IN: PR - Imlek Momentum Tingkatkan

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Feb 10 1997 - 15:43:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.5/8.7.1) id TAA09921 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 10 Feb 1997 19:43:42 -0500 (EST)
Subject: IN: PR - Imlek Momentum Tingkatkan Kesetiakawanan Sosial

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Mon Feb 10 19:23:04 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Tue, 11 Feb 1997 10:23:59 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199702102323.KAA05331@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: PR - Imlek Momentum Tingkatkan Kesetiakawanan Sosial
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

            Harian Umum Pikiran Rakyat - Jumat, 07 Februari 1997
   ______________________________________________________________________
                                      
   HM. Amien:
   Imlek Momentum Tingkatkan Kesetiakawanan Sosial
   
   BILA Anda mengamati etalase sejumlah toko di sekitar Alun-alun, akan
   tampak berbagai hiasan menyongsong tibanya Idul Fitri, 1 Syawal 1417
   H. Namun jangan heran ada pula toko yang menghiasi etalasenya dengan
   berbagai ragam hiasan menyambut Tahun Baru Imlek, yang jatuh pada hari
   ini. Di kalangan masyarakat Tionghoa dikenal sebagai Tahun Baru Imlek
   Cia-gwee Ce-It 1-1-2548.
   
   Orang Cina menyebutnya sebagai Sin Cia Imlek. Im berarti bulan,
   sedangkan lek bermakna penanggalan. Tahun baru Cina merupakan tahun
   baru yang didasarkan pada perhitungan bulan atau kalender Cina.
   Tentunya berbeda dengan kalender internasional yang didasarkan pada
   peredaran matahari.
   
   Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, tiap-tiap tahun punya nama atau
   shio. Ada tahun Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Anjing,
   Kuda, Monyet, Ayam Jago, Babi, dan Kambing. Masing-masing shio
   bermakna tertentu, ada hal-hal yang mengandung keberuntungan ataupun
   kerugian.
   
   Berdasarkan sumber literatur dan legenda, ke 12 nama binatang itu
   diasumsikan telah datang menghadap "Sang Budha" sebelum meninggalkan
   dunia fana. Sebagai balas budi Sang Budha, maka ke 12 binatang
   tersebut mendapat kehormatan untuk digunakan sebagai penyebutan nama
   tahun. Penanggalan semacam ini pertama kali digunakan di daratan Cina
   pada tahun 247 SM.
   
   Kabarnya tatkala Cina menjadi Republik di awal abad ke 20,
   pemerintahan Sun Yat-sen menggantikan penanggalan tradisional itu
   dengan penanggalan internasional. Tapi nyatanya sebagian masyarakat di
   Cina masih ada yang tetap menggunakan sistem penanggalan tersebut.
   Demikian pula di Indonesia masih ada WNI keturunan Cina yang
   menggunakan sistem penanggalan yang bermuatan "perhitungan nasib" itu.
   
   Perayaan Imlek sebenarnya berlangsung selama 15 hari. Meski begitu,
   perayaan dapat saja diadakan selama tujuh hari sebelumnya. Dalam
   kepercayaan sebagian masyarakat Tionghoa, di masa tujuh hari itu ada
   dewa dapur bernama Couw Khoen Kong yang naik ke atas langit untuk
   melihat bumi. Dewa tersebut menyampaikan laporan situasi kondisi di
   bumi kepada Maha Pencipta di langit.
   
   Di masa Imlek ini, ada pula tradisi seperti saling mengirim makanan
   atau Ni-en-kao. Pengantar makanan juga seringkali memperoleh sejumlah
   uang imbalan.
   
   Saat Imlek sering dianggap sebagai momentum yang tepat untuk
   "membersihkan diri" dari utang-utang, termasuk memperbarui pakaian
   yang dikenakan sehari-hari. Bahkan, saat Imlek dimanfaatkan untuk
   keramas atau memangkas rambut agar tampil lebih baik dari yang
   sebelumnya.
   
   Ketika malam Imlek, sekitar pukul 24.00, segenap keluarga Tionghoa
   berkumpul bersama dan saling memberi ucapan selamat. Mereka juga
   melakukan soja yakni kepalan tangan kiri menggenggam kepalan tangan
   kanan, sedangkan kedua ibu jari tegak yang menandakan kedua orangtua
   wajib dijunjung tinggi serta dihormati. Lalu, mereka mengucapkan: sin
   chun kiong hie dan thiam hok thiam siu yang bermakna "selamat tahun
   baru semoga banyak memperoleh keberuntungan" serta "panjang umur dan
   berbahagia selalu".
   
   Perayaan Imlek berhubungan pula dengan bergantinya musim setiap tiga
   bulan sekali di daratan Cina (RRC). Masing-masing adalah musim semi
   (cun thien), musim panas (shia thien), musim gugur (ciu thien), dan
   musim dingin (thung thien).
   
   Pada perayaan Imlek tahun 1960-an, ada kegiatan atraksi berupa
   barongsay dan permainan naga (liong) serta upacara menggotong patung
   taopekong mengelilingi kawasannya.
   
   Adakah tradisi tersebut pada tahun 1997 sekarang?
   
   Tampaknya tidak ada tradisi semacam itu lagi. Ini sejalan dengan kian
   berkurangnya kepercayaan warga Tionghoa terhadap tradisi tersebut, dan
   makin berkembangnya kehidupan beragama di Indonesia. Dan pemerintah
   pun tidak mentolerir perayaan Imlek secara demonstratif.
   
   Sejak puluhan tahun lalu hingga kini Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu
   dan Budha Departemen Agama RI tidak menyetujui adanya tempat ibadah
   umat Budha (Vihara) digunakan untuk perayaan Imlek sebab tahun baru
   Imlek itu bukan termasuk salah satu hari raya umat Budha.
   
   Karena itu Departemen Agama mengimbau kepada umat Budha untuk tidak
   menyelenggarakan kegiatan di luar ajaran Sang Budha. Ini juga
   didasarkan pada Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 yang berkaitan
   dengan persoalan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina di
   Indonesia.
   
   Lalu apa yang semestinya dipahami seandainya Imlek itu dirayakan
   secara intern keluarga Tionghoa?
   
   Menurut Ketua Umum Keluarga Persaudaraan Islam (KPI) Jabar, Drs. H
   Muhammad Amien, jadikanlah Hari Raya Imlek sebagai momentum untuk
   semakin mempererat hubungan kekeluargaan. Meskipun agama berbeda,
   hendaknya tidak menimbulkan perpecahan di dalam kehidupan keluarga WNI
   Keturunan.
   
   "Rayakan Tahun Baru Imlek itu dengan penuh kesederhanaan. Ingatlah,
   masih banyak warga masyarakat yang hidupnya sulit, masih banyak warga
   yang menghadapi masalah sosial-ekonomi," kata tokoh pembauran Jabar
   ini.
   
   Imlek sebenarnya bukan perayaan yang berkaitan dengan keagamaan. Imlek
   merupakan tradisi di kalangan masyarakat Tionghoa atau WNI Keturunan.
   
   Pada hari Raya Imlek banyak orang Cina saling berkunjung. Mereka
   sengaja menyisihkan waktunya untuk mengunjungi sanak saudara, tetangga
   dengan memperbincangkan perjalanan hidupnya selama ini, serta berbagai
   rencana kerja di masa mendatang.
   
   Mereka juga melakukan berbagai aktivitas sosial. Misalnya memberikan
   bantuan kepada orang-orang yang tidak mampu atau sedang menderita
   karena suatu musibah. Hal ini mencerminkan rasa syukur atas
   keberhasilannya pada tahun lalu.
   
   "Nah, dalam konteks ini, WNI keturunan di Indonesia dapat merayakan
   Hari Imlek dengan meningkatkan rasa persaudaraan di dalam keluarga dan
   kesetiakawanan sosial," ungkap Muhammad Amien.
   
   Penasihat Bakom-PKB Jakarta, Drs H Usman Effendy, mengharapkan
   masyarakat WNI keturunan hendaknya bisa menyesuaikan diri dan tidak
   berlebihan dalam merayakan Imlek tahun ini.
   
   "Imlek tidak lebih dari sekadar tradisi orang-orang Cina untuk
   menghormati leluhur yang diwujudkan dalam bentuk sukacita sambil
   bermohon umur panjang dan sukses dalam kehidupan
   sehari-hari."(Aji/"PR") ***
   
   ______________________________________________________________________
                                      
                    Copyright (C) Pikiran Rakyat Online