From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id TAA11509 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 5 May 1997 19:54:00 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Profil bos Hyundai
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Mon May 5 19:50:45 1997
Date: Mon, 5 May 1997 17:49:46 -0600 (MDT)
Message-Id: <199705052349.RAA11349@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] KMP - Profil bos Hyundai
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com
INDONESIA-P
[Kompas Online]
----------------------------------------------------------------------------
Senin, 5 Mei 1997
----------------------------------------------------------------------------
Park, Pria "Hyundai" Kategori Khusus
PEMANDU wisata berulang kali menegaskan, pria Korea pada umumnya keras,
dingin, dan sulit tersenyum. Dari kriteria ini, tentu Byung-Jae Park
termasuk yang khusus. Park selalu ramah saat menyambut wartawan yang
diundang dari seluruh dunia berkenaan dengan 30 tahun usia Hyundai Motor
Company.
Pria kelahiran 9 Oktober 1941 ini tersenyum dalam pembukaan Seoul Motor
Show, saat jumpa wartawan, ataupun saat menerima tamu berkunjung ke pusat
riset Hyundai di Namyang, 120 kilometer selatan Seoul. Park bahkan tertawa
lebar ketika menjamu santap malam.
Apakah senyumnya basa-basi?
"Dia memang sangat ramah dan murah senyum," ujar pekerja Hyundai yang terus
menemani rombongan wartawan. Dalam berbagai foto resmi pria bertubuh sedang
ini memang selalu tampil dengan wajah tersenyum memamerkan deretan giginya.
Park adalah Presiden Hyundai Motor Co, raksasa penghasil mobil nomor satu di
Korsel dengan 1,65 juta unit produksi setiap tahun. Walaupun dalam hal-hal
rinci dia mempersilakan manajernya menjelaskan, namun soal perkembangan
otomotif Hyundai, Park tahu betul. Jawabannya tegas dan jelas soal kebijakan
perusahaannya. Maklum, selama 30 tahun ia jatuh bangun bersama Hyundai
Motor.
"Kerja keras merupakan hal utama untuk bisa mencapai posisi seperti Hyundai
Motor Co saat ini," ujarnya ketika ditanya bagaimana bisa membawa suatu
industri otomotif sehingga menjadi besar seperti Hyundai. "Kerja keras terus
menerus selama 20 tahun".
Selain kerja keras, perlu sikap jujur terhadap konsumen dan juga kepada
siapa saja. Tuturnya, "dengan berbuat jujur, maka kita cenderung memberikan
yang terbaik dalam kualitas, model, teknologi maupun harga kepada konsumen".
***
AYAH dari dua putra ini, bertolak dari latar belakang pendidikan fakultas
ekonomi Universitas Yonsei, Seoul tahun 1964. Dia bergabung bersama Hyundai
Motor begitu salah satu anak perusahaan Hyundai ini dibentuk 30 tahun lalu.
Bekerja di perusahaan Samho, ataupun menjalani karier di militer Korsel
(1964- 1966) tidak menarik dan tidak sesuai dengan ilmu ekonomi yang
dikuasainya.
Karier Park bertahap menanjak. Pertumbuhan ekonomi Korsel yang tinggi
rata-rata dua digit pada akhir tahun 1970-an, membuat Hyundai membutuhkan
orang-orang dengan penciuman bisnis yang tajam seperti Park. Setelah jatuh
bangun di level bawah, Park dipercaya sebagai direktur Hyundai Motor tahun
1978 - 1979. Secara bertahap dia melangkah ke atas hingga menjabat presiden
tahun 1996.
"Kami tidak gentar menghadapi para pesaing. Bagi kami yang terpenting
bagaimana mengembangkan mobil yang bisa bersaing secara teknologi, model,
harga, dan kualitas," ujarnya ketika ditanya bagaimana strategi Hyundai
menghadapi mobil-mobil Jepang yang sudah lebih kukuh merambah pasar Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Dalam kaitan itu Hyundai menjalin kerja sama dengan Bimantara untuk membuka
pabrik yang dijadwalkan beroperasi tahun 1999. Katanya, "kami akan terus
mengembangkan pabrik-pabrik di luar negeri termasuk di negeri Anda, selain
untuk mengembangkan pasar, juga untuk memberikan teknologi otomotif dasar
kepada mitra kami".
Park tidak berkeberatan melepas nama Hyundai menjadi Bimantara.
"Lebih baik menggunakan nama lokal, karena konsumen akan lebih akrab dengan
nama itu dan kemudian terus setia pada merek tadi," ujarnya. Hal yang sama
dilakukan industri otomotif Korea ketika mengadopsi teknologi industri
otomotif dari Eropa dan Jepang.
Mengapa memilih Indonesia?
"Pasar di sana sangat menjanjikan, dan kami akan terus memgembangkan varian
mobil Hyundai yang diproduksi di sana jika memang menguntungkan saat era
perdagangan bebas mendatang," tutur pria yang mahir berbahasa Inggris dan
Jepang ini.
***
BERLAKU jujur terhadap konsumen yang jadi sikap dasar Park, terasa nuansanya
di pabrik-pabrik Hyundai yang sempat dikunjungi. Kata-kata dalam huruf kanji
mengingatkan pekerjanya agar terus memperhatikan konsumen, teknologi,
kualitas, dan manusiawi, dari setiap produknya.
Walaupun tidak dijelaskan eksplisit oleh Park, apa yang diterapkannya ini
sebenarnya semangat yang disadapnya utuh dari pendiri Hyundai Grup Chung
Ju-yung.
"Park memang praktis melewatkan hari-harinya di Hyundai Motor bersama
Chung," ujar sejumlah staf Hyundai. Chung yang kini berusia 82 tahun, terus
menekankan prinsip kejujuran terhadap konsumen, sejak dia mulai
mengembangkan imperium bisnis Hyundai dari sebuah bengkel di salah satu
pojokan Seoul tahun 1947.
Sikap Chung ini kemudian dianut Park dan juga sebagian besar top manajemen
di Hyundai. Bahkan mereka menerapkan slogan lainnya, kepuasan konsumen
merupakan tujuan inti dari manajemen Hyundai. Kata-kata yang tidak sekadar
berhenti di atas kertas ini, terbukti membuat Hyundai salah satu perusahaan
raksasa dunia dengan omset penjualan 77 milyar dollar AS atau Rp 185 trilyun
per tahun.
Tentu saja untuk menerapkan slogan-slogan tadi, tidak ada jalan lain dari
kerja keras tiada henti.
"Tanpa semua itu, tidak bakal terjadi apa-apa," ujar Park sambil tersenyum.
Waktu santainya dilakukan dengan mengunjungi pabrik atau pusat riset
Hyundai, mencoba produk mobil baru, ataupun berkunjung ke pabrik-pabrik baru
di sejumlah negara.
Pengembangan industri otomotif Hyundai memang berawal dari suatu usaha
keras. Dan Park merasakan detakan jantung akibat kerja keras itu sejak awal,
ketika Hyundai masih hanya merakit mobil-mobil buatan Amerika, Eropa, dan
Jepang. Meski fisik lelah, namun secara bertahap mereka mengadopsi teknologi
yang ada.
Hyundai akhirnya bisa memproduksi mobil sendiri tahun 1976.
"Mobil Pony buatan Hyundai itu bukan saja dijual di dalam negeri, tetapi
juga diekspor ke Ekuador, pasar ekspor pertama kami," ujar Park dengan mata
berbinar. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di dalam negeri, semakin mendorong
Hyundai mengembangkan produk-produknya dan kini menjadi nomor satu di Korea
dan 13 besar dunia.
Tapi dulu, pemerintah Anda melindungi pasar mobil dalam negeri dengan tarif
yang tinggi?
"Yah itu dulu. Sekarang sudah tinggal 8 persen, dan bakal hilang dalam era
perdagangan bebas. Bagi kami mobil impor kini tidak jadi masalah. Produk
kami tetap dijual dengan harga murah, kualitas unggul. Pokoknya kami tidak
takut bersaing," ujarya.
***
KISAH dan penampilan Park secara tak langsung menggambarkan kisah dan
perjuangan keras industri otomotif Korea agar mencapai tingkat 10 besar
dunia saat ini. Produk otomotif Korea praktis menguasai pasar sendiri, dan
secara bertahap mulai merambah berbagai pelosok dunia dengan ekspor 1,21
juta unit tahun 1996.
Apakah lantas santai dengan pencapaian ini?
"Kami akan terus mengembangkan sejumlah pabrik di beberapa negara seperti
Indonesia. Semua ini dalam upaya membuat produk mobil Hyundai masuk dalam 10
besar otomotif dunia," ujarnya dalam sambutan saat jumpa pers peluncuran dua
mobil baru keluaran Hyundai.
Sebagai pria Korea, Park memang sepintas terlihat keras.
"Mungkin dia sudah banyak makan asam-garam di luar negeri, sehingga menjadi
sangat ramah dan murah senyum," ujar kalangan otomotif Indonesia yang
beberapa kali bertemu Park.
Park memang menjadi pria khusus Korea: banyak mengumbar senyum. Sebagai
usahawan yang menjual produk, kini sudah saatnya ia banyak-banyak melempar
senyum. Apalagi kalau yang datang adalah pembeli. Park rela melepaskan
karakter umum pria Korea, demi mendongkrak penjualan mobil Hyundai. Tindakan
arif yang berlaku umum, apalagi di Indonesia yang dikenal sangat murah
senyum. (pieter p gero)