KONTAN NO.22 - Kramtung di Akhir Ha

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Feb 27 1997 - 16:03:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id UAA27805 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 27 Feb 1997 20:03:16 -0500 (EST)
Subject: KONTAN NO.22 - Kramtung di Akhir Hayat

INDONESIA-L

Date: Thu, 27 Feb 1997 10:07:22 +0700
From: yoyok <yoyok@ub.net.id>
Reply-To: kontan@ub.net.id
Organization: Tabloid Kontan
To: apakabar@clark.net
Subject: KONTAN NO.22 - Kramtung di Akhir Hayat

KRAMTUNG DI AKHIR HAYAT
Rencana-rencana pemindahan lokalisasi Kramat Tunggak

Pemindahan lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak alias Kramtung, Jakarta
Utara, sudah lama direncanakan. Tapi, tak jadi-jadi juga. Warga yang
daerahnya bakal ketempatan para pelacur boyongan itu menyatakan
penolakannya. Dan ketemulah, Kramtung bakal dipindahkan ke lokasi hasil
reklamasi. Inilah riwayat Kramtung.

--------------------------------------------------------
Ardian Taufik Gesuri, Nugroho Dewanto, Budi Arie Setiadi
--------------------------------------------------------

Bagai borok di kaki, sepertinya Kramtung mesti menyingkir jauh-jauh.
Lokalisasi Kramat Tunggak, begitulah nama tempat penampungan pelacur
tersohor di pantai utara Jakarta itu, sudah diputuskan untuk dipindah.
Katanya, banyak warga sekitar yang menolak keberadaannya. Tapi, mau
dipindahkan ke mana? Inilah yang bikin pusing Wali Kota Jakarta Utara
Suprawito.
Betapa tidak. Kramtung yang menampung 2.500 cewek centil itu luasnya 11
hektare. Nah, bila harga jual tanahnya saja diperkirakan Rp 1 juta per
meter, berarti diperlukan dana Rp 110 miliar, hanya untuk membebaskan
tanah. Ada swasta yang sudah memasukkan penawaran. Tapi, kemudian tidak
jadi, kata Suprawito. Maklum, calon pemilik baru areal Kramtung itu
mesti menyediakan duit besar atau punya lahan pengganti yang luas.
Mestinya mereka perlu membentuk konsorsium, katanya lebih lanjut.
Apa boleh buat, konsorsium Kramtung itu hingga kini belum terbentuk.
Sebagai aset milik Pemda DKI, kompleks pelacuran yang berdiri sejak
zaman Gubernur Ali Sadikin, tahun 1972, itu membutuhkan mitra yang mau
tukar guling (ruislag). Selain ada di daerah mahal, kami juga menghadapi
beberapa masalah, seperti persetujuan warga, aspek planologinya, dan
masalah lainnya, ujar Suprawito.
Maunya Suprawito, Kramtung dipindahkan ke luar Jakarta. Taruhlah ke
Bekasi Utara. Tapi, dini-dini Bupati Bekasi melontarkan keberatannya.
Lalu muncul rencana untuk memindahkan ke kawasan Rorotan. Tapi,
ulama-ulama di sana menolak. Ada usul memindahkan ke Rawamalang.
Masalahnya, Rawamalang itu jauhnya cuma 3 kilometer dari lokasi lama.
Bagaimana dengan ide memulaukan pasar seks itu ke Pulau Seribu? Wah,
daerah itu kan untuk wisata internasional. Makanya usul itu ditolak
juga, katanya menyambung.
Lalu diketemukan, yaitu: adanya rencana reklamasi pantai utara Jakarta
yang diajukan pengusaha Ciputra dan Mamik Soeharto. Tempat yang sesuai
dan tanpa protes, ya, ke lahan hasil reklamasi itu, kata Suprawito.
Sedangkan lokasi pelacuran yang lama bakal menjadi kompleks perkantoran,
mal, dan fasilitas umum lainnya. Reklamasi itu nanti akan memperluas
areal pusat bisnis, yang menjadikan Jakarta sebagai water front city
seperti New York. Itu kan perlu banyak perkantoran. Terminal peti kemas,
kalau selesai dibangun, juga memerlukan banyak kantor. Mau di mana lagi
kalau tidak daerah sekitar Jakarta Utara ini, katanya lagi.
Dulu tempat jin buang anak, kini perkampungan padat
Para germo dan pelacur di Kramtung memang sudah lama mendengar kabar
pemindahan mereka. Tapi, karena tak pernah ada realisasinya, mereka juga
santai-santai saja. Enggak gampang memindahkan kami, ujar Johannes,
seorang mucikari di Kramtung. Pengasuh pelacur yang juga Ketua RT ini
mengakui, para penyelenggara bisnis mesum ini tidak mengantongi
sertifikat kepemilikan tanah ataupun izin mendirikan bangunan.Yang ada
di tangan cuma izin pengelolaan. Tapi, menurut Johannes, ia toh punya
hak yang harus diperhitungkan. Saya sudah lama membangun tempat ini.
Coba hitung, berapa nilai tanah dan bangunan di sini sekarang, kata
pengelola wisma nomor 89.
Kawasan Kramtung ini dulunya boleh dibilang tempat jin buang anak
lantaran jarang dirambah orang. Lalu Pemda DKI membangun lokalisasi,
menampung para grepe yang mejeng malam-malam di sembarang tempat, dan
memagarinya dengan seng. Hingga, tahun 1970-an itu Kramtung dikenal
dengan julukan Istana Pagar Seng. Baru kemudian, tahun 1980-an,
pelacuran itu kian laris. Para germo pun mulai membangun wisma-wisma
bertembok, meski kebanyakan tak bertingkat. Berdirilah yang namanya
Mexico, Wisma Alam Senja, Wisma Cipaku, dan banyak lagi rumah pelacuran
lainnya.
Kramtung tergolong tempat mesum untuk kelas menengah bawah, yang jatah
uang laki-laki-nya cekak. Tapi, lihat, banyak juga mobil lumayan yang
berada di halaman parkir. Jalan-jalan dilapisi semen. Fungsi sebagai
rehabilitasi sosial? Entahlah. Kursus-kursus keterampilan memang jalan.
Toh, sehabis liburan pulang kampung, kerap muncul barang baru.
Para pelacur itu berdatangan dari berbagai daerah. Kendati kebanyakan
berasal dari Indramayu. Musik dangdut, juga house music, pun menggoyang
perkampungan penuh lampu warna-warni. Bisnis pun berpuncak setiap
malamnya. Meski pemasukan ke kas pemda tergolong kecil, hanya Rp 200.000
per hari, tapi putaran bisnis di pelacuran itu lumayan gede. Dari
ongkos kencan dengan pelacur, sekali naik saja pasang tarif mulai Rp
25.000 hingga Rp 100.000. Belum lagi dari minuman.
Tempat jin buang anak itu kini menjadi permukiman padat. Perkampungan
penduduk biasa begitu berdempet dengan tempat pelacuran itu. Tak heran
bila banyak anak-anak, juga gadis ingusan, yang berkeliaran menjajakan
makanan atau rokok. Nah, selesaikah masalah bila kompleks pelacuran itu
dipindahkan ke lokasi baru kelak?