Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Oct 27 20:44:58 1997
Date: Mon, 27 Oct 1997 18:38:21 -0700 (MST)
Message-Id: <199710280138.SAA15921@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Fiksi Kosmologi ...
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
Date: Mon, 27 Oct 1997 16:53:18 +0700
From: wahanaup <wahanaup@mega.net.id>
To: apakabar@clark.net
Subject: FIKSI KOSMOLOGI ALA STEPHEN HAWKING
KOSMOLOGI ALA STEPHEN HAWKING C.S.
MENGANDUNG FIKSI, KONTRADIKSI
DAN INKONSISTENSI
(Bantahan Kritis seorang pelajar seumur hidup (H. Mustamin Dg. Matutu),
di Ujungpandang, terhadap teori "Big Bang" -nya Prof. Dr. Stephen
Hawking cs. dalam bukunya "THE BRIEF HISTORY OF TIME / RIWAYAT SANG
KALA").
Sebagaimana kiranya sudah sama dimaklumi, Stephen Hawking dalam bukunya
tersebut antara lain mendalilkan bahwa SANG KALA / TIME atau waktu itu
sebelum hadirnya kosmos tidak ada atau = 0. Sang Kala baru hadir
bersamaan dengan (proses) kehadiran KOSMOS.
Penulis (H.MDM) menyadari bahwa teorinya Stephen Hawking dimaksudkan
antara lain untuk menjelaskan bagaimana kosmos itu bermula terjadi, jadi
menurut logikanya mestilah bermula dari (fiction/khayalan) "serba
tiada", lalu melalui proses "Big Bang" tiba pada faham "serba ada" /
kehadiran kosmos. Faham serba tiada/serba "0" tersebut meliputi pula
ketiadaan hukum-hukum fisika/hukum-hukum science - seperti antara lain
Vt = S atau S = Vt - yang berlaku (atau dalam istilah Stephen Hawking
- "semua hukum-hukum fisika runtuh"/tidak atau belum berlaku).
Tetapi pendapatnya tersebut lalu segera mengundang timbulnya
pertanyaan-pertanyaan antara lain sebagai berikut :
1. Eksistensi (benda) apa gerangan yang mempunyai massa jenis/kerapatan
massa yang tak terhingga (~) sehingga mampu meledak dengan dahsyat dalam
bentuk "Big Bang" pada - 0 - waktu (t) dan - 0 - ruang (S) ?.
2. Dibawah hukum apakah proses "Big Bang" itu terjadi kalau pada
kejadian itu belum ada/belum berlaku hukum-hukum science antara lain
belum berlakunya hukum Vt = S atau S = Vt ?. Dan karena P (lambang
kerapatan massa/massa jenis) dalam fisika, kerapatan massa pun yang sama
dengan M/V itu juga termasuk hukum science - tentulah menurut Stephen
Hawking cs - belum berlaku pula. "Pada saat Big Bang", katanya "semua
hukum-hukum science runtuh". Apakah mungkin ada yang runtuh dari serba
tiada atau serba "0" (nol) ?. Jelas dari pernyataan demikian adanya
kontradiksi , yakni adanya keruntuhan dari ketiadaan yang runtuh !.
3. Apakah pengertian kerapatan massa atau massa jenis/P itu tidak
termasuk pengertian hukum science/hukum fisika ?.
4. Apakah pengertian "panas" (suhu) betapapun tingginya atau rendahnya
tidak ada hubungannya dengan hukum-hukum science ?.
5. Apakah "pemuaian" itu dapat bermula dari "tiada/0" benda yang memuai
?.
Bagi penulis nampaknya kelima pertanyaan-pertanyaan tersebut dimuka
sudah cukup berimplikasi pembuktian betapa faham bahwa "kosmos" bermula
dari serba "0"/serba tiada itu, hanyalah suatu khayalan besar (Big
FICTION) belaka dan bukannya "Big Bang" . Bahkan - lebih jauh lagi -
faham permulaan serba tiada (serba "0") dari Stephen Hawking cs tersebut
berimplikasi pula bahwa tidakada "penciptaan" (creation), jadi juga
tidak ada "pencipta" (creator). Atau dengan kata lain baginya tiada
TUHAN/ALLAH selaku pencipta KOSMOS alias ia Stephen Hawking berfaham
atheisme, yang jelas bertentangan dengan asas Pancasila Negara Republik
Indonesia.
Bagaimanapun juga kemungkinan terjadinya "Big Bang" itu mustahil sama
sekali terlepas dari keberlakuan hukum-hukum science, utamanya dari
hukum Vt = S atau S = Vt dalam arti V(elocity)/kecepatan kali
t(ime)/waktu = S(pace)/ruang atau jarak, dalam mana "t" mustahil akan =
0. Demikian pula P yang = M/V mustahil = ~ , kalau V(olume) dalam rumus
M/V itu = 0, karena S = 0. Dengan kata lain, tegasnya, Kosmos itu tidak
mungkin bermula hadir (exist) dari kekosongan besaran waktu atau dan t =
0 yang pasti akan berakibat ruang atau S akan sama pula dengan "0".
Sebab berdasarkan persamaan fisika yang matematis sesuatu dengan
kerapatan massa itu mustahil bervolume = 0.
Sedang kerapatan massa/massa jenis dengan lambang "P" adalah M(assa) :
V(olume) atau = M/V. Jadi kalau "P"= ~ pastilah M/V = ~ pula. Maka
M/V hanya mungkin = ~ kalau M = ~ dan V = 1 atau M = 1 dan
V(olume)=1/~. Jadi V(olume) dalam hubungan ini mustahil = 0. Tetapi
dalam teori "Big Bang" nya Stephen Hawking jelas tersirat kemungkinan
V(olume) itu = 0 atau tidak ada sesuatu V, namun menurutnya ada yang
meletup/meledak - lalu memuai dalam bentuk eksistensi/kehadiran
Kosmos/Jagad Raya. Kiranya dengan analisis fisika dan matematika
sebagaimana terurai di muka, menjadi cukup jelaslah betapa teori "Big
Bang" nya Stephen Hawking ber kontradiksi besar dengan hukum-hukum
fisika, bahkan mungkin juga dengan "principia mathematica"nya NEWTON,
tokoh yang kedudukannya (pernah) dalam zaman ini digantikannya dalam THE
ROYAL SOCIETY OF LONDON.
Bagi penulis Kosmos/Jagad raya itu, memang ada permulaannya, tetapi
bukan bermula dari 0 x V(olume) yang = 0. Paling banter Kosmos/Jagad
Raya itu hanya mungkin bermula dari 1/~ x V(olume) atau V = 1/~ dan M=1
sehingga P memang = ~/tak terhingga. Bukankah 1/1/~(MV) =~.
Atau = P = M/V = 1 : 1/~?. Demikianlah, maka bagi penulis, Jagad
Raya/Kosmos itu mustahil dapat bermula dari serba tiada atau serba -0-
atau Vt = 0 ataupun V(olume) = 0. Sebab kalau volume = 0 (karena S = 0,
maka teori Stephen Hawking jadinya adalah sebagai berikut : M/V = M/0
(nol). Lalu M/0 itu dianggapnya P = ~ (massa jenis = ~). Bahwa hal itu
mustahil, dapat kita uji dengan menuangkan jalan fikiran (khayalan)
Stephen Hawking tersebut ke dalam rumus persamaan matematika sebagai
berikut : P(~) = M/0 atau M/0 = ~ atau M/0 : 1 = ~ : 1 atau M/0 x
1 = 1 x ~. Jadi M/0 = ~ atau M = 0 x ~ atau M = 0. Jadi kemungkinannya
M(assa) = 0. Sebab 0 x ~ = 0, yaitu M x 0, barulah M = 0. Jadi dari mana
gerangan P = ~ (massa jenis = ~) disulap oleh Stephen Hawking cs., kalau
menurut sistem itu sendiri ternyata Massa (M) = 0 ?. Sehingga
consistensinya = M/V = 0/0 = 1. Karena demikian, maka seandainya Stephen
Hawking cs bersedia melangkah selangkah lebih jauh dengan mengakui M/V
yang 0/0 yang = 1 (satu/Esa) itu sama pula dengan yang tak terhingga,
maka akan terbukalah peluang bagi penulis untuk sefaham/sependapat
dengannya.
Maka kehadiran kosmos nampaknya tidak terpisahkan dari faham kehadiran
yang "1" (Esa) dan satu-satunya, faham tak terhingga (~) dan 1/~
(sepertak ter terhingga) yang metafisik.
Nampaknya kekeliruan kosmologi ala Stephen Hawking bersumber dari fiksi
(khayalan) -nya bahwa pasangan pengertian tak terhingga (dengan lambang
~) ialah pengertian bilangan 0 (nol). Faham perpasangannya tersebut
tersimpul dalam pendapatnya bahwa ada benda dengan P tak terhingga (~)
besarnya tanpa atau 0 (nol) volume, karena tanpa ruang (S), karena tanpa
t/waktu atau S=0 karena t=0. Kekeliruan tersebut kiranya dapat
diungkapkan dengan matematika persamaan perbandingan sebagai berikut : ~
: 1 = 1 : 0. Lalu persamaan tersebut dapat diubah menjadi persamaan
perkalian dengan mengalikan bilangan yang dibagi/dibanding pada ruas
sebelah kiri persamaan dengan bilangan pembagi/pembanding pada rumus
sebelah kanan persamaan yaitu 0, sehingga terumus menjadi ~ x 0 yang =
0.
Selanjutnya bilangan pembagi/pembanding pada ruas sebelah kiri
persamaan, yaitu "1" dikalikan dengan bilangan yang dibagi/dibanding
pada ruas sebelah kanan persamaan, yakni "1" juga, sehingga terumus
menjadi 1 x 1. Kalau kedua hasil perkalian tersebut dihubungkan dengan
tanda "=", maka terjadilah rumus persamaan perkalian yaitu ~ x 0 = 1 x
1. Maka segera nampaklah kesalahan/kekeliruan yang fatal dari persamaan
perkalian tersebut . Sebab nilai sebelah kiri ruas persamaan yaitu ~ x 0
= 0. Sementara nilai ruas sebelah kanan persamaan yaitu 1 x 1 = 1, maka
sudah tentu mustahil bahwa 0 = 1. Persamaan perbandingan versi
faham Stephen Hawking ternyata tidak konsisten dengan persamaan
perkaliannya, yang ternyata bermuara pada 0 = 1 atau 1 = 0.
Sebaliknya bila pasangan pengertian tak terhingga (~) dipakai pengertian
1/~ (sepertakterhingga) maka persamaan perbandingannya tetap
konsisten dengan persamaan perkaliannya, yakni sebagai berikut : ~ :
1 = 1 : 1/~ atau ~ x 1/~ = 1 x 1. Bukankah jelas dengan demikian
bahwa nilai ruas sebelah kirinya yaitu : ~ x 1/~ = 1 yang sama dengan 1
x 1, yakni 1 pula ?. Jadi pasangan pengertian ~/takterhingga bukan "0"
tetapi 1/~. Dan hanya dengan demikian konsistensinya antara persamaan
perbandingan dengan perubahannya kedalam persamaan perkalian dapat
dipertahankan (kebenarannya). Sebab (a:b):1 = 1:b/a sehingga a:b atau
a/b x b/a = 1 x 1, yaitu 1 = 1 x 1 atau 1 = 1, dalam mana b/a adalah
pasangan kebalikan dari a : b atau a/b.
Maka hanya pada kawasan (Kosmos) inilah terjadi perubahan yang terus
menerus, namun tetap dalam lingkungan/haribaan yang tak
berubah/kekekalan yang abadi yakni yang ~/~ atau yang maha esa itu !.
Sementara yang minimum atau 1/~ yang teramat halus atau dalam bahasa
Arabnya yang "latif" itu tetaplah terselubung dibelakang keanekaan yang
menggejala dan mempan oleh cerapan panca indera dan atau oleh alat-alat
yang diciptakan dengan dan dalam batas kemampuan panca indera itu.
Dan karena totalitas dari yang minimum atau 1/~ itu tidak lain dari yang
Esa namun tak terhingga (~) yang = ~ x 1/~ yang = "1" (satu) dan
satu-satunya (Al-Wahid), maka Yang Maha Esa itu = ~ x 1/~ yang berarti ~
x yang maha halus (latif), tidak bisa lain dari maha halus (latif) pula
yang tidak mungkin terjangkau oleh cerapan panca indera, namun ia
selalu berada di balik segala yang berwujud. Dengan kata lain di
belakang segala bentuk dan struktur yang kasar, yang bersifat fisik,
selalu terdapat (hadir) yang maha halus (latif), jadi yang sifatnya
hadir di balik/di belakang yang bersifat fisik. Itulah Dia yang
Metafisik, yang tidak terjangkau oleh panca indera atau dalam bahasa
Al-Qur’an = yang GAIB. Ilmu yang mengkaji kehadiran yang berada di
belakang/di balik yang fisik, itulah ilmu metafisika yang dalam istilah
Arabnya disebut "Ilmu mă warăal taběat" atau juga dikenal dengan istilah
"ilmul ma’kulăt".
Maka pernyataan/pengakuan Stephen Hawking cs bahwa Kosmos bermula
terjadi pada keadaan serba "0" (nol), serba tiada, tiada "t" (waktu),
tiada "V" (kecepatan) dan tiada "S" (ruang) serta tiada hukum-hukum
fisika, jelas berimplikasi bahwa kosmologinya sama sekali tidak ada
hubungannya dengam fisika (science), karena sama sekali tidak
berdasarkan hukum-hukum fisika dan matematika, maka dasarnya hanyalah
semata-mata bersumber dari dugaan dan atau khayalan/fiksinya belaka :
"Big Fiction" dan bukannya "Big Bang".
Atas dasar keseluruhan uraian-uraian di muka, penulis merasa tidaklah
mengada-ada kalau ia dengan tegas menolak teori "Big Bang" nya Stephen
Hawking cs, yang berisi kesesatan dalam rumus 1 = 0 atau 0 = 1, yang
jelas bermakna : "ada = tiada, atau tiada = ada". Jadi bagi Stephen
Hawking cs ada TUHAN/ALLAH sama saja dengan tiada TUHAN/ALLAH. Maka
alangkah menyesatkannya dan bertentangannya dengan asas Pancasila dan
pasal 29 UUD 1945 Republik Indonesia, yang dengan tegas mengakui bahwa
Negara (R.I.) berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka apakah patut
kejaksaan Agung R.I. kita tetap menutup mata dan berdiam diri saja
terhadap kehadiran buku RIWAYAT SANG KALA dalam R.I. yang berasas
tunggal PANCASILA dan berdasarkan (pengakuan dalam pasal 29 UUD 1945)
Ketuhanan Yang maha Esa ?!.
Wallahu a’alam bissawăb.
Ujungpandang, 14 Oktober 1997
Penulis/Pelajar Seumur Hidup,
(H. MUSTAMIN DG. MATUTU)