IN: RPK - Kamus Jerman-Indonesia ..

From: apakabar@clark.net
Date: Thu Jan 30 1997 - 16:57:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id UAA15987 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 30 Jan 1997 20:57:33 -0500 (EST)
Subject: IN: RPK - Kamus Jerman-Indonesia ...

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Thu Jan 30 20:51:31 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Thu, 30 Jan 1997 20:34:32 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701310134.UAA09051@explorer2.clark.net>
Subject: IN: RPK - Kamus Jerman-Indonesia ...
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

                          Republika Online [LINK]
                                  [ISMAP]
                           Sabtu, 25 Januari 1997
                                      
     Pusat Bahasa dan Goethe Institut akan Susun Kamus Jerman-Indonesia
                                      
                                      
      JAKARTA -- Demi meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dalam
     bidang kebahasaan dan kesastraan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan
   Bahasa Depdikbud mengadakan kerja sama dengan Goethe Institut Jakarta.
       Kerja sama itu antara lain meliputi penyusunan kamus dwibahasa
     (Jerman-Indonesia dan Indonesia) dan penyelenggaraan kursus bahasa
                   Indonesia bagi penutur bahasa Jerman.
                                      
    Kesepakatan kerja sama (MOU) itu ditandatangani di Depdikbud Jakarta
   oleh Hasan Alwi (Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) serta
    Henning Schroedter-Albers (Kepala Regional Pendidikan Bahasa), Kamis
      lalu. Mendikbud Wardiman Djojonegoro dan Dubes Jerman di Jakarta
     Heinrich Seemann bertindak sebagai saksi dalam penandatanganan MOU
                                 tersebut.
                                      
   Perjanjian yang berlaku selama lima tahun itu juga meliputi kerja sama
   penerjemahan buku kebahasaan dan kesastraan. Kedua pihak juga sepakat
    untuk mengadakan seminar, ceramah, dan lokakarya mengenai kebahasaan
   dan kesastraan. Kerja sama juga meliputi penyelenggaraan kursus bahasa
     Jerman bagi tenaga teknis Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
                                      
    Kepada wartawan Hasan Alwi mengatakan untuk tahap awal kursus bahasa
      Indonesia akan diberikan kepada staf Goethe Institut dan Kedubes
   Jerman di Jakarta. Setelah itu baru merambah kepada orang-orang Jerman
   yang berada di Jakarta. Kursus ini dikelola oleh Pusat Bahasa. "Kalau
     peminatnya banyak Pusat Bahasa tak akan mampu menanganinya. Karena
   itu, kita akan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang berpengalaman
         mengajarkan bahasa Indonesia untuk orang asing," ujarnya.
                                      
   Menurut Hasan, bahasa Indonesia selama ini telah diajarkan di sejumlah
     perguruan tinggi di Jerman. Bahkan, bahasa Indonesia menjadi salah
       satu jurusan di perguruan-perguruan tinggi tersebut seperti di
    Frankfurt, Muenchen dan Hamburg. Dijelaskan pula, selain di Jerman,
       bahasa Indonesia juga banyak diajarkan di perguruan tinggi di
    Australia, Jepang, Korea, Cina, Mongolia, Belanda, Prancis, Inggris,
                                dan Italia.
                                      
    Hasan menyebutkan saat ini bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa
   pengantar oleh sekitar 200 juta penutur. Penutur ini mendiami wilayah
    Indonesia, Malaysia, Brunei, Mindanao, dan Thailand Selatan. "Jumlah
     ini cukup banyak. Jika negara-negara penutur bahasa Indonesia ini
     ekonominya maju, saya optimis bahasa Indonesia akan menjadi bahasa
                        internasional," papar Hasan.
                                      
     Mendikbud Wardiman menyebutkan kerja sama ini menguntungkan kedua
      pihak. Alasannya, kerja sama ini dapat mempererat hubungan kedua
     negara yang selama ini memang sudah terjalin dengan baik. "Dengan
   mempelajari budaya dan bahasa kita bisa mengurangi dan bahkan mencegah
                    terjadinya kesalahpahaman," katanya.
                                      
    Bahasa, menurut Wardiman, merupakan pintu untuk mengenal lebih jauh
   kebudayaan suatu bangsa. "Jika mereka menguasai bahasa Indonesia maka
        mereka akan mengerti tentang budaya Indonesia sehingga dapat
             meningkatkan kerja sama yang sudah ada," katanya.
                                      
     Wardiman menilai meski yang terpenting adalah kerja sama ekonomi,
    namun kerja sama kebudayaan dapat mewarnai kerja sama ekonomi. "Jika
    kerja sama ekonomi itu diwarnai dengan kerja sama budaya maka kerja
               sama yang ada akan lebih erat lagi," jelasnya.
                                      
       Hasan mengatakan Pusat Bahasa akan terus berupaya agar bahasa
      Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pengembangan iptek. Untuk itu
   prasyaratnya adalah tersedianya peristilahan di berbagai bidang ilmu.
                                 &#127 rus