[INDONESIA-L] GATRA - Pekerja Anak:

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Aug 06 1997 - 15:52:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA26927 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 6 Aug 1997 18:51:13 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] GATRA - Pekerja Anak: Mereka yang Terpinggirkan

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Aug 6 18:42:56 1997
Date: Wed, 6 Aug 1997 16:39:44 -0600 (MDT)
Message-Id: <199708062239.QAA03574@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] GATRA - Pekerja Anak: Mereka yang Terpinggirkan
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

INDONESIA-L

X-URL: http://www.gatra.com/III/37/fot-37.html
                                      
                                             Nomor 37/III, 2 Agustus 1997
                                                                         
   PEKERJA ANAK
   
Mereka yang Terpinggirkan

  Jumlah pekerja anak di Indonesia mencapai 2,1 juta jiwa. Mereka terjerat di
  tempat pelacuran, di jermal, atau berkutat di pabrik-pabrik.
  
   ANAK adalah titipan Tuhan, kata orang bijak. Anak adalah aset bangsa,
   kata yang lain. Tanpa anak, sebuah bangsa tak mempunyai masa depan.
   Anak juga kembang keluarga. Ia lucu. Ia tumbuh berkembang secara
   alami. Sebuah rumah menjadi sepi tanpa kehadiran anak. Anak adalah
   segalanya.
   
   Di Hari Anak Nasional, 23 Juli, kita seperti diingatkan: banyak anak
   terabaikan. Banyak anak yang hilang hak-hak sipilnya, kurang gizi, dan
   dieksploitasi. Mereka jauh dari dunia kanak-kanak: bermain dan
   belajar. Itu sebabnya Presiden Soeharto mencanangkan Gerakan Nasional
   Perlindungan Anak.
   
   Jumlah pekerja anak (di bawah usia 14 tahun) di Indonesia mencapai 2,1
   juta jiwa. Mereka terjerat di tempat pelacuran, di jermal, atau
   berkutat di pabrik-pabrik. Tarini, 14 tahun, adalah satu contoh. Ia
   lahir dan dibesarkan di Jakarta. Orangtuanya asal Indramayu. Ia
   jebolan kelas IV SD karena orangtuanya bercerai. Baik ayah maupun
   ibunya kawin lagi. Anak sulung dari empat bersaudara itu pun harus
   bekerja.
   
   Keluarga Tarini tinggal di gubuk tripleks di kawasan Cakung, Jakarta
   Utara. Rumah seluas sekitar 20 meter itu didirikan di atas selokan,
   yang baunya amis. Ia tidur di balai-balai, beralas plastik. Ayah
   tirinya sopir angkutan. Ibunya yang tengah mengandung anak kelima
   berjualan ayam potong, yang dijajakan di rumah-rumah sekitar
   kampungnya. Hidup mereka pas-pasan.
   
   "Tapi saya nggak pernah memaksanya kerja. Saya mah terserah dia saja,"
   kata ibu kandungnya. Karena Tarini ingin bekerja, ibunya merogoh kocek
   Rp 20.000 untuk membiayai Tarini kursus menjahit kilat selama dua
   minggu. Pada November 1996, ia bekerja di pabrik garmen, khusus
   menjahit kaus kaki.
   
   Selain bekerja, Tarini masih bisa aktif main drama dalam grup Anak
   Akar. "Saya mengumpamakan anak-anak ini sebagai akar. Akar itu kan
   letaknya di dalam tanah, sering diinjak-injak manusia. Sama dengan
   mereka, anak-anak pinggiran sering terinjak," kata Ivon, yang selama
   ini mengajari membaca dan berhitung kepada Tarini dan anak-anak di
   sekitar gubuk kumuh itu.
   
   Rupanya aktivitas bocah Tarini itu dipantau, diusulkan oleh Ivon. Pada
   22 Juli, ia pun menerima Penghargaan Anak Pinggiran dari Institut
   Sosial Jakarta (ISJ). Ia menyisihkan enam calon lain. Dengan
   penghargaan itu, Tarini berhak memperoleh trofi, baju kaus, tas, dan
   beberapa hadiah lain.
   
   Tarini terpilih karena dianggap memiliki rasa solidaritas tinggi.
   "Tarini sangat solider terhadap teman-temannya. Ia giat mendorong
   teman-temannya untuk belajar," kata Humas ISJ, Anton Pradjasto. Ia
   juga dihargai karena keberaniannya melawan dan menggagalkan pelaku
   pemerkosaan pada dirinya.
   
   Selain itu, ia juga dianggap membantu memasukkan lamaran
   rekan-rekannya ke pabrik. "Tapi nggak pernah diterima," kata Tarini
   dengan polos. Alhasil, ia menganggap dirinya tak berbuat apa-apa.
   Biasa saja. Hanya sebatas apa yang bisa dilakukan.
   
   Cita-cita Tarini pun tak muluk. "Ingin punya uang banyak. Saya mau
   menyekolahkan adik-adik saya," katanya. Maka, kalau ada beasiswa,
   misalnya, ia berharap diberikan kepada adiknya saja. Ia sudah cukup
   senang digaji Rp 180.000 per bulan. Uang itu bisa dibelikan kalung,
   cincin, gelang, pakaian, ditabung, dan untuk orangtua. "Ya, untunglah
   ada Tarini. Setidaknya hidup kami nggak begitu melarat," kata ibu
   Tarini.
   
   Tarini berangkat kerja pukul 06.00 dan kembali pukul 15.30. Di
   pabriknya, cuma ada seorang pekerja yang seusianya, selebihnya sudah
   dewasa. Sepulang kerja, terutama pada Sabtu yang cuma kerja setengah
   hari, Tarini mengaku sempat bermain. Tapi tak lama. "Saya kan harus
   membantu Ibu," katanya.
   
   Anak-anak pinggiran memang ada. Mereka eksis dengan segala
   keterbatasannya. Mereka berusaha tetap hidup. Perjuangan itulah yang
   harus diakui. "Tarini cukup mewakili sebagian besar dari anak-anak
   pinggiran itu. Terbatas, tapi tetap berjuang untuk hidup," kata Anton
   Pradjasto kepada Priska H. Leonny dari Gatra.
   
   Pemberian penghargaan itu, kata salah seorang juri, Masdar F. Mas'udi,
   bukan berarti memunculkan anak pinggiran. Ini adalah fakta. "Bahwa di
   antara kita ada yang terpinggirkan. Tapi di dalam keterbatasnnya,
   mereka bisa bertahan hidup. Kita menghargai keuletan dan pergumulannya
   di dalam mengarungi kehidupan yang keras," katanya.
   
   WY dan Ahmad Husein