From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id MAA04216 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 3 Apr 1997 12:06:02 -0500 (EST)
Subject: [INDONESIA-A] UMMAT - Kloning : Kemajuan atau Kemunduran Peradaban ?
Forwarded message:
From owner-indonesia-a@indopubs.com Thu Apr 3 03:42:06 1997
Date: Thu, 3 Apr 1997 01:37:26 -0700 (MST)
Message-Id: <199704030837.BAA19164@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-a@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-A] UMMAT - Kloning : Kemajuan atau Kemunduran Peradaban ?
Sender: owner-indonesia-a@indopubs.com
INDONESIA-A
X-URL: http://www.ummat.co.id/220pu6.htm
Kloning: Kemajuan atau Kemunduran Peradaban?
Manfaat dan mudharat kloning ditakar dengan timbangan agama dan ilmu.
Agamawan Tak Boleh Pasrah
Mangunwijaya , Pastor Katolik
Soal kloning pada manusia, itu masih jauh. Dan dalam hal ini kita
tentunya merujuk kepada prinsip-prinsip moral. Teknologi tidaklah
haram sepanjang manusiawi. Artinya, cocok dengan prinsip-prinsip
kemanusiaan. Tapi teknologi bisa menjadi sesuatu yang haram. Pisau
atau pistol, misalnya, sama sekali tak haram dipergunakan. Semua itu
menjadi haram kalau tidak digunakan untuk kepentingan kemanusiaan.
Jadi, tergantung.
Tugas agama dan agamawan memang penjaga hati nurani umat manusia.
Bahwa perkembangan iptek melanggar hati nurani, itu soal lain. Tak
berarti lantas para agamawan hanya pasrah. Kesannya mungkin
reaksioner, tapi ya.. itu tadi, mungkin karena tugas mereka memang
menjaga hati nurani umat manusia.
Akan Menimbulkan Kekacauan Ida Bagus Gunada, Sekjen Parisada Hindu
Dharma
Dari sisi iptek, kloning mungkin merupakan penemuan yang spektakuler.
Tetapi, dari sudut agama, manusia sudah menuju ke satu jalur yang
semestinya tidak dilalui. Menurut ajaran Hindu, ada tiga jenis makhluk
yang diciptakan Tuhan, yaitu tumbuhan, hewan, dan manusia, sesuai
dengan ruang dan waktu.
Manusia merupakan yang paling sempurna, karena ia punya kelebihan bisa
menentukan dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tubuh
manusia, termasuk seluruh elemennya, juga mempunyai kodrat
sendiri-sendiri. Kuku di kaki, rambut di kepala, dan seterusnya, itu
memiliki kodrat masing-masing. Semua itu berjalan menurut hukum kodrat
atau hukum kemahakuasaan.
Lalu, dengan kloning atau rekayasa genetika, di mana tempat makhluk
baru hasil kloning itu? Yang akan paling menentukan karakter manusia
dalam proses pertumbuhannya itu sesungguhnya adalah saat si ibu dan
bapak "menciptakan" anak. Bagaimana karakter keseharian ibu dan bapak,
sifat seperti itulah yang akan membentuk pribadi si anak. Ini adalah
faktor yang paling mendasar. Kemudian, faktor lingkungan juga
mempengaruhi karakter manusia. Bagaimana dengan kloning? Karakter
seperti apa yang dimiliki makhluk baru hasil rekayasa manusia itu?
Yang pasti, hal itu akan menciptakan fenomena baru dalam hubungan
kemanusiaan. Kloning akan menimbulkan semakin banyak kekacauan.
_________________________________________________________________
Harus Dicegah dari Awal
KH Ali Yafie , Ketua Majelis Ulama Indonesia
Kita melihat reaksi atas ramalan keberhasilan kloning dalam pembiakan
manusia itu merata di seluruh dunia. Jadi, tak berlebihan kalau
dikatakan itu ancaman bagi umat manusia. Karena memang manusia tidak
bisa dipersamakan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Kalau mau
disamakan, itu artinya derajat manusia diturunkan. Itu kemerosotan
nilai kemanusiaan. Jadi, pengkloningan manusia itu haram.
Ada dua ayat Al-Qur'an yang memberikan isyarat. Yaitu, manusia adalah
makhluk yang diberikan kehormatan tersendiri, untuk menjadi khalifah.
Dalam surah al-Isra ayat 70 dijelaskan: walaqad karamna bani adam .
Artinya, Allah memberikan kehormatan kepada manusia. Nilai kemanusiaan
itu harus dipelihara, sejalan dengan surah at-Thien: laqad khalaqnal
insaana fi ahsani taqwiem . Kemudian digambarkan nilai kemanusiaan itu
bila terkena degradasi: summa radadnahu asfala safilin . Nah, kalau
kloning itu mau dicoba untuk membiakkan manusia, itu bertentangan
dengan ayat tersebut.
Lembaga keluarga pun akan hancur. Akan terjadi pula kerancuan moral,
budaya, dan hukum. Jadi, terlalu rumit masalahnya kalau kloning
manusia dibolehkan. Maka harus dicegah dari awal.
_________________________________________________________________
Bentuk Kesombongan Manusia
J. Hardiwiratno MSF , Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI
Menurut Gereja sekarang, Kitab Suci bukan buku ilmiah, tapi merupakan
ungkapan iman umat terhadap Allah. Kitab Suci bukan disabdakan
langsung oleh Allah, tapi dikarang manusia dalam suatu proses sejarah
yang cukup panjang, namun diilhami oleh Allah sendiri. Maka, kalau ada
hal-hal yang berbeda dengan Kitab Suci, biasanya datang dari ilmu
pengetahuan, itu belum tentu salah.
Tapi Gereja akan selalu berjuang kalau iptek dipakai untuk
menginjak-injak, apalagi menghancurkan martabat dan hidup pribadi
manusia. Kita wajib memberikan pertimbangan-pertimbangan moral dan
iman atas segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kita punya hak
untuk itu.
Dalam arti tertentu, dalam rekayasa genetika seolah-olah manusia
menjadi penguasa manusia lain. Manusia dengan kuasa teknologi yang
dimiliki bertindak seperti Tuhan. Bisa menentukan eksistensi manusia,
hidup atau mati, berada atau tidak sesuai dengan kemauannya sendiri.
Jika nafsu manusia seperti itu tak terkontrol, bukankah juga merupakan
suatu bentuk kesombongan manusia di hadapan Tuhan?
Tentang pendapat Paus mengenai isu kloning, saya melihatnya sebagai
pendapat pribadinya. Ajaran Katolik tentang kloning belum ada. Hanya
sedikit disinggung dalam sebuah dokumen Donum Vitae , yang intinya
melarang kloning karena berlawanan dengan hukum moral, dan melawan
martabat prokreasi manusia maupun persatuan suami-istri.
_________________________________________________________________
Isyarat Kemunduran Peradaban
Rusdy Rukmarata , Biksu Budha
Banyak pihak memandang bioteknologi kloning ini sebagai kemajuan
peradaban manusia. Tapi, menurut saya, malah sebaliknya. Kloning akan
membawa manusia pada kemunduran peradaban. Dari sudut ajaran Budha,
pada dasarnya masing-masing manusia pasti punya keunggulan tersendiri.
Seorang buta sekalipun, akan mempunyai pendengaran yang baik sekali.
Jika lewat kloning manusia ingin "mencipta" manusia unggul, dilihat
dari sudut kemanusiaan, maka hasilnya, saya yakin, justru semakin
rendah.
Fenomena yang paling mengerikan dari kloning manusia adalah
terciptanya iklim yang sangat membedakan manusia. Akan ada manusia
yang sengaja dibikin menjadi unggul, sedangkan yang alamiah dianggap
tidak unggul. Kemunduran peradaban semakin nyata ketika sesama manusia
tidak lagi bisa saling menghargai.
Teknologi kloning, dengan sendirinya, adalah mencipta manusia yang tak
mampu bijaksana dalam bertindak maupun berpikir. Dari sana jangan
harap lahir manusia bijaksana. Karena belajar bijaksana berarti
memikirkan serta menyayangi orang lain. Bagaimana ia tahu apa itu
sayang kalau ia saja dilahirkan tanpa itu?
Jangan pernah berpikir bahwa hasil kloning itu adalah spesies unggul.
Penelitian jangan membohongi diri maupun khalayak dengan mengatakan
makhluk hasil kloning itu pasti jenis yang unggul.
_________________________________________________________________
Harus Diatur agar Tetap Baik
Kartono Mohammad , Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia
Secara teoretis, mengkloning manusia itu bisa, karena prinsip-prinsip
utamanya sama. Teknologi yang digunakan sama, yaitu teknologi bayi
tabung plus teknologi rekayasa genetik. Bahwa sekarang belum dicobakan
kepada manusia, itu hanya soal waktu saja. Menjadi kebiasaan bahwa
para ahli ginekologi sebelum mencobakan kepada manusia selalu
mencobakan kepada binatang dulu.
Ilmu bukanlah soal setuju atau tidak setuju. Ilmuwan selalu mempunyai
insting untuk selalu melakukan penelitian dan percobaan. Masalahnya
bukan setuju tidak setuju, tapi pada penerapannya. Untuk kebaikan atau
kerusakan?
Ini kan satu bukti bahwa pengetahuan tentang kloning sudah sedemikian
jauh. Penelitian kloning itu sudah berlangsung puluhan tahun. Pada
tahun 50-an, kloning pertama dengan kodok berhasil. Gagasan kloning
sudah muncul sejak abad ke-18, tapi waktu itu masih berupa teori
kemungkinan.
Jadi kloning itu tujuannnya untuk apa? Kalau digunakan untuk menolong
orang yang nggak punya kemungkinan untuk punya anak, bagaimana? Kalau
tujuannya memang baik, saya setuju. Kalau tujuannya jelek, baru kita
tentang. Untuk itu, harus diatur, bagaimana agar tujuannya tetap baik.
_________________________________________________________________
Jangan Sekadar Menghujat
Amin Abdullah , Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah
Masa sekarang ini berbeda jauh dengan Abad Pertengahan. Abad itu semua
hal kan merupakan hak prerogatif Tuhan. Dengan pelbagai temuan ilmiah
di bidang rekayasa genetik, misalnya, saya melihat Tuhan tengah
mendelegasikan apa yang selama ini kita anggap hanya hak Tuhan. Dalam
kloning terhadap hewan, umpamanya, tak ada masalah.
Terhadap manusia? Yang jelas akan punya akibat pada institusi
keluarga, agama, dan tata nilai. Tapi, harus diingat, kloning adalah
cermin kemajuan iptek. Dari segi logika penelitian, aneh, dong ,
melarang ilmuwan ber-eksperimen menemukan yang baru. Kloning itu kan
rumit sekali. Toh, Tuhan memberikan juga, membiarkan manusia mampu
menemukan teknik kloning. Saya percaya ada hikmahnya, walaupun belum
tahu hikmah apa yang terkandung.
Jadi, jangan semua perkembangan iptek cuma untuk dicela, dicegah.
Persoalan akan terus bertambah. Agamawan harus arif. Memang ada aspek
etik dan moral. Tapi, apa yang dimaksud dengan etik dan moral itu ada
penjelasannya, dong . Kalau jelas ada yang dirusak, barulah ditangkal.
Tak serta-merta dilarang, wong belum jelas juga. Atau bicarakan
penangkalnya seperti apa, apa yang harus diantisipasi. Tak sekadar
menghujat.
Afnan Malay, Yuyun, DZ, Saikhu, A Muayyad, HB