From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id OAA01066 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 7 Jul 1997 14:39:59 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-L] Ben Anderson ttg Pemilu 97 (6/6--habis)
Forwarded message:
From owner-indonesia-l@indopubs.com Mon Jul 7 12:11:18 1997
Date: Mon, 7 Jul 1997 09:59:09 -0600 (MDT)
Message-Id: <199707071559.JAA04353@indopubs.com>
To: indonesia-l@indopubs.com
From: apakabar@clark.net
Subject: [INDONESIA-L] Ben Anderson ttg Pemilu 97 (6/6--habis)
Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com
INDONESIA-L
Date: Mon, 7 Jul 1997 11:28:50 -0400 (EDT)
To: apakabar@clark.net
From: ba16@cornell.edu (Ben Abel)
Subject: IND: Ben Anderson ttg Pemilu 97 (6/6 end)
BEN ANDERSON TENTANG PEMILU-97 (6-Habis)
Ketidak-kompakkan pimpinan Angkatan Darat sekarang ini apa istimewanya?
"Karena orang merasa bahwa masa Suharto itu sedang mulai berakhir." Tentang
anak-anak muda yang dihukum berat, "Saya belum cukup baca tulisan mereka.
Jadi belum bisa kasih komentar." Suharto mencoba mengarang 'babad'nya
sendiri, apakah mungkin berhasil? "Jelas tidak mungkin! Fakta-fakta tentang
apa yang terjadi pada permulaan Orde Baru makin lama semakin menjadi
gamblang untuk masyarakat Indonesia."
KRISIS SOSIAL
T: Ketidak-mampuan tentara terlihat dalam mengendalikan keadaan di Pontianak
(berita terakhir korbannya sampai 4000 orang), kerusuhan di Banjarmasin,
Madura, Timtim, dst. Suasana gelisah dan resah ini bisa semakin tidak
terkontrol. Kalau ketidak-mampuan militer mengendalikan suasana ini menerus,
apakah akan muncul krisis sosial yang lebih parah lagi? Bagaimana wujudnya?
J: Interpretasi saya berbeda dengan apa yang diajukan dalam pertanyaan ini.
Pertama, saya tidak pasti tentara memang tidak mampu mengendalikan suasana.
Seandainya beberapa bulan lagi ada krisis tingkat nasional, misalnya Pak
Harto sakit keras. Dalam situasi darurat itu Wiranto bisa saja ambil oper dan
mengatakan, "Tidak boleh ada apa-apa di seluruh Indonesia!" Saya yakin untuk
sementara keadaan bakal tenang. Abri bakal bisa menguasai keadaan.
Saya lihat tentara tidak menumpas keresahan yang sekarang ini karena beberapa
faktor yang sudah dibahas tadi. Faktor perwira yang mikirin masa depannya
sendiri; akibat peristiwa Dili dan Nipah di mana komandan yang kejam pada
masyarakat itu dipecat; faktor ketidak-kompakkan di kalangan tentara sendiri,
dsb. Yang sekarang terjadi, keresahan yang muncul di mana-mana ini, sebagian
memang karena masyarakat mangkel. Tetapi sebagian lagi karena tentara sedang
mikirin bagaimana sebaiknya? Krisis sosial itu sudah lama terjadi, yang kita
tunggu itu krisis politik. Bagaimana bentuknya nanti, tidak ada yang tahu.
T: Faktor ketidak-kompakkan pimpinan Angkatan Darat itu apa sebabnya?
J: Pertama tentu karena ambisi masing-masing. Belakangan ini ada juga konflik
antara tentara tulen dengan yang main koneksi. Lalu ada perbedaan sikap
tentara terhadap kelompok politik Islam. Ada faktor konflik antara angkatan.
Misalnya angkatan yang lulus tahun 65 pegang jabatan selama 3-4 tahun
sehingga angkatan yang lulus tahun 66 dan 67 jadi tidak beruntung. Ada
macam-macam faktor. Jangan lupa sejarah Angkatan Darat sendiri itu penuh
dengan macam-macam konflik, pemberontakan, dsb. Dari dulu sampai sekarang.
T; Dari sejarahnya Abri itu kan kumpulan dari bermacam-macam fraksi. Ada yang
dari BKR kemudian jadi laskar. Laskar juga ada yang Pesindo, Barisan Banteng,
Hisbullah, dll. Ada perwira didikan KNIL, didikan Peta, dsb.
J: Ada juga kelompok menurut etnis, daerah asal, usia, pengalaman, dsb. Ya,
memang. Dan itu normal. Dalam setiap organisasi besar selalu ada macam-macam
kelompok yang bertanding di dalam.
T: Kalau begitu ketidak-kompakkan sekarang ini, ketegangan antara
fraksi-fraksi itu, apa istimewanya?
J: Karena orang merasa bahwa masa Suharto itu sedang mulai berakhir. Itu
terlihat dari usianya, dan dari memburuknya hubungan AS dengan Indonesia
belakangan ini. Menurut banyak pangamat sekarang ini hubungan AS-Indonesia
adalah yang paling buruk selama Orde Baru. Terlihat juga dari soal-soal
skandal di dunia internasional seperti kasus Timtim, Busang, James Riady,
Mobil Nasional, dst. Selain itu juga karena orang sudah merasa bosen setelah
30 tahun dengan Suharto.
ANAK MUDA
T: Bulan Mei lalu Cornell menerbitkan buku "Young Heroes," disertasinya Saya
Shiraishi tentang "Politik Keluarga" yang dijalankan di Indonesia. Salah satu
yang dia amati adalah hilangnya 'pemuda' dalam kancah politik Indonesia.
Karena selama Orba mereka sudah menjelma menjadi 'remaja.' Lalu Ibu Saya
bertanya, "Where have the youth gone?" Menurut Pak Ben sendiri ke mana
perginya para 'pemuda' itu? Mereka kan 'hero'nya Pak Ben dalam revolusi
kemerdekaan?
J: Ya, sudah menjadi Pemuda Pancasila dong!
T: Ha...ha...ha!
J: Harus diingat bahwa jaman pemuda pada tahun 40-an itu jumlah orang
Indonesia yang sekolah itu sangat sedikit. Jadi waktu itu pemuda pada umumnya
bukan mereka yang nongkrong di sekolah. Sesudah kemerdakaan pendidikan
semakin meluas dan selama Orde Baru perluasan itu terjadi terus-menerus.
Remaja sebagai kelompok sosial adalah orang yang masih muda, tidak bekerja
tapi duduk di bangku sekolah. Jadi perubahan dari pemuda menjadi remaja
adalah akibat meluasnya sistim pendidikan di Indonesia.
Sebagian lagi karena munculnya kelas menengah di Indonesia selama Orde Baru.
Muncul juga anak-anak manja yang papi-maminya punya banyak duit, sikapnya
konsumtif, dsb. Kadang-kadang anak-anaknya jadi si penurut. Tapi
kadang-kadang justru jadi berandalan atau jadi aktivis. Apalagi karena
kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya, kecuali di beberapa sekolah
teknik, memang bikin banyak orang jadi bosen di sekolah. Nah itu faktor yang
digaris-bawahi oleh Ibu Saya. Bagaimana pendidikan di Indonesia diterapkan
secara militer, anak-anak tidak diajak untuk berpikir tetapi harus menurut
saja.
Kalau saya ngomong-ngomong dengan beberapa anak muda yang datang dari
Indonesia terasa sekali betapa terbatas pengetahuan mereka. Bukan hanya
tentang dunia luar tetapi juga mengenai sejarah Indonesia misalnya.
Dibandingkan dengan generasi orang tuanya, pengetahuan anak-muda sekarang
tentang banyak hal itu kosong. Selama jaman Bung Karno pendidikan itu
dianggap alat untuk menggerakkan orang. Tetapi selama jaman Orde Baru --
misalnya kita ambil saja contoh politik Normalisasi Kampus -- pendidikan
dirancang untuk membuat anak muda patuh dan tidak banyak mikir.
T: Waktu pemilu barusan kita lihat mereka muncul lagi di jalan-jalan.
J: Iya. Tapi sampai ke mana mereka punya tujuan jangka panjang? Biasanya
mereka jadi pendobrak. Karena belum punya kerja dan belum berkeluarga maka
mereka bisa lebih bebas untuk bergerak. Dan tentu karena punya cukup
keberanian anak muda. Tapi apakah mereka memang punya tujuan yang lebih jauh
dari pada sekedar mengemplang penguasa? Saya belum yakin.
T: Ada satu kelompok anak muda yang sudah muncul kemudian ditangkepin dan
dihukum berat, sampe belasan tahun. Mereka ini ngomongnya sengit kenceng
banget! Bagaimana
Pak Ben memahami mereka?
J: Saya belum cukup baca tulisan-tulisan mereka. Jadi belum bisa kasih
komentar. Yang menarik organisasinya itu belum ditumpas habis dan belum
dilarang lalu dijadikan 'bahaya laten' oleh pemerintah.
BABAD SUHARTO
T: Upaya mengabadikan dan memuliakan Suharto terlihat jelas sekali. Di kota
Jogya saja dibangun dua monumen besar. Monumen Serangan Umum di depan Kraton
dan Monumen Janur Kuning di jalan ke Kaliurang. Lalu ada Musium Purna Bhakti
di Taman Mini yang isinya mewah sekali. Kata orang Jawa musium itu isinya
'nggiloni.' Tapi usaha menulis 'babad' ini terus dirongrong dengan munculnya
data-data tentang pembunuhan massal 65, tentang kudeta 11 Maret 66,
pembantain di Timtim, dsb. Seminar Nawa Aksara sudah diijinkan Suharto tetapi
terpaksa diundur.
Bulan Mei lalu muncul kenangan tentang saat-saat terakhir Bung Karno dalam
biografinya Dr Mahar Marjono, yang merawat Bung Karno pada saat terakhirnya.
Dr Mahar menceritakan bagaimana BK menangis dipelukannya, minta diijinkan
jalan-jalan ke luar. Dr Mahar minta ijin ke Suharto, tetapi ditolak. Kenangan
ini memperlihatkan perlakuan Suharto yang kejam terhadap BK selama dalam
tahanan. Segi ini tidak pernah muncul sebelumnya. Tapi ini jelas beda sekali
dengan versi 'babad' Suharto, yang terhadap Bung Karno katanya mau "mikul
duwur mendem jero." Apakah usaha Suharto untuk menulis 'babad'nya sendiri
akan berhasil?
J: Jelas tidak mungkin! Usaha dari penguasa manapun untuk mengarang
sejarahnya sendiri secara kekal tidak pernah berhasil. Sekarang ini kita
harus ingat tidak hanya Suharto yang sudah merasa dekat dengan titik terakhir
hidupnya. Banyak orang Indonesia yang pernah ikut peristiwa-peristiwa
sejarah, selama masih aktif mungkin terpaksa tutup mulut, tapi sekarang
mereka mulai ngomong.
Saya kasih contoh Pak Oei Tjoe Tat. Ketika dikasih tahu dokter bahwa dia kena
kanker lever, dia tahu bahwa dia hanya akan hidup beberapa bulan lagi. Lalu
dia berusaha keras untuk menulis hal-hal penting tentang hubungannya dengan
Bung Karno. Sampai berani memasukkan foto dari Mahmilub yang dia alami dengan
judul, "pengadilan sandiwara." Buku itu akhirnya memang dilarang, tapi
sebelumnya sudah beredar cukup luas. Saya dengar bahwa orang-orang dari
Kejaksaan yang datang ke rumahnya untuk mengatakan bahwa buku ini dilarang,
diam-diam bawa eksemplar pribadi lalu minta diotograf oleh Pak Oei.
Sekarang banyak biografi atau otobiografi dari macem-macem tokoh tua. Karena
merasa tidak akan lama lagi di dunia ini, mereka ingin meninggalkan sesuatu
untuk masa depan bagi generasi selanjutnya. Mereka tahu bahwa jaman Suharto
akan selesai. Jadi saya kira fakta-fakta tentang apa yang terjadi pada
permulaan Orde Baru makin lama
toh bakal menjadi gamblang untuk masyarakat Indonesia.
(Habis, wawancara tgl 21 Juni 97).***