From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Subject: IN: SBYP - Onghokham: Makanan Juga Membedakan Status Politik
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Mon Oct 21 05:40:54 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Mon, 21 Oct 1996 03:48:30 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610210748.DAA12548@access2.digex.net>
Subject: IN: SBYP - Onghokham: Makanan Juga Membedakan Status Politik
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-P
X-within-URL: http://www.surabayapost.co.id/96/10/20/04ONG1.HTML
SENI HIBURAN
Minggu, 20 Oktober 1996
Surabaya Post
Dr Onghokham: Makanan Juga Membedakan Status Politik
Penampilan Dr Onghokham masih saja seperti dulu: serba santai dan
cuek. Ketika bertandang ke kantor redaksi Surabaya Post, beberapa
waktu lalu, misalnya, sejarawan senior dari Fakultas Sastra
Universitas Indonesia ini hanya mengenakan sepatu sandal, baju
merah muda lengan pendek yang dua kancing atasnya dibuka.
Laki-laki kelahiran Surabaya, 1 Mei 1933 ini "dibajak" Surabaya
Post untuk berdiskusi dengan redaksi ketika sedang mengunjungi
keluarganya di Surabaya dan Malang. Seusai diskusi yang membahas
aneka topik, mulai sejarah, gerakan rakyat, sampai politik
Indonesia kontemporer, Pak Ong --begitu ia biasa dipanggil--
menyempatkan diri ngobrol ngalor-ngidul dengan wartawan Surabaya
Post Nanang Krisdinanto tentang hobi beratnya: masakan dan
makanan. Berikut petikannya.
_____________________________________________________________
[INLINE] Saya dengar-dengar, sebagai penggemar memasak dan makanan
Pak Ong pernah mengulas latar belakang sosiologis makanan atau
perilaku makan orang/komunitas tertentu. Misalnya, mengapa orang
Jawa Tengah suka makanan manis dan orang Madura suka asin. Atau
kenapa ada kelompok yang makan tangan dan yang lain pakai sendok,
sumpit, garpu, dan sebagainya...
[INLINE] Saya kira, manis atau asin tergantung dari daerahnya
menghasilkan apa. Di Jawa kan banyak perkebunan tebu, yang di
kemudian hari tak lagi menguntungkan akibat krisis ekonomi. Kalau
Madura memang terkenal garamnya. Dan orang Jawa sejak awal memang
tidak mengenal alat makan tertentu, ya pakai tangan itu. India
juga begitu.
[INLINE] Itu memang tergantung peradabannya. Peradaban Cina
tergantung pada sumpit. Yang kompleks itu peradaban Barat. Tak ada
peradaban lain yang peralatan makannya begitu rumit selain Barat.
Dan itu berkembang kira-kira mulai abad ke-15.
[INLINE] Mengapa kok peradaban Barat punya peralatan makan yang
sangat rumit?
[INLINE] Nggak tahu. Apa cuma kebetulan atau apa saya nggak tahu.
Tapi yang jelas, di Barat alat makan itu menunjukkan statusnya.
Bahkan cara makannya sendiri juga berkait dengan struktur sosial.
Sementara di Cina, misalnya, alat makan tidak menunjukkan status
sosial.
[INLINE] Di Indonesia, apa alat makan juga menyiratkan status
sosial?
[INLINE] Tidak. Tapi itu berkembang lewat cara lain. Umpamanya
dengan pakaian, emas-berlian, dan sebagainya. Pembedaan status
juga dengan sarana simbol-simbol. Contohnya di Cina atau Jawa,
simbol naga menjadi sangat penting. Mengapa kok beda-beda saya
tidak tahu.
[INLINE] Dengan nada guyon, dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul
Umar Kayam pernah menyebut "nasi Padang kontekstual". Di tempat
asalnya, nasi Padang itu pedas dan nasinya banyak. Tapi ketika
dibawa ke Jawa, porsi nasinya menjadi sedikit dan tidak pedas.
[INLINE] Ada juga saya kira latar belakang sosiologisnya. Makanan
berkelebihan daging atau lemak itu menunjukkan tingkat kemakmuran
dan kekayaan. Misalnya, makanan Cina yang asli itu lain dengan
makanan Cina di perantauan. Di perantauan, yang sangat
dipentingkan jumlah daging dan ikannya. Sementara di Cina, ikan
atau babi hanya untuk bumbu. Jumlahnya sedikit lagi.
[INLINE] Dari dulu, negeri Cina sudah berpengalaman berpenduduk
padat. Artinya, mereka harus berhemat sekali dengan jumlah
produksi agraria dan peternakan. Saking hematnya, ikan atau daging
hanya bisa dipakai sebagai bumbu.
[INLINE] Tapi inilah cerdasnya orang Cina. Keterbatasan itu tidak
menimbulkan pengurangan mutu makanan. Variasi makanan Cina kan
sangat besar, meski daging dan ikannya tidak untuk dimakan sebagia
inti makanan. Sedangkan orang Cina di perantauan bisa, karena
mereka memang lebih makmur.
[INLINE] Kelihatannya, tiap kelompok masyarakat selalu punya
tradisi tertentu yang berhubungan dengan makanan...
[INLINE] Tradisi itu memang ada dalam berbagai bentuk. Tapi saya
kira, makanan bukan cuma sekadar untuk makan, untuk mengisi perut.
Makanan itu juga menunjukkan berbagai gejala budaya, selera,
perekonomian, kepadatan penduduk, dan seterusnya. Makanan ini kan
hasil dari keseluruhan masyarakat juga, struktur sosial dan segala
macam.
[INLINE] Contohnya?
[INLINE] Nasi tumpeng, nasi kuning, atau kebuli misalnya. Kalau di
Barat kue tart, ya kue untuk ulang tahun, perkawinan, dan
semacamnya. Dan itu semua berakar pada budaya masing-masing
masyarakatnya. Warna kuning misalnya, itu warna kerajaan Jawa.
Tumpeng itu ada hubungannya dengan kultus lingga dan yoni, seperti
juga monumen nasional kita ha... ha... Gedung DPR kita kan juga
begitu, bentuk atapnya kan yoni... Format arsitektur ibu kota kita
itu porno sekali lo ha... ha...
[INLINE] Ada beberapa hotel di Surabaya yang menggelar pameran kue
bulan dari Cina. Itu bisa dibaca sebagai bisnis tradisi tidak?
Dalam arti, tradisi makanan pun bisa dibisniskan...
[INLINE] Ya... Itu memang bisnis besar. Dari dulu memang begitu,
entah itu makanan Cina, Jawa, atau yang lain. Sejak ada
perekonomian, baik perekonomian tradisional maupun modern, itu
sudah ada. Cuma alat-alat dan produkinya saja yang beda, tapi
sebetulnya sama. Omong kosong kalau dikatakan demi gotong royong
atau apa pun. Itu sama saja, buntutnya demi duit saja ha... ha...
[INLINE] Ada yang bilang, makanan itu ada juga hubungannya dengan
politik/kekuasaan. Misalnya pejabat atau instansi pemerintah kan
banyak yang hobi menggelar gelar makanan tradisional. Ada yang
melihat itu bukan sekadar untuk menggali kearifan tradisional,
tapi juga sebagai salah satu alat mencari legitimasi.
[INLINE] Ya itu selalu dong. Makanan itu kan juga membedakan
status politik, sosial, dan perubahan zaman. Yang paling jelas ya
status ekonomi. Nasi kuning, tumpeng tadi itu kan contohnya.
Warnanya kan warna kerajaan. Saya kira pula, acara seperti pameran
itu nggak ada hubungannya dengan upaya penggalian nilai kearifan
tradisional. Itu lebih untuk turisme, sekadar ramai-ramai, atau
nostalgia...
[INLINE] Di zaman orde lama kan pernah ada seruan agar rakyat
Indonesia makan jagung. Apa itu juga bisa dibaca sebagai penetrasi
kekuasaan ke dalam makanan atua perilaku makan?
[INLINE] Ya pasti. Sejak Hindia Belanda, orang-orang memang sudah
berusaha mencari makanan pengganti beras. Dilihatnya orang Jawa
ini terlalu banyak makan beras dan hanya mau makan beras. Produksi
beras dikhawatirkan nggak cukup. Nah daripada nggak cukup suruh
saja makan yang lain. La daripada mahal-mahal impor beras dan
memboroskan devisa negara...
[INLINE] Terus kenapa kok orang Jawa nggak bisa lepas dari beras?
[INLINE] Mungkin karena dipaksa pemerintah tidak makan beras,
malahan akhirnya nggak bisa lepas dari beras ha... ha...
[INLINE] Kalau orang Jawa dipaksa makan selain beras, kira-kira
akibatnya apa?
[INLINE] Ya bagaimana, wong beras masih bahan makanan paling murah
di pasaran dunia. Lagi pula untuk apa makan selain beras kalau
nggak senang.
[INLINE] Tapi kalau di perkotaan orang --termasuk Jawa-- kan
begitu gampang berpindah selera makan. Makanan Barat, Jepang,
Korea, begitu gampang diterima...
[INLINE] Itu memang karakteristik kota. Di mana pun itu terjadi,
di AS, Inggris, ataupun di Tokyo. Itu memang sifat orang kota.
Kota itu kan pewaris semua tradisi di dunia. Di Jakarta apa saja
dimakan. "Manusia Indonesia baru" kan mencoba apa saja termasuk
makanan. Itu juga kan bagian dari imperialisme Barat ha... ha...
[INLINE] Konon kabarnya, makanan paling enak di dunia itu makanan
Cina...
[INLINE] Selain Prancis, makanan yang paling terkenal paling enak
di dunia memang Cina. Karena, variasinya besar, kreatifitasnya
luar biasa, dan sangat halus. Bangsa Cina dan Prancislah yang
menemukan makanan yang bukan sekadar untuk dimakan, tapi lebih
penting lagi untuk dirasakan. Di Prancis itu sejak abad 15, di
Cina kayaknya lebih tua. Masakan Cina dan Prancis itu kan ibarat
mobil. Nah bagaimana pun, mobil itu lebih cepat dan lebih nyaman
dari cikar kan ha... ha...
[INLINE] Pak Ong sendiri sukanya makanan apa?
[INLINE] Tergantung, nggak bisa dipastikan. Kalau ke Surabaya
pagi-pagi ya soto ayam Ambengan. Kalau di Yogya ya gudeg. Kalau
masaknya saya suka masak bandeng bakar yang besar. Saya masak cuma
untuk saya sendiri dan tamu-tamu yang saya undang.
[INLINE] Masyarakat Indonesia/Jawa kayaknya nggak punya tradisi
mengundang makan malam ya?
[INLINE] Saya ndak tahu ya. Tapi di masyarakat Betawi, orang hanya
datang, makan, langsung pergi. Pada resepsi-resepsi perkawinan itu
sangat terlihat. Tradisi jamuan makan saya kira memang nggak ada.
Di Jawa juga begitu, nggak ada tradisi makan bersama-sama kecuali
pada acara slametan. Makanan ditaruh saja di meja, siapapun
tinggal ngambil. Nggak ada jam makan tertentu. Makannya
sendiri-sendiri, tidak bersama-sama. Interaksi sosial lebih banyak
dibangun di tempat lain, seperti ketika nonton wayang kulit,
slametan. Makan tidak dianggap sebagai bagian dari sarana
interaksi sosial. (***)
[INLINE]
_____________________________________________________________