From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id TAA08933 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 23 Jul 1997 19:50:25 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] Re - Orang-orang Kaya Indonesia
Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Wed Jul 23 19:46:20 1997
Date: Wed, 23 Jul 1997 17:41:55 -0600 (MDT)
Message-Id: <199707232341.RAA20500@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Re - Orang-orang Kaya Indonesia
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
INDONESIA-L
From: "Pendukung DPP PDI (Perjuangan)" <wrw@mpiv-hd.mpg.de>
To: apakabar@clark.net
Date: Wed, 23 Jul 1997 12:00:30 +0100
Subject: Re: Orang-orang kaya Indonesia
Menurut majalah Forbes
(http://www.forbes.com/tool/toolbox/billionaires/country.asp)
orang-orang kaya di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Keluarga Wonowidjojo US $ 6.7 Billion (bidang tembakau)
2. Widjaja Eka Tjipta US $ 5.1 Billion (Investasi aneka ragam)
3. Kel. Liem Sioe Liong US $ 4.5 Billion (idem)
4. Sampoerna Putera US $ 2.8 Billion (Tembakau)
5.Pangestu Prajogo US $ 2.2 Billion (Lumber)
6. Sutanto Djubar US $ 2 Billion (aneka ragam)
7. Nursalim Sjamsul US $ 1.3 Billion (aneka ragam)
8. Riady Mochtar US $ 1.3 Billion (Finance, Real estate)
9. Hartono R. Budi US $ 1.6 Billion (Tembakau)
10. Ciputra US $ 2.3. Billion (Real estate)
Keluarga cendana tidak termasuk "keluarga kaya Billioner" Indonesia.
Kita rakyat indonesia "ikut bangga" bahwasanya 10 orang Indonesia
menduduki daftar Billioner dunia. Mereka semua orang-orang pengusaha
(bukan PENGUASA). Bagaimana caranya mereka bisa kaya, halal atau
tidak halal, jujur atau tidak jujur, itu urusan metode bisnes. Tukang
dagang kecil dipinggir jalan-pun, beli barang 100 Rupiah,
dibilangkan 180 Rupiah, supaya bisa dijual 200 Rupiah. Dia bilang
cuma mengambil untung 20 Rupiah (kira-kira 11 % dari harga beli),
padahal untungnya 100%. Dalam hal ini "bohong" juga di-"halal"-kan (?),
dasar tukang dagang. Bagi kita itu bukan bahan diskusi di Internet.
Mengapa majalah Forbes tidak memasukan Soeharto ke daftar Billioners di
Indonesia (country list)? Karena menurut pandangan mereka, Soeharto
"BUKAN PENGUSAHA". Baru nama Soeharto tercantum didaftar yang
namanya: Kings, Queens and Dictators (L`=E9tat c`est moi)
(hhtp://www.forbes.com/forbes/97/0728/6002168a.htm).
Nama-nama yang termasuk daftar tersebut BUKAN PENGUSAHA (They are not
businesspeople), tapi mereka adalah "PENGUASA" yang mengumpulkan
kekayaannya secara "legally, extralegally- dan frequently illegaly".
Dan memang menurut daftar Forbes tersebut, "Bapak" kita si
"PENGUASA" dengan kekayaannya sebesar US $ 16 billion menduduki
tempat ke 3 setelah RAJA Bolkiah (Brunei) US $ 38 billion dan RAJA
Fahd (Saudi Arabia) US $ 20 billion. .
Karena negara kita Indonesia bukan kerajaan, yah oleh majalah Forbes
"Bapak kita yang tercinta" didaftar sebagai salah seorang "diktator",
disamping Saddam Hussein dan Castro. Yang paling "miskin" diantara
raja-raja dan diktators tersebut, adalah Ratu Elizabeth II dan Fidel
Castro (US $ 1.4 billion), lebih besar sedikit dari kekayaan
pengusaha-pengusaha Riady Mochtar dan Nursalim Sjamsul.
Kalau rakyat Indonesia terdiri dari Tutut, Bambang, Tomy, Sigit
etc., yah terang kita sebagai "anak, putera,puteri dan cucu-cicit "
si "Bapak" harus ikut merasa bangga atas "keberhasilan" "Bapak kita"
memupuk kekayaan pribadinya. Dan memang "Bapak" kita orang yang
paling sukses di Indonesia dalam hal "membangun" kekayaan pribadinya.
Siapa bisa di Indonesia dalam waktu 30 tahun dimulai dari 0 Rupiah,
alias "modal dengkul" bisa memupuk ("membangun") kekayaan sebesar
US $ 16 billion? Secara pantas "Bapak" kita untuk digelari "Bapak
pembangunan".
Apakah tidak sebaiknya dalam sidang MPR/DPR tahun depan, di-usulkan
saja, supaya Negara Kesatuan RI di jadikan "Kerajaan Indonesia",
supaya kekayaan dan kedudukan "Bapak" kita yang tercina secara
"konstitusionell" bisa di-"legalisasi"? Kalau Indonesia sudah jadi
Kerajaan, kan kita tak usah rame-rame ikut "Pesta Demokrasi" untuk
memilih wakil rakyat. Biarlah "Bapak" kita yang tercinta sendiri
menunjuk dan memilih siapa pendukung-pendukung dan
pembantu-pembantunya yang terdekat. Bila Indonesia telah jadi negara
kerajaan seperti Brunei atau Saudi Arabia, tidak akan ada pers asing
semacam Forbes yang akan mempersoalakn kekayaan "Bapak" kita
atau "Raja Indonesia", paling-paling cuma mencantumkannya di-
daftar tersebut diatas.
Wassalam,
Rakyat kecil yang tidak iri-hati kepada kekayaan orang Indonesia,
yang jadi kaya secara jujur dan halal.