[INDONESIA-P] BALIPOST - Massa Meng

From: apakabar@clark.net
Date: Fri Apr 11 1997 - 18:29:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA14048 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 11 Apr 1997 21:28:32 -0400 (EDT)
Subject: [INDONESIA-P] BALIPOST - Massa Mengambang

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@indopubs.com Fri Apr 11 20:59:44 1997
Date: Fri, 11 Apr 1997 18:58:31 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704120058.SAA17348@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-p@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-P] BALIPOST - Massa Mengambang
Sender: owner-indonesia-p@indopubs.com

INDONESIA-P

12 April 1997
     _________________________________________________________________
                                      
                                 O P I N I
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
   
                                   Kolom
                                      
                              Massa Mengambang
                                      
   DENGAN kian dekatnya ''hari H'' Pemilu 1997, masing-masing OPP
   (Organisasi Peserta Pemilu) berupaya mendekatkan diri dengan massa
   pemilih.
   
   Areal-areal publik yang selama ini dipetakan sebagai wilayah floating
   mass (massa mengambang) digarap habis-habisan. Memang belum ada
   penelitian resmi yang mengungkap secara statistikal; di antara seratus
   juta lebih massa pemilih (yang mempunyai hak pilih), berapa yang
   berpredikat sebagai massa mengambang. Selain bahwa keberadaan mereka
   dikavling dalam katup-katup teritori geografis. Walau demikian, ada
   pula penelitian yang mencoba mengungkap adanya peningkatan kesadaran
   politik di kalangan masyarakat kita dari waktu ke waktu. Sayang sekali
   konklusi itu tak disertai deskripsi tentang signifikansi tingginya
   kesadaran politik dengan keuntungan atau -- setidaknya -- perubahan
   yang diperoleh masyarakat.
   
   Demikian pula hubungannya dengan tuntutan terciptanya suatu sistem
   politik yang lebih akomodatif. Atau kemungkinan ''diversivikasi''
   dalam konstelasi perpolitikan kita yang mampu mengartikulasikan
   gagasan dan pemikiran-pemikiran alternatif. Sementara itu, peningkatan
   kesadaran politik - kalau benar ada hampir pasti diiringi keinginan
   untuk berpartisipasi dalam politik, sekecil apa pun intensitasnya.
   Pada gilirannya masyarakat (publik) akan menuntut ''kompensasi''
   politik atas penyertaannya. Kurangnya penelitian (yang memenuhi
   standar akademis) terhadap hal-hal di atas menyebabkan timbulnya
   asumsi-asumsi bersifat insinuatif. Asumsi itu antara lain menganggap
   masyarakat masih bertipologi seperti satu atau dua dasa warsa silam.
   Akibatnya cenderung memperlakukan masyarakat sebagai massa mengambang
   yang buta politik.
   
   Asumsi seperti itu barangkali tidak sepenuhnya salah, namun ketika
   dimanfaatkan untuk suatu kegiatan politik, asumsi tersebut berubah
   menjadi suatu yang manipulatif dan penuh ironi. Salah satu contoh yang
   cukup representatif namun vulgar adalah ritual penggalangan massa
   dalam tiap menjelang pemilu, seperti sekarang.
   
   Politik memang bukan semata-mata untuk politik. Di sana kerap muncul
   nuansa kemanusiaan. Ketika seorang petani gurem dekil atau seorang
   pengayuh becak renta, dalam sebuah acara penggalangan massa, didekap
   erat oleh seorang Ketua OPP misalnya, ada keharuan di sana. Baik dari
   pihak yang mendekap maupun yang didekap sama-sama merasakan denyut
   kemanusiaan penuh martabat, di mana perasaan saling menghormati,
   saling membutuhkan, saling menghargai sebagai ekspresi relasi sosial
   -- membumi dan memanifestasi dari sekadar bualan retorika semata.
   
   Namun sisi kemanusiaan itu juga tidak sepenuhnya untuk kemanusiaan. Di
   sana terdapat pula kemungkinan terjadinya manipulasi politik. Tatkala
   hati si jelata telah terpikat dalam kesahajaan pola pikirnya, ia
   merasa berkerabat dengan si penggede yang mendekapnya, sesungguhnya
   saat itu juga secara simultan telah terpilih suatu ''perniagaan
   politik; di mana hukum dan prinsip-prinsip ekonomi menemukan
   tempatnya. Sebuah pertanyaan premitif dalam dunia ''Usaha politik''
   pun lantas muncul: siapakah yang diuntungkan? Tak seberapa sulit untuk
   menjawabnya.
   
                                    ***
                                      
   Agaknya kurang bijaksana jika praktik semacam itu ditimpakan sebagai
   kesalahan oknum-oknum, tetapi juga barangkali justru diinspirasikan
   oleh ''budaya'' politik kita, yang menempatkan rakyat jelata dalam
   posisi marginal. Cita-cita kenegaraan kita sebagai suatu Republik
   sarat dengan nilai-nilai kerakyatan. Bahasa latinnya Res Publica, yang
   memberi kedaulatan penuh pada rakyat untuk mengontrol pelaksanaan
   kekuasaan.
   
   Bagi bangsa kita, sejak kebijakan depolitisasi dan konsepsi floating
   mass (massa mengambang) diterapkan secara kaku dan agak manipulatif,
   kosa kata publica telah direnggut dari file-nya. Jadilah politik
   sekadar ''permainan'' segelintir elite yang kerap mempersetankan etika
   dan moral. Mereka begitu yakin dengan keputusan dan sikap-sikap
   politik yang dipilih dengan dalih sesuai dan dibenarkan oleh
   konstitusi. Bahwa kinerja dan sinergi konstitusi tidak cukup
   berorientasi pada kepentingan rakyat, amat jarang dipersoalkan.
   
                                    ***
                                      
   Politik dalam arti paling esensial sesungguhnya berperan memartabatkan
   dan memberadabkan kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) yang
   sejak zaman purba menjadi salah satu kebutuhan sosial manusia. Melalui
   politik, penyelenggaraan kekuasaan dan pendayagunaan wewenang menjadi
   lebih dari sekadar naluri alami dalam ''paradigma rimba'' siapa yang
   kuat, dia yang menang. Itulah sebabnya para filsuf dan ahli ilmu
   politik senantiasa menyuarakan agar percaturan politik harus selalu
   bersaudara dengan etika dan moral. Politik yang terlalu mengagungkan
   dan menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya; bukan saja
   mengkhianati makna epistemologis politik (polis), tetapi lebih
   daripada itu mengingkari peradaban dan kemanusiaan itu sendiri.
   
   Penggambaran di atas boleh jadi berlebihan, namun setidaknya menjadi
   inspirasi bagi kita untuk lebih arif memperlakukan politik. Sudah
   saatnya politik, sebagai aset nasional -- sebagaimana ekonomi dikelola
   lebih sungguh-sungguh untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sudah
   tak pantas lagi sumber daya politik diperlakukan sebagai ''tambang
   emas'' segelintir orang yang dieksploitasi sesukanya.
   
                           Gregorius A. Rusmanda
                                      
                                   [LINK]