IN: TEMPO - Ridwan Saidi: Politik I

From: apakabar@clark.net
Date: Sat Aug 10 1996 - 18:20:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id VAA07880 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 10 Aug 1996 21:20:53 -0400 (EDT)
Subject: IN: TEMPO - Ridwan Saidi: Politik Itu Seperti Udara ...

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Sat Aug 10 21:15 EDT 1996
Content-Transfer-Encoding: 8bit
Date: Sat, 10 Aug 1996 18:12:42 -0400 (EDT)
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-Id: <199608102212.SAA02366@explorer2.clark.net>
Subject: IN: TEMPO - Ridwan Saidi: Politik Itu Seperti Udara ...
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: ELM [version 2.4 PL24alpha3]
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset=ISO-8859-1
Content-Length: 4047

INDONESIA-L

Date: Fri, 9 Aug 1996 22:19:27 -0400 (EDT)
X-within-URL: http://www.idola.net.id/tempo/anggota/mingguan/ed2401/ut4.htm

   [IMAGE] Edisi 24/01
   Analisa & Peristiwa
   
Wawancara Ridwan Saidi:
"Politik Itu Seperti Udara, Kita Nggak Akan Bosan"
   
     _________________________________________________________________
   
   Ridwan Saidi ternyata tidak luput dari "tindak lanjut pemerintah"
   setelah insiden 27 Juli lalu. Selasa, 5 Agustus 1996, selama sepuluh
   jam Ridwan diperiksa Kejaksaan Agung. Ketua Umum Masyumi Baru ini
   dipanggil pihak Kejaksaan Agung untuk dimintai keterangannya seputar
   kegiatannya sebagai pendiri Majelis Rakyat Indonesia (MARI), sebuah
   aliansi pendukung Megawati Soekarnoputri. Ridwan memang nampak
   beberapa kali ikut mimbar bebas di Kantor PDI Diponegoro. Bekas Ketua
   Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam ini juga menjadikan rumahnya sebagai
   Sekretariat MARI, yang kini sudah dipindahkannya. Semua kegiatannya di
   Kantor PDI akhirnya membawanya berurusan dengan Kejaksaan Agung. TEMPO
   Interaktif mencoba untuk meminta keterangan dari Ridwan perihal
   pemanggilan itu. Berikut wawancara singkat di rumah Ridwan Saidi yang
   terletak di kawasan Bintaro, Rabu lalu (7/8/96).
     _________________________________________________________________
   
   
   
   Bisa dijelaskan tentang pemanggilan Anda oleh Kejaksaan Agung?
   
     Maaf, saya nggak bisa memberikan keterangan.
     
   
   
   Anda dipanggil sebagai saksi atas tersangka Budiman Soedjatmiko atau
   sebagai tersangka yang dituduh subversif?
   
     Sudahlah, jangan tanya-tanya itu deh. Saya sudah janji nggak akan
     bicara. Saya sudah disumpah.
     
   
   
   Bukannya Anda takut ?
   
     Anda kalau dalam posisi seperti saya, seumur saya, tentu sikap Anda
     akan berbeda. Ini bukan masalah takut atau tidak takut. Ini masalah
     hukum. Karena saya sudah disumpah untuk tidak membocorkan.
     
   
   
   Bukankah sekretariat Majelis Rakyat Indonesia masih di sini ( di rumah
   Ridwan Saidi, Red)?
   
     Sekarang sudah pindah, karena keluarga saya keberatan. Anak-anak
     saya yang sudah remaja kan perlu bergaul dan berkomunikasi dengan
     teman-temannya. Kasihan kan, kalau tiap hari diganggu oleh dering
     telepon.
     
   
   
   Sekretariat MARI dipindah bukan lebih karena alasan keamanan?
   
     Keluarga keberatan.
     
   
   
    Apa langkah MARI selanjutnya ?
   
     Nanti kalau sudah ada sekretariat baru, bisa aktif lagi. Sekarang
     kan belum.
     
   
   
    Dari ketua PB HMI Anda lalu masuk PPP, lalu pindah ke Golkar dan
   sekarang mendirikan Masyumi Baru. Sebenarnya, apa ambisi dan target
   politik pribadi anda ?
   
     Nggak ada tuh ambisi, atau target politik pribadi. Saya ingin
     seperti Goenawan Mohamad.
     
   
   
   Lebih berorientasi pada gerakan moral maksudnya?
   
     Ya, gerakan moral.
     
   
   
    Apa rencana Masyumi Baru menjelang pemilihan umum 1997?
   
     Sudahlah. Saya ini kan hanya pendiri Masyumi Baru. Pengurusnya kan
     ada.
     
   
   
   Bagaimana pandangan Anda tentang demokrasi?
   
     Begini. Pembangunan demokrasi di Indonesia memerlukan usaha yang
     cukup lama. Demokrasi mengacu pada tatanan masyarakat. Masyarakat
     kita kan cenderung tidak demokratis. Seperti tradisi amuk. Coba
     lihat Louis Farrakhan yang di Washington itu, mengumpulkan satu juta
     massa, tetapi nggak ada satu ranting pohon yang jatuh.
     
   
   
   Kejadian tanggal 27 Juli itu fenomena amuk juga?
   
     Jangan kesitu, dah. Saya tidak akan bicara tentang hal itu.
     
   
   
   Apakah Anda sudah bosan dengan politik ?
   
     Politik itu seperti udara -- kita nggak bisa bosan. Kita nggak bisa
     mengatakan muak atau bosan dengan politik. Karena politik itu suatu
     fenomena yang hidup dalam masyarakat. Seperti kata TB Simatupang,
     politik itu seperti udara, bagaimana menghindar dari dia.
     
   
   
   
     _________________________________________________________________