From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id SAA15676 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 19 Mar 1997 18:31:08 -0500 (EST)
Subject: [INDONESIA-N] INFOKOM - Bisnis Internet Masih Berat
Forwarded message:
From owner-indonesia-n@indopubs.com Wed Mar 19 18:05:01 1997
Date: Wed, 19 Mar 1997 16:00:14 -0700 (MST)
Message-Id: <199703192300.QAA25705@indopubs.com>
To: apakabar@clark.net
From: indonesia-n@indopubs.com
Subject: [INDONESIA-N] INFOKOM - Bisnis Internet Masih Berat
Sender: owner-indonesia-n@indopubs.com
INDONESIA-N
X-URL: http://www.InfoKomputer.co.id/9701/laput1097.html
Bisnis Internet Masih Berat
_________________________________________________________________
Perkembangan Internet pada tahun 1996 menambah poin yang boleh
dipertimbangkan dalam perkembangan pasar jasa Teknologi Informasi di
Indonesia. Nilai pendapatan jasa ini pada tahun 1995 sebesar US$ 112
juta (Rp 263 milyar) dan meningkat menjadi US$ 145 juta atau sekitar
Rp 341 milyar pada tahun 1996. Munculnya bisnis-bisnis jasa baru di
bidang Internet, seperti ISP (Internet Service Provider),WSP (Web
Service Provider) dan Internet Integrator telah memberikan kontribusi
hampir Rp 40 milyar.
Apakah angka-angka tersebut menunjukkan bisnis jasa terutama di bidang
Internet di Indonesia cerah? Dan apakah bisnis Internet ini sudah
mulai menguntungkan ? Untuk mendapat jawabannya, berikut adalah
rangkuman hasil wawancara dengan beberapa tokoh yang bergelut dalam
bisnis Internet. Tokoh-tokoh tersebut adalah Sanjaya (Director, Indo
Internet), Darwin Silalahi (Deputy Managing Director, Uninet Media
Sakti), Taufik Akbar (President Director, Aplikanusa Lintasarta),
Christoporus Tambunan (Manager, IdOLA), Darsono (Director, Meganet),
Reyner Wajong (President Director, Sistelindo Mitralintas) dan Didik
Hasan (Director, Sistelindo Mitralintas), Gunawan Tedjo (Marketing
Director, Signet Pratama), dan Teddy A. Purwadi (Secretary General,
APJII).
Memasuki Tahap Kontribusi
Perkembangan Internet bisa dibagi menjadi empat tahap. Pertama tahap
berkenalan dan pakai atau akses, dari sinilah muncul bisnis ISP. Tahap
kedua, pemakai mulai berkontribusi aktif melalui home page,
menyediakan dan menjual informasi. Tahap ini memunculkan bisnis-bisnis
seperti content provider, Web developer, presence provider, dan
Internet Integrator. Tahap ketiga adalah tahap Integrasi di mana
perusahaan mulai menampilkan aplikasi back-end, misalnya perusahaan
penerbangan Garuda yang sudah mulai menampilkan jadwal penerbangan
yang selalu up to date. Tahap yang terakhir adalah elecronic commerce
atau perdagangan elektronik. Tahap terakhir ini adalah tahap yang
paling didambakan, karena tahap inilah yang akan mengalirkan nilai
bisnis tinggi di mana semua pihak bisa ikut terlibat dalam bursa
transaksi melalui Internet.
Saat ini Indonesia berada di antara tahap pertama dan kedua, ditandai
dengan meningkatnya jumlah pemakai dan permintaan domain name yang
terus naik. Dari data yang ada jumlah domain name yang terdaftar di
Indonesia saat ini sebanyak 342. Jumlah tersebut dibagi dalam enam top
level domain tingkat 2, yaitu net.id untuk penyedia networking, co. id
untuk perusahaan, ac.id untuk perguruan tinggi/ universitas, or.id
untuk organisasi, go.id untuk pemerintahan, dan mil.id untuk militer.
Dari top level domain tersebut kelompok perusahaan menduduki jumlah
paling banyak, yaitu 250. Hal ini menunjukkan mulai banyak
perusahaan-perusahaan di Indonesia yang tampil di Internet. Namun
menurut Darsono jumlah tersebut masih harus ditambah juga dengan
perusahaan-perusahaan di Indonesia yang memasang contentnya ke luar
negeri. "Banyak perusahaan yang mungkin lebih bangga menggunakan .com
dari pada co.id dengan memasang contentnya ke luar negeri sehingga
menguntungkan provider di luar negeri dan membuat tidak sehat
pertumbuhan provider di Indonesia", tuturnya. Dengan demikian jumlah
perusahaan di Indonesia yang masuk di Internet lebih dari angka yang
tertera di atas.
Selain perusahaan-perusahaan, berbagai penerbitan dan instansi juga
mulai menampilkan home page mereka di halaman-halaman Internet.
Perkembangan ini akan mendorong tumbuhnya bisnis Internet lain selain
ISP, seperti penyedia informasi (content provider), penyedia jasa
untuk menampilkan Web di Internet (presence provider), maupun para
pengembang Web ( Web developer).
ISP menjadi Ujung Tombak
Berbicara mengenai bisnis di Internet tentu tidak hanya menyangkut
ISP. Namun kita tidak dapat menyangkal bahwa bisnis inilah yang
mengantar orang untuk mengenal dan menggunakan Internet serta
mengawali tumbuhnya bisnis Internet yang lain. Semakin banyak orang
yang menggunakan Internet akan memberikan kesempatan bisnis yang lain
tumbuh, seperti bisnis informasi, mail-order, penyedia jasa setting di
Internet, dan banyak lagi.
Pertumbuhan ISP pada tahun 1996 yang cukup pesat ini disebabkan
terbukanya kesempatan yang luas untuk mendapatkan lisensi dari
pemerintah. Bahkan menurut J. L. Parapak (Sekjen Deparpostel) sampai
saat ini pemerintah belum akan membatasi pemberian ijin mendirikan ISP
dengan alasan memberi kesempatan kepada generasi muda yang pandai
untuk ikut berpartisipasi dalam bisnis. Melihat sinyal terbuka dari
pemerintah ini besar kemungkinan jumlah ISP masih akan terus bertambah
di tahun 1997.
Jumlah ISP di Indonesia bisa dikatakan terlalu banyak tetapi juga bisa
dikatakan tidak. Jika kita menengok negara-negara lain seperti
Hongkong yang memiliki 300 ISP, Jepang dengan 60 ISP, Australia dengan
308 ISP, Filipina dan Malaysia juga dengan puluhan ISP maka jumlah ISP
di Indonesia memang belum terlalu tinggi terutama jika melihat jumlah
penduduknya yang 200 juta.
Namun jika melihat pasarnya, pertumbuhannya belum seperti yang
diharapkan. Sebagian besar pemakai masih dalam tahap mengenal sehingga
boleh dikatakan secara bisnis keadaan pemakai di Indonesia belum
terlalu siap. Pasar yang belum siap ini meperberat masa-masa awal
berdirinya ISP. ISP yang tidak kuat akan cepat gulung tikar.
Banyaknya ISP di Indonesia ini memberikan dampak yang positif antara
lain mendorong pertumbuhan pemakai Internet sehingga diharapkan bisnis
lain ikut tumbuh dan memberikan keleluasaan kepada pelanggan untuk
memilih ISP yang baik. Namun di sisi lain, jumlah yang banyak tentu
juga menciptakan iklim persaingan yang cukup ketat antar ISP.
Untuk dapat bertahan para ISP dituntut untuk lebih kreatif dan mampu
menampilkan keunggulannya masing-masing. Dari sisi harga untunglah
tidak perlu bersaing karena sudah ada tarif yang ditentukan
pemerintah. Selain itu dukungan pelayanan pelanggan yang baik masih
diakui sebagai nilai lebih dari ISP. Namun pada kenyataannya pelanggan
kadang masih sulit untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
Biaya Operasi Besar
Sebagian besar ISP menyatakan optimis jika melihat jangka panjang
perkembangan Internet dan potensi pasar di Indonesia yang masih
terbuka untuk dikembangkan. Namun untuk jangka pendek bisnis ini masih
berat karena pasarnya tidak sebesar yang diduga banyak orang. Meskipun
Internet cukup banyak dibicarakan, pada kenyataannya masih banyak
masyarakat yang belum tahu dan belum bisa memanfaatkan Internet dengan
optimal. Permasalahan ini disadari benar oleh para ISP dan merupakan
tantangan utama untuk mengembangkan pasar.
Menurut Sanjaya, tugas berat para ISP saat ini adalah memacu
perusahaan-perusahaan yang belum masuk ke Internet untuk menjadi masuk
dan mendorong perkembangan pasar. Dengan semakin banyak pemakai maka
bisnis di bidang Internet ini baru akan mengalirkan keuntungan yang
tinggi karena akan semakin mudah menarik orang untuk melakukan
transaksi melalui Internet.
Keluhan utama yang saat ini dihadapi oleh semua ISP adalah mahalnya
biaya infrastruktur telekomunikasi untuk koneksi ke backbone Internet.
Jumlah biaya operasi yang harus ditanggung setiap bulan inilah yang
membuat ISP harus bermodal kuat untuk tetap bisa bernafas. Ada tiga
komponen utama yang diperlukan untuk mendirikan ISP, yaitu saluran/
leased line ke luar negeri, hardware dan software, serta sumberdaya
manusia.
Modal awal untuk mendirikan ISP sendiri Rp 2 - 3 milyar sudah cukup,
tetapi biaya operasinya berat. ISP yang memiliki bandwidth saluran
sebesar 128KB minimal harus mengeluarkan biaya per bulan US$ 12.500
ditambah PPN 10% untuk menyewa leased line, belum termasuk biaya local
line dari Telkom di luar negeri. Untuk menutup biaya telekomunikasi
tersebut paling tidak sebuah ISP harus memiliki pelanggan individu
sebanyak 808 dengan minimal pemakaian 10 jam atau pemasukan sekitar Rp
40.000 per pelanggan. Biaya operasional yang tinggi ini juga
menyebabkan beberapa ISP kehabisan nafas sehingga terpaksa harus
memasukkan investor baru untuk menopang kelangsungannya.
Tarip Sewa Leased Line Ke Singapore/ Amerika (dalam US$):
-------------------------------------------------------------------------------
-------------
Kecepatan Biaya Bulanan
(Kbps) Kontrak 1 tahun Kontrak 3 tahun
-------------------------------------------------------------------------------
-------------
64 8.500 7.800
128 12.500 11.800
256 21.250 19.500
384 29.750 27.500
512 38.250 35.000
2M 76.500 70.500
-------------------------------------------------------------------------------
-------------
sumber: Indosat
Mengharapkan keuntungan hanya dari bisnis akses ke Internet memang
bisa, tetapi ISP harus bisa menggaet pelanggan sebanyak mungkin. Namun
jika ingin meraup untung besar ISP harus kreatif dengan menambah
bisnis lain seperti pembuatan desain Web, jual informasi, dsb. Namun
sampai sekarang belum ada ISP di Indonesia yang mencapai BEP. Indo
Internet yang merupakan ISP pertama di Indonesia pun belum
mencapainya. Bisnis ini memang unik. Ketika ISP mau mencapai BEP harus
investasi lagi untuk meningkatkan jaringan serta menambah bandwidth
sehingga BEP tidak pernah tercapai.
Persoalan lain yang kini dihadapi hampir seluruh ISP adalah kesulitan
mencari sumberdaya manusia yang menguasai Internet. Sumberdaya manusia
merupakan komponen yang penting dalam memberikan dukungan ke
pelanggan. Dukungan kepada pelanggan sampai saat ini memang merupakan
jamu yang mujarab untuk mengelola pelanggan maupun menarik pelanggan
baru. Kepuasan pelanggan biasanya akan menjadi referensi teman maupun
relasi untuk mengikuti.
Terbentuk APJII
Kepentingan bersama untuk meningkatkan dan mengolah pasar maupun
keinginan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama
mendorong terbentuknya APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia) pada tanggal 15 Mei 1996. Munculnya APJII yang
beranggotakan seluruh ISP di Indonesia ini disambut hangat oleh para
ISP.
Selain menjadi ajang untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi
bersama, seperti infrastruktur telekomunikasi maupun
permasalahan-permasalahan teknis, APJII juga dijadikan jembatan untuk
menyampaikan aspirasi ISP kepada pemerintah. Sesuai namanya, anggota
APJII dibatasi hanya ISP. Menurut Teddy A.P , APJII terikat
undang-undang masalah penyelenggaraan sehingga tidak dapat begitu saja
menambah keanggotaan.
Beberapa program APJII adalah usulan tarif jasa Internet ke
pemerintah, pembentukan IDNIC (Indonesia Network Information Center),
Pembentukan kerjasama untuk membangun IIE (Indonesia Internet
Exchange), negosiasi tarif jasa telekomunikasi, dan usulan jenis dan
jumlah provider. Program pertama sudah terlaksana dengan keluarnya
tarif yang ditentukan pemeriintah, yaitu biaya langganan Rp 15.000 -
Rp 18.000 per bulan dan biaya pemakaian Rp 2200 -Rp 2400 per jam.
Sedangkan program kedua, dengan terbentuknya IDNIC maka seluruh
pendaftaran domain melalui APJII. Keuntungannya bisa lebih murah.
Topik yang saat ini hangat dibicarakan selain tarif telekomunikasi
adalah rencana pembentukan Indonesia Internet Exchange (IIE). Konsep
dasar IIE adalah membangun jaringan yang menghubungkan ISP-ISP di
Indonesia sehingga terbentuk hubungan lalu lintas dalam negeri. Embrio
terbentuknya IIE diharapkan dapat mendorong terbentuknya International
Internet Exchange sehingga ISP bisa bekerjasama untuk menanggung beban
biaya telekomunikasi yang tinggi. Keuntungan yang diharapkan dengan
terbangunnya IIE ini adalah terbangunnya jaringan yang hemat dan lebih
murah. Sebagai contoh, apabila pemakai Internet ingin mengirim e-mail
ke dalam negeri tidak perlu ke luar negeri terlebih dahulu sehingga
menghemat bandwidth ke luar negeri dan mempercepat pengiriman.
IIE direncanakan akan terealisasi tahun ini. Kesulitan secara teknis
tidak ada, tetapi karena penyedia jaringan telekomunikasi di Indonesia
tidak hanya satu, ada Telkom, Indosat, maupun Sistelindo, maka perlu
mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Dan karena masing-masing
menawarkan jaringan dengan masing-masing keunggulannya APJII masih
harus memilih berdasarkan netralitas, tarif dan kemudahan operasional.
Sebagai jembatan kepada pemerintah, para ISP mengharapkan APJII dapat
menyampaikan harapan-harapannya. ISP mengharapkan pemerintah membantu
terciptanya suasana yang konduktif untuk pertumbuhan Internet di
Indonesia, dengan memberikan kemudahan-kemudahan, peraturan-peraturan,
maupun keringanan-keringanan. Usulan lain adalah bantuan Depdikbud
untuk menyediakan anggaran untuk pendidikan Internet dan menjadikan
bagian dari pendidikan sekolah. Selain itu harapan agar pemerintah
menghitung kembali tarif infrastruktur telekomunikasi muncul dari
hampir semua ISP. (wrh)