IN: RPK - Ada Udang Dibalik Nobel

From: apakabar@access.digex.net
Date: Mon Oct 14 1996 - 08:25:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Mon Oct 14 00:28:44 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Sun, 13 Oct 1996 20:46:30 -0400 (EDT)
From: indonesia-l@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199610140046.UAA27919@access3.digex.net>
Subject: IN: RPK - Ada Udang Dibalik Nobel
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-L

X-within-URL: http://www.republika.co.id/9610/14/14BELO.07.html

                          Republika Online [LINK]
                                  [ISMAP]
                           Senin, 14 Oktober 1996
                                      
                          Ada Udang Dibalik Nobel
                                      
                                      
   Kota Dili, Timor Timur beberapa pekan belakangan ini tengah bersolek.
    Ruas jalan antara Bandara Komoro menuju kota diperlebar dan aspalnya
    kembali dipoles. Di halaman kantor gubernuran yang menghadap ke laut
                     dibangun sebuah rumah adat Timtim.
                                      
    Warga Timtim memang tengah bersiap menerima tamu agung. Direncanakan
    pertengahan bulan ini Presiden Soeharto akan berkunjung ke propinsi
   termuda itu setelah 20 tahun berintegrasi. Sejumlah proyek pembangunan
    senilai Rp 90 miliar akan diresmikan oleh kepala negara di bumi Loro
     Sae itu. Proyek itu antara lain jalan negara sepanjang 328 km dari
     Motain menuju Lospalos, 25 buah jembatan dan jalan sepanjang 1.825
                                   meter.
                                      
   Salah satu di antaranya adalah patung Kristus Raja yang bertengger di
     sebuah bukit di Tanjung Fatumaca, delapan kilometer sebelah timur
     Dili. Patung yang kabarnya kedua terbesar setelah patung serupa di
      Brazil itu, merupakan proyek pembangunan swadaya masyarakat dan
     pemerintah yang kabarnya menelan biaya sebesar Rp 4 miliar lebih.
                                      
     Selain itu yang cukup penting juga, Pak Harto akan mendapat gelar
     sebagai 'Bapak Integrasi'. Gelar yang diberikan atas jasa-jasanya
    dalam proses integrasi dan juga pembangunan di Timtim tersebut telah
      disetujui dalam sebuah Sidang Paripurna DPRD, Kamis pekan lalu.
      Disamping itu jalan antara bandara Komoro ke kota Dili juga akan
               berubah nama menjadi Jalan Ibu Tien Soeharto.
                                      
    Semua kegiatan tadi menunjukkan betapa wilayah yang sering diguncang
      berbagai kerusuhan tersebut, merupakan bagian integral yang tak
   terpisah dari wilayah RI lainnya. Begitu besarnya perhatian pemerintah
      pusat, bahkan seperti kata Gubernur Abilio Soares, sering sampai
                          melupakan wilayah lain.
                                      
   Di tengah suasana hangat seperti itulah berita yang cukup mengejutkan
   tersebut muncul. Komite pemberian hadiah Nobel mengumumkan Uskup Belo
     dan Ramos Horta yang dikenal gigih menentang integrasi memenangkan
      hadiah Nobel Perdamaian. Sebuah hadiah yang selama ini dianggap
   prestius dan diberikan kepada beberapa tokoh dunia yang menyumbangkan
                proses perdamaian diberbagai belahan dunia.
                                      
   Sudah bisa diduga, jika pemberian hadiah tersebut menimbulkan berbagai
     reaksi. Hampir semua, baik pejabat pemerintah, tokoh Timtim maupun
   para pengamat politik menganggap pemberian penghargaan tersebut tidak
              tepat dan sarat mengandung pertimbangan politis.
                                      
   Mensesneg Moerdiono, meskipun dalam kapasitas pribadi, adalah pejabat
    yang pertamakali menyuarakan keheranannya. Kendati begitu menurutnya
      masalah tersebut tak akan membatalkan rencana kunjungan presiden
                                  kesana.
                                      
   Yang menarik hampir semua komentar menyatakan ketidaksetujuannya bila
   seorang petualang politik seperti Horta mendapat penghargaan tersebut.
   "Saya sungguh pertanyakan apa kriteria yang dipakai oleh komite hadiah
                       Nobel kali ini," kata Alatas.
                                      
     Alatas menduga dan itu agaknya sangat beralasan, pemberian hadiah
       tersebut lebih menggunakan kriteria politis ketimbang kriteria
     sumbangan perdamaian. Apalagi seperti dikatakan oleh ketua panitia
     pemberian hadiah, bahwa hadiah kali ini merupakan Political Prize.
                                      
    Tak heran bila kemudian Alatas menyayangkan komite pemberian hadiah
     Nobel yang telah bersikap partisan. Gubernur Timtim Abilio Soares
   menduga Portugal lah yang berada dibalik rekayasa semacam itu. "Ramos
        Horta tak pantas menerima penghargaan semacam itu," katanya.
                                      
     Menurut Soares, Horta adalah tokoh yang terlibat dalam menciptakan
    perang saudara di Timtim. Ia dan partainya Fretilin juga bertanggung
    jawab atas pembunuhan, pemukulan dan juga penahanan terhadap rakyat
                                  Timtim.
                                      
     Meski tak menunjuk langsung siapa yang bertanggung jawab, pengamat
      politik Dr Bachtiar Effendy, setuju adanya semacam rekayasa dari
       beberapa negara maju untuk menekan negara berkembang termasuk
                                 Indonesia.
                                      
     Walau tak akan berpengaruh langsung dan berjangka panjang, menurut
     Bachtiar, pemberian hadiah Nobel itu untuk sesaat dapat mengganggu
     proses integrasi yang sedang berjalan. "Setidak-tidaknya isu Timor
           Timur akan kembali mendapat perhatian dunia," katanya.
                                      
       Agak berbeda dengan beberapa kalangan yang menilai penghargaan
      tersebut tak pantas bagi Horta, sikap yang berbeda ketika mereka
    mengomentari soal Belo. Anggota Komnas HAM Clementino Do Reis Amaral
   menganggap Belo cukup pantas menerimanya, demikian pula halnya dengan
                    anggota DPR Salvador Simenes Soares.
                                      
   Yang sedikit agak berbeda adalah Dubes keliling Lopes da Crus. Dia tak
      secara tegas menyatakan persetujuannya, tapi ia menyatakan dapat
      menerima dan tidak keberatan. Soal layak atau tidak, dia tak mau
    berkomentar, karena soal itu adalah urusan panita pemberian hadiah.
     Demikian pula halnya dengan Gubernur Timtim Abilio Soares. Secara
      diplomatis ia menyatakan, bila dasar pertimbangannya menyangkut
    masalah HAM, ia sependapat. Tapi kalau pertimbangannya politis tentu
                             saja tidak tepat.
                                      
     Berbeda dengan para pejabat dan tokoh lain yang terkesan hati-hati
    dalam menanggapi soal Belo, Ketua DPRD Timtim Antonio Frietas Parada
   secara tegas menilai penghargaan itu juga tak pantas buat Belo. Parada
   mengaku tak melihat satu kegiatan yang menonjol dari Belo sehingga ia
   pantas menerima hadiah tersebut. Ia mengakui bahwa sebagai Uskup, Belo
   cukup dihormati. Kendati begitu menurutnya tidak semua yang diperbuat
                              oleh Belo baik.
                                      
     Meskipun tak merinci lebih jauh pernyataan Parada tersebut agaknya
   seperti mengingatkan kembali akan posisi Belo yang beberapa waktu lalu
   oleh sebagian kalangan dianggap tak begitu mendukung proses integrasi.
   Meskipun kecurigaan tersebut sudah dibantah, tapi toh tak dapat begitu
                      saja menghapus kesan minor tadi.
                                      
       Apalagi kemudian pada paruh akhir tahun lalu, Timtim diguncang
   berbagai kerusuhan rasial yang cukup menggegerkan. Sejumlah pendatang
   diusir dari wilayah tersebut dan sejumlah tempat ibadah umat Islam dan
   Protestan dirusak oleh massa. Belo oleh sejumlah kalangan dinilai tak
                  cukup membantu meredam gejolak tersebut.
                                      
     Apalagi pasca peristiwa tersebut, Belo sempat mengeluarkan sebuah
   pernyataan yang cukup menggegerkan. Dalam wawancaranya dengan majalah
    mingguan Gatra, Belo menyebut keinginannya menjadikan Timtim sebagai
    Daerah Khusus Katolik. Wawancara tersebut mendapat reaksi yang cukup
    luas. Umumnya mereka menyayangkan pernyataan Belo yang dianggap tak
      begitu memahami konstitusi dan kehidupan bernegara di Indonesia.
    Gara-gara hal itu Belo bahkan sempat dimintai keterangan oleh aparat
                                  militer.
                                      
    Namun melalui Vikaris Jenderal Keuskupan, Mgr Jose Antonio da Costa,
       membantah bila Belo menginginkan wilayah khusus katolik. Yang
     dimaksudkan daerah khusus oleh, kata da Costa , adalah "masyarakat
     khusus di mana pemeluk Katolik predominan, di mana jug a ada orang
   yang beragama Protestan dan Islam. Akan tetapi perhatian khusus harus
     diberikan kepada identitas religius, historis dan kultural rakyat
                               Timor Timur."
                                      
      Pihak Belo menyebut bahwa wartawan majalah tersebut salah kutip.
    Sejumlah tokoh Katolik termasuk Frans Seda juga meragukan jika Belo
    pernah mengucapkan kalimat tersebut. Namun setelah mendengar rekaman
    asli hasil wawancara, mereka berubah sikap dan menyatakan pandangan
                                Belo salah.
                                      
    Dengan berbagai latar belakang persoalan di atas, maka wajarlah jika
     Indonesia mencurigai ada 'sesuatu' dibalik pemberian hadiah tadi.
      Kendati hal tersebut tak akan berpengaruh besar, tapi sedikitnya
       banyak dapat mengganggu ketenangan warga Timtim. &#127 wot/bur