IN/POL: PR - Aparat Masih Terjebak

From: apakabar@clark.net
Date: Tue Sep 17 1996 - 07:26:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA13996 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Tue, 17 Sep 1996 10:26:45 -0400 (EDT)
Subject: IN/POL: PR - Aparat Masih Terjebak Sistem Kurang Terbuka

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Tue Sep 17 03:53:02 1996
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII
Date: Tue, 17 Sep 1996 03:11:50 -0400 (EDT)
From: indonesia-p@igc.apc.org
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199609170711.DAA09366@access1.digex.net>
Subject: IN/POL: PR - Aparat Masih Terjebak Sistem Kurang Terbuka
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL25]
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk

INDONESIA-P

X-within-URL: http://www.indo-homepage.com/pr/02170909.htm
                        ____________________________
                                      
   Selasa, 17 September 1996
      _______________________________________________________________
                                      
                  Pangdam: Banyak Masalah Tak Selesai Tuntas
                  Aparat Masih Terjebak Sistem Kurang Terbuka
                                       
   BANDUNG, (PR).-
   Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Tayo Tarmadi mengatakan, dalam
   menangani suatu permasalahan di masyarakat, aparat kadangkala masih
   terjebak pada sistem koordinasi serta kerja sama yang kurang terbuka.
   Akibatnya, banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan hingga tuntas.
   
   Untuk itulah, Pangdam mengingatkan, aparat di daerah hendaknya
   berupaya menyamakan visi, persepsi serta interpretasi, guna
   menumbuhkan sikap dan pemahaman akan pentingnya koordinasi serta
   keterpaduan yang inovatif.
   
   Hal itu dikemukakan Pangdam dalam amanat tertulis yang dibacakan
   Kasdam III/Siliwangi, Brigjen TNI Sumardi, pada penutupan Penataran
   Satu Atap di Rindam III/Siliwangi, Sabtu (15/9). Penataran yang telah
   berlangsung sejak 9 September 1996 tersebut, diikuti 114 aparat dari
   tingkat kecamatan. Masing-masing 39 Danramil, 40 Kapolsek, 31 camat
   dan empat peserta dari dinas/instansi vertikal tingkat kecamatan.
   
   Menurut Panglima, berbagai gejolak sosial yang timbul di masyarakat
   memerlukan penyelesaian yang tuntas, melalui berbagai pendekatan.
   Karena itu, kerja sama yang terpadu antaraparat yang secara langsung
   berhadapan dengan masyarakat, menjadi prasyarat utama.
   
   Sebab, keterpaduan dan koordinasi yang saling mengisi, memiliki arti
   penting bagi optimalisasi sasaran. "Hal tersebut sekaligus pula untuk
   mengakselerasikan penuntasan berbagai masalah pembangunan yang
   dihadapi," katanya.
   
   Kenyataan menunjukkan, sejauh ini masih terjadi hambatan dalam
   melakukan koordinasi dan kerja sama antaraparat wilayah di daerah. Hal
   itu disebabkan masih terkotak-kotaknya orientasi dan wawasan
   masing-masing aparat. Sehingga mengakibatkan kurang terbukanya sikap
   dan tidak terbiasa melakukan koordinasi.
   
   Bertolak dari kenyataan tersebut, Panglima mengharapkan, agar aparat
   di daerah membudayakan koordinasi dan kerja sama, menjadi hubungan
   yang inovatif. Sementara untuk kerja sama yang telah terbina dengan
   baik, hendaknya terus dipupuk dan ditingkatkan dalam suatu kerangka
   dasar, yang benar-benar menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab.
   
   Keberhasilan atau kegagalan dalam mentransformasikan program-program
   pembangunan, banyak ditentukan oleh kemampuan dalam melakukan hubungan
   komunikasi dan koordinasi. Baik antara aparat yang ada di daerah,
   maupun dengan masyarakatnya.
   
   Untuk itu, upaya meningkatkan pemahaman akan pentingnya koordinasi dan
   kerja sama, hendaknya menjadi suatu kebutuhan yang perlu terus-menerus
   diupayakan. Sebab, beban tugas yang akan dihadapi di masa mendatang,
   semakin menuntut adanya kapabilitas dan akseptabilitas tinggi.
   "Apalagi kalau dihadapkan dengan perkembangan masyarakat yang semakin
   kritis, maka mau tidak mau unsur muspika harus semakin mampu membaca
   tanda-tanda zaman dengan cara meningkatkan kemampuan dalam
   mengatisipasi aspirasi yang timbul di masyarakat," jelasnya.
   
   Selain itu, aparat di daerah juga harus berusaha mencegah munculnya
   oknum-oknum yang mencoba memecah belah pola tindak dan pola pikir
   bersama. "Jauhi kecurigaan antar-sesama pimpinan wilayah, dan
   fungsionalkan peran saudara sesuai dengan lingkup tugas. Tingkatkan
   pengabdian saudara guna menegakkan keutuhan negara RI yang berdasarkan
   Pancasila dan UUD 1945," imbau Pangdam.***
   
      _______________________________________________________________