[INDONESIA-L] SWA - Wajah Saham Ter

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Aug 15 1997 - 18:35:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA17919 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 15 Aug 1997 21:33:25 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] SWA - Wajah Saham Terbaik di Bursa

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Aug 15 21:25:38 1997
Date: Fri, 15 Aug 1997 19:20:14 -0600 (MDT)
Message-Id: <199708160120.TAA05896@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] SWA - Wajah Saham Terbaik di Bursa
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

SWA Online - Edisi 14: Agustus 1997
                                      
                             SAJUTA 04, 14/1997
     _________________________________________________________________
                                      
                        Wajah Saham Terbaik di Bursa
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
   PT Indofood Sukses Makmur yang dalam SWA100 berada di peringkat 49,
   menempati posisi puncak dalam 100 Saham Terbaik di Bursa. Bagaimana
   saham lainnya?
   
   Sebelum membeli saham, apa yang pertama kali Anda perhatikan? Kinerja
   emitennya atau likuiditas sahamnya? Jika pertimbangan pertama yang
   dipakai, bisa jadi Anda -- terutama yang membeli saham sekadar untuk
   mencari capital gain -- bakal terjebak. Sebab, kinerja fundamental
   yang bagus belum tentu merupakan jaminan bahwa saham perusahaan
   tersebut diperdagangkan di lantai bursa. Hasil riset SWA sepanjang
   1996 menunjukkan hal itu.
   
   Dari 20 besar perusahaan SWA100 -- yang penilaiannya didasarkan pada
   kinerja fundamental -- saham-saham yang mencetak prestasi bagus di
   Bursa Efek Jakarta hanya ada tiga. Itu pun bukan peringkat teratas. PT
   BAT Indonesia, yang pada peringkat SWA100 1997 berada di posisi 6,
   kinerja sahamnya menempati urutan 17. Adapun PT Multi Bintang
   Indonesia (peringkat 7) dan PT Davomas Abadi (15) kinerja sahamnya
   masing-masing berada di posisi 15 dan 3.
   
   Bagaimana PT Indofood Sukses Makmur (ISM) yang menempati peringkat
   teratas 100 Saham Terbaik di Bursa? ISM yang beberapa kali merekayasa
   keuangan itu, apa boleh buat, di SWA100 hanya berada di peringkat 49.
   Sementara itu, di posisi ke-2 yang sebelumnya ditempati PT Bhuwanatala
   Indah Permai, kini diambilalih saham PT Berlian Laju Tanker (BLT).
   Adapun BDNI Reksadana (peringkat ke-1 SWA100 1997), kinerja sahamnya
   terpuruk di posisi 145.
   
   Kinerja saham di bursa pada 1997, seperti pada tahun sebelumnya,
   menggunakan dua komponen sebagai tolok ukur, yakni likuiditas saham
   perusahaan di lantai bursa (dihitung per 2 Januari 1996 hingga 27
   Desember 1996), serta pertumbuhan nilai pasar perusahaan dalam periode
   yang sama. Likuiditas saham, yang dalam peringkat ini bobot nilainya
   30, dihitung dari total volume transaksi (TVT) dibagi total saham (TS)
   dikalikan 100%. Angka yang diperoleh kemudian dibagi nilai rata-rata
   keseluruhan saham, lalu dikalikan bobot nilai.
   
   Untuk lebih jelasnya, kita lihat perhitungan likuiditas saham ISM. TVT
   produsen mie instan itu 149.246.352, sedangkan total sahamnya 1,526
   miliar lembar. Berdasarkan rumusan tadi, maka nilai likuiditasnya
   adalah 9,78 (149.246.352 x 1.526.000.000) Nilai rata-rata keseluruhan
   saham adalah 59,04. Lalu, angka 9,78 dibagi 59.04, kemudian dikalikan
   bobot nilai likuiditas, yakni 30. Hasil akhirnya, nilai likuiditas
   saham ISM adalah 4,97.
   
   Adapun nilai pasar (market value), diperoleh dengan perhitungan, total
   return (nilai saham akhir dikurangi nilai saham awal dikurangi
   kapitalisasi awal plus dividen), dikurangi tambahan modal disetor.
   Hasilnya dibagi nilai pasar awal. Mari kita ambil lagi ISM sebagai
   contoh. Awal Januari 1996, ketika total sahamnya 763 juta lembar,
   harga saham ISM Rp 1.100/lembar, sehingga kapitalisasi awalnya Rp
   839,3 miliar. Setahun kemudian, harga sahamnya melonjak menjadi Rp
   4.700/lembar. Padahal, selama setahun ISM melakukan pemecahan saham
   (stock split), dengan total saham menjadi 1,526 miliar lembar,
   sehingga kapitalisasi akhir ISM Rp 7,17 triliun.
   
   Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar ISM adalah Rp 7,17 triliun
   dikurangi nilai pasar awal (Rp 839,3 miliar) ditambah dividen Rp 61,4
   miliar, dibagi nilai pasar awal adalah 761,82. Karena nilai pasar
   rata-rata adalah 50,74, skor nilai pasar ISM adalah 1.051,05. Untuk
   menghitung total nilai kinerja saham di bursa, tinggal menjumlahkan
   skor likuiditas ISM (4,97) dengan skor akhir kapitalisasi pasar.
   Hasilnya, seperti Anda lihat di Tabel, sebesar 1.051,02.
   
   Dengan skor sebesar itu, saham ISM memang layak berada di tempat
   terhormat. Meski total volume transaksinya (149.246.352) tidak sebesar
   BLT (263.751.100), perkembangan kapitalisasi ISM selama 1996 sangat
   luar biasa. Ketika awal Januari 1996, dengan total saham 763 juta
   lembar, saham ISM hanya dihargai Rp 1.100/lembar. Namun, setelah Juli
   1996 lalu ISM melakukan pemecahan saham -- dari nominal Rp 1.000
   menjadi Rp 500 per saham -- harganya melonjak menjadi Rp 4.700/lembar,
   atau terjadi peningkatan sampai 7,5 kali.
   
   Dengan pola perhitungan seperti di atas, hasil akhir kinerja saham di
   bursa cenderung akan menguntungkan perusahaan yang volume sahamnya tak
   terlalu besar, tapi likuid. Jangan heran jika BLT yang volume sahamnya
   cuma 58,8 juta lembar, mampu menyodok ke posisi ke-2. Adapun PT Telkom
   yang volume sahamnya mencapai 9,33 miliar lembar, tidak masuk dalam
   100 terbaik.
   
   BLT merupakan perusahaan pelayaran yang sebagian besar armadanya
   dipakai Pertamina untuk mengangkut hasil tambang. Kinerja saham BLT,
   menurut presdirnya, Hadi Surya, selain dipengaruhi faktor internal,
   juga didukung faktor eksternal, yakni kebijakan Pemerintah tentang
   bisnis pelayaran dalam negeri. Kebijakan yang antara lain berupa
   keringanan pajak itu, sebenarnya tidak hanya menguntungkan BLT, tapi
   juga bisnis pelayaran pada umumnya. Namun, karena BLT satu-satunya
   perusahaan pelayaran yang go public, dampaknya tentu saja lebih
   terasa. "Sedangkan faktor internalnya, kami baru saja melakukan
   konsolidasi," kata Hadi, tanpa menyebut bentuk konsolidasi itu.
   
   Toh, kinerja BLT di SWA100 berada di urutan ke-91. Artinya, seperti
   sudah disebut, saham yang menarik diperdagangkan belum tentu
   berkorelasi dengan kinerja perusahaan yang bersangkutan. Begitu juga,
   sebaliknya.
   
   Banyak faktor yang menyebabkan tidak adanya korelasi antara kinerja
   fundamental emiten dan kinerja sahamnya di lantai bursa. Pertama,
   periode setahun tampaknya belum cukup untuk mengukur prestasi saham
   sebuah perusahaan. Sebab, bisa jadi, selama itu, iklim usaha yang
   digeluti perusahaan sedang tidak bergairah. Atau, bisa jadi juga,
   justru pada saat itu iklim usahanya baru mulai tumbuh, sehingga minat
   beli investor terhadap sahamnya sedang tumbuh.
   
   Contohnya, perusahaan properti. Meski beberapa mampu menghadapi
   kelesuan pasar, bahkan mencatat prestasi lumayan bagus, toh konsumen
   masih pikir-pikir untuk membeli sahamnya. Jaya Real Property,
   misalnya, yang dalam SWA100 berada di urutan 27, tersingkir dari 100
   Saham Terbaik.
   
   Kedua, kinerja saham di bursa juga dipengaruhi jumlah saham emiten
   bersangkutan yang beredar di bursa. Ini, misalnya, dialami Bank Umum
   Nasional (BUN), peringkat ke-69. Menurut Leonard Tanubrata, Predir
   BUN, hanya sekitar 8,7% dari 313.600.178 unit saham BUN yang beredar
   di kalangan investor publik. Akibatnya, likuiditas saham BUN sangat
   rendah. Volume transaksi sahamnya pada 1996 hanya 6,56 juta saham atau
   sekitar 2,09% dari total sahamnya.
   
   Namun, nilai pasar BUN meningkat hampir dua kali lipat, dari Rp 219,5
   miliar menjadi Rp 533,1 miliar. Selain karena ada tambahan modal, ini
   juga karena pertumbuhan harga saham, dari Rp 1.400 menjadi Rp
   1.700/saham. Per 22 Juli 1997, saham BUN ditutup pada posisi Rp
   1.950/lembar. Berdasarkan laba bersih per saham 1996, rasio harga
   saham terhadap laba bersih per saham BUN adalah 7,2 kali. "Dengan PER
   rata-rata perbankan yang sekarang sekitar 10 kali, maka saham BUN
   underprice sekitar 30%," ujar Herman Suryo, Direktur Treasury BUN.
   
   Menurut Leo, saham publik BUN akan terus ditingkatkan hingga mencapai
   20% sebelum 2001, dengan menambah jumlah modal disetor. "Selain karena
   adanya kebutuhan modal, penambahan ini juga dimaksudkan untuk memenuhi
   minat investor," ujar Leo. Dengan penambahan ini, perdagangan saham
   BUN di masa mendatang akan makin likuid.
   
   Kedua faktor yang telah dikemukakan di atas itu pula yang tampaknya
   mempengaruhi peringkat kinerja saham terbaik. Tahun lalu, 10 besar
   saham terbaik ditempati perusahaan-perusahaan yang dalam peringkat
   tahun ini, bergeser di papan bawah. Mereka, antara lain, APAC
   Centertex Corp. (dari posisi ke-1, kini tergusur), Bhuwanatala Indah
   Permai (dari 2 ke 57), serta Darya- Varia Laboratoria dan H.M.
   Sampoerna (masing-masing dari 3 dan 6, kini tersisih). (o)
   
   Farid Mahmud
   
   Laporan: Joko Sugiarsono dan Weldison.