From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id MAA20502 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 16 Mar 1997 12:19:37 -0500 (EST)
Subject: IN: KMP - Lebih Jauh Dengan: Srihadi Soedarsono
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sun Mar 16 08:38:46 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Mon, 17 Mar 1997 00:11:32 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <1.5.4.16.19970316202430.21bf489c@ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: KMP - Lebih Jauh Dengan: Srihadi Soedarsono
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.4 (16)
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
Kompas Online
Minggu, 16 Maret 1997
_________________________________________________________________
LEBIH JAUH DENGAN
Srihadi Soedarsono
PENGANTAR REDAKSI
KELUARGA yang menetap di Bandung itu membeli sebuah rumah bertingkat
di kawasan elite di Kemang Jakarta Selatan sebagai tempat pertemuan
mereka. Maklum, ayah di Bandung, ibu beberapa hari dalam seminggu
mengajar di Institut Kesenian Jakarta di kawasan Cikini, anak kos di
dekat tempat kerja di daerah Kuningan dan Sudirman. Untuk makan siang
saja mereka harus kencan.
Itulah keluarga pelukis Srihadi Soedarsono, raksasa seni lukis
Indonesia saat ini, berjajar dengan Popo Iskandar, Widayat, dan Rusli.
"Beli rumah di Jakarta sama sekali bukan kemewahan, tapi memang
kebutuhan," tutur Dra Siti Farida Nawawi, istri Srihadi yang juga
pelukis. "Senang bisa tinggal serumah, maklum Tara sembilan tahun di
Australia, Rati tiga tahun di Amerika".
Tara Farina, MSc, adalah putri sulung keluarga ini. Putri kedua Rati
Farini, SH, LLM, sudah berkeluarga. Si bungsu, laki-laki, Tri
Krisnamurti Syailendra, tengah mengambil S-2 di Los Angeles. Tak satu
pun dari ketiga anak ini yang meneruskan profesi orangtua. Komentar
Srihadi, "yang penting, mereka sadar apa yang mereka lakukan, dan
bertanggung jawab".
Srihadi yang lahir di Solo tanggal 4 Desember 1931 di dalam keluarga
batik ini mengaku sebagai "anak yang tumbuh di luar rumah". Di masa
anak ia bertualang di dalam kepanduan, di masa awal remaja ikut
perjuangan bersenjata.
Di kalangan Tentara Pelajar di Solo inilah ia memulai karier sebagai
artis otodidak yang menggambar poster perjuangan. Pada tahun 1945 itu,
ia juga menjadi anggota Balai Penerangan Tentara Divisi IV
BKR/TKR/TNI. Kenangnya, "Sejak masih sangat belia saya sudah senang
menggambar". Kesenangan itu lebih terdorong karena pergaulan dengan
para pelukis jempolan saat itu seperti S.Sudjojono dan Hendra Gunawan.
Ia menjadi anggota perkumpulan artis Seniman Indonesia Muda (1946),
anggota perintis Himpunan Budaya Surakarta (1950).
Karier militernya berakhir tahun 1948 ketika terjadi rasionalisasi,
dengan pangkat sersan mayor. Ia memang memilih bersekolah lagi, di SMA
II Surakarta, karena merasa terlalu muda untuk menjadi prajurit.
Lulusan (tahun 1959) jurusan seni rupa Fakultas Teknik Bandung
Universitas Indonesia yang kini ITB itu, langsung mengajar di
almamaternya. Srihadi pulalah yang merancang logo ITB berupa gajah
duduk yang populer tersebut. Tahun 1962 ia mengambil gelar MA dari The
Ohio State University, Amerika Serikat.
Persentuhannya langsung dengan action painting dengan kecenderungan
abstrak total itu membuatnya menjadi sangat kritis terhadap seni
abstrak. Ia kemudian cenderung membuat lukisan-lukisan figuratif yang
emosional. Menurut kritikus Jim Supangkat, Srihadi adalah pelukis yang
kepekaannya berkembang meneruskan Sudjojono dan Hendra Gunawan, namun
dengan imbuhan yang sangat penting, yaitu aspek meditatifnya. Ia
melukiskan kondisi dinamik yang tertahan seperti pada lukisannya
penari-penari Legong Bali itu.
Dalam bahasa kritikus Agus Dermawan T, lukisan-lukisannya
menyembunyikan tenaga seni. Katanya, karya-karya Srihadi menampakkan
bayang-bayang energi sehingga menyimpan nilai keabadian. Seri lukisan
"horison"nya yang mencitrakan laut, pantai, langit bukanlah presentasi
lurus dari obyek, tetapi perlambang energi alam yang terus berdenyut.
Penerima Anugerah Seni RI (1971) dan penghargaan dari berbagai badan
kebudayaan dalam dan luar negeri ini memang terkesan kalem, tetapi
menyimpan daya hidup yang besar. Kegemarannya merenung seiring
kedekatannya dengan beberapa macam olahraga seperti thai chi, dan
tentu juga olah pikir dan rasa tentang semesta.
Seniman dan pendidik ini (mengajar di ITB dan tahun 1970-1978 di
IKJ-LPKJ), tahun lalu menerima gelar KRHT (Kanjeng Raden Haryo
Tumenggung) dari Keraton Surakarta, dan imbuhan nama Adhikoesoemo. Ia
juga haji. Maka nama lengkapnya adalah Prof. KRHT. H. Srihadi
Soedarsono Adhikoesoemo, MA.***
***
Dok. keluarga
Bersama istrinya Siti Farida
Jam berapa Anda melukis?mmmmmmmmmmmmYang pasti, sesudah pekerjaan
sekolah beres. Janganlah itu mengganggu. Jam berapa saja saya bisa
mulai melukis, biasanya terus melukis. Biasanya sukar berhenti.
Terkadang memang sampai larut malam. Anak-anak suka protes: Ingat!
Sekarang sudah tidak muda lagi, ingat kesehatan ...
Tak pernah sakit 'kan?
Memang saya jarang sakit. Tapi kebetulan akhir tahun 1995 saya kena
lever, harus bed rest selama satu bulan. Itu memang celaka, soalnya
gejalanya kok tidak terasa, panas saja, terus ambruk.
Seniman tidak hirau kesehatan?
Memang pernah ada anggapan seperti itu. Zaman dulu mungkin masuk akal,
karena idola kaum pelukis itu seperti Van Gogh, Monet, Manet, Cezanne.
Pokoknya para seniman yang hidupnya kira-kira bohemian... Itu kan
dicontoh seolah-olah menjadi ciri seniman, gayanya, orang pada pakai
baret, atau selendang leher, terus kalau tidak begadang belum merasa
seniman, sedang karyanya? Itulah ... namanya ekses saja...
Juga jauh dari uang?
Dulu mana ada uang? Tapi kita kan terus melukis. Jadi tidak ada kaitan
antara karya dan uang.
Tak perlu laku?
Laku atau tidak, itu bukan urusan seniman. Urusan seniman itu
berkarya.
Itu ungkapan pelukis laris!
Begini ya. Orang melihat para pelukis yang terkenal seperti hidupnya
enak, itu kan sekarang. Tak pernah mereka bayangkan hidupnya dulu
seperti apa. Kalau ditanya ke Pak Widayat (pelukis senior yang tinggal
di Yogyakarta - Red) mungkin saja hidupnya dulu juga sengsara. Kita
lihat di kalangan pelukis yang kemudian menjadi orang besar ya, hidup
mereka itu perlu keuletan. Mungkin saja dulu bahkan tidak bisa makan,
tapi itu memang tantangan. Waktu dulu itu kita disapa orang selagi
bekerja saja, rasanya sudah bersyukur. Kalau melihat sekarang ya tentu
saja berbeda ... Tapi jangan salah. Bukan materi yang dikejar.
Dulu tidak pernah laku?
Bukan begitu maksudnya. Sejak sangat muda pun karya saya seperti
lukisan atau sketsa dibawa orang yang senang dan meninggali uang. Itu
terjadi sewaktu saya masih mahasiswa di Bandung, juga ketika di Sanur
di Bali. Waktu di Sanur itu kan saya juga menghasilkan beberapa skets.
Ada orang datang, melihat, membawanya, dan memberi sejumlah uang.
Dengan itu kan saya bisa ikut membayar ongkos pemondokan di sana...
Apa arti uang?
Sarana. Kita perlu hidup, perlu makan, sandang, kesehatan,
menyekolahkan anak, semua perlu uang. Menjadi seniman itu berat. Untuk
saya sendiri misalnya kalau fisik kurang baik, terganggu. Hati dan
pikiran juga harus tenang. Ada syarat-syarat minimal supaya saya bisa
bekerja. Supaya tidak direpotkan mencari cat, mencari kanvas atau
kuas, ya harus ada uang untuk membelinya. Namanya alat untuk bekerja,
kalau tidak ada repot. Karya seni itu dari mana, kan jelas ungkapan
pemikiran dan rasa si seniman dengan dorongan kejiwaan dari dalam.
Kalau pikiran kalut saya tak mau melukis, karena hasilnya pasti buruk.
Untuk saya ketenangan sangat penting. Bukan saja lingkungan yang
tenang, tapi saya sendiri merasa tenang.
Ada yang menganggap lukisan Anda para penari itu menjadi model dari
lukisan laris. Karena itu Anda terus melukisnya?
Betul begitu? Tidak pernah terpikir seperti itu. Saya melukis ya
melukis saja. Seperti saya katakan tadi, laku atau tidak laku itu
bukan urusan seniman.
Sudah berapa banyak lukisan penari Anda? Ada seratus buah?
Ini .. justru sulit ya kalau berbicara soal jumlah. Saya itu selalu
ada keinginan untuk terus mengembangkan. Jadi bisa saja berulang kali
melukis tema yang sama, tetapi sebenarnya pencapaiannya berbeda. Dan
ini tidak ada hubungan dengan uang.
Anda percaya tema?
Ya. Justru dengan memakai tema, saya semakin senang bekerja. Maka saya
melukis perahu, atau para penari, itu sebagai tema, sebagai titik
tolak untuk bekerja. Mau diapain saja ... Makanya penari legong itu
kan tema saja, kan bisa melahirkan lukisan apa saja.
Kalau abstrak?
Dalam pengalaman saya memang berbeda. Itu sewaktu saya melukis
abstrak, yang non-representatif. Saya kan sekolah di ITB, dan sedikit
banyak kan mencoba teknik dan pendekatan lain dari yang sudah saya
kenal sewaktu di Solo dan Yogya ... artiya ya abstrak itu. Saya
mengalami satu peristiwa yang mendorong untuk merenung lebih jauh
tentang pilihan-pilihan yang telah saya ambil dan telah saya jalani.
Ada profesor di Amerika mengajak membandingkan lukisan abstrak dengan
lukisan seekor simpanse. Wah .. lha... saya itu he.. he.. saya
meskipun di Trinil sudah ditemukan Phitecantropus Erectus, ya
bagaimana membandingkan karya saya dengan lukisan seekor simpanse.
Pasti saya tidak mau disamakan dengan simpanse. Saya kecewa betul...
Apa isi lukisan simpanse?
Ya itulah. Maksud saya, seekor simpanse, biarpun bisa menumpahkan cat
ke kanvas, mungkin bahkan mirip dengan lukisan abstrak, tapi jelas dia
tidak memakai tema. Jelas dia hanya main tabrak saja. Jadi yang
membedakan karya seni dengan orat-oret simpanse adalah tema itu tadi.
Manusia, maksud saya seniman, kan melukis karena dorongan dari dalam,
ada motivasinya, ada purpose, ada tujuan yang hendak dicapai... Maka
saya bilang kecewa karena perbandingan tadi.
Anda meninggalkan abstrak?
Memang sudah saya tinggalkan. Saya mencari sesuatu yang bisa menjadi
pijakan untuk melukis. Pengalaman dengan lukisan simpanse itu salah
satu pendorong saya untuk meyakini, perlunya tema.
Bagaimana dengan horison?
(Seri lukisan "horison" diyakini merupakan pencapaian sangat tinggi).
Itu ada ceritanya sendiri. Pertengahan tahun 1950-an saya tinggal di
Galeri Pandy, atas rekomendasi pelukis Arie Smith. Itu satu-satunya
galeri saat itu, terletak di tepi pantai Sanur di Bali. Pantai Sanur
masih sangat sepi, pasirnya bersih. Saya duduk di sana dari pagi
sampai matahari tenggelam. Saya merenung, saya terpesona oleh pasir,
pantai, oleh laut seperti tak terbatas, langit yang begitu luas,
pokoknya semua begitu mencekam. Kadang-kadang membuat sketsa, tapi
utamanya saya memang duduk saja. Kalau Pandy bisa menjualkan ya sokur.
Yang datang itu kebanyakan orang asing, seperti Rockefeller dan Ford.
Ketemu horison?
Ya. Dengan merenung, lama ... berbulan-bulan, akhirnya ketemu tema
saya horison itu. Keindahan alam itu semua bisa menikmati, tantangan
saya adalah bagaimana menciptakan keindahannya di kanvas. Jadi itu
menjadi dorongan untuk mencipta sesuatu yang juga indah.
Kalau Borobudur?
Saya kira itu juga tema yang tak habis-habisnya digali. Borobudur
(candi Budha di Jawa Tengah - Red) itu sendiri sudah sangat indah.
Berdiri kukuh, perkasa betul. Bagaimana candi itu pada saat gerhana
matahari? Wah.. tak terbayangkan. Indah sekali. Saya melukiskannya
beberapa kali.
Tidak mengulang-ulang?
Tidak. Seperti saya katakan tadi tentang penari Legong. Saya
melukisnya, berkali-kali. Mengapa berkali-kali, karena tak pernah
puas. Setiap melukis saya merasa nggak pernah selesai. Artinya, tidak
mungkin lagi saya lanjutkan. Setiap melukis saya selalu mendapat
kesulitan. Biarpun temanya sama, seperti penari itu, tapi begitu mau
mulai melukis, selalu .. kok sulit amat ya... Jadi saya tetap
bergairah. Saya selalu ingin tahu apa yang bisa saya lakukan lagi. Dan
memang selalu ada yang bisa saya lakukan, dan ternyata juga tidak
selesai ...
Kalau tema lain?
Sama saja. Saya tidak pernah mengulang. Tema boleh sama, tetapi saya
selalu melukisnya secara baru. Semakin lama saya semakin menguasai
penari Legong, tapi semakin banyak juga yang ingin saya tahu. Perahu
misalnya begitu juga, sepertinya semakin sering melukis, semakin
banyak saya mengerti, tapi selalu muncul yang lain yang tidak saya
kuasai.
Jadi bukan tema yang dicari?
Memang bukan. Itu hanya titik tolak. Itu kok sepertinya hanya jalan
untuk mencari jati diri, katakan begitu. Mungkin pelukis lain berbeda
caranya, tapi untuk saya demikianlah.
Betul kita mengekor Barat?
Tidak. Bagi saya, awalnya orang berkarya berbeda-beda. Bisa saja ada
pelukis yang mendapat dorongan sesudah melihat karya-karya Barat, tapi
kalau bersungguh ia akan mendapatkan jati dirinya. Jadi bukan Barat
atau Timur, tapi pelukis itu sendiri.
Kita kurang diperhitungkan di luar?
Rasanya benar. Itu lebih ke masalah kurangnya publikasi, kita kurang
gencar menerbitkan buku seni, lagi pula ada yang disebut hegemoni
kebudayaan, itu kekuatan luar biasa, ditopang oleh sistem politik dan
ekonomi negara-negara yang kuat. Bahkan seniman yang tak punya
kualitas pun bisa dikenal di mana-mana. Lihatlah Perancis misalnya
sampai menarik Picasso dari Spanyol. Secara politik kebudayaan itu
akan memberi citra pada Perancis, menguntungkan Perancis. Jelas dalam
soal ini, negara punya peran. Negara punya visi nggak tentang kemajuan
kebudayaan? Singapura itu rasanya seperti baru kemarin tak punya
apa-apa, kini sudah punya museum yang bagus, punya agenda pameran
karya-karya bermutu. Makanya kalau negara kita belum punya visi ke
depan, duit pemerintah tidak mengucur untuk kebudayaan, bahkan niat
untuk menyuburkan iklim baik belum tumbuh, ya saya kira pelukis
berkarya yang baik. Itu saja. Habis harus bagaimana?
Apa yang kurang di Indonesia?
Banyak sekali. Infrastruktur kita belum tertata. Museum, pendidikan,
ruang pamer, jurnal, buku-buku seni rupa, penulis dan kritikus,
jumlahnya masih kurang atau mutunya kurang. Tiap propinsi mestinya
mempunya akademi seni, kalau perlu tiap kota besar. Itu mengingat
jumlah penduduk yang 200 juta jiwa. Demikian juga dengan museum, belum
lagi kalau melihat minat orang menonton pameran, atau menekuni seni.
Kita masih jauh...
Anda belum punya buku?
Saya belum siap. Memang ada yang menanyai saya untuk menggarap, tapi
saya sendiri masih belum merasa sreg. Soalnya seperti sudah saya
katakan, setiap melukis saya merasa seperti belum selesai. Padahal
buku itu kan sudah mematok, ooohhh.. perkembangan si anu itu seperti
ini. Saya mengakui buku seni rupa penting, apalagi kalau mengingat
upaya apresiasi di kalangan orang banyak atau untuk anak sekolah, tapi
saya masih berpikir-pikir... (untuk menerbitkan buku -Red).
Pasar karya seni?
Ternyata perdagangan karya seni tidak menjamin suburnya kreativitas.
Malah yang muncul pemalsuan lukisan, itu sungguh buruk. Pencurian
lukisan juga sering terjadi. Mesti dipisahkan antara perdagangan karya
seni dan iklim berkesenian. Itu bisnis galeri. Pelukis yang serius
bisa terancam kualitasnya kalau terjerat ke situ. Perdagangan karya
seni saya rasa belum diambil hikmahnya. Boom lukisan beberapa tahun
lalu mestinya mengingatkan pelukis, bahwa urusannya adalah berkarya,
bukan soal pasar.
Bagaimana mengelola rumah tangga yang sesama pelukis?
Menurut saya, hidup kami wajar. Di rumah kami di Bandung kami punya
studio terpisah. Kadang saya menengok istri ketika dia sedang melukis,
begitu juga ia menengok saya ketika saya bekerja. Kalau mau
berkomentar, silahkan, soalnya kan punya sikap independen. Kami punya
pengalaman masing-masing. Di rumah kami di Jakarta, ada lukisan istri
tergantung di dinding. Di rumah yang di Bandung, ada lukisan saya
terpasang. Tidak ada persoalan. Kalau soal pembagian peran di dalam
keluarga, juga wajar saja. Siapa yang sempat, dia yang mengerjakan.
Begitu juga di dalam mendidik anak. Tentu kami selalu berembuk.
Apa yang membuat Anda marah?
Sebetulnya apa saja yang tidak berada pada tempatnya, potensial
membuat marah atau paling tidak jengkel. Tapi itu kan terpulang pada
kita, mampu tidak kita menghadapi. Kita itu kan tiap saat diuji terus,
kalau terhanyut menjadi marah, ya harus segera sadar. Hal yang
menyalahi rasa keadilan, itu membuat jengkel. Mengurus surat di kantor
pemerintah, sering membuat jengkel. Di jalanan dengan polisi, bisa
juga jengkel. Tapi ini kan sistem ya, yang begitu berkuasa dan sulit
kita ubah.
Apa ini zaman orang gampang marah?
Saya kira situasi dan kondisi di sekeliling kita tiap hari memang bisa
memancing kejengkelan. Terperangkap macet di jalanan di Jakarta sudah
membuat kita marah. Semua itu bagi saya pribadi merupakan gangguan
untuk berkarya.
Bagaimana cara Anda marah?
He.. he.. he.. (tertawa lepas).
Cara menangani rasa marah?
Ya memang sangat perlu kemampuan mengontrol diri. Kalau orang Jawa
punya cara sendiri ya, sejak kecil kan dilatih untuk tirakat, untuk
prihatin. Dengan itu kita terbiasa mengelola diri kita, mengontrol
emosi kita, mental kita, atau apa namanya ya ... Anak-anak sekarang
... saya khawatir ... tidak mengenal latihan kejiwaan seperti itu
lagi. Ya ini memang cara individu, tapi kok saya percaya sangat banyak
gunanya.
Apa makna gelar ningrat?
Itu sebenarnya sarana untuk mengingatkan anak-anak akan budi pekerti
dan tata cara. Dari mana mereka dapat. Di sekolah tidak ada lagi. Di
dalam berbagai pergaulan di luar rumah juga tidak ada. Apa nggak
hilang itu nanti? Dengan gelar dari kraton itu saya mau memberi contoh
pada anak-anak, sebenarnya kita itu kaya dengan hal-hal seperti ini.
Jadi sebetulnya juga mengarah ke soal jati diri. Kalau kita melihatnya
sebagai sarana kemegahan diri misalnya, itu malah menjadi negatif.
Pewawancara: Efix Mulyadi