From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id VAA24957 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Fri, 9 Aug 1996 21:52:49 -0400 (EDT)
Subject: IN/POL: RPK - Budiman Berlatih Pidato Gaya Soekarno
Forwarded message:
From owner-indonesia-p@igc.org Fri Aug 9 21:20 EDT 1996
Date: Fri, 9 Aug 1996 23:51:00 GMT
From: apakabar@clark.net
Message-Id: <199608092351.XAA93383@smtp-gw01.ny.us.ibm.net>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN/POL: RPK - Budiman Berlatih Pidato Gaya Soekarno
To: apakabar@clark.net
X-Mailer: <PC Eudora Version 1.4>
X-Sender: apakabar@ozemail.net (Unverified)
Sender: owner-indonesia-p@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"
Content-Length: 7426
INDONESIA-P
http://www.republika.co.id/9608/10/10PRD-2.01Z.html
Republika Online
Sabtu, 10 Agustus 1996
Budiman Berlatih Pidato Gaya Soekarno
"Saya capek," kata Wartono Karyo Utomo, 52, ayah Budiman Sudjatmiko,
ketua umum organisasi yang menamakan diri Partai Rakyat Demokratik
(PRD), kepada wartawan Kamis (8/8).
Sejak anaknya disebut-sebut sebagai tokoh di balik kerusuhan 27 Juli
ia menjadi ikut sibuk. Project Area Manager di pabrik ban PT Goodyear,
Bogor, ini mengaku cukup repot dengan kasus ini. Di tempat bekerjanya,
ia mengaku beberapa kali didatangi aparat keamanan. Demikian pula
halnya dengan istrinya Ny Sulastri di kediaman mereka. Apalagi
wartawan pun hilir mudik ke rumahnya.
Keluarga Budiman termasuk keluarga yang cukup mapan dibandingkan
dengan para tetangganya di Jl. Cilebut, Desa Sukaresmi, Bogor. Dengan
halaman rumah yang cukup luas, di sayap kirinya dibuat sebuah TK Islam
bernama Nurhasanah, lengkap dengan arena bermain anak dan sebuah dua
buah kolam ikan kecil. Sebuah mobil sedan Opel warna putih terparkir
di halaman rumah dekat salon jasa rias pengantin Srikaton milik Ny
Sulastri, istrinya. Mereka tinggal di kawasan tersebut sejak 1985.
Keluarga ini, yang aktif dalam pengajian kelompok Lembaga Dakwah Islam
Indonesia (LDII) cukup akrab dengan masyarakat sekitarnya. Wartono
mengakui hubungannya dengan anak pertamanya itu tidak cukup dekat.
Sejak kecil Budiman ikut dengan pamannya dan neneknya di Majenang,
Cilacap, Jawa Tengah. Sedangkan ia dan istrinya serta tiga adik
Budiman, tinggal di Bogor.
Ketika pekerjaannya sudah mulai mapan, Budiman kembali diambil oleh
Wartono dan selanjutnya bersekolah di SD Negeri II Pengadilan, Bogor.
Tamat SD, Budiman melanjutkan ke SMP I Bogor sampai kelas II. Setelah
itu, ia pindah kembali ke SMP di Majenang. Lulus SMP, Budiman
melanjutkan ke sebuah SMA swasta di Yogyakarta. Saat kelas III, karena
sering sakit, Budiman dipindahkan ke Bogor dan masuk SMAN V Bogor.
Budiman menamatkan pendidikan SMA-nya tahun 1989. Selanjutnya, Budiman
kembali ke Yogya dan kuliah di FE UGM jurusan Studi Pembangunan.
Semasa kuliah ini, kontak antara anak dan orang tua terputus. Budiman,
kata Wartono, enggan memberi tahu tempat tinggalnya. Ibunya, yang
setiap bulan mengirim uang saku Rp 50 ribu, selalu mengirimkan uang
tersebut melalui sebuah bank di kampus UGM. "Ia sepertinya tidak mau
kami tahu di mana ia tinggal, sepertinya ia ingin mandiri," kata Ny
Sulastri, yang bersama menantunya Gugun mendampingi suaminya saat
wawancara berlangsung.
Menurut Wartono, mereka baru tahu aktivitas Budiman setelah datang
surat dari UGM pada 1990, bahwa Budiman drop out karena ia jarang
kuliah. Ia terkejut dan kecewa. Sebagai anak pertama, oleh keluarganya
Budiman diharapkan dapat memberi motivasi kepada adik-adiknya. "Sampai
sekarang saya masih sakit kalau mengingat itu," kata Wartono.
Sejak saat itu, kata Wartono, hubungannya dengan Budiman semakin
renggang. Budiman pun, katanya, ternyata tidak bersedia melanjutkan
pendidikannya. Ia juga menolak untuk ikut kursus. Penolakan Budiman
itu, berbuntut pengusiran dirinya. "Sekarang saya atau kamu yang pergi
dari rumah!" Wartono mengenang saat ia mengusir Budiman.
Sejak itulah, baik Wartono maupun istrinya mengaku tak tahu apa
kegiatannya di luar rumah. Budiman pun kemudian lebih sering tinggal
di luar rumah dan jarang pulang. Bila pulang hanya sebentar dan itu
hanya sekadar membawa pakaian kotor. Ibu Budiman ini mengaku tak
pernah melihat Budiman membawa buku atau berkas-berkas saat ia pulang
ke rumah. "Ia tak mau membawa pekerjaannya ke rumah," kata Gugun, adik
ipar Budiman yang kini masih kuliah di Fakultas Kehutanan, IPB.
Soal apakah anaknya komunis atau bukan, Wartono mengaku tidak tahu
menahu. Tapi yang jelas, seperti dirinya, menurut Wartono, Budiman
adalah pengagum Soekarno, presiden pertama RI. Menurut Ny Sulastri,
sebelum tamat SD, Budiman telah membaca habis buku "Di Bawah Bendera
Revolusi"karya Bung Karno. Ketika di Majenang, kata Ny Sulastri,
Budiman sering mengunci diri di kamar dan berlatih pidato, layaknya
Soekarno. Dia juga pernah membuat foto dengan gaya Soekarno. "Semula
Budenya kaget karena dia sering berteriak-teriak di kamar. Ketika
diintip, ternyata Budiman sedang pidato sendirian," kata Ny Sulastri.
Menurut Ny Sulastri, sebenarnya Budiman dididik agama secara ketat
sejak kecil. Tapi belakangan tampaknya ia sudah jarang salat lima
waktu. Kendati begitu, Ny Sulastri tak tahu adanya perubahan pandangan
idiologis anaknya, sebab bila di rumah Budiman lebih banyak memilih
diam.
Ny Sulastri mengakui bahwa sekitar dua tahun lalu Budiman pergi ke
Australia. "Ketika ditanya, Budiman menjawab hanya sekadar menjadi
turis," katanya. Saat akan ke Australia, kata Ny Sulastri, Budiman
sempat minta tambahan uang saku dan diberinya Rp 100 ribu. Adik-adik
Budiman, kata Ny Sulastri, sangat gembira ketika tahu kakaknya pergi
ke luar negeri. Mereka berharap mendapat oleh -oleh, tapi terpaksa
kecewa karena selama lebih kurang 25 hari di Australia, Budiman
samasekali tak membawa oleh-oleh yang diharapkan. "Yang dibawa cuma
koin uang dolar Australia," kata Ny Sulastri.
Wartono mengaku semakin susah ketika Kassospol ABRI Letjen TNI Syarwan
Hamid menyebutnya bekas tapol PKI golongan B2. "Saya tak akan menuntut
Bapak-Bapak di atas yang menuduh saya PKI. Semuanya saya serahkan
kepada Allah swt," katanya. Bersama istri dan kedua adik Budiman,
Wartono berangkat ke Kejaksaan Agung untuk menerangkan status dirinya.
Adapun masalah Budiman, Wartono menyerahkan semuanya kepada aparat
keamanan. Jika memang benar Budiman terbukti bersalah, ia pasrah.
"Silakan saja diproses sesuai dengan hukum. Dia kan sudah dewasa. Apa
yang diperbuat Budiman di luar kontrol saya," tegasnya.
Tapi sejak peristiwa kerusuhan 27 Juli, mereka mengaku agak terganggu.
Apalagi sejak ada tuduhan bahwa Wartono adalah bekas tapol PKI,
lingkungannya terkesan menghindar. "Saya hanya ingin kembali tenang.
Masalah tuduhan bahwa saya PKI, saya harap segera diselesaikan," kata
Wartono. Kini ia mengaku tak bisa tenang bekerja seperti biasanya.
Ketika berlangsung wawancara kemarin sore, seorang petugas dari
Polwiltabes Bogor datang ke rumahnya dan memintanya untuk datang ke
Polwil Bogor, Jumat (9/8).  ha/yoe