IN: KMP - Kesenjangan Ekonomi: Peng

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Feb 12 1997 - 08:17:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id MAA21205 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 12 Feb 1997 12:17:51 -0500 (EST)
Subject: IN: KMP - Kesenjangan Ekonomi: Pengalaman Pahit Argentina ...

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Feb 12 08:51:07 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Thu, 13 Feb 1997 00:09:43 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <1.5.4.16.19970212201953.24a721a4@ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: KMP - Kesenjangan Ekonomi: Pengalaman Pahit Argentina ...
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.4 (16)
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

   Kompas Online
Rabu, 12 Februari 1997
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
   Kesenjangan Ekonomi
  
                 Pengalaman Pahit Argentina, Iran dan Pakistan
                                       
                             Oleh Sjaiful Bahri
                                      
   INDONESIA sudah pasti berbeda dengan Argentina, Iran maupun Pakistan
   baik latar belakang sosial, budaya dan banyak hal lainnya. Namun,
   pengalaman pahit yang dialami ketiga bangsa tersebut amat berharga
   untuk kita pelajari karena terjadi pada tahap pembangunan yang relatif
   sama dengan tahap di mana Indonesia berada saat ini, yaitu tahap
   transisi dari perekonomian berbasis pertanian ke arah industri. Tahap
   ini memang merupakan tahap yang rawan gejolak sosial maupun politik
   yang bisa mengganggu stabilitas yang amat diperlukan dalam proses
   pembangunan.
   
   Seperti ditulis oleh Gillis (1992) dalam Economics of Development,
   Argentina telah mengalami pengalaman pahit pada tahun 1940-an,
   Pakistan pada 1960-an dan Iran pada 1970-an, akibat distribusi hasil
   pembangunan yang tidak merata. Perekonomian Argentina pada 1910-an dan
   1920-an telah mengarah pada suatu negara industri modern. Bahkan
   beberapa pengamat menilai Argentina lebih maju dibanding Kanada.
   Namun, masalah urbanisasi sebagai dampak industrialisasi yang
   terkonsentrasi di perkotaan telah menimbulkan pertentangan antara
   kelas pekerja dengan pemerintah. Pertentangan ini dimanfaatkan oleh
   Juan Peron untuk membangun kekuatan politik yang berhasil membawanya
   ke puncak kekuasaan pada 1946. Sayangnya, kebijaksanaan-kebijaksanaan
   yang dirancang pemerintahan Juan Peron untuk melestarikan
   kekuasaannya, seperti belanja militer yang sangat besar, telah membuat
   pertumbuhan ekonomi Argentina semakin menurun dan bahkan mempertajam
   pertentangan kelas.
   
   Pengalaman Iran memberi pelajaran serupa. Penerimaan yang berasal dari
   minyak pada 1950-an dan 1960-an serta kenaikan harga minyak yang
   berlipat ganda pada 1973 memungkinkan pembangunan industri yang cepat.
   Namun, pengalaman pahit harus dialami oleh bangsa ini. Ketika hasil
   minyak yang berlimpah ini digunakan untuk pembelian senjata,
   pembangunan-pembangunan megaproyek yang padat modal dan merajalelanya
   korupsi di kalangan elite Iran, sebagian besar masyarakat Iran merasa
   ke-kayaan negara hanya dinikmati oleh segelintir elite Iran yang
   korup. Keadaan ini lambat-laun menimbulkan ketidakpuasan, dan berakhir
   dengan kejatuhan Shah Iran dari ke-kuasaannya.
   
   Pelajaran lain betapa rawannya tahap-tahap awal dari proses
   industrialisasi dapat kita simak dari apa yang dialami oleh Pakistan.
   Pada 1960-an Pakistan berada pada era industrialisasi yang pesat.
   Sayangnya, sebagian besar pembangunan industri terkonsentrasi di
   bagian barat negara itu. Penduduk di wilayah timur merasa wilayah
   barat membangun atas beban penderitaan penduduk wilayah timur. Hal
   inilah yang memicu terjadinya perang saudara, dan berakhir dengan
   ter-pecahnya bangsa ini menjadi dua, dengan terbentuknya negara
   Banglades.
   
   Pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman pahit ketiga bangsa
   tersebut adalah bahwa kesenjangan ekonomi baik secara individual
   maupun regional telah menghancurkan hasil-hasil pembangunan yang telah
   dengan susah payah mereka peroleh.
   
   Apakah tanda-tanda itu telah terjadi di Indonesia? Jawabannya memang
   memerlukan bukti-bukti yang memadai. Namun, beberapa informasi yang
   akan diutarakan berikut patut kita waspadai.
   
                                    ***
                                      
   TIDAK bisa kita pungkiri bahwa pembangunan ekonomi yang telah
   dilakukan Indonesia selama tiga dasawarsa terakhir telah mampu
   meningkatkan perekonomian Indonesia secara mengesankan. Bahkan Bank
   Dunia (1993) dalam The East Asian Miracle memasukkan In-donesia ke
   dalam salah satu dari "The Eight High Performing Asian Economies"
   bersama-sama dengan Jepang, "Empat Macan Asia": Hongkong, Korea
   Selatan, Singapura dan Taiwan, serta Malaysia dan Thailand.
   Dikatakannya pula, bahwa secara mengesankan pembangunan ekonomi yang
   dilakukan Orde Baru telah mampu menurunkan tingkat kemiskinan absolut
   dari 58 persen penduduk pada tahun 1960 menjadi "hanya" 17 persen pada
   tahun 1990.
   
   Orang boleh-boleh saja mengatakan bahwa keberhasilan tersebut lebih
   bersifat keberuntungan dengan mengaitkan kekayaan minyak dan gas bumi
   yang dimiliki Indonesia. Kenaikan harga minyak pada tahun 1973 dan
   1979 telah memberikan devisa yang berlimpah kepada Indonesia. Namun,
   dengan membandingkan tingkat pertumbuhan riil dari GDP Indonesia yang
   berkisar antara 4,5 persen sampai 6,6 persen dalam kurun waktu
   1980-1988, dengan negara kaya minyak lainnya, Nigeria, yang mengalami
   pertumbuhan GDP yang negatif dalam kurun waktu yang sama (Booth, 1992,
   The Oil Boom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in
   the Suharto Era), kita boleh berbangga dengan mengatakan bahwa
   pertumbuhan ekonomi kita ditunjang oleh good planning daripada sekadar
   good luck.
   
   Yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa, pembangunan menyangkut
   aspek yang lebih dari sekadar pertumbuhan. Memang benar bahwa,
   pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang amat penting dalam rangka
   mencapai tujuan pembangunan, tapi, itu bukan merupakan tujuan akhir.
   Pertumbuhan hanya merupakan sebagian kecil dari proses pembangunan
   secara keseluruhan. Pencapaian pendapatan yang lebih merata merupakan
   tujuan yang tidak kalah pentingnya. Seperti dikatakan Meier (1989)
   dalam Leading Issues in Economic Development, pembangunan ekonomi
   adalah suatu proses di mana pendapatan riil per kapita meningkat dalam
   jangka waktu yang panjang yang dibarengi dengan menurunnya jumlah
   penduduk di bawah garis kemiskinan absolut serta distribusi pendapatan
   yang tidak menjadi lebih buruk.
   
   Meskipun benar bahwa proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan
   absolut telah menurun secara berarti, seperti telah disebut di atas
   dari 58 persen (pada 1960) menjadi 17 persen (pada 1990), nilai
   absolut 17 persen dari hampir 180 juta penduduk (angka tahun 1990),
   bukan jumlah yang sedikit. Jumlah itu hampir dua kali lipat penduduk
   Australia (lebih kurang 31 juta dibanding lebih kurang 17 juta).
   Memang, menurunnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan
   menunjukkan meningkatnya tingkat kesejahteraan secara nasional, tapi
   tidak dengan sen-di-ri-nya bisa diartikan distribusi pendapatan yang
   lebih baik. Bisa saja pendapatan golongan miskin meningkat, tapi
   pendapatan golongan kaya juga me-ningkat lebih cepat. Hal sede-mikian
   itu akan mengarah ke-pada distribusi pendapatan yang lebih buruk.
   
   Data dari laporan Bank Dunia (1994, Indonesia Sustaining
   De-velopment), menunjukkan peningkatan pangsa sektor industri
   menufaktur terhadap GDP tidak dibarengi (secara proporsional) oleh
   meningkatnya penyerapan tenaga kerja oleh sektor tersebut. Pangsa
   sektor industri manufaktur meningkat dari 11.0 persen pada tahun 1981
   menjadi 19.4 persen pada tahun 1990. Namun, pangsanya terhadap
   penyerapan tenaga kerja hanya meningkat dari 8.5 persen menjadi 11.6
   persen dalam kurun waktu yang sama.
   
   Di pihak lain, pangsa sektor pertanian yang menurun dari 24.1 persen
   pada 1980 menjadi 19.2 persen pada 1990 hanya dibarengi oleh penurunan
   jumlah tenaga kerja yang tidak ber-arti (dari 54.7 persen pada 1980
   menjadi 50.1 persen pada 1990). Bahkan, secara absolut jumlah orang
   yang bekerja pada sektor pertanian meningkat dari 28.1 juta orang
   menjadi 35.5 juta orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan
   dari sektor pertanian, yang merupakan mata pencaharian bagian terbesar
   (50,1 persen) dari angkatan kerja kita, menurun secara relatif
   dibanding sektor industri menufaktur yang hanya mencakup 11.6 persen
   saja.
   
   Indikasi lain ditemukan oleh Temenggung (1994, Pattern of Regional
   Development in Indonesia). Menurutnya, pembangunan ekonomi di wilayah
   luar pulau Jawa masih bertumpu pada sektor primer yang terdiri atas
   sektor pertanian dan barang tambang. Kalaupun ada peningkatan,
   pembangunan sektor industri di wilayah ini tidak menunjukkan
   peningkatan secara berarti, dan itu pun hanya terbatas pada industri
   pengolahan barang-barang primer. Ia berkesimpulan bahwa manfaat dari
   proses transformasi struktural tidak secara merata dirasakan oleh
   seluruh wilayah Indonesia. Hanya Jawa yang berhasil memperoleh
   kesempatan meng-anekaragam-kan struktur per-ekonomiannya, bergerak ke
   arah industri manufaktur yang padat tenaga kerja.
   
   Dari informasi di atas tampaknya proses pelebaran kesenjangan ekonomi
   telah terjadi di negara kita, baik secara individual maupun regional.
   
   Seperti telah dikemukakan di atas, kita memang berbeda dengan
   Argentina, Iran maupun Pakistan. Tapi, perilaku masyarakat kita yang
   akhir-akhir ini mudah meledak, beringas dan kehilangan rasa kasih
   sayang kepada sesama sehingga nyawa manusia sepertinya tidak ada
   harganya, patut kita waspadai
   
                                    ***
                                      
   DENGAN pertimbangan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia berada di
   pedesaan dengan mata pencaharian utama bersumber dari sektor
   pertanian, industri pedesaan berbasis pertanian yang menyebar
   keseluruh wilayah dan sesuai dengan ketersediaan sumber daya setempat
   (spesifik lokasi) merupakan salah satu alternatif pembangunan industri
   kita, di samping program-program yang sudah ada seperti program Inpres
   Desa Tertinggal (IDT). Industri seperti itu akan sekaligus memecahkan
   masalah kesempatan kerja dan kesenjangan ekonomi baik individual
   maupun regional.
   
   Melihat kondisi sumber daya tenaga kerja kita, selayaknya industri
   yang dipilih adalah industri padat tenaga kerja paling tidak dalam
   jangka pendek maupun menengah. Saya tidak bermaksud untuk
   mempertentangkan hal ini dengan industri padat teknologi yang telah
   digalakkan saat ini. Industri teknologi canggih kita perlukan dalam
   menghadapi persaingan di dunia internasional yang semakin ketat.
   Namun, seandainya suatu ketika kita dihadapkan pada suatu keputusan
   yang bersifat mutually exclusive adalah bijaksana bila kita memberikan
   prioritas yang lebih tinggi pada industri pedesaan yang melibatkan
   rakyat banyak, yang juga bisa digunakan sebagai wahana peningkatan
   keterampilan bangsa kita dalam memasuki era industri berteknologi
   maju.
   
   Mahal memang..., tapi bukankah kesejahteraan dan keadilan sosial bagi
   seluruh rakyat juga tak ternilai harganya? Kita belum terlambat, meski
   harus berpacu dengan waktu. Seandainya saja hal ini kita lakukan pada
   saat kita menerima anugerah "boom minyak" dulu, keadaannya tentu akan
   lain.
   
   (* Sjaiful Bahri, bekerja pada Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
   Pertanian di Bogor.)