IN: PMB - Pembinaan Suku Terasing D

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Jan 25 1997 - 06:00:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id KAA01114 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 25 Jan 1997 10:00:33 -0500 (EST)
Subject: IN: PMB - Pembinaan Suku Terasing Di Riau Terbentur Kebudayaan

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Jan 25 05:59:13 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Sat, 25 Jan 1997 21:57:15 +1100 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199701251057.VAA28893@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: PMB - Pembinaan Suku Terasing Di Riau Terbentur Kebudayaan
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

25 Januari 1997
   Suara Pembaruan Online
     _________________________________________________________________
                                      
   Pembinaan Suku Terasing Di Riau Terbentur Kebudayaan

   RIAU - Berdasarkan data di Departemen Sosial (Depsos) Riau ada enam
   suku terasing di Riau, yakni Suku Sakai 616 kepala keluarga (2.955
   jiwa) di Kabupaten Bengkalis, Suku Hutan 872 KK (3.884 jiwa) dan Suku
   Akit 380 KK (2.736 jiwa), di Kabupaten Indragirihulu terdapat Suku
   Talang Mamak 1.542 KK (5.311 jiwa), Kabupaten Indragirihilir Suku Laut
   948 KK (814 jiwa) dan di Kabupaten Kampar Suku Bonai 504 KK (2.158
   jiwa) dan Suku Hutan 330 KK (1.314 jiwa).
   
   Selama PJP II sejak Pelita VI dari 5.889 KK (26.682 jiwa) masyarakat
   terasing di Riau yang telah mendapat pembinaan 252 KK (1.203 jiwa)
   terdiri dari Suku Talang Mamak 100 KK (495), Sakai 50 KK (254), Bonai
   50 KK (199) dan Suku Laut 52 KK (255) dan sampai sekarang ini baru
   terbina 2.110 KK warga terasing di Riau.
   
   Lambannya pembinaan suku terasing di daerah ini, selain masalah
   pendanaan juga adanya benturan budaya yang tidak begitu saja dapat
   diterima mereka dari petugas penyuluh maupun pembinaan, khususnya dari
   Depsos.
   
   Misalnya seperti yang dialami para guru yang mengajar, di sebuah SD di
   Pulau Gara Kecamatan Belakang Padang, Batam. Proses belajar mengajar
   di sini tidak berjalan mulus. "Sangat sulit mengumpulkan anak-anak
   Suku Laut yang umumnya belajar di sini," ujar seorang guru kunjung.
   
   Menurutnya, para anak didik tidak sepenuhnya ingin belajar. Ini
   terlihat, jika guru datang, mreka tidak masuk. Sementara untuk
   menyuruh mereka datang secara rutin masalahnya juga cukup sulit.
   
   Namun begitu, kata seorang tutor sukarelawan yang bersedia mengajar
   murid Suku Laut di situ, pihaknya sekarang sedang menerapkan kiat
   khusus untuk menarik minat mereka belajar.
   
   Caranya melalui pendekatan keibuan, yaitu dengan cara mendekatkan dan
   mengakrabkan diri berbaur dengan para anak-anak suku laut itu.
   Sehingga dengan cara itu mereka merasa dekat dan ingin terus bertemu.
   
   Menurut tutor itu, proses mengajar mereka tidak bisa diterapkan
   seperti murid-murid yang telah maju. Sebab bagi anak-anak suku
   terasing, bersekolah merupakan budaya baru bagi kehidupan mereka yang
   selama ini hanya hidup di laut.
   
   Sulitnya membina warga terasing di Riau, juga diakui Kabag Bina
   Kesejahteraan Sosial Depsos Riau, Drs Rustam Efendy di samping memang
   masalah dana yang kurang mendukung yaitu untuk satu tahun anggaran
   hanya mampu dibina 100 ribu KK, juga perlunya tahapan pembinaan di
   satu lokasi pemukiman yang memakan waktu sekitar 8 tahun.
   
   Peneliti Berbaur
   
   Yang lebih menyulitkan lagi justru kebudayaan mereka yang masih kuat.
   "Nilai-nilai adat mereka cukup tinggi dan sangat enggan menerima
   perubahan," ujar Rustam.
   
   Namun begitu pihaknya dalam membina suku terasing di Riau, telah
   menerapkan skala prioritas yaitu dengan sistem pendekatan yang
   dilakukan secara terus-menerus.
   
   Di samping itu dilakukan juga berbagai pengkajian sosial budaya yang
   bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi.
   
   Caranya, para peneliti berbaur dan tinggal selama 45 hari di
   lingkungan warga terasing guna melakukan pengkajian lebih dalam
   tentang kehidupan sosial dan budaya mereka.
   
   ''Diharapkan dengan cara ini pendekatan budaya dalam upaya memukimkan
   masyarakat terasing dapat direalisasikan dengan cepat,'' kata Rustam.
   (IS/H-4)
   
   The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff
     _________________________________________________________________
                                      
   Last modified: 1/25/97