From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id PAA11346 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 25 Jan 1997 15:08:40 -0500 (EST)
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Jan 25 14:52:59 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Sat, 25 Jan 1997 14:52:46 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701251952.OAA05850@explorer2.clark.net>
Subject: IN: GATRA - Yang Kandas di Lumpur
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
Logo GATRA
Nomor 09/III, 18 Januari 1997
SUNGAI BARITO
Yang Kandas di Lumpur
Kapal Motor Kelimutu kandas menabrak gosong di Sungai Barito. Penumpang pun
telantar. Ada ketidakberesan ?
KAPAL Motor Kelimutu sudah delapan tahun melayari Sungai Barito untuk
merapat di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Kapten Heroe Soepomo pun
telah tiga tahun membawa kapal berbobot 4.200 ton itu hilir mudik di
Sungai Barito. Selama ini baik-baik saja. Namun, Ahad malam pukul
20.40 pekan lalu, Kelimutu mengalami nasib sial. Tiba-tiba saja kapal
milik PT Pelni itu kandas. Terjadi guncangan keras dan aliran listrik
ke semua ruangan padam. Penumpang panik.
Rupanya lunas Kelimutu menabrak gosong, endapan lumpur yang mengeras,
100 menit setelah meninggalkan Trisakti ke arah muara. Kepanikan
mereda setelah nakhoda mengumumkan bahwa kapal kandas di lumpur tapi
tak terjadi kerusakan. Kelimutu segera mengontak Pelabuhan Trisakti
dan melaporkan musibah yang menimpanya.
Malam itu juga PT Pelni mengirim bantuan dua buah tugboat yang
masing-masing berkekuatan 3.000 tenaga kuda (PK). Dua truk air itu
mencoba menarik Kelimutu dari benaman lumpur. Tapi kapal buatan Jerman
itu tak beringsut. Esoknya kekuatan bertambah dengan dua tugboat kelas
3.000 PK pula. Tapi empat tugboat itu seperti tak berdaya menolong
kapal berpenumpang 995 orang itu.
Para awak Kelimutu dan PT Pelni perwakilan Banjarmasin sepertinya
sama-sama kehilangan akal. Mereka pun menunggu sampai Selasa, ketika
air bersih untuk penumpang sudah mulai langka. Sebagian penumpang
turun, kembali ke Banjarmasin dengan menumpang kapal-kapal motor kecil
atau perahu kelotok yang berseliweran di sekeliling.
Pelaksanaan evakuasi baru muncul Selasa siang, 42 jam setelah kapal
kandas. "Kita putuskan untuk melakukan evakuasi setelah upaya
penarikan kapal tak membawa hasil," kata Kepala Kantor Wilayah
Perhubungan Kalimantan Selatan, Drs. H. Zaenal Abidin, yang memimpin
evakuasi itu. Rencana semula, kapal ditarik dan langsung berlayar ke
Surabaya. Evakuasi penumpang itu dilakukan dengan tugboat. Tak ada
korban jiwa dalam musibah ini.
Kandasnya Kelimutu -yang biasa menjalani rute
Surabaya-Semarang-Sampit-Banjarmasin-Surabaya- itu sempat mengundang
spekulasi tentang tidak beresnya pengerukan di alur pelayaran Sungai
Barito. Maklum, Pelabuhan Trisakti itu, 25 kilometer masuk dari muara
ke hilir, sering diganggu pelumpuran hebat. Pengerukan terakhir
dilakukan Agustus lalu dengan biaya Rp 6,3 milyar. Desas-desus adanya
gangguan di alur pelayaran itu terkesan logis, karena Kelimutu keluar
dari Pelabuhan Trisakti dituntun kapal pandu dari Kesyahbandaran
Banjarmasin.
Namun sinyalemen miring itu cepat-cepat dibantah Zaenal Abidin dan
H.R. Munthe, pejabat sementara Administratur Pelabuhan Banjarmasin.
"Kapal itu terperosok 80 meter dari alur pelayaran," kata Munthe.
Zaenal Abidin pun menambahkan, proyek pengerukan tahun 1996 lalu -yang
meliputi alur pelayaran sepanjang 14 kilometer dengan lebar 50-70
meter dan kedalaman 6 meter- itu telah dikerjakan sebagaimana
mestinya. "Lumpur yang dikeruk mencapai 3 juta meter kubik," katanya.
Pejabat Departemen Perhubungan ini tak melihat adanya alasan untuk
menyalahkan ketidakberesan di alur pelayaran. "Kalau Kelimutu kandas
di alur pelayaran, tentu arus lalu lintas kapal di Barito terganggu.
Nyatanya kan tidak," ujarnya kepada koresponden Gatra Hariyadi di
Banjarmasin.
Pihak PT Pelni sendiri masih belum bersedia mengeluarkan pernyataan
resmi mengenai musibah ini. "Nantilah, kita sedang selidiki
masalahnya," ujar seorang pejabat Pelni. Yang pasti, ia tak mau
buru-buru yakin bahwa lokasi musibah berada jauh dari alur pelayaran.
Tanpa mencoba menohok salah satu pihak, sumber di Pelni itu
mengeluhkan kondisi Sungai Barito yang rawan untuk kapal sebesar
Kelimutu. "Pasang-surut begitu cepat terjadi. Secara efektif, Barito
hanya bisa dilayari empat jam sehari oleh kapal besar," katanya sambil
menyentil kemungkinan runyamnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito. Ia
pun tak bisa menyalahkan kapal pandu. "Kapal pandu cuma memberi
nasihat. Keputusan tetap di tangan nakhoda," ia menambahkan.
Nasib Kelimutu sendiri tertolong. Kamis sore pekan lalu, tak berapa
lama setelah seorang paranormal melalui telepon mengklaim bisa
membantu kapal itu dari jauh, Kelimutu tiba-tiba bisa menggeliat di
tengah timbunan lumpur. Mesin pendorong yang sudah berhari-hari mati
kutu tiba-tiba bisa menggerakkan badan kapal penumpang itu. Lantas
setindak demi setindak kapal itu berjalan zig-zag, dan berhasil keluar
dari hadangan gosong. Nakhoda Heroe Soepomo yang didampingi dua
nakhoda senior Pelni bersorak. "Secara teknis mestinya sulit karena
kedalaman air tak berbeda dengan kondisi ketika kapal terperosok. Tapi
ini kehendak Allah," kata Kapten Abdul Hamid, yang membantu Heroe
Soepomo.
Kelimutu pun putar haluan kembali ke Banjarmasin. Biro Klasifikasi
Indonesia Cabang Banjarmasin segera memeriksanya. Hasilnya: Kelimutu
dinyatakan tak mengalami kerusakan, dan laik laut. Malam itu juga
Kelimutu berlayar ke Semarang, membawa penumpangnya yang empat hari
telantar.
PTH