From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: SBYP - PDI dan PPP Siap Tampung 'Honda' yang Kecewa
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Sat Oct 26 00:55:04 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Sat, 26 Oct 1996 00:03:29 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610260403.AAA28686@access1.digex.net>
Subject: IN: SBYP - PDI dan PPP Siap Tampung 'Honda' yang Kecewa
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/10/25/16HONDA.HTML
UTAMA
Jum'at, 25 Oktober 1996
Surabaya Post
PDI dan PPP Siap Tampung 'Honda' yang Kecewa
Bangkalan - Surabaya Post
_____________________________________________________________
[INLINE] DPC PDI dan PPP Bangkalan akan menampung di antara 500
karyawan "honda" (honorer daerah) yang berniat tidak mendukung
Golkar pada Pemilu 1997 jika gagal lulus tes PNS (pegawai negeri
sipil). "Kami selalu siap menampung mereka jika mau 'loncat
pagar'. Mari kita berjuang bersama-sama untuk membesarkan PDI di
Bangkalan," ujar Ketua DPC PDI Bangkalan, Drs Suhudi, Jumat
(24/10) sore.
[INLINE] Dia berharap para "honda" itu datang ke kantor DPC PDI
Bangkalan yang baru di Jl. Ki Lemah Duwur No. 45. "Saya bersedia
untuk berdialog dengan mereka tentang persoalan yang sedang
dihadapi," katanya.
[INLINE] Lima Juta
[INLINE] Sementara itu KH Imron Fatah, pendukung berat PPP
Bangkalan, malah telah menyiapkan dana jutaan rupiah untuk para
karyawan honda yang mengancam "membelot" itu.
[INLINE] "Secara pribadi saya menyediakan uang Rp 5 juta, untuk
tahap awal kami berikan Rp 50 ribu/orang. Bagi saya demi kejayaan
PPP di Bangkalan tidak masalah mengeluarkan uang," jelasnya di
tempat terpisah.
[INLINE] Dia meminta kepada karyawan honda itu agar menunjukkan
kartu tanda tes PNS dan bersedia mengisi formulir. "Ya
hitung-hitung formalitaslah," katanya.
[INLINE] "Bagi mereka menjadi PNS sudah merupakan cita-citanya.
Sehingga mereka mau saja bekerja seperti PNS, walau gaji sedikit
yang mereka terima bertahun-tahun. Sehingga ancaman untuk
menggembosi Golkar pada pemilu mendatang, bisa terjadi," kata
Ketua FPDI H Abdullah Reksowidjoyo, di kediamannya, Jumat siang.
[INLINE] Tentang jalan keluarnya, menurut Abdullah Reksowidjoyo
untuk memecahkan persoalan "honda" selama ini, amat sulit.
Masalahnya anggaran Pemerintah untuk pegawai negeri sipil
terbatas, tidak mungkin menampung tenaga honorer yang jumlahnya
ratusan di setiap daerah tingkat II.
[INLINE] KH Syafiek Rofi'i melihat ancaman karyawan honorer itu
kurang realistis. Menurut dia seharusnya mereka berjiwa besar
kalau tidak diterima menjadi PNS, karena perekrutannya melalui tes
secara bersama-sama. (kas)
_____________________________________________________________