[INDONESIA-L] LPSI: Menyoal Menuver

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Aug 17 1997 - 13:49:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.5/8.7.1) id QAA12927 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 17 Aug 1997 16:49:05 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] LPSI: Menyoal Menuver Grup Salim, Kita Tidak Boleh Emosional

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Aug 17 16:44:24 1997
Date: Sun, 17 Aug 1997 14:40:24 -0600 (MDT)
Message-Id: <199708172040.OAA17667@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] LPSI: Menyoal Menuver Grup Salim, Kita Tidak Boleh Emosional
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

Kabar dari PIJAR

                                  [Image]
         ---------------------------------------------------------
                     LPSI ONLINE JUMAT, 1 AGUSTUS 1997
         ---------------------------------------------------------

          MENYOAL MENUVER GRUP SALIM, KITA TIDAK BOLEH EMOSIONAL

    Kontroversi di seputar manuver Grup Salim dalam menjual saham
    Indofood ke Singapura, nampaknya akan segera berakhir. Dalam
    keterangan persnya pada hari Rabu 30 Juli, pemerintah pada akhirnya
    setuju terhadap langkah Salim dalam penjualan saham PT Indofood
    Sukses Makmur kepada Qaf Limited, Singapura. Tepatnya, rencana
    penjualan 50,1 persen saham Indofood ke QAF Limited, Singapura.
    Bicara soal Grup Salim maka mau tidak mau akan bermuara pada satu
    nama: Konglomerat Sudono Salim alias Liem Sioe Liong. Dalam era
    globalisasi seperti sekarang ini, uang dan modal memang tidak
    memiliki batas negara( borderless nation). Dia bisa menyeberang
    batas negara kapan dia mau. Apalagi bila hal itu menyangkut suatu
    kekuatan ekonomi raksasa yang mendunia sebagaimana halnya dengan
    Grup Salim.

    Apalagi, dunia sekarang ini ditandai oleh kian kuatnya pengaruh dan
    otoritas perorangan maupun lembaga-lembaga bertaraf internasional
    yang mampu menentukan arah perkembangan dalam lingkup nasional
    maupun internasional. Manuver Grup Salim pun tak lepas dari
    kecenderungan semacam itu. Tak heran, bila penjualan saham Indofood
    kepada Qaf kemudian mengundang kontroversi di Indonesia. Betapa
    tidak. Konglomerat Sudono Salim selama ini memang dikenal luas
    sebagai pengusaha besar yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sehingga
    keberhasilannya dalam bidang bisnis dinilai banyak kalangan berkat
    fasilitas dan monopoli yang diberikan pemerintah kepadanya. Sebagai
    misal, lewat kepemilikan sahamnya di PT Bogasari, Grup Salim
    mendapat monopoli penggilingan gandum. Bahkan dalam bidang
    pemasaran, Indofood juga memonopoli 90 persen pasar mie di
    Indonesia.

    Maka dari itu, langkah Grup Salim menjual mayoritas saham Indofood
    ke Qaf , Singapura, memang cukup mengejutkan. Dalam pandangan para
    pakar ekonomi, strategi ekonomi Orde Baru dalam membesarkan
    konglomerat seperti Sudono Salim , pada gilirannya diharapkan akan
    memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang menetes ke bawah. Namun
    dengan adanya kasus penjualan saham Indofood ke Singapura itu,
    harapannya semacam itu jadi meleset. Pertanyaannya adalah, mengapa
    demikian?

    Dalam menyoal manuver Grup Salim, kita sebaiknya jangan emosional.
    Berbagai analisa ekonomi yang mencoba menjelaskan motif di balik
    penjualan saham Indofood, nampaknya sampai pada suatu kesimpulan
    bahwa tidak ada alasan ekonomi yang bisa dijadikan alasan terjadinya
    penjualan saham ke Singapura. Dengan kata lain, penjualan saham ke
    Singapura itu lebih dipicu oleh alasan politis ketimbang ekonomi.
    Lembaga pengkajian ekonomi yang dikenal independen seperti Ekonit,
    termasuk yang menganut cara pandang seperti itu. Tak heran bila
    Ekonit sampai pada suatu kesimpulan bahwa manuver Grup Salim bisa
    digolongkan sebagai pelarian modal alias Capital Flight. Dengan kata
    lain, ada semacam kekhawatiran, atau bahkan ketakutan, dari pihak
    Grup Salim terhadap ketidakpastian politik di Indonesia. Namun dalam
    pandangan pakar ekonomi Kwik Kian Gie, pandangan yang dianut Ekonit
    agaknya kurang tepat. Alasannya, ada ketidakcocokan antara motif dan
    cara yang ditempuh.

    Menurut hemat Kwik Kian Gie, kalau pengusaha memang punya motif
    untuk mengamankan kekayaannya dari kemungkinan wulak waliknya zaman,
    maka cara yang ditempuh Grup Salim bukanlah cara yang lazim
    dilakukan oleh pengusaha yang sedang dilanda kekhawatiran. Cara yang
    lazim dilakukan pengusaha yang hendak mengamankan kekayaannya,
    menurut Kwik, adalah dengan mengganti modal ekuiti dengan kredit
    sebanyak mungkin. Disamping itu, melakukan mark up barang yang
    diimpor dan selisihnya disimpan di luar negeri. Dan yang tak kalah
    penting, menurunkan harga barang yang diekspor secara fiktif.
    Singkatnya, perusahaan sebanyak mungkin dikosongkan, sehingga kalau
    terjadi apa-apa, seluruh kekayaan yang pernah ditanam di perusahaan
    plus laba yang terakumulasi sebanyak mungkin sudah dikeluarkan. Cara
    semacam itu tidak terlihat, sulit dideteksi dan terhindar dari
    tuntutan peradilan. Karena itu, rasa-rasanya tidak masuk akal kalau
    penjualan saham Indofood ke Singapura didasari motif untuk melarikan
    modal ke luar negeri. Sebab Kwik yakin bahwa Grup Salim tahu persis
    bahwa restrukturisasi semacam ini bakal mengundang kontroversi.

    Analisa Kwik boleh jadi cukup masuk akal. Tetapi dalam banyak kasus
    membuktikan bahwa suatu motif kadang dilakukan melalui cara-cara
    yang tidak taktis alias blunder. Dengan kata lain, analisa Kwik Kian
    Gie bisa saja benar bahwa cara yang ditempuh kelompok Salim memang
    tidak lazim dilakukan oleh pengusaha yang bermaksud melarikan
    modalnya ke luar negeri. Namun pada sisi lain, pandangan Ekonit yang
    lebih melihat motif politis ketimbang motif ekonomi dalam manuver
    Grup Salim, rasa-rasanya juga layak jadi bahan pertimbangan.

    Alhasil, kontroversi di seputar manuver kelompok Salim dalam
    penjualan saham Indofood ke Singapura pada akhirnnya bermuara ke
    satu tema strategis yaitu: Rapuhnya fondasi hubungan antara
    konglomerat dan kekuasaan. Strategi pemerintah sejak awal Orde Baru
    dalam membesarkan pengusaha-pengusaha kuat, yang tidak didasari oleh
    adanya suatu politik ekonomi yang cukup jelas, pada gilirannya hanya
    menciptakan hubungan simbiosis antara pengusaha dan penguasa yang
    didasari oleh kepentingan jangka pendek. Belajar dari kasus Salam
    Grup, pemerintah dan DPR sudah saatnya untuk merumuskan suatu
    hubungan antara pengusaha dan kekuasaan yang didasari oleh suatu
    politik ekonomi yang menyejahterakan seluruh potensi bangsa. Sebab
    hubungan pengusaha dan kekuasaan yang tidak didasari suatu politik
    ekonomi yang jelas, cepat atau lambat akan menciptakan
    ketidaktentramann di kalangan pengusaha. Sebab keberadaan pengusaha
    dalam setting ekonomi politik semacam itu amat tergantung pada
    kelanggengan kekuasaan itu sendiri. Ketika ada tanda-tanda bakal
    terjadinya tranformasi politik, maka para pengusaha yang dekat
    dengan pusat kekuasaan umumnya dilanda kekhawatiran. Maka dari itu,
    di masa depan hubungan pengusaha dan kekuasaan harus diarahkan pada
    terciptanya suatu kepastian hukum. Strategi pemerintah hendaknya
    diarahkan untuk melindungi pelaku ekonomi lemah. Namun komitmen
    pemerintah dalam melindungi pelaku ekoniomi lemah hendaknya
    dituangkan dalam suatu produk hukum dan perundang-undangan. Jadi
    bukan semata-mata mengandalkan kemurahan hati orang-perorang di
    dalam jajaran birokrasi.