IN: SBYP - Suku Bunga dan Prof Hab

From: indonesia-p@igc.apc.org
Date: Tue Nov 05 1996 - 17:22:00 EST


Subject: IN: SBYP - Suku Bunga dan Prof Habibie

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/11/05/01ANALIS.HTML

   UTAMA
   Selasa, 5 November 1996
   Surabaya Post
   
   Suku Bunga dan Prof Habibie
       
       
       
         _____________________________________________________________
                                        
       Analisis oleh Sjahrir
       [INLINE]
       [INLINE] Ada persamaan yang kuat antara kalangan usaha dengan Prof
       B.J. Habibie, Menteri Negara Riset dan Teknologi. Mereka sangat
       tak menyukai keadaan tingkat suku bunga yang tinggi.
       [INLINE] Keduanya beranggapan, suku bunga yang setinggi itu punya
       efek amat buruk bagi investasi, pertumbuhan ekonomi, dan
       pemerataan hasil pembangunan.
       [INLINE] Tapi barangkali persamaan itu tak menyebabkan ada
       kesepakatan bagaimana langkah yang harus diambil untuk menghadapi
       kondisi tingkat suku bunga tinggi itu.
       [INLINE] Saya sendiri menganggap tidak fair menilai pandangan Prof
       Habibie tentang suku bunga ini dari seminar-seminar ataupun muatan
       surat kabar yang mengutip pandangan beliau, dan mungkin saja
       konteksnya bisa berbeda dengan apa yang dia maksudkan.
       [INLINE] Walau begitu, saya mencoba merumuskan secara garis besar
       alasan Prof Habibie agar pemerintah, khususnya otoritas moneter,
       menurunkan tingkat suku bunga perbankan.
       [INLINE] Prof Habibie beranggapan, tak perlu suku bunga itu
       ditentukan oleh inflasi. Bisa saja dengan menurunkan suku bunga,
       inflasi ikut turun.
       [INLINE] Katakan for the sake of argument, (demi berargumentasi),
       kita terima pandangannya. Ada satu persoalan di sini, yaitu yang
       menyangkut nilai tukar rupiah.
       [INLINE] Meski Habibie mengakui, arus pemasukan modal juga
       ditentukan tingkat suku bunga di Indonesia, mungkin dia belum
       betul-betul menghayati potensi kepekaan tingkat suku bunga ini
       dalam kaitannya dengan arus pemasukan modal itu sendiri.
       [INLINE] Secara normal, sebetulnya perbedaan tingkat nilai tukar
       suatu mata uang adalah selisih tingkat inflasi dengan negara mitra
       dagang. Tapi dalam kenyataan tentulah situasinya tak sepersis itu.
       
       [INLINE] Dalam kasus Indonesia, situasinya lebih khusus lagi,
       karena sejak 1971, kita telah menganut sistem devisa bebas. Di
       sini nilai tukar rupiah amat ditentukan oleh keseimbangan
       permintaan dan penawaran antara rupiah dan mata uang yang
       dipertukarkan.
       [INLINE] Bisa dikatakan, kalau di Indonesia suku bunga turun,
       apalagi setajam penurunannya seperti yang diinginkan Prof Habibie,
       maka daya tarik untuk menaruh uang di Indonesia menjadi berkurang
       secara tajam. Keadaan itu berefek langsung pada terhentinya arus
       masuk modal (capital inflow).
       [INLINE] Apa artinya ini? Defisit neraca transaksi berjalan
       Indonesia yang seharusnya bisa dikompensasi dengan pemasukan
       modal, akan berhadapan dengan situasi baru, di mana yang terjadi
       justru keluarnya modal, karena tak adanya daya tarik suku bunga di
       Indonesia (capital outflow).
       [INLINE] Dalam posisi demikian, kita akan terpaksa memakai
       cadangan devisa. Bila ini terjadi, maka bunga yang dia peroleh
       sekitar 5%, sementara bank-bank devisa di sini menawarkan bunga
       dalam dollar AS di atas nilai itu.
       [INLINE] Begitu juga karena adanya rezim devisa bebas, bila
       seseorang menukarkan dollarnya dengan rupiah, dan menikmati bunga
       deposito berjangka dalam rupiah. Maka setelah kurun waktu
       --katakan-- satu tahun, dia menjual rupiahnya kembali dan membeli
       dollar serta menarik dollar itu ke negara asalnya, bisa
       dipastikan, perolehan dollarnya jauh lebih besar daripada bila dia
       menaruh dananya di negaranya sendiri. Ini pun setelah
       diperhitungkan perubahan nilai tukar terhadap dollar yang dalam
       setahun bergerak sekitar 5% depresiasi rupiah.
       [INLINE] Dari sudut ini memang ada kejengkelan, yang punya uang
       tinggal memberanakkan uang, sementara yang ingin investasi sulit
       sekali memperoleh dana dengan bunga rendah.
       [INLINE] Di pihak lain, para investor besar seperti konglomerasi
       biasanya mencari dana tidak dari dalam negeri, tapi justru dari
       luar negeri. Namun di sini pulalah persoalannya, karena memang
       yang punya akses pada dana-dana di luar negeri hanyalah
       konglomerasi besar itu.
       [INLINE] Jadi kejengkelan Habibie boleh dikatakan sama-sama kita
       sepakati sebagai kejengkelan yang genuine ataupun sangat bisa
       dimengerti semangatnya.
       [INLINE] Tapi cara yang ditawarkan Habibie untuk menurunkan
       tingkat suku bunga itulah yang menjadi persoalan. Kenapa? Karena
       begitu kita melakukan intervensi, maka suku bunga tak lagi
       mencerminkan harga uang, tapi harga uang yang ditetapkan
       pemerintah.
       [INLINE] Dalam posisi demikian, suku bunga akan mengalami keadaan
       excess demand atau kelebihan permintaan, dan sekaligus mengalami
       shortage of supply atau kekurangan persediaan. Bank Indonesia
       sekalipun tak bisa mengatasi gap ini kecuali dengan mencetak uang.
       
       [INLINE] Tapi begitu ada pencetakan uang, maka inflasi pun tak
       akan terhindarkan karena arus uang akan lebih cepat daripada arus
       barang, berhubung adanya proses peningkatan hard power money. Kita
       jangan melupakan apa yang disebut teori general equilibrium. Dalam
       teori general equilibrium, keseimbangan umum terjadi bilamana
       pasar uang dan pasar barang mencapai titik keseimbangan bersama.
       [INLINE] Setiap mahasiswa Fakultas Ekonomi mempelajari teori
       Keynes yang secara sederhana dijabarkan antara lain oleh Hansen
       dalam bukunya A Guide to Keynes, di mana keseimbangan pasar uang
       dan pasar barang terjadi.
       [INLINE] Maka, bukannya para ekonom itu cerewet bila persoalan
       yang selalu mereka tekankan adalah berlangsungnya distorsi ekonomi
       di sektor riil yang sepenuhnya menyebabkan pasar barang tak
       mengalir sebagaimana seharusnya, dan karenanya muncullah istilah
       high cost economy, monopoli, oligopoli, serta penentuan harga
       sepihak maupun keagenan khusus yang semuanya menghasilkan free
       rider dan distorsi.
       [INLINE] Ujung dari semuanya itu haruslah dipikul masyarakat dalam
       bentuk proses poduksi yang lebih mahal, dan harga barang yang
       lebih tinggi.
       [INLINE] Kalau itu terjadi, maka kebijaksanaan moneter ataupun
       penurunan suku bunga bukanlah panasea atau obat yang bisa
       menyembuhkan ekonomi Indonesia.
       [INLINE] Bila Prof Habibie bisa memahami pentingnya sektor riil
       ini, barangkali ia bisa mengkaji ulang pandangannya tentang
       tingkat suku bunga itu.
       [INLINE] Dr Sjahrir, staf pengajar Fakultas Ekonomi dan
       Pascasarjana Universitas Indonesia, Ketua Yayasan Padi dan Kapas,
       dan Managing Director ECFIN Jakarta.
         _____________________________________________________________