From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id NAA20052; Mon, 16 Dec 1996 13:09:37 -0500 (EST)
Subject: IN: MI - 'Manusia Jawa' Homo Erectus Termuda Dunia
X-URL: http://www.rad.net.id/online/mediaind/publik/9612/16/MI16-04.16.html
Senin, 16 Desember 1996
'Manusia Jawa' Homo Erectus Termuda Dunia
_________________________________________________________________
Washington (Antara/UPI): Homo Erectus alias 'Manusia Jawa' ternyata
hidup lebih lama dari dugaan semula. Kesimpulan ini terungkap dari
hasil penelitian tim dari Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat yang
dimuat di jurnal Science, edisi Jumat lalu.
Menurut Carl Swisher III, ketua tim penelitian ini, usia fosil Homo
Erectus yang ditemukan di dua situs di Pulau Jawa diperkirakan
berkisar antara 53.000 hingga 27.000 tahun.
Karena manusia purba jenis Homo sapiens diperkirakan mulai menghuni
Pulau Jawa dan kawasan Asia Tenggara sekitar 20.000 tahun silam, maka
berarti Homo Erectus dan Homo Sapiens pernah hidup dalam waktu yang
sama di Jawa. "Tapi kami belum menemukan bukti bahwa kedua manusia
purba ini pernah bertemu," kata Carl Swisher III, peneliti dari
Berkeley Geochronology Center itu.
Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa 'Manusia Jawa' adalah Homo
Erectus termuda di seluruh dunia.
Jika kesimpulan tim ini diterima oleh masyarakat ilmiah dunia, maka
hipotesa Out of Africa akan mendapat dukungan kuat dan hipotesa
'multiregional' mendapat pukulan.
Hipotesa Out of Africa menjelaskan bahwa leluhur manusia jenis Homo
Sapiens berasal dari Benua Afrika dan sekitar 250.000 tahun silam
menyebar ke seluruh penjuru dunia dan hidup bersama dengan manusia
purba jenis lainnya, Homo Sapiens di Asia dan Neandertal di Eropa.
Homo Erectus mudah dibedakan dari Homo Sapiens karena mempunyai otak
yang lebih kecil dan tulang-belulang yang lebih besar.
Para pakar antropologi penganut Out of Africa berpendapat Homo Erectus
tertua berasal dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun silam, kemudian
menyebar ke Asia dan Eropa sekitar 200.000 tahun silam. Beberapa
penemuan fosil manusia purba di Afrika, tahun lalu, semakin memperkuat
dukungan terhadap hipotesa ini.
Penganut paham Hipotesa 'multiregional' berpendapat bahwa Homo Sapiens
adalah hasil evolusi dari Homo Erectus, oleh karena itu kedua jenis
manusia purba ini tak mungkin hidup berdampingan pada saat yang sama.
"Sekarang semakin sedikit pakar antropologi yang berpendapat bahwa
setiap jenis manusia purba yang ada hidup pada waktu yang berbeda,"
kata Swisher.
Kendati para anggota tim Carl Swisher III ini merasa cukup yakin
terhadap akurasi pengukuran usia fosil mereka, pengukuran kedua kali
akan dilakukan segera. Untuk itu sejumlah peneliti akan kembali ke
situs di Jawa dengan maksud mendapatkan sejumlah fosil lagi yang akan
diukur dengan metoda radiocarbon. Metode ini dianggap lebih teliti
untuk mengukur fosil berusia di bawah 50.000 tahun dibandingkan metode
radioargon yang digunakan sebelumnya. Metode radioargon digunakan
karena sebelumnya fosil dari situs di Ngandong itu semula diperkirakan
berusia antara 300.000 hingga sejuta tahun.
Selain dari Universitas Berkeley dan Universitas Florida, AS, tim ini
juga beranggotakan para peneliti Kanada dari Universitas McMaster dan
pakar Indonesia dari Universitas Gadjah Mada dan Lembaga Geologi
Nasional di Bandung. (S-1)
_________________________________________________________________