IN/EKON: KMP - Tekanan Ekonomi dan

From: apakabar@clark.net
Date: Wed Sep 04 1996 - 18:14:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id VAA01116 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Wed, 4 Sep 1996 21:13:56 -0400 (EDT)
Subject: IN/EKON: KMP - Tekanan Ekonomi dan Mobilitas Pedesaan

Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Wed Sep 4 21:08 EDT 1996
Date: Thu, 5 Sep 1996 00:27:46 GMT
From: apakabar@clark.net
Message-Id: <199609050027.AAA157656@smtp-gw01.ny.us.ibm.net>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN/EKON: KMP - Tekanan Ekonomi dan Mobilitas Pedesaan
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: Windows Eudora Light Version 1.5.2
X-Sender: apakabar@ozemail.com.au (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Content-Length: 9915

INDONESIA-P

http://www.kompas.com/9609/05/OPINI/teka.htm
Kompas Online
Kamis, 5 September 1996
                                      
     _________________________________________________________________
                                      
                    Tekanan Ekonomi dan Mobilitas Pedesaan
                                       
                           Oleh Tritjahjo Danny S
                                      
   PERUBAHAN sosial ekonomi di Jawa khususnya di pedesaan kini sudah
   makin dirasakan. Menurut Tadjudin NE (1992), perubahan tersebut
   tercermin dari meningkatkan mobilitas penduduk, terutama mobilitas
   desa-kota. Ada banyak faktor yang mempermudah proses
   perubahan-perubahan di atas, antara lain adalah perbaikan prasarana
   dan sarana transportasi serta komunikasi.
   
   Kemajuan dalam penerapan teknologi, khususnya transportasi dan
   komunikasi, telah memperpendek jarak dan mempersempit luas relatif di
   permukaan bumi. Dengan mengkaji transportasi dan komunikasi ini, kita
   akan dapat mengungkapkan difusi, interaksi keruangan, dan kemajuan
   ataupun keterbelakangan suatu daerah (Nusid, 1988).
   
   Semakin lengkap penyediaan prasarana dan sarana transportasinya, yang
   membuat jarak antardaerah relatif makin 'pendek', maka semakin besar
   pula arus mobilitasnya. Sebaliknya, arus mobilitasnya menjadi kecil
   bila penyediaan prasarana dan sarana transportasinya kurang. Menurut
   teori Migrasi dari Ravenstein, penduduk lebih tertarik untuk melakukan
   perpindahan dengan jarak yang dekat saja. Ini disebabkan adanya rasa
   keterikatan penduduk terhadap keluarga, teman ataupun kampung halaman
   yang ditinggalkan.
   
   Berdasar hasil penelitian yang pernah dilakukan, secara umum, tingkat
   mobilitas ke luar dari rumah tangga miskin lebih sedikit dibandingkan
   dengan mereka yang tergolong berstatus sosial ekonomi sedang atau
   tinggi. Mereka yang berasal dari rumah tangga sedang sampai rendah
   mobilitasnya cenderung di sekitar desa atau mungkin kota-kota kecil.
   Sedangkan mereka yang berasal dari rumah tangga sedang sampai tinggi
   lebih mudah terlibat dalam mobilitas jarak jauh dan cenderung ke
   kota-kota besar.
   
   Dengan demikian mobilitas lebih banyak dilakukan oleh rumah tangga
   yang kaya daripada rumah tangga yang miskin. Hal ini memang logis
   terjadi, karena tinggi rendahnya mobilitas dipengaruhi oleh penyediaan
   prasarana dan sarana transportasi. Bagi rumah tangga yang kaya tentu
   saja lebih memungkinkan untuk memiliki sarana transportasi.
   Sebaliknya, keluarga rumah tangga miskin lebih memikirkan pemenuhan
   kebutuhan pokok terlebih dahulu dibanding dengan penyediaan
   transportasi. Namun, apakah pola ini bersifat umum? Bila terjadi
   pengecualian, faktor apa saja yang mempengaruhinya? Di sini penulis
   ingin mengungkapkan hasil penelitian mengenai pola mobilitas yang
   terjadi di Desa Sukohardjo, Jawa Tengah.
   
   Variasi mobilitas penduduk Sukohardjo
   
   Desa Sukohardjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, merupakan
   daerah pinggiran (hinterland) yang relatif agak jauh dengan kota
   Salatiga. Meskipun sebagai daerah pertanian, dengan rata-rata
   pemilikan lahan 0,24 ha, namun penduduk Desa Sukohardjo lebih dominan
   bekerja di bidang nonpertanian.
   
   Gagalnya hasil pertanian membuat para petani beralih pekerjaan
   utamanya ke luar pertanian. Namun, kondisi fisik daerah, seperti jalan
   yang bergelombang dapat menghambat penduduk dalam melakukan mobilitas.
   Apalagi bila musim penghujan jalan menjadi licin.
   Begitu pula kurangnya penyediaan sarana transportasi, dan kondisi
   jalan yang berbatu dapat menghalangi kemauan untuk bermobilitas.
   
   Dilihat dari jenis mobilitas yang dilakukan, dari 117 responden
   ternyata 88,03 persen di antaranya dominan melakukan mobilitas
   ulang-balik (nglaju). Mobilitas sirkuler periodik dan sirkuler tak
   teratur berturut-turut hanya dilakukan oleh responden
   sebanyak 5,13 persen dan 6,84 persen. Ada beberapa faktor yang
   mempengaruhi fenomena tersebut, antara lain tujuan melakukan
   mobilitas, serta jarak dan penyediaan sarana menuju daerah tujuan.
   
   Menurut Mantra banyaknya mobilitas ulang-alik disebabkan oleh adanya
   perbedaan kekuatan sentrifugal dengan kekuatan sentripetal. Semakin
   jauh jarak daerah tujuan ternyata semakin sedikit responden yang
   melakukannya. Namun yang menempuh jarak lebih dari 200 km (termasuk
   yang pergi ke luar negeri) punya persentase yang relatif besar yakni 6
   persen. Responden yang melakukan mobilitas pada jarak tempuh tersebut
   lebih banyak dipengaruhi daya dorong di tempat asal (Desa Sukohardjo)
   dan daya tarik di daerah tujuan.
   
   Lebih dari 50 persen responden yang menggunakan sarana colt/angkutan
   dalam melakukan mobilitasnya. Sarana angkutan yang ke luar Desa
   Sukohardjo menuju ke daerah lain (seperti Salatiga) hampir tiap satu
   jam baru dapat dijumpai. Bahkan, biaya pemakaian sarana angkutan
   terhitung relatif murah. Namun, dipihak lain, responden yang berjalan
   kaki dalam melakukan mobilitasnya juga terhitung banyak yakni lebih
   dari 29 persen.
   
   Penduduk melakukan mobilitas karena di daerah tujuan tersedia lebih
   lengkap prasarana dan sarananya (ada 44 persen). Tidak sedikit dari
   sejumlah responden wanita (ibu-ibu) yang membeli bahan-bahan kebutuhan
   rumah tangga di pasar Salatiga.
   
   Menurut mereka, hal tersebut disebabkan oleh lengkapnya penyediaan
   barang dagangan dan dengan jarak yang relatif dekat. Sebaliknya, ada
   pula para ibu-ibu yang menjual hasil 'buminya' dengan mudah bila ke
   pasar Salatiga.
   
   Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di Salatiga juga merupakan
   kekuatan sentripetal yang menarik penduduk Desa Sukohardjo untuk
   melakukan mobilitas di Salatiga (khususnya mereka yang masih sekolah
   di SLTA).
   
   Sedangkan responden yang melakukan mobilitas dengan tujuan ekonomi -
   antara lain mencari pekerjaan dan peningkatan pendapatan berjumlah
   sekitar 42 persen. Sempitnya lapangan pekerjaan di luar pertanian
   mengakibatkan tidak sedikit penduduk di Desa Sukohardjo yang mencari
   pekerjaan di daerah kota Salatiga; apalagi pada saat ini serangan hama
   tikus telah merusak hasil pertanian penduduk.
   
   Responden yang tujuan mobilitasnya berkaitan dengan aspek sosial
   (seperti kunjungan keluarga atau silahturahmi) hanya sebesar 2 persen.
   Responden yang bertujuan keagamaan dalam mobilitasnya juga hanya
   sebesar 3 persen. Mereka pada hari tertentu pergi ke Salatiga untuk
   bersama-sama dengan sesama Muslim mengadakan kegiatan 'sembahyangan'.
   Secara demografis, mereka termasuk manusia usia lanjut, yang butuh
   makanan rohani.
   
   Responden yang melakukan mobilitas pada umumnya mempunyai pendapatan
   yang rendah. Sebanyak 52,14 persen responden yang berpendapatan tidak
   lebih dari Rp. 50.000. Sebaliknya, mereka yang berpendapatan lebih
   dari Rp. 200.000, tidaklah lebih dari 7 persen (lihat Tabel).
   
   Pendapatan (rupiah) Frekuensi %
   < 50.000 61 52,14
   51.000-100.000 30 25,64
   101.000-150.000 10 8,54
   151.000-200.000 8 6,84
> 200.000 8 6,84
   Jumlah 117 100,00
   Sumber: Data Primer
   
   Secara teoritis mereka yang berpendapatan tinggi sebetulnya lebih
   memiliki akses mobilitasnya dibanding dengan yang berpendapatan
   rendah. Namun kenyataannya para responden yang melakukan mobilitas
   justru didominasi oleh mereka yang berpendapatan rendah. Nampaknya
   fenomena ini membuktikan bahwa daya dorong (sempitnya peluang kerja di
   luar sektor pertanian, produktivitas pertanian kecil) di daerah asal
   menjadi faktor pendesak bagi penduduk untuk pergi ke daerah lain.
   Mereka merasa berat bila hanya menggantungkan pendapatan yang
   diperoleh di daerah asal dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan bekerja
   di daerah lain (seperti Salatiga) yang lebih bervariasi (seperti
   perdagangan, industri, jasa) mereka dapat memperoleh pendapatan yang
   lebih tinggi.
   
   Di lain pihak, dengan bekal pendidikan yang relatif rendah mereka
   lebih banyak bekerja sebagai blue collar worker(pekerja kasar) yang
   bergaji kecil dibandingkan dengan menjadi white collar worker(pekerja
   kantor). Namun fakta semacam ini tetap tidak membuat para responden,
   yang berpendidikan relatif rendah, untuk melakukan mobilitas.
   
   Dengan demikian, bila ditinjau dari sisi aksesibilitas - fisik maupun
   sosial - maka mobilitas ternyata tidak hanya dilakukan oleh mereka
   yang berpendapatan rendah, berpendidikan rendah, bahkan prasarana
   jalannya masih berbatu.
   
   Upaya pengembangan wilayah
   
   Berdasarkan pada pola mobilitas yang dilakukan, nampaknya sebagian
   besar responden merasa bahwa hanya dengan menggantungkan potensi dan
   penyediaan prasarana dan sarana (sosial-ekonomi) di desa, berbagai
   kebutuhan mereka kurang bisa dipenuhi. Untuk mengatasi persoalan ini
   mereka merasa perlu untuk melakukan mobilitas, terutama yang bersifat
   nglaju.
   
   Situasi ketertekanan ekonomi (rendahnya produktivitas pertanian)
   nampaknya lebih mendorong mereka untuk melakukan mobilitas. Oleh
   karena itu, upaya pengembangan wilayah dari jangkauan program berbagai
   instansi sangatlah diperlukan terutama mengenai bidang pertanian.
   Pembinaan intensif untuk meningkatkan produktivitas pertanian dapat
   dilakukan oleh Dinas Pertanian, Peternakan atau lembaga lain yang
   terkait.
   
   Selain itu, pembinaan dalam mengelola sumber daya sangat diperlukan
   khususnya untuk membuka lapangan kerja di luar pertanian. Dalam hal
   ini penyediaan dan perbaikan prasarana serta sarana transportasi
   merupakan faktor pendukung. Upaya memperbaiki kondisi
   wilayah pedesaan memang lalu menjadi sebuah upaya komprehensif.
   
   * Drs Tritjahjo Danny S, staf pengajar UKSW, Salatiga, pemerhati
   fenomena kependudukan dan lingkungan hidup.