From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by clark.net (8.8.4/8.7.1) id JAA11358 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Mon, 27 Jan 1997 09:53:43 -0500 (EST)
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sun Jan 26 23:00:18 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Sun, 26 Jan 1997 22:14:13 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701270314.WAA27685@clark.net>
Subject: IN: TIARA - Ida Royani
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
X-URL: http://www.vision.net.id/tiara/175/lik175.html
TIARA 175, beredar 22 Januari 1997
Rubrik: LIKU-LIKU
IDA ROYANI
Tentang masa lalu,
busana muslim & her husband
 Nama Ida Royani memang menyimpan sejumlah citra. Seorang
penyanyi sekaligus juga seorang desainer busana muslim kondang yang
busana-busananya tidak murah. Dan tak ada yang bisa mengelak, bahwa
dia dulunya fotomodel, bintang iklan, penyanyi cilik yang centil
antara lain menyanyi bersama almarhum Benyamin dan artis film seronok.
Adalah Ida Royani juga yang kita tahu, pernah menikah dengan seorang
pangeran dari negeri seberang, yang memberinya seorang anak, dan
karena perkawinan itu kandas lalu menikah dengan seorang musisi dari
kelompok Pegangsaan bernama Keenan Nasution yang memberinya tujuh anak
sekaligus kebahagiaan hidup. Bagaimana kabar Ida Royani sekarang?
Bagaimana ia melihat dirinya di suatu waktu di masa lalu dulu?
 Dan yang punya nama itu ditemui di rumah tinggalnya, di
kawasan Cinere, Jakarta Selatan yang merupakan bangunan tiga setengah
lantai, yang juga menjadi bengkel kerja sekaligus butiknya.
[INLINE] SEJAK IA MERINTIS USAHANYA PADA SEKITAR TAHUN 1980-AN
DENGAN MENJUALNYA DI PASAR BARU, SAMPAI NAMANYA MENJADI JAMINAN MUTU
BAGI PEMINATNYA SEPERTI SEKARANG INI, ALUMNUS LONDON ACADEMY OF
MODELLING INI TAMPAKNYA MEMANG TELAH BANYAK MEREGUK BANYAK PENGALAMAN
HIDUP YANG SEDIKIT-BANYAK MEWARNAI PERILAKUNYA.
Waktu pertama kali saya memakai busana muslim banyak sekali
tantangannya. Waktu itu, kan jarang ada perempuan berani tampil di
depan umum dalam keadaan tertutup. Paling cuma nenek-nenek doang.
Jadi, saya benar-benar fight sendirian.
 Yang paling ngenes kalau lagi pas ke luar atau ke pesta
perkawinan, kayaknya semua orang memandang aneh pada saya. Udah gitu,
yang ngatain juga banyak. Dibilang, kepala saya banyak kutunya. Untung
saya orangnya cuek. Terserah orang mau ngomongapa, kafilah tetap
berlalu.
 Sekarang, setelah terbiasa hidup begini, sebenarnya saya
sering risi menyaksikan film-film yang saya bintangi bersama almarhum
Benyamin S. Dulu, waktu masih jadi bintang, kan pakaiannye aje gile,
bahkan lebih minim dari yang pakaian sekarang karena banyak pakai
model back to sixties. Tapi waktu itu kan saya belum paham benar soal
agama. Saya juga bilang sama anak-anak, kalau dulu saya pakai kaus
ketat, rambut warna-warni, atau pakai hot pants dan segala macam,
hendaknya jangan dilihat negatif tapi semata-mata karena saya memang
tergila-gila pada fashionsejak dulu. Makanya, sekarang saya sudah
puas.
 Perubahan saya juga tak lepas dari pengalaman pergi haji
tahun 1978. Itu berkesan sekali buat saya; makin mempertebal rasa
keimanan saya. Selain itu, saya juga banyak mengambil hikmah dari
perkawinan terdahulu. Pengalaman itu menambah keinginan saya untuk
menekuni kehidupan baru dengan mengambil inspirasi dari nilai-nilai
Islam.
 Sebenarnya, sejak kecil saya sudah mengaji, cuma baru saya
tekuni lebih serius setelah saya pulang dari Malaysia. Habis, gimana
ya? Namanya orang baru terkena pukulan, baru cerai kan butuh sesuatu
untuk pegangan. Lagian, siapa sih orang yang mau cerai? Apalagi saya
termasuk orang yang cukup dikenal. Tiba-tiba mengalami divorce, kan
rasanya sakit dan terguncang sekali dong. Sampai Benyamin saja pada
waktu itu ngajakin nyanyi, saya tidak mau.
[INLINE]  Dalam keadaan masih terguncang, tiba-tiba adik saya
mengajak ngaji bareng. Dia bilang, ngajinya enak, nggak terlalu kaku.
Dari situ saya mulai menggali ilmu agama, belajar pelan-pelan hingga
akhirnya mengerti bahwa menjadi perempuan banyak batasannya: harus
begini dan begitu. Tapi, dengan begitu, dulu banyak orang menyangka
saya ini Islam Jamaah, maksudnya Islam yang berdiri sendiri, tak mau
berbaur dengan umatNya yang lain. Banyak yang mengecam, "Kenapa sih
Mbak Ida kalau bersalaman tidak mau menyentuh lawan jenisnya?" Padahal
itu memang ada dalam Hadits. Tapi saya nggak mau meladeni omongan
orang. Saya nggak peduli orang mau ngomong apa tentang saya. Orang
yang mau jalan benar, kan halangannya memang banyak sekali.
WAJAHNYA DIPOLES HALUS KOSMETIKA YANG MEMANCARKAN KETEDUHAN
ALAMI, DENGAN MASKARA DAN ALIS MATA HITAM DITAMBAH LIPSTIK TIPIS DI
BIBIRNYA YANG JUGA TIPIS. TANGAN KIRINYA YANG DILINGKARI CINCIN BATU
PADA JARI MANISNYA, MEMEGANG MEJA. APA KATANYA TENTANG PERKAWINAN,
ORANG KETIGA, POLIGAMI DAN PERCERAIAN?
 Bagi saya, perkawinan adalah suatu karunia yang patut
disyukuri manusia. Kehidupan dua makhluk berlainan jenis dan asal-usul
kadang memang tak mudah untuk berjalan mulus. Bagaimanapun,
nilai-nilai perkawinan merupakan sesuatu yang sakral dan harus
dipertahankan bersama. Jika dalam kenyataannya dijumpai the other man
or woman, itu tanda kita perlu melakukan introspeksi kembali: apa
kekurangan yang harus diperbaiki? Jangan bicara dengan bahasa ego,
tapi cobalah dimengerti dengan penuh kesadaran. Bila kehadiran orang
ketiga tak bisa dihindari lagi, ya repot dong. Saya kira, jika
selingkuh bisa diantisipasi dengan wajar dan tak menjurus pada
perbuatan serong yang berakhir dengan seks, itu memang permasalahan
sosial negara membangun. Makanya daripada zinah, bagi saya mendingan
kawin aja.
 Soal poligami, tak apa-apa. Begitulah menurut ajaran Islam.
Seorang suami boleh punya istri lebih dari satu asal yang bersangkutan
bisa memenuhi syarat tertentu yang sudah diatur. Dalam Kitab Suci pun
disebutkan, hal itu bisa dilakukan sejauh semua pihak yang terkait
dapat memaklumi dan ikhlas. Jika suami bisa benar-benar berlaku adil
dan istri tuanya juga ridho, kenapa tidak? Ah, saya sih nggak mau
berpikir macam-macam soal ini. Kalau memang dalam perjalanan saya
ternyata kenyataannya demikian, kita manusia mau bilang apa? Tapi
dengan syarat, suami harus mampu dan betul-betul adil. Bila tak mampu
bersikap adil, ya cukup satu saja. Mampu dan adil dalam arti semuanya,
ya, bukan hanya soal materi. Karena yang penting, mendapat ridho dari
istri pertama. Jika istrinya tak ikhlas, pasti akan ribut terus dan
ini bisa jadi malapetaka.
HM... SEBUAH KEARIFAN HIDUP YANG TAMPAKNYA DIPETIK DARI
PERGULATAN DENGAN WAKTU. JUGA KETIKA IA MENYINGGUNG PERKAWINANNYA
DENGAN PANGERAN DARI NEGERI SEBERANG ITU.
[INLINE]  Ketika saya menikah dengan suami pertama, anak
seorang Yang Dipertuan Agung Malaysia itu, saya sedang berada dalam
masa jaya-jayanya. Kita ketemu waktu saya lagi sekolah di London,
belajar fashion. Saya juga pernah menyanyi dalam pesta besar di
istananya ketika bapaknya ulang tahun. Bapaknya sangat dikagumi dan
dihormati oleh rakyat Malaysia. Sebenarnya, dari dulu dia memang sudah
senang sama saya. Dia sering datang ke Jakarta, hampir setiap minggu.
Tapi saya kurang suka padanya karena sudah punya pacar lain. Ah,
sudahlah; kita harus hati-hati bicarakan ini, sebab saya punya anak
dari perkawinan itu. Tentu dia tak mau jika bapaknya dijelek-jelekkan.
Yang jelas, perceraian saya dengan suami pertama karena terlalu banyak
perbedaan yang sangat prinsip dan mendasar. Saya menyadari, ternyata
kepuasan materi tak menjamin berlangsungnya kehidupan rumahtangga
bahagia dan harmonis. Makanya, meski saya sudah punya anak dari
perkawinan itu, dengan pertimbangan matang saya putuskan untuk
meninggalkan istana dan kembali ke tanah air. Namun begitu, hubungan
kami sampai sekarang, alhamdulillahbaik-baik saja.
IDA ROYANI YANG CENTIL, YANG DULU SUKA PAKAI BUSANA SERONOK
MEMANG SUDAH BEDA.
 Tentang suami saya sekarang, kami ketemunya di pengajian dan
kebetulan dia yang mengajar. Saya kagum padanya karena dia anak muda
dan anak band lagi, tapi kok lengket banget sama agama, banyak tahu
tentang Hadis dan Alquran. Jarang-jarang lho ada anak band yang alim,
biasanya berantakan dan tahunya cuma drug melulu. Makanya, sempat
terlintas dalam hati, mungkin enak kali ya punya suami pemain band
yang paham agama; bisa nyanyi sekaligus mengaji. Ternyata, setelah
beberapa bulan perkenalan berjalan, dia datang melamar saya dan
tiba-tiba pula saya pun mengangguk saja. Kita nggak ada proses
pacar-pacaran. Ceritanya, waktu itu saya ada di Surabaya merayakan
pesta pernikahan adik. Entah bagaimana, mungkin karena iri melihat
pengantin kali ya, ha-ha-ha, tahu-tahu dari kursi belakang, Bang
Keenan mengirim surat di kertas kecil yang dilipat dan tertulis
kalimat singkat, "Da, kamu mau apa nggak menikah dengan saya?" Saya
membaca sambil tersenyum, lalu saya jawab pakai surat lagi, "Mau, tapi
banyak syaratnya." Terus dikirimi surat lagi, "Syaratnya apa?"
Kemudian, ya saya jelaskan saja tentang status saya, bahwa saya sudah
punya anak satu. Kalau mau, kamu juga harus sayang sama anak itu.
Nggak sampai seminggu kemudian, kami langsung menikah. Mungkin ini
jodoh. Tanpa perlu lama-lama memahami diri masing-masing, kita sudah
merasa yakin akan pilihannya. Ternyata, saya memang nggak salah pilih.
Bang Keenan sungguh seorang suami yang baik sekali; bisa jadi kelewat
baik, dan itu banyak dikatakan teman-teman saya.
[INLINE] IDA ROYANI MENGHELA NAPAS PANJANG. TUBUHNYA DIBALUT
SETELAN BUSANA MUSLIM MERAH TUA BERCORAK BUNGA KUNING DI BAGIAN TEPI.
KEPALANYA DITUTUP KERUDUNG BERGARIS EMAS, SEMENTARA DI LEHERNYA
MENGGANTUNG KALUNG PERAK BERBENTUK KOTAK DENGAN LIMA BANDUL UKURAN
SEPULUH SENTIMETER DAN DITABURI PAHATAN SERTA BATUAN, YANG DIBELINYA
DI PAKISTAN. SELOP HITAM BERGARIS EMAS TEMPATNYA BERPIJAK TERSEMBUL
DARI BALIK GAUNNYA YANG PANJANG SAAT IA MENYILANGKAN KAKI.
 Mungkin bagi sebagian orang, target hidup saya terlalu muluk.
Tapi itu kan sah-sah saja untuk memberi motivasi dalam menjalani
hidup. Terus terang setelah upaya saya untuk meningkatkan citra Islam
ini melalui busana muslim menampakkan hasil, obsesi saya sekarang
ingin menjadikan Jakarta sebagai kiblat dan barometer busana muslim di
seluruh dunia. Bagi saya ini harus terlaksana. Apalagi saya sudah
banyak ngomong di koran dan radio, membuat pemahaman orang menjadi
lebih terbuka. Saya pernah show di Pakistan, yang katanya sebuah
negara muslim. Tapi ternyata di sana tak ada seorang pun desainer
busana muslim.
 Ada wartawan asal Perancis dan Amerika yang sengaja datang
kemari untuk mewawancarai saya. Mereka mengaku sudah dengar nama saya
di Amerika. Dia bilang, "You are sangat populer. Bekas penyanyi, bekas
bintang film yang sering tampil seronok, tapi Anda yang pertama kali
mempelopori busana muslim."
 Sebuah stasiun radio Jepang yang sedang mengalami
perkembangan Islam, dan radio BBC London juga pernah mewawancarai
saya. Dari situ, banyak surat datang pada saya untuk minta show, atau
ekspor. Sejauh saya mampu, semua permintaan itu, tentu saja saya
penuhi. Bahkan saya sudah show sampai Rusia. Pernah juga show di
Filipina, ketika Presiden Ramos ingin merangkul orang-orang muslim.
[INLINE]  Lalu, saya juga ingin hidup di dunia menjadi raja,
dan mati masuk surga. Pengertian menjadi raja kan tidak selalu berarti
punya banyak harta atau perusahaan, tapi lebih kepada mensyukuri semua
pemberian Allah.
 Kegiatan rohani saya lainnya adalah mengajar mengaji. Apa
yang telah dipelajari, saya coba ajarkan lagi. Tapi ngajarnya bukan
karena imbalan, melainkan benar-benar ikhlas karena Allah. Sebab,
kalau mau cari untung, ya jualan baju itu sudah karunia. Memang saya
akui, mencari nafkah di Jakarta makin lama makin sulit dan butuh
keberanian lebih, termasuk keberanian mengobral tubuh seperti banyak
diumbarfilm-film nasional. Habis bagaimana dong, pengusaha dan
penguasa belum punya keyakinan bahwa film kita bisa menjadi industri.
Makanya, belakangan ini banyak artis lama yang mulai main sinetron,
termasuk saya.
(Sebelum Benyamin S. meninggal, mereka sempat main bareng di
sinetron Mat Beken. "Saya mau main karena dipaksa Benyamin dan dengan
setumpuk syarat berat. Ngejeblak aje ngomongnye, kalau lu mau, gue
kudu bisa tetep pakai kerudung di setiap adegan dan di mana pun saya
mau, dan bayarannya juga harus gede. Lantaran dia kepengen banget maen
bareng lagi sama saya, akhirnya semuanya diturutin juga. Itu pun
karena diminta Benyamin. Kalau yang lain, pasti saya nolak," papar
pemeran Fatimah dalam sinetron Mat Beken ini.)
 Saya banyak mendapat ilmu dengan mengaji di LDII (Lembaga
Dakwah Islamiyah Indonesia) yang punya cabang di 27 provinsi. Jadi, ke
mana kita pergi, kita bisa tetap mengaji. Setiap makhluk yang bernyawa
kan pasti mati. Semua orang pasti mati. Nah, kalau nanti mati, apa
yang dibawa? Pasti amal ibadah. Malaikat kan tidak akan bertanya kita
sudah bikin film berapa? Istilah kate, yang namanya puncak karier dan
setaraf itu sudah saya lewati. Saya sudah merasakan banyak kenikmatan
dunia meski belum semua. Saya pernah jadi bintang ini dan itu, pernah
sekolah sendiri di luar, bergaul dan tinggal di lapisan jet-set, serta
punya suami anak raja. Tapi dari semua itu, saya tak mendapat
kepuasan. Tak ada kenikmatan yang lebih nikmat selain kenikmatan iman
dan itu didapat dari mengaji. Sulit untuk diceritakan, karena setelah
banyak mendapatkan apa yang didapat, menjadi semakin tidak ada
apa-apanya.
 Selama hampir lebih dari 20 tahun ini saya menjalani i'tikaf
di masjid untuk mendapatkan Malam Laillatul Qadar. Sebab, semua
malaikat yang ada di langit disuruh turun oleh Allah untuk menyaksikan
dan mencatat perbuatan amal manusia. Sepanjang pengalaman yang pernah
saya rasakan, malam penuh mulia itu jatuh pada malam ganjil.
Suasananya agak dingin sunyi, membuat kita ngantuk berat, ditambah
hujan gerimis, dan terkadang ada bunyi suara ayam berkokok. Keesokan
harinya baru kita sadar bahwa malam itu terasa benar bedanya. Jadi,
selama sepuluh malam terakhir berturut-turut di bulan Ramadhan, sejak
habis Magrib sampai usai Subuh, saya ada di dalam mesjid, membuka mata
dan melakukan zikir, baca Alquran dan kegiatan lain penyegar iman.
Saya juga bawa anak-anak untuk tafakur bersama. Kita seperti orang
kemping, bawa bantal dan bekal dalam rantang. Sepertinya, pada Malam
Seribu Bulan itu, Allah memberikan semacam diskon. Tapi orang-orang
banyak yang berlagak nggak tahu. Padahal kalau obralnya di mal-mal,
se-RT pada ke sono semua.
JE (Nirwan, Eman)