[INDONESIA-L] KONTAN - Mobnasisasi

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Jul 11 1997 - 15:36:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id RAA24206 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 11 Jul 1997 17:43:03 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Mobnasisasi Gaya Semarang

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Fri Jul 11 17:38:53 1997
Date: Fri, 11 Jul 1997 15:33:11 -0600 (MDT)
Message-Id: <199707112133.PAA27169@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] KONTAN - Mobnasisasi Gaya Semarang
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com

MOBNASISASI GAYA SEMARANG
Pesanan 105 Timor dari Pemda Jawa Tengah untuk mobil dinas

Pemda Jawa Tengah memesan 105 unit sedan Timor untuk para pejabat pemda
tingkat II. Keputusan itu diambil tanpa konsultasi dengan DPRD. Bahkan,
dalam APBD Jawa Tengah tahun 1997/1998 pun tak ada anggaran pembelian
sedan sebesar itu.
----------------------------------------------------------------------
Sedan Timor agaknya tak bakalan kekurangan tenaga pemasar yang andal.
Ini tidak main-main, karena yang terjun menjadi pemasar sedan bergelar
mobil nasional itu adalah para pejabat pemerintah. Ingat, beberapa waktu
lalu Menteri Tunky Ariwibowo meminta instansi pemerintah dan BUMN harus
membeli Timor sebagai kendaraan operasional. Kali ini, lagi-lagi kabar
dari Jawa Tengah: "Minggu depan, 105 mobil Timor yang kami pesan akan
dikirim langsung dari Jakarta," ujar Gubernur Suwardi, Senin 8 Agustus
lalu.
Untuk urusan garis instruksi pemerintah, Pak Gubernur yang bekas
Panglima Kodam Sriwijaya ini memang paling bersemangat. Ketika
organisasi sospol pemerintah, Golkar, menetapkan target menjadi
mayoritas tunggal, Suwardi segera memancangkan proyek kuningisasi di
seantero wilayahnya. Begitu halnya ketika pemerintah mencanangkan Timor
yang bikinan KIA Motor, Korea, itu sebagai mobil nasional. "Pejabat yang
seting-kat kepala biro akan memakai Timor sebagai mobil dinas," begitu
instruksi Suwardi dalam proyek mobnasisasi-nya.
Lantas, mobil dinas apa untuk dia sendiri? Lantaran mobil nasional itu
belum ada yang berkelas 2.000 cc ke atas - kelas untuk mobil dinas
gubernur - "Ya, saya pakai merek lain dulu," katanya.
Dan, inilah pelaksanaan dari beleid Suwardi itu. Ihwal pembelian 105
Timor itu sudah dipesan sejak awal April lalu. Bahkan, santer
disebut-sebut, Suwardi bakal memborong 1.500 Timor secara bertahap.
Tapi, Suwardi sendiri mengelak menegaskan soal itu.
Suwardi menyebut beleidnya itu punya tujuan khusus, yakni agar
masyarakat Jawa Tengah turut membantu program pemerintah. Jadi, meski
kini baru membeli 105 sedan Timor, program itu akan berjalan terus
menerus. Hingga, akhirnya, seluruh mobil dinas akan diganti Timor,
khususnya yang ber-cc sama. "Siapa lagi yang akan menghargai produk
sendiri, kalau bukan kita? Saya senang, barang ini buatan orang
Indonesia," ujar Suwardi mengomentari sedan mobnas yang didatangkan dari
negeri ginseng itu.
Pembelian Timor itu, menurut Suwardi, menggunakan duit dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Tengah tahun 1997/1998. Ia pun
sudah memerintahkan aparat bawahannya, para Asisten dan Kepala Biro
Perlengkapan, untuk menyiapkan pengadaan mobnas Timor. Sedan yang bakal
datang pekan depan itu rencananya untuk menggantikan mobil dinas yang
sudah dihapus dari daftar inventaris, sudah afkir, atau tidak ekonomis
lagi.
Tidak selalu perlu lewat Dewan
Nah, yang ketiban rezeki adalah para pejabat di pemerintah daerah
tingkat II. Ada 35 pemda tingkat II di Jawa Tengah. Jadinya,
masing-masing mendapat jatah tiga unit sedan Timor. Mobil sekelas sedan
Timor memang diperuntukkan bagi pejabat di bawah bupati dan walikota.
Sedang mobil dinas kepala daerah atau walikota itu cc-nya di atas Timor,
1.500 cc. Apalagi, menurut Suwardi, hingga kini kondisinya masih baik.
"Jadi, pembelian Timor ini sudah tidak ada masalah lagi," ujar Suwardi.
Tapi, tunggu dulu, Pak Gubernur! Menurut catatan beberapa anggota DPRD,
mereka ternyata sama sekali belum pernah diajak bicara soal pembelian
mobil Timor itu. Bahkan, dalam APBD tahun 1997/1998 yang sudah disahkan,
menurut seorang anggota DPRD kepada KONTAN, sama sekali tidak tercantum
soal pembelian mobil dinas Timor itu. Kalaupun ada anggaran pengadaan
mobil untuk pejabat, yang dimaksud itu bukan Timor.
"Terus, dari mana anggaran pembelian Timor itu?" tanya Ketua Komisi A
DPRD Marsudi, yang mengaku tetap mendukung beleid Gubernur Suwardi.
Wajar jika muncul pertanyaan serupa dari kalangan anggota Dewan. "Sangat
tidak mungkin jika tiba-tiba eksekutif membeli Timor, dalam jumlah besar
lagi," kata seorang anggota DRRD. Menurut dia, segala kegiatan sudah
diputuskan dalam APBD. "Jika sampai ada kegiatan yang tidak sesuai
dengan APBD, itu adalah penyimpangan," katanya melanjutkan.
Mobil yang dipesan Gubernur Suwardi itu Timor seri S-515I DOHC, yang
harga satuannya bisa mencapai Rp 39,9 juta. Dengan kata lain, Pemda Jawa
Tengah mesti mengeluarkan duit sebesar Rp 4 miliar. Soalnya, menurut
Suwardi, pihaknya membayar pesanan itu secara tunai dan tanpa sepeser
pun rabat. "Tidak ada discount saja sudah mau, apalagi dikasih
discount," ujar gubernur yang rumah dinasnya pernah diributkan karena
harganya sampai Rp 7 miliar itu.
Suwardi menepis anggapan bahwa pihaknya melakukan penyimpangan APBD.
"DPRD tidak mengurusi detil-detilnya, seperti jenis atau merek mobil,"
katanya. Menurut Suwardi, pembelian 105 Timor sebagai mobil dinas
pejabat kabu-paten dan kotamadya se-Jawa Tengah itu tidak perlu melewati
Dewan. Nah, bukankah DPRD itu bagian dari pemerintah daerah?
Timor, selain dijual ke pasaran swasta, juga masuk secara borongan ke
berbagai instansi pemerintah dan BUMN. Adakah para gubernur lainnya mau
mengikuti langkah Gubernur Suwardi? Menurut catatan PT Timor Distributor
Nasional (TDN) yang memasarkan mobnas, memang ada beberapa daerah yang
akan memesan. Sebut saja Jawa Timur, Jambi, Sumsel, dan Sulsel. Namun,
kata Sumitro Surachmad, Dirut PT TDN, penjualan sedan Timor tak
dipaksakan atau sengaja diarahkan ke instansi pemerintah. "Pembelian itu
inisiatif dari instansi yang bersangkutan," katanya. Tentu, ia gembira
semakin banyak yang mau membeli mobnas. "Orang Malaysia saja sangat
bangga terhadap Proton, bahkan sampai mati. Masak kita tak bisa
menghargai produk mobnas," katanya. Tapi, berapa sih yang dibeli
instansi pemerintah? "Anda bisa lihat sendiri berapa sih mobil plat
merah yang ada di jalanan?" kata Sumitro.