From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>
Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Sun Sep 29 21:23:47 1996
Content-Type: TEXT/PLAIN; charset=US-ASCII
Date: Mon, 30 Sep 1996 09:21:40 +1000 (EST)
From: indonesia-l@igc.apc.org
Message-Id: <Pine.HPP.3.91.960930091843.28686L-100000@cheops.anu.edu.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: Re - PRD Komunis? (was: Media yg semakin steril)
To: apakabar@clark.net
X-Sender: vklinken@cheops.anu.edu.au
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
INDONESIA-L
Date: Sun, 29 Sep 1996 00:04:09 -0500
From: Farid Gaban <alifart@rad.net.id>
To: apakabar@clark.net
Subject: FG untuk Jusfiq Hadjar
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Ma(ra)jo Lelo
> > Date: Wed, 25 Sep 1996 03:39:05 -0500
> > From: Farid Gaban <alifart@rad.net.id>
> > To: apakabar@clark.net
> > Subject: Komentar FG tentang Media Yang Semakin Steril
> >
> > Namun, setelah membaca Manifesto PRD, saya berkesimpulan
> > ada banyak jejak perspektif gerakan komunis di situ.
Jusfiq Hadjar:
> PRD komunis?
Farid Gaban:
Untuk tidak menimbulkan salah paham, seperti saya sertakan dalam posting
yang lalu, saya menyebut ''perspektif gerakan komunis'' dalam konotasi
netral.
Meski baru berusia empat tahun ketika G30S marak, saya paham istilah
''komunis'' sulit menjadi netral mengingat konteks sejarah Indonesia
yang traumatis itu -- tidak netral baik bagi pengritik maupun
pendukungnya. Itu sebabnya saya mencoba bersikap hati-hati.
Namun, dalam kaitan dengan PRD, menurut saya, salah satu cara paling
fair untuk menilai sebuah gerakan adalah dengan mengkaji ''konstitusi''
gerakan itu sendiri. Dan ini sebuah point penting.
Saya melihat ada banyak orang sekadar mengecam atau mendukung PRD tanpa
pernah membaca Manifesto-nya. Manifesto itu disebarkan ketika PRD
diproklamirkan secara terbuka pada pertengahan Juli 1996.
> Entahlah!
FG: Saya pun tidak secara definit mengatakan PRD adalah komunis.
> Saya juga belum sempat meluangkan waktu untuk membaca
> Manifesto PRD.
FG: Sebuah pengakuan yang jujur. Saya pikir Anda sudah membacanya?
Sebagai kampiun, Anda -- saya yakin -- bisa mendapat informasi tentang
hal-hal yang sama sekali tidak rahasia seperti ini.
> Sayangnya anda tidak menyertakan alasan anda untuk sampai ke
> kesimpulan itu, sehingga kesimpulan anda itu hanya bisa saya
> anggap, untuk sementara, sebagai omong kosong doang.
FG: Saya ingin mempertanggungjawabkan kesimpulan itu, meski saya
memiliki ''cadangan perasaan'' [saya memakai perasaan di samping otak]
untuk tidak menganggap komentar saya sebagai kebenaran absolut. Berikut
ini beberapa bahan yang bisa didiskusikan:
PRD TENTANG SISTEM MULTIPARTAI
Dalam sebuah wawancara dengan Forum Keadilan beberapa hari menjelang
Kerusuhan 27 Juli, Budiman Sujatmiko, Ketua Umum PRD, mengatakan antara
lain: ''Tujuan dan program kami adalah demokratisasi multipartai,
demokrasi parlementer. Buktikan bahwa kami komunis.''
Benar, Manifesto PRD menyebut tentang ''demokrasi multi-partai dan
parlementer'' itu. PRD bahkan juga mengakui eksistensi agama serta
partisipasi swasta.
Kutipan ini tidak bisa dipakai sebagai satu-satunya indikasi bahwa PRD
adalah komunis. Namun, pada saat yang sama, itu tidak bisa menjadi
satu-satunya argumen untuk menangkis tudingan bahwa PRD adalah komunis.
Partai-partai komunis di Eropa Timur sekarang ini ikut dalam pemilihan
umum dan artinya mengakui sistem multipartai serta demokrasi
parlementer. Mereka juga mengakui eksistensi agama serta partisipasi
swasta.
PRD TENTANG AMIR SYARIFUDDIN
Manifesto PRD memberi tempat agak khusus kepada Amir Sjarifuddin --
Ketua Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).
PRD menyebut Amir sebagai ''orang paling konsisten anti-fasisme''. Amir,
begitulah menurut Manifesto PRD, rela mendekam dalam penjara sementara
kaum priyayi justru berkompromi dengan fasisme Jepang. Soekarno-Hatta
masuk dalam kategori ''kaum priyayi'' itu.
Siapakah Amir? Amir pernah dipenjara di masa pendudukan Jepang, Menteri
Penerangan (1945), dan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan
(1947-1948). Belakangan dia tewas akibat keterlibatannya dalam
pemberontakan PKI Madiun 1948.
PRD TENTANG PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945
PRD, seperti juga Amir, menganggap bahwa 17 Agustus bukanlah
kemerdekaan. ''Revolusi pembebasan nasional tahun 1945 ternyata gagal
menghasilkan demokrasi yang sejati bagi rakyat. Hal ini disebabkan
karena kekuatan rakyat yang diorganisir oleh kaum radikal kerakyatan
gagal mengambil kepemimpinan.''
Lebih jauh PRD menyatakan: ''Revolusi Agustus '45 yang adalah berwatak
revolusi borjuis demokratik, hanya berhasil sebagai revolusi pembebasan
nasional, namun gagal mendirikan pemerintahan kerakyatan.''
PRD TENTANG SEJARAH PERGERAKAN INDONESIA
Ketika membahas sejarah pergerakan nasional modern Indonesia, Manifesto
PRD memulainya dari kelahiran ISDV (Indische Sociaal Democratische
Vereniging) pada 1914 -- bukan Boedi Oetomo atapun Serikat Islam (SI).
Kutipan dari Manifesto PRD: ''Pergerakan nasional modern Indonesia
diawali dengan kemunculan serikat buruh. Salah satunya, yaitu ISDV yang
didirikan pada tahun 1914, secara sistematis mengajarkan pengetahuan
progresif kepada para aktivis buruh dan menjadi senjata material dalam
perjuangan pembebasan. Pada tanggal 23 Mei 1920, berdirilah untuk
pertama kalinya di Asia sebuah partai kaum radikal, yakni Perserikatan
Komunist Hindia (PKI).''
PRD DAN SEBUAH KUTIPAN
Ada sebuah kutipan dalam manifesto itu yang tidak jelas sumbernya.
Bunyinya:
''Aku sepenuhnya yakin bahwa tradisi pergerakan nasional adalah
radikalisasi hegemoni ideologi pra-borjuis, sehingga sanggup memojokkan
kekuatan borjuis, tapi menguntungkan kaum radikal''.
Saya tidak tahu dari mana kutipan itu berasal. Yusril Ihza Mahendra
(Ketua Jurusan Hukum Tata Negara UI) menduga kutipan itu berasal dari
Sudisman -- Ketua Comite Central PKI. ''Kata-kata yang digunakan dalam
kutipan itu sangat lazim terdapat dalam tulisan-tulisan terbitan
Departemen Propaganda PKI,'' kata Yusril.
PRD DAN SIMBOL-SIMBOL ITU
Ketika melukiskan dirinya, PRD banyak menggunakan istilah-istilah
seperti: kaum radikal, kaum progresif, gerakan rakyat. Sedangkan ketika
menyebut lawan, PRD menggunakan istilah-istilah: reaksioner,
muslim-kolaborator, tentara kapitalis, borjuasi komprador, dan kaum
borjuis-reaksioner. (sound familiar?--fg)
Lambang PRD sendiri, seperti nampak pada kulit muka manifesto dan
spanduk-spanduknya yang berlatar warna merah, memiliki kemiripan dengan
lambang Pesindo [fotonya ada di sejumlah media-massa karena proklamasi
itu sendiri dilakukan terbuka dengan mengundang wartawan]. Pesindo
adalah Pemuda Sosialis Indonesia yang menjadi salah satu akar PKI.
> pada saat para aktivis PRD berada didalam tahanan, pada saat
> para aktivis PRD sedang menjadi korban persekusi, adalah
> perbuatan yang tidak senonoh, perbuatan yang mesum, perbuatan
> yang cabul, perbuatan yang obscene untuk membicarakan apakah
> ideologi PRD itu komunis atau tidak.
FG: Mesum? Menurut saya Budiman, Andi Arif, Wiji Thukul, Dita Indahsari
dan lain-lain adalah pemuda-pemuda yang bersemangat dan idealis.
Bandingkan dengan remaja kita yang lebih suka berpesta di diskotik dan
menenggak ekstasi?
Saya hanya bertanya-tanya: Benarkah mereka yang menyusun Manifesto itu?
Jika tidak, tahukah mereka akan isi manifesto itu, setujukah mereka?
Atau mereka sekadar ikut-ikutan? Mereka terjebak?
Saya menentang prosekusi tidak fair terhadap mereka. Namun, menurut
saya, jika mereka benar-benar meyakini perjuangan PRD seperti yang
tercantum dalam Manifesto itu, sulit buat mereka untuk mengelak dari
tuduhan komunis. Jika tuduhan itu layak untuk menyebabkan seseorang
diperkarakan, kita harus menghimbau pemerintah untuk memberlakukan
proses hukum secara benar dan adil.
Jika mereka benar-benar meyakini perjuangan PRD seperti yang tercantum
dalam Manifesto itu, saya hanya ingin mengucapkan selamat berjuang --
meski saya tidak menyetujui pandangan mereka. Jika mereka harus
terpenjara karena memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini, jika mereka
pejuang-pejuang hebat, saya hanya ingin menyatakan bahwa:
Sejarah membuktikan, penjara seringkali menjadi jalan untuk menjadi
pemimpin masa depan. [Muhammad harus terusir dari Makkah, Jesus
meninggal di tiang salib, dan penjara hanya akhirnya membuktikan bahwa
Sukarno, Hatta, Sjahrir serta Nelson Mandela adalah pemimpin-pemimpin
besar pada zamannya].
> Saya baru akan berbicara dan angkat bicara tentang idee yang
> mereka pertahankan pada saat mereka sudah berada dalam posisi
> yang sama dengan saya: bebas.
> Pada saat ini yang menjadi buah pikiran saya adalah: apa saja
> yang bisa saya perbuat untuk ikut melepaskan mereka dari
> tindasan.
Selamat berjuang, Bung Jusfiq.
farid gaban
wartawan republika
________________________________________________________________
"We do not have to rejoice in different; we need only tolerate them"
David Karahashan dalam SARAJEVO: EXODUS OF A CITY
____________________________________________________________________