From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id WAA09548 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Thu, 16 Jan 1997 22:02:12 -0500 (EST)
Subject: IN: MI - Internet, TV & Satelit di Indonesia
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Thu Jan 16 21:00:00 1997
X-Authentication-Warning: igc7.igc.org: Processed from queue /var/spool/mqueue-maj
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Date: Thu, 16 Jan 1997 19:10:22 -0500 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199701170010.TAA19367@explorer2.clark.net>
Subject: IN: MI - Internet, TV & Satelit di Indonesia
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
http://www.rad.net.id/online/mediaind/publik/9701/16/MI11-01.16.html
Kamis, 16 Januari 1997
Internet, TV, & Satelit di Indonesia
----------------------------------------------------------------------------
BEBERAPA waktu lalu di harian ini, tulisan saya mengenai Siaran Televisi
Digital lewat Satelit
menggambarkan bagaimana Indonesia dalam waktu dekat masuk dalam teknologi
informasi yang secanggih di negara asal tempat teknologi informasi ini
dikembangkan.
Melalui televisi satelit seperti Indovision yang sudah ada di Indonesia atau
melalui siaran luberan televisi asing yang ditangkap melalui antena
parabola, informasi dari mancanegara bisa kita akses dengan mudah. Akibatnya
semakin terasa hilangnya batas-batas geografis maupun teritori sebuah negara
dengan berkembanmgnya teknologi informasi ini. Informasi yang tidak bisa
didapatkan mengenai Indonesia karena diberlakukannya sensor misalnya, akan
ditemukan melalui siaran televisi dari negara lain. Contohnya rekaman
peristiwa 27 Juli.
Selain televisi, media lain untuk mengakses informasi yang saat ini
berkembang pesat adalah Internet. Di Indonesia sebagian besar pelanggan
Internet adalah dari perusahaan, meski mungkin pelanggan di perusahaan ini
adalah pelanggan individual di sela-sela waktu luang di kantor. Ini
disebabkan oleh masih mahalnya biaya pulsa telepon lokal yang digunakan
untuk mengakses Internet bagi pelanggan individual. Bahkan di Amerika,
menurut survei yang dilakukan oleh Yankelovich Partner Inc. pada september
1996 lalu, hanya 10 persen dari pemilik PC (Personal Computer
) yang memiliki akses (berlangganan) ke Internet. Sebagian besar berpikir
Internet adalah media yang rumit (75 persen).
Jika dibandingkan, orang sebenarnya lebih suka cara yang lebih sederhana
dalam mengakses Internet, misalnya lewat pesawat televisi. Ada 70 persen
responden yang lebih menginginkan mengakses Internet lewat pesawat televisi
dibanding lewat PC. Barangkali ini juga ada hubungannya dengan pencapaian
siaran berita TV seperti yang pernah diutarakan oleh Riza Permadi, penyiar
Liputan Enam
SCTV yang menyatakan bahwa pemirsa TV di negara maju lebih banyak tahu
mengenai informasi aktual dibanding jika didapatkan dari media cetak. Dengan
tersedianya puluhan kanal TV pada saat ini menjadi sangat mudah untuk
menelusuri informasi tertentu, apalagi karena TV memiliki daya tarik, yakni
dengan visualisasi dan audio. Di Amerika, TV juga digunakan untuk menelusuri
informasi untuk kebutuhan yang sangat spesifik seperti situasi cuaca untuk
olahraga tertentu, informasi produk-produk yang diperlukan untuk rumah
tangga, informasi akomodasi dan transportasi bagi para pelancong atau
informasi bisnis bagi para pengusaha. Informasi TV memang nyaris mendekati
format Internet ketika jumlah saluran TV yang bisa disediakan yang semakin
membengkak dan segmentasi materi acara tiap saluran semakin menajam.
TV Internet?
Di tengah gencarnya usaha pengembangan PC yang interaktif, seperti SIPC dari
perusahaan Microsoft yang bisa disambungkan ke berbagai peralatan elektronik
lain, WEBTV lahir sebagai kebalikan dari PC interaktif. WEBTV menjadi salah
satu media penyedia akses Internet lewat TV yang digolongkan paling berhasil
mengembangkan layanan Internet lewat TV di Amerika. Kelak tak lama lagi akan
ada provider
Indonesia yang memasarkan WEBTV atau menyediakan layanan seperti WEBTV di
Indonensia.
WEBTV telah mulai beroperasi di Amerika sejak September tahun lalu setelah
diuji-coba selama sembilan bulan. Dengan biaya berlangganan US$ 19.95/bulan,
WEBTV memang murah. Pelanggan cukup membeli modem dan set-top box
untuk dihubungkan ke pesawat TV. Pemasangannya pun semudah memasang video
player
. Setelah terpasang, cukup menekan tombol power
pada remote control
, selanjutnya semudah memindah kanal atau menikmati Teletext yang di
Indonesia sudah populer beberapa tahun terakhir ini. Proses dial-up
dan konfigurasi seperti pada PC dioperasikan secara otomatis oleh set-top
box
.
Tidak seperti Internet pada PC, WEBTV sudah dilengkapi dengan program
terpasang untuk mencegah anak-anak mengakses tempat-tempat terlarang di
Internet atau mencegah anak-anak menerima e-mail
yang terlarang. Provider
secara teratur melakukan software up-dating
pada set-to box
tanpa harus kita minta, sehingga yang kita lakukan hanya menikmati
penjelajahan di Internet seperti menjelajahi kanal demi kanal. Set-top box
juga dilengkapi dengan keyboard
tambahan untuk menulis teks e-mail
, juga lampu peringatan adanya e-mail
yang masuk, meski pesawat TV sedang dalam keadaan mati.
Seperti pada PC, tentu saja WEBTV memerlukan adanya sambungan telepon untuk
memfungsikan. Ketika WEBTV sedang dioperasikan, telepon tetap bisa berfungsi
untuk memberi tanda adanya panggilan telepon masuk. Jika panggilan itu kita
terima, untuk sementara WEBTV akan berhenti beroperasi, dan akan beroperasi
kembali seperti semula ketika pembicaraan telepon selesai.
Internet lewat satelit
Kemudahan Internet, selain dikembangkan ke pesawat TV, juga dikembangkan
kecepatan aksesnya, yakni lewat satelit. Namun demikian, kita mungkin masih
menunggu beberapa bulan lagi hingga akses Internet lewat satelit bisa
tersedia di Indonesia. Pasalnya layanan ini memerlukan satelit baru yang
digunakan oleh siaran televisi digital lewat satelit. Satelit Indostar milik
PT Malicak yang akan segera diluncurkan menyediakan transponder Ku-band
untuk siaran TV digital dan komunikasi data (lihat Era Pay TV di Indonesia,
Media Indonesia
, tanggal 18 April 1996). Dengan satelit itu, Indovision pada awal tahun ini
rencananya akan mengudarakan 40 kanal siaran televisi digitalnya.
Indonesia patut bersyukur, karena di Asia hanya baru beberapa negara yang
telah menggunakan teknologi satelit high power
ini. Apalagi teknologi ini kemudian dimanfaatkan untuk menunjang komunikasi
data atau akses Internet lewat satelit. Seperti Alvin Tofler katakan bahwa
teknologi Informasi akan memainkan peranan yang penting dalam perekonomian
satu negara. Tentu karenanya kita bisa melihat masa depan Indonesia yang
lebih benderang dibanding jika teknologi informasi ini tidak cepat dicerap.
Apalagi bagi praktisi multimedia, teknologi ini membawa harapan derasnya
komunikasi data di segala lapisan masyarakat dan memudarnya kontrol yang
sepihak dari lapisan pengelola negara.
Hughes Network Systems, perusahaan yang beberapa tahun sebelumnya
meluncurkan Direct TV (siaran TV Digital lewat setelit) dan menjadi leading
star
dalam siaran TV digital lewat satelit, kini telah meluncurkan DirectPC,
Internet lewat satelit, pada bulan November 1996 lalu. Dengan DirectPC
kecepatan akses menjadi 400 kbps. Bandingkan dengan kecepatan akses lewat
telepon yang cuma 28,8 kbps. Membuka sebuah homepage
yang penuh dengan gambar-gambar hanya akan dalam hitungan kejapan mata saja.
Seperti TV satelit digital, Internet lewat satelit juga memerlukan antena
piring yang kecil sebesar 21 inci yang diarahkan ke satelit di langit.
Memang antena DirectTV dan DirectPC belum dibuat menjadi satu, namun tahun
1997 ini juga antena ini dibuat cukup satu saja untuk TV dan Internet.
Meski harus membayar lebih mahal (US$ 758,80 untuk antena dan US$ 0,6 per
megabit data yang diakses) dibanding berlangganan melalui akses telepon,
Internet lewat satelit memang menjanjikan kecepatan download
super cepat yang untuk pengguna tertentu sangat dibutuhkan. Ada beberapa
paket berlangganan yang bisa dipilih seperti misalnya US$ 129,95/bulan untuk
akses tidak terbatas, US$ 39,95/bulan untuk akses tidak terbatas pada
jam-jam tertentu dan paket-paket lainnya. Seperti biasa harga ini masih bisa
turun pada beberapa waktu mendatang.
Sayang bagi yang berminat berlangganan Internet lewat satelit ini di
Indonesia belum bisa menikmatinya sekarang, namun saya yakin Indovision,
yang berencana mengudarakan 40 kanal siaran TV digital, dari sudut pandang
bisnis juga akan menyiapkan transpondernya untuk pengguna akses Internet
yang semakin menjadi tuntutan hidup. Konglomerasi di Indonesia memang pada
satu sisi menghasilkan kesenjangan kesempatan yang tajam, namun ada satu
sisi yang tanpa disadari berkilau mengisi ruang-ruang inforamsi yang masih
harus dipenuhi. (Jojo Rahardjo
, pengamat perkembangan teknologi multimedia, bekerja di sebuah stasiun TV
swasta/simbol pensil)