[JAVA-L] KMP - Gunther, Rumitnya Pe

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Apr 09 1997 - 18:10:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id VAA19708 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 9 Apr 1997 21:10:35 -0400 (EDT)
Subject: [JAVA-L] KMP - Gunther, Rumitnya Peta Jabotabek

Forwarded message:
From owner-java-l@indopubs.com Wed Apr 9 20:50:27 1997
Date: Wed, 9 Apr 1997 18:48:22 -0600 (MDT)
Message-Id: <199704100048.SAA08796@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: java-l@indopubs.com
Subject: [JAVA-L] KMP - Gunther, Rumitnya Peta Jabotabek
Sender: owner-java-l@indopubs.com

JAVA-L

   Kompas Online
Kamis, 10 April 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
                       Gunther, Rumitnya Peta Jabotabek
                                       
   GUNTHER W. Holtorf (59), pria berkebangsaan Jerman ini, mungkin
   satu-satunya orang yang paling hapal lokasi dan nama jalan di
   Jabotabek. Betapa tidak. Ia menyusuri satu persatu ribuan jalan, dari
   gang sempit hingga jalan tol di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi,
   Depok, Bogor, dan Karawang.
   
   Hasilnya fantastis. Peta terbaru Jabotabek setebal 356 halaman yang
   beredar sejak pekan lalu itu, menjadi salah satu buku yang dicari dan
   paling laris hari-hari ini.
   
   "Mungkin orang tidak pernah membayangkan bagaimana peta ini dibuat.
   Sangat complicated, penuh tantangan, dan sulit. Tapi saya melakukannya
   sendiri," kata Gunther W. Holtorf.
   
   Dua halaman peta misalnya, ia kerjakan lebih daripada satu minggu.
   Peta terbarunya itu membutuhkan waktu sekitar dua tahun! Peta ini
   memuat 85 halaman peta baru, terutama wilayah Botabek yang belum
   pernah dimuat dalam peta edisi sebelumnya yang terbit Oktober 1993.
   Hampir semua peta Botabek yang dibuatnya merupakan peta mutakhir yang
   pernah ada sejak Indonesia merdeka. Peta Kabupaten Tangerang misalnya,
   yang pernah ada buatan tahun 1904.
   
   Untuk membuat tambahan 85 halaman peta dengan 20.000 nama baru, ia
   memulainya dari Depok, Cimanggis, dan Bogor. Modal awal adalah foto
   udara Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal),
   yang diperbesar. Ia kemudian ke lapangan, mencek satu per satu nama
   jalan, lokasi fasilitas umum seperti SPBU (stasiun pengisian bahan
   bakar umum), mesjid, dan lain-lain. Ia mencek nomor kode pos setiap
   kecamatan dan kelurahan/desa, kemudian ia konfirmasikan ke Kantor Pos
   Besar di Bandung.
   
   Survai lapangan ini dimulainya pukul enam pagi dan selesai pukul tujuh
   malam. Ungkapnya, "Tidak ada hari libur bagi saya".
   
   Gunther tidak segan bertanya kepada warga setempat, untuk memastikan
   informasi yang dicarinya. Banyak pengalaman tak enak menimpanya,
   seperti misalnya ban mobil Kijangnya dikempesi dan ia diperas oleh
   berandalan, atau pernah ia ditodong penjahat. Meski demikian, ia
   mengaku mendapat banyak bantuan dari masyarakat Jabotabek yang
   dijumpainya. Katanya, "Mereka sangat helpful".
   
   Kerja sama diperolehnya dari banyak pihak. Ketika ia datang ke kantor
   kepala desa, kantor lurah, kantor DPU, mereka memberinya informasi.
   Bahkan keterangan rencana pembangunan jalan tol Kalimalang (yang
   tercantum dalam edisi terbaru), justru merupakan permintaan pihak Bina
   Marga dan Jasa Marga.
   
   Genap setahun ia melakukan survai lapangan, dengan menyetir sendiri
   mobil Kijang. Jelasnya, "Kalau pakai sopir, malah lambat".
   
   Mengamati pesatnya pembangunan kompleks permukiman komersial (real
   estate), Gunther merasa surprise. Di Jabotabek saat ini ada sekitar
   1.130 perumahan komersial real estate dan sekitar 600 kompleks
   perumahan instansi/departemen. Satu per satu kompleks perumahan itu
   didatanginya, sehingga ia pun tahu persis kondisi jalan ke lokasi,
   apakah jelek atau baik. Dalam peta terbarunya misalnya, Gunther
   mencantumkan kondisi jalan dari Parung menuju perumahan Citra Raya di
   Cikupa, yang disebutnya bad condition.
   
   Setelah selesai dengan survai lapangan, ia membuat peta dengan skala
   yang benar. Ia merampungkannya di Budapest, Hongaria, untuk pekerjaan
   art work. Di sana, ia dibantu 10 orang pembuat kartografi. Setelah
   semuanya selesai, peta ini dicetak di PT Intermasa Jakarta dan
   didistribusikan oleh PT Djambatan Jakarta.
   
   "Hasilnya tak terduga. Banyak toko buku kehabisan stok dan memesan
   kembali," kata Syarifuddin, Direktur PT Djambatan. Edisi ke-11 ini
   dicetak 80.000 eksemplar, harganya Rp 58.000 per eksemplar.
   
                                   * * *
                                      
   PEMBUATAN peta DKI Jakarta ini dirintis Gunther W. Holtorf sejak 20
   tahun silam. Tapi peta DKI yang diterbitkan tahun 1977 (dengan kata
   pengantar Gubernur DKI Ali Sadikin) itu baru satu lembar dan
   wilayahnya sangat terbatas. Bandara Kemayoran masih jelas tercantum
   dalam peta tersebut. Penerbitnya, Falk, sebuah penerbit peta terbesar
   di Eropa yang bermarkas di Hamburg.
   
   "Waktu itu saya naik sepeda dan becak. Jakarta 'kan masih belum padat
   seperti sekarang," kisahnya.
   
   Sekarang, jarak Balaraja (Tangerang) ke Karawang sekitar 120 km, dan
   jarak Ancol (Jakarta Utara) ke Ciawi (Bogor) sekitar 70 km. Tambahnya,
   "Wilayah yang harus dicek sangat luas. Jadi sekarang saya menggunakan
   mobil".
   
   Ke Jakarta pertama kali pada tahun 1973 sebagai manajer Lufthansa,
   Gunther tinggal di Hotel Asoka berlantai dua (sekarang sudah lenyap
   dan lokasinya menjadi Plaza Indonesia).
   
                                   * * *
                                      
   MENURUT Gunther, semula ia hanya iseng-iseng membuat peta.
   
   "Banyak teman saya menanyakan lokasi daerah di Jakarta. Demikian pula
   pelanggan Lufthansa. Itu mendorong saya untuk membuat peta Jakarta
   yang lebih baik, dan hasilnya berupa peta DKI Jakarta yang terbit
   tahun 1977, untuk menyambut HUT ke-450 DKI Jakarta," tuturnya. Peta
   ini dicetak sampai enam kali dengan berbagai perbaikan di sana-sini,
   tapi tetap satu lembar.
   
   Tahun 1990, peta Jakarta edisi ke-7 terbit, wilayahnya lebih luas dan
   nama-nama jalan lebih detil. Tahun 1992, peta Jakarta edisi ke-9
   setebal 176 halaman beredar dengan harga Rp 26.500. Dalam peta ini,
   banyak daerah baru yang muncul seperti Meruya, Bintaro, Pondokgede,
   Pondokkelapa, dan Cakung. Tahun 1993, terbit peta 243 halaman dengan
   daerah Serpong, Lippo Village, dan Bintaro.
   
   "Saya tidak pernah membayangkan. Hanya dalam waktu 20 tahun, peta yang
   saya buat menjadi peta lengkap. Waktu peta tahun 1990 terbit, saya
   berpikir inilah peta Jakarta yang terbaik. Saya tak pernah berpikir,
   tahun-tahun berikutnya saya akan mengerjakan peta lebih mutakhir,"
   ungkap Gunther yang menguasai Bahasa Jerman, Spanyol, Inggris,
   Portugis.
   
   Meski peta edisi ke-11 ini sudah beredar, bukan berarti Gunther
   selesai bekerja. Mulai September ia menyiapkan pembuatan peta edisi
   berikutnya. Sebelumnya, ia akan berlibur empat bulan di Jerman, berama
   istrinya Christie (42) dan putrinya Sabine yang tinggal di Frankfurt.
   Lelaki yang pernah tinggal di Argentina, Cile, dan Uruguay, sebagai
   manajer Lufthansa ini menambahkan, "Saya memang butuh istirahat agar
   bisa segar lagi jika bekerja di Jakarta".
   
   Peta edisi ke-12 tahun 1998 direncanakan terbit dengan jumlah halaman
   yang sama, namun dengan sejumlah perbaikan seperti tambahan nama
   apartemen dan gedung perkantoran. Pada edisi ke-13 yang akan terbit
   tahun 1999, ada 80 halaman baru, 50 halaman peta baru, dan 30 halaman
   indeks. Peta itu akan memuat daerah Cikampek, Cipanas, Bogor Raya, dan
   Jonggol yang diperkirakan bakal tumbuh pesat.
   
   Gunther setuju mencantumkan nomor kode area telepon, lokasi wartel,
   dan kantor polisi. Tapi sulit melakukannya untuk rute bus dan jalan
   satu arah. Jelasnya, "Rute bus di Jakarta tidak seperti di London,
   Frankfurt, atau Tokyo. Sering berubah-ubah. Selain itu, Jakarta sangat
   terkenal dengan jalan satu arah, kecuali. Misalnya jalan ini satu arah
   kecuali truk, bus, atau kecuali hari libur, atau kecuali pukul
   06.00-10.00, dan sebagainya.
   
   Gunther mengakui ada beberapa kesalahan kecil dalam peta buatannya.
   Katanya, "Ya, saya menerima sejumlah kritik atas beberapa kesalahan
   yang ada. Memang tidak bisa sempurna seratus persen, tapi saya selalu
   berusaha memperbaikinya".
   
   Sekolah Al Izhar misalnya, ditulis Al Azhar, di halaman 74. "Itu
   produk peta edisi sebelumnya, yang dicetak ulang pada edisi baru.
   Kesalahan itu saya perbaiki pada halaman 84, halaman peta baru,"
   katanya.
   
   Ia mengaku sangat gembira jika menerima masukan dan kritikan. Katanya,
   sedikitnya ada 200 surat dan puluhan telepon yang masuk ke PT
   Djambatan, yang menyampaikan masukan untuk perbaikan petanya.
   
   Tentang peta Jakarta yang dicetak oleh penerbit ilegal, Gunther
   mengatakan kejadian itu tidak menguntungkan. "Tapi mungkin bagi orang
   lain, itu cara mendapatkan peta dengan harga lebih murah," kata
   Gunther yang menambahkan, kemungkinan besar peta yang dicetak ilegal
   berbentuk citymap bukan peta tebal.
   
                                   * * *
                                      
   TAMPAKNYA pembuatan peta Jabotabek membuat Gunther semakin berarti.
   
   "Uang bukan tujuan utama. Bagi saya, yang terpenting hasil karya saya
   bisa bermanfaat bagi masyarakat Jabotabek, bagi orang Indonesia,"
   ujarnya sungguh-sungguh.
   
   Ketika ditanya apakah ia mempunyai kader atau staf untuk melanjutkan
   pekerjaan ini, Gunther mengatakan ia sudah lama mencari orang yang
   berminat sungguh-sungguh dalam pembuatan peta.
   
   "Mereka haruslah orang yang teliti dan akurat, serta berpikir
   milimeter. Artinya, mereka harus mau teliti mengukur ketepatan skala
   agar tidak salah," kata Gunther yang masih enerjik meski usia
   menjelang kepala enam. (Adhi Ksp)