, sebenarnya pihaknya telah
berjuang untuk menolak masuknya aliran kebatinan dalam GBHN pada
tahun 1978—dan fraksi ini paling ngotot memperjuangkannya sampai
kini. Ini lantaran dampak negatif yang mereka rasakan dengan
bertenggernya aliran itu sejak tahun 1973. Tapi gagal, dan aliran
ini tetap melenggang didukung GBHN dan kebijakan pemerintah.
Sampai kini mereka, selain diwadahi, juga bernaung dalam sebuah
direktorat tersendiri dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
RI
Namun, yang menarik dicermati, bagaimana sesungguhnya kisah
tumbuhnya aliran-aliran ini dalam agama?
Aliran dalam Islam:
Rasululalh pernah bersabda, suatu saat umatnya terbelah menjadi 73
firqah, alias golongan . Repotnya, umat Islam lalu berlomba
membentuk dan membanggakan golongan yang paling benar. Bagi umat
Islam, aliran kepercayaan bagai duri dalam daging.
Sempalan-sempalan agama yang dianggap menyesatkan itu hidup subur
dan beragam.
Aceh yang sering disebut Serambi Mekah, menjadi daerah paling
rawan dan hampir tak pernah diam, dari hilir-mudiknya aliran
sempalan. Aliran sesat Bantaqiyah, misalnya. Mereka diduga punya
satu sambungan ajaran Hamzab Fansyuri yaitu ajaran Wujudiyah, yang
sejak abad 16 merupakan aliran paling terkenal di daerah itu.
Ajaran ini mengumbar tata cara ibadah mirip ajaran Syekh Siti
Jenar yang menyebarkan fana fillah alias musnah dalam Allah dan
Anal Haq atau Akulah Tuhan—ajaran yang digagas sufi kontroversial
Al-Hallaj.
Sempalan lainnya, Pasukan Jubah Putih, menyerbu masjid Nurul Huda
Meulaboh dan Sligi pada 1984. Ajaran serupa juga dilakoni oleh
pasukan yang menamakan diri Gerakan Ma’rifatullah pimpinan Ilmas
Lubis di Aceh Barat. Bersama sederet aliran lain, keduanya lantas
dilarang.
Ketua Badan Koordinasi Penelitaan Aliran Kepercayaan Masyarakat
(Bakor pakem) secara resmi meminta agar Kejaksan Tinggi Aceh
membubarkan seluruh kegiatan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)
yang menjurus ke jalur sesat. Pimpinan LDII nekad mengisolir
pengikutnya dari umat Islam lain. Mulai dari sholat berjamaah dan
berjabat tangan. Mereka bahkan beranggapan bahwa tempat duduk yang
baru ditempati umat islam lainnya, dianggap haram tanpa disucikan
dulu.
Pada tanggal 28 Januari 1983 Tarekat Saufiyah Sumaniyah yang konon
warisan Syeikh Ibrahim Bonjol, diberangus. Aliran ini menganggap
haji tidak wajib, cukup mensucikan diri.
Tak lama berselang, di Kuala Simpang tokoh bernama Abdul Majid
Abdulah, bersama pengikutnya bersyiar menggegerkan: orang tua dan
kakek Nabi Muhamad sebagai kelompok kafir yang kelak menjadi kerak
neraka. Aliran ini, termasuk jenis non tarekat, mengharamkan surat
yasin dan wirid. Sebaliknya persentuhan laki dan perempuan setelah
wudu, dianggap sah-sah saja untuk menjalankan salat. Yang lebih
aneh, daging anjing dihalalkan. Aliran yang dibabat tanggal 7
Pebruari 1983 ini memiliki kitab sendiri, bernama Subulus Salam.
Larangan juga berlaku bagi ajaran Ilman Lubis tahun 1982. Aliran
sesat yang tumbuh di pulau Simeulu, Aceh Barat, menerangkan
kiblatuliman terdiri kiblat tubuh, nyawa, hati, dan sirr. Bulan
Juli 1978, dua aliran lagi di bumihanguskan di Aceh Tenggara.
Ahmad Arifin sang pemimpin menganggap alam raya sudah ada sebelum
Allah. Sebentar kemudian giliran pasukan pengikut Ma’rifatulah di
Banda Aceh, dibekuk.
Di Jawa, Islam Jamaah dibubarkan pada 1971. Para bekas penganutnya
lari ke Lemkari yang sebagian besar mengikuti ajaran Ubaidah.
Pemimpin aliran ini. Pos terbesarnya ada di Jawa Timur, bercirikan
mode celana ‘anti banjir’ dan mengharamkan bermakmum dengan orang
di luar jamaah mereka.
Jakarta tak mau ketinggalan. Aliran Ingkar Sunah, yang melarang
adzan, ini berhasil menyedot masa. Tapi, 30 September 1983,
pengikutmya berhasil diringkus aparat. Sementara Teguh Esha,
penulis novel Ali Topan Anak Jalanan, bereksperimen menciptakan
tata cara sholat baru. Rekaatnya berjumlah 19 sehari. Dikemas
dalam bacaan bahasa Indonesia, plus adegan silat. Teguh menyebut
dirinya Rasul, dan berseru bahwa hadis itu dusta
Di Jawa Barat, tak kurang dari 120 aliran dilarang hidup. Di
antaranya, yang tumbuh di bumi priangan Bandung, aliran Ahmadiyah,
tamat pada tahun 1983. Ada pula segerombolan orang Sumedang yang
nekad menyembah matahari. Yang terakhir, konon, punya kitab
sendiri yang dibuat oleh penciptanya, Mai Kartawinata: Pedoman
Baru Dasar Perjalanan, dan Budi Jaya, semuanya dalam bahasa Sunda.
Kitab itu disusun dari kumpulan wangsit yang diperoleh saat
bersemedi di Purwakarta.
Di Subang muncul aliran serupa. Lebih drastis lagi, ajaran ini
menganggap Islam agama impor. Buat apa salat dan puasa yang bikin
kurus? Di Garut muncul Ahmadiyah Qadian, yang dituding
bertentangan dengan Islam, kemudian memicu munculnya Ahmadiyah
baru, dengan embel-embel Lahore. Terakhir muncul tarekat
Idrisiyah, yang mengajarkan zikir sampai pingsan. Menurut MUI,
aliran-aliran itu di luar jamaah Islam.
Seseorang pimpinan aliran sesat juga muncul di Klaten, Jawa
Tengah. Ki Kere Klaten, begitu ia menamakan dirinya. Tahun 1983,
ia harus rela pasukannya dihantam pemerintah. Menyusul kemudian,
golongan Islam Alim Andil pada 1981. Aliran Subud yang merupakan
terusan ajaran mendiang Subud, juga dibredel tak lama kemudian.
Di Ranah Minang lahir aliran Jamiyatul Islamiyah. Pengikutnya
mencapai 50 ribuan menyebar hingga ke Ambon. Aliran ini menyumpah
jamaah dengan menginjak Alquran, menghilangkan kata Muhammad dalam
syahadat sehingga artinya menjadi "akulah ini rasul". Sedang di
Sulawesi Selatan, tiap musim haji sekolompok orang pergi ke gunung
Bawakaraeng dan bertawaf mengelilingi tugu Beton Triagulasi yang
dipancang oleh Belanda. Tahun 1987 angin topan dan banjir
menghajar para haji itu : 13 orang tewas .
Beberapa aliran kepecayaan dan kebatinan, yang dilegalkan oleh
GBHN, terhimpun dalam DPPK. Diantaranya Sumarah dengan kitab suci
Sesanggaman, Pangestu dengan Pusaka Sasengko, Jati Kawruh
Kasunyatan dengan Kawula Gusti Murid Sejati dan ajaran Ngesti
Tunggal. Pangestu sendiri dilahirkan oleh R Soenarto Mertowerdojo
tanggal 14 Februari 1932 dan resmi jadi organisasi pada 1949.
Mereka merupakan aliran pertama yang punya organisasi di alam
kemerdekaan Indonesia. Sedangkan aliran Sumarah, disebut bukan
kepecayaan, tetapi paguyuban menuju ketentraman lahir batin.
Aliran ini dikenalkan pertama kali oleh Raden Soekino Hartono.
Sebenarnya terdapat banyak persamaan dari aliran-aliran legal itu.
Sebagai organisasi aliran, mereka lahir dari rintisan seseorang
yang kelak menjadi sesepuhnya, yang akan membibing pengikutnya
untuk tumbuh. Yang lebih penting adalah meyakini Ketuhanan Yang
Maha Esa. Menurut DR.Kunto Wijoyo dosen Sejarah Fakultas Sastra
UGM, munculnya berbagai aliran sesat disebabkan tipisnya keimanan
seseorang, dan ketidaktahuan tentang agama yang benar.
Aliran dalam Agama Kristen:
Kebanyakan aliran dalam agama ini diimpor dari Amerika. Children
of God adalah yang paling menggemparkan. Pasalnya istilah "kasih"
diterjemahkan sebagai kebebasan seksual. Aliran ini disapu pada
tanggal 12 Maret 1984. Sebelumnya Sidang Jemaat Kristus yang
dikembangkan Raja Dame Sihotang dibredel tahun 1980. Di Jabar,
Aliran Kepribadian diberangus pada 1972. Menyusul kemudian Aliran
kepercayaan Manunggal dan ajaran Siswa Alkitab Saksi Yehova yang
masing-masing tamat riwayatnya pada 31 Juli dan 7 Desember 1976.
Madrais yang berpendapat agama tak lebih kuat dibanding kebatinan,
turut dibabat.
Sementara di Jawa Barat berdiri Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang
(PACKU). Paguyuban yang dibentuk Djatikusumah 11 Juli 1981, ini
menghendaki surat pernyatan keluar dari agama yang semula dianut
bagi calon anggotanya. Ajarannya masih percaya Yesus tapi tidak
terhadap gereja sebagai jalan.
Aliran dalam Agama Budha:
Yang paling terkenal aliran Nichiren Sosu Indonesia (NSI), dari
Jepang, yang lantas menyerang seluruh sekte lain. Diresmikan oleh
Alamsyah Ratu Prawiranegara, di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat,
akhirnya menjadi aliran legal. Sementara Budha Mahayana hasil
kreasi Bikhu Surya Karma Chandra dilarang pada 21 Juli 1978
lantaran tidak mendapat dukungan masyarakat karena tidak menerima
doktrin Ketuhanan Yang Maha Esa. Patung sesembahannya tak hanya
satu patung Budha tapi juga diletakkan patung lain 10 kali lebih
besar sebagai perlambang Awalokitesshwars alias Kwan In
Aliran dalam Agama Hindu:
Hare Khrisna, aliran yang mempunyai ajaran baik, tetapi dianggap
lebih cocok untuk sanyasin yaitu yang sudah lepas dari
keduniawian. Mereka banyak diprotes karena bermaksud meniadakan
segala bentuk upacara keagamaan di Bali dan menimbulkan perpecahan
di kalangan umat Hindu. Aliran ini cuma mengakui Khrisna sebagai
Tuhan. Akhirnya dibekukan pada 1971.
Aliran Sadar Mapan tercipta pada bulan April1984, lantaran
Hardjanto, pemimpinnya, dipecat dari Parisada Hindu. Pusatnya ada
di Tengger, Jawa Timur, dengan penganut berjumlah kurang lebih
satu juta orang.
----------------------------------------------------------------------------