IN: SM - Rektor Tidak Suka Aksi Tur

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Jan 21 1997 - 05:10:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id JAA00169 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 21 Jan 1997 09:09:53 -0500 (EST)
Subject: IN: SM - Rektor Tidak Suka Aksi Turun ke Jalan

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Jan 21 00:48:39 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Mon, 20 Jan 1997 23:15:28 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701210415.XAA13333@explorer2.clark.net>
Subject: IN: SM - Rektor Tidak Suka Aksi Turun ke Jalan
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

     [SUARA MERDEKA] [Image]

[Image]

                                                    Selasa, 21 Januari 1997

     Rektor Unika Soegijapranata

     Tidak Suka Aksi Turun ke Jalan

      [Image] TANGGAL 18 Januari 1997 jabatan rektor Universitas
                   Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang secara
      Dr Al Purwa resmi diserahterimakan dari rektor lama Dr Ir P
      Hadiwardaya Wirjono SJ kepada Dr Aloysius Purwa Hadiwardaya
      MSF MSF(47). Doktor Teologi Moral yang juga cucu Mgr
      -------------Soegijapranata SJ ini telah memulai tugasnya
     sebagai rektor sejak 1 September tahun lalu. Bagaimana
     langkah-langkah yang akan dia ambil dalam memimpin universitas
     swasta yang sebagian besar program studinya telah disamakan ini.
     Berikut wawancara Suara Merdeka dengan rektor baru kelahiran Pati
     tersebut

     Sebagai rektor baru, kendala apa yang Anda hadapi dalam
     menjalankan tugas?

     Lingkungan kampus merupakan lingkungan intelektual yang kritis.
     Berbagai pendapat dari semua pihak dalam kampus, seperti dekan,
     dosen, maupun mahasiswa harus bisa ditampung secara proporsional.
     Perbedaan pendapat pun muncul dan akan selalu ada. Namun itu semua
     merupakan suatu kewajaran yang bisa dipahami. Dengan jiwa
     persaudaraan niscara semua kendala itu bisa diselesaikan dengan
     baik.

     Mengenai kampanye pemilu di kampus, apakah di Unika Soegijapranata
     ada kebijakan atau norma khusus yang mengaturnya?

     Kalau kebijakan khusus yang mengatur kampanye di kampus tidak ada.
     Tapi saya selaku rektor memperbolehkan kampanye dilakukan di
     kampus Unika. Asalkan, sebelumnya pihak OPP mengadakan pembicaraan
     yang baik dengan Unika agar nantinya tidak ada yang dirugikan.

     Lalu bagaimana tanggapan Anda terhadap kekhawatiran beberapa pihak
     tentang kampanye di kampus?

     Pemilu merupakan hajat seluruh bangsa Indonesia begitu pula
     kampanyenya, sehingga saya tidak melihat kegiatan itu sebagai
     politik praktis. Kekhawatiran tersebut tidak perlu
     dibesar-besarkan. Para cendikiawan kampus dan politikus justru
     harus peduli terhadap berbagai aktivitas menjelang pemilu.

     Kerja sama di antara mereka harus dijalin dengan baik sehingga
     seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasa diuntungkan.

     Langkah-langkah apa saja yang akan Anda ambil dalam menggiatkan
     aktivitas kampus Unika Soegijapranatao?

     Saya berkeinginan untuk menciptakan demokrasi bagi seluruh sivitas
     akademika. Berbagai forum-forum diskusi masalah sosial akan
     digalakkan untuk menumbuhkan sikap kepedulian mahasiswa terhadap
     masyarakat sekitarnya. Tapi perlu ditekankan, saya tidak suka
     dengan demonstrasi atau aksi-aksi turun ke jalan yang justru bisa
     menimbulkan kekacauan.

     Apa harapan dan pesan Anda kepada mahasiswa ?

     Mahasiswa jangan hanya belajar secara akademis dan bercita-cita
     menjadi kaya saja. Mereka juga harus memikirkan dan ikut peduli
     terhadap penderitaan masyarakat di sekitarnya. Masih banyak orang
     yang memerlukan pikiran dan tenaga mereka. Setelah lulus,
     mahasiswa masuk dalam kelompok menengah yang kritis dan diharapkan
     dapat menjadi agent of social change.

     Mereka harus bisa melakukan perubahan sosial dalam masyarakat ke
     arah yang lebih maju dan positif.(Asep Bina Septriono-14)