From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: KMP - Direksi Astra: Terserah Pemegang Saham
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Oct 23 00:40:45 1996
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Date: Wed, 23 Oct 1996 11:02:03 +1000 (EST)
From: indonesia-p@igc.apc.org
Message-Id: <199610230102.LAA01138@oznet02.ozemail.com.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: KMP - Direksi Astra: Terserah Pemegang Saham
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
http://www.kompas.com/9610/23/UTAMA/dire.htm
Kompas Online
Rabu, 23 Oktober 1996
_________________________________________________________________
Saham Astra Kembali Menguat di Bursa
Direksi: Terserah Pemegang Saham
Jakarta, Kompas
Presiden Direktur PT Astra International (AI), TP Rachmat menegaskan,
segala sesuatu yang akan terjadi dengan masuknya dua investor baru
dalam Astra, tergantung para pemegang saham. Pada prinsipnya,
manajemen hanya menjalankan keputusan pemegang saham melalui rapat
umum pemegang saham (RUPS), sebagai lembaga tertinggi dalam sebuah
perusahaan.
Penegasan TP Rachmat ini menjawab wartawan, bagaima-na sikap manajemen
AI yang selama ini dikenal solid dan kompak, jika kehadiran Putera
Sampoerna dan PT Nusantara Ampera Bhakti (Nusamba) hendak mengubah
manajamen. "Itu hak pemegang saham. Kami hanya menuruti kehendak
pemegang saham," ujar TP Rachmat dalam jumpa pers di Jakarta, hari
Selasa (22/10).
Mengenai pendapatnya tentang masuknya kedua investor itu dalam Astra,
TP Rachmat tidak memberikan penilaian. Ia hanya menyatakan keluar
masuknya investor dalam suatu perusahaan publik, adalah hal yang
normal. "Keluar masuknya investor merupakan hal yang biasa,"
tambahnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Rini MS Suwandi, hanya menjawab
singkat, "... baik-baik saja, "atas pertanyaan yang sama. Sedangkan
Vice President AI, Palgunadi menambahkan, "Kita jangan
mengandai-andai. Kita juga tidak tahu pasti apakah besok matahari
masih akan terbit."
Ini merupakan jumpa pers pertama manajemen AI sejak maraknya perburuan
saham AI bulan Juli di Bursa Efek Ja-karta. Jumpa pers oleh direksi AI
lengkap itu, diikuti puluhan wartawan dalam dan luar ne-geri. Kursi
yang disediakan tidak cukup menampung wartawan yang hadir, sehingga
banyak yang terpaksa berdiri dan mendengarkan penjelasan manajemen
dari luar ruangan.
Rini MS Suwandi menyatakan jumpa pers ini tidak ada kaitannya dengan
maraknya perburuan saham AI di BEJ, dan mendapatnya peringkat A- (A
minus) efek utang jangka panjang AI dari PT Pemeringkat Efek Indonesia
(Pefindo). "Ini hal rutin kami lakukan untuk menjelaskan kinerja
perseroan," katanya.
Dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) hari Selasa (22/10) dilaporkan, kurs
saham Astra dalam perdagangan hari itu, kembali menguat Rp 250 pada
harga penutupan Rp 4.250 per saham di pasar reguler dengan transaksi
sebanyak 5.059.000 lembar saham. Di papan asing, transaksi hanya
sebanyak 846.500 saham. Sementara di papan tutup sendiri, transaksi
lebih besar, sebanyak 5,6 juta saham pada harga Rp 4.675
Peringkat A Minus
Di tengah sorotan publik terhadap perburuan saham Astra, perusahaan
itu memperoleh peringkat A- dengan outlook developing untuk efek utang
jangka panjang yang akan diterbitkan dalam waktu dekat. Peringkat itu,
merupakan hasil peringkat tertinggi yang pernah diberikan PT
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kepada perusahaan swasta
Indonesia.
Menurut Farid Hariyanto, Direktur Utama Pefindo, dalam jumpa pers hari
Selasa (22/10) di Jakarta, selain AI sebagai holding, tiga anak
perusahaan yang juga ikut diperingkat mendapat peringkat yang cukup
tinggi. Dua anak perusahaannya, Astra Swadaya Finance dan Federal
Motor juga mendapat peringkat A-. Sedangkan United Tractor mendapat
peringkat BBB+.
"Ini pemeringkatan yang paling kompleks, sebab tidak kurang dari 13
anak perusahaan juga ikut diperingkat dengan industri yang
berbeda-beda. Dan bagi Pefindo ini merupakan pemeringkatan ke-100
sejak Pefindo berdiri tahun 1994," ujar Farid.
Dalam kriteria pemeringkatan Pefindo, peringkat A-, berarti efek utang
AI senilai 200 juta dollar AS merupakan efek utang yang berisiko
rendah dan berkemampuan untuk membayar bunga dan pokok utang sesuai
yang dijanjikan dan hanya sedikit yang dipengaruhi perubahan keadaan
yang merugikan.
Menurut Farid, kestabilan keuntungan AI teruji pada semester pertama
1996 pada saat kinerja divisi mobil mengalami penurunan tetapi secara
keseluruhan namun AI tetap membukukan peningkatan keuntungan dibanding
Desember 1995. Hal ini ditunjukkan dari keberhasilan AI membukukan
return on equity sebesar 17,6 persen untuk semester pertama 1996.
Indikator ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir
yang hanya 15,4 persen. Kinerja tersebut tercapai karena adanya
pengendalian biaya yang baik dan gross profit margin yang cukup
tinggi. Di samping itu, AI menerapkan kebijakan keuangan yang relatif
konservatif.
Dalam jangka panjang, menurut Farid, kebijakan mobil nasional dapat
dimanfaatkan AI memetik manfaat mengingat posisi pasar AI yang kuat.
Mengenai masuknya investor baru ke dalam AI, Farid menyatakan terlalu
dini untuk mengevaluasi dampaknya, mengingat belum jelasnya tindakan
yang akan diambil oleh investor baru tersebut.
Tetapi Farid menambahkan, bila investor baru tetap mempertahankan atau
bahkan memperkukuh berbagai faktor positif yang menjadi pertimbangan
Pefindo dalam pemeringkatan ini, Pefindo akan menyambut positif
perkembangan tersebut. Sebaliknya, kata Farid, bila investor baru
mengambil langkah yang dapat mengurangi atau meniadakan kekuatan yang
dimiliki AI termasuk kebijakan keuangan yang hati-hati dan atau faktor
keunggulan yang lain, Pefindo akan memberi penilaian yang negatif.
Meningkat 13,7 persen
Berdasarkan data per 31 Juli 1997 kinerja keuangan AI menunjukkan
kinerja yang membaik. Terutama dalam kemampuan meraup penjualan
bersih, setelah perusahaan publik melakukan konsolidasi.
Menurut catatan yang telah diaudit nilai penjualan bersih beserta anak
perusahaannya Rp 7,81 trilyun atau meningkat 13,7 persen dibanding
periode lalu Rp 6,87 trilyun. Laba bersih selama tujuh bulan pertama
1996 mencapai 248 milyar, yang berarti mengalami kenaikan sampai 17,8
persen.
Laba bersih ini meningkat lagi menjadi Rp 341 milyar pada September
1996. Manajemen memproyeksikan laba bersih pada akhir tahun 1996
mencapai Rp 450 milyar, yang terus meningkat hingga menjadi Rp 1,58
trilyun pada tahun 2000 nanti.
Kontribusi terbesar dari laba bersih ini diperoleh dari otomotif, yang
mencapai penjualan sebanyak 88.730 unit yang berasal dari enam merek,
yakni Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peugeot, BMW dan Nissan (truk).
Sementara sepeda motor merek Honda mencapai penjualan 349.471 unit.
Angka ini berkembang menjadi 115.542 unit untuk otomotif dan sepeda
motor 471.320 unit. Membaiknya pasar dengan sendirinya mendongkrak
total penghasilan AI menjadi Rp 9,9 trilyun pada September 1996.
"Saya perkirakan volume penjualan mobil Astra sampai dengan kurun
waktu 1996 akan sekitar 168.000 unit dan sepeda motor Honda 615.000
unit. Dengan proyeksi itu, maka penghasilan bersih AI Rp 14,2 trilyun.
Itu berarti laba bersih AI juga akan meningkat menjadi Rp 450 milyar,"
ujar Presdir TP Rachmat.
Pada prinsipnya sampai saat ini, manajeman AI yang dikendalikannya tak
akan mengubah strategi, yang bertumpu pada bisnis otomotif. Kendati
terjadi perubahan komposisi kontribusi dari hasil penjualan bersih AI
dari divisi otomotif maupun sepeda motor yang terus menurun pada tahun
2000 nanti.
Hal ini, kata TP Rachmat, bukan karena industri otomotifnya yang
mundur atau terjadi pergeseran strategi, tetapi divisi lain yang sudah
direncanakan sejak lima tahun lalu mulai berkembang. Misalnya seperti
agrobisnis, keuangan dan sebagainya yang intinya nonotomotif.
"Jadi secara absolut angka dari divisi tidak menurun, tetapi
persentase kontribusinya yang menurun. Sementara sektor agrobisnis
yang selama ini kecil persentasenya akan mulai berkembang pada tahun
2000 nanti, sehingga kontribusinya menjadi membesar," ujar sang
Presdir.
Malahan pihak manajemen merencanakan untuk melakukan go public pada
tiga sektor bisnis setelah semua konsolidasi ini mapan. Ketiga sektor
itu adalah industri komponen, agroindustri, dan Bank Universal.
Khusus untuk komponen akan dilakukan penggabungan dari beberapa
industri komponen yang ada di AI, kemudian dijadikan holding sendiri
dan baru di go public-kan. Demikian pula pada agroindustri dan Bank
Universal-nya. (dis/ast)