IN/BIO: TEMPO - Subagio Sastrowardo

From: apakabar@clark.net
Date: Mon May 27 1996 - 09:15:00 EDT


Subject: IN/BIO: TEMPO - Subagio Sastrowardojo

INDONESIA-P

   PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
     _________________________________________________________________
   
   SUBAGIO Sastrowardojo
     _________________________________________________________________
   
   Uteran, Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 Agama/Kepercayaan:
   Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa
     _________________________________________________________________
   
   HIS Arjuna, Bandung (1938)
   
    SMP, Surakarta (1945)
   
    SMA, Yogyakarta (1947)
   
    Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1958)
   
   Department of Comparative Literature, Universitas Yale, AS (M.A.,
   1963)
     _________________________________________________________________
   
   Guru bahasa dan sastra pada beberapa SMA di Yogyakarta (1948-1954)
   
    Kepala Jurusan Bahasa Indonesia, Kursus B-1 Negeri, Yogyakarta
   (1954-1958)
   
    Dosen Fakultas Sastra UGM (1958-1961)
   
    Dosen Seskoad, Bandung (1966-1971)
   
    Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia, Salisbury Teachers College,
   Australia (1971-1974)
   
    Senior Lecturer pada Universitas Flinders, Australia Selatan
   (1974-1981)
   
    Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981 -- sekarang)
   
   Anggota Kelompok Kerja Sosbud Lemhanas (1981 -- sekarang)
   
    Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1982-1985)
     _________________________________________________________________
   
   Jalan Balai Pustaka Timur B2, Rawamangun, Jakarta Timur
   
   PN Balai Pustaka, Jalan Wahidin 1, Jakarta Pusat Bergaul dengan buku
   sejak kecil, ia mulai menulis pada usia 13 tahun. ''Karya saya yang
   pertama ialah sebuah cerpen, Cerita Sederhana tentang Sumur,''
   katanya. Ayahnya, Sutedjo Sastrowardojo, wedana Distrik Uteran,
   Madiun, Jawa Timur, kebetulan penggemar sastra. Sedang ibunya, Sujati,
   pandai menembang.
   
   Anak kesebelas dari 14 bersaudara, Bag atau Bagio, demikian nama
   panggilannya, memang bercita-cita menjadi seniman. ''Saya ingin
   menciptakan sesuatu. Entah berupa karangan, lukisan, tarian, atau apa
   saja yang berbentuk seni,'' tuturnya.
   
    Tamat HIS di Jakarta, ketika duduk di SMP, di Bandung, ia ikut
   menyanyi di Radio Jepang bersama Kusbini, Ismail Marzuki, Netty
   Herawaty, dan Bing Slamet. Setelah di SMA, di Yogyakarta, ia ikut
   mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI). ''Kami membantu polisi
   militer di Jebres,'' ceritanya. Pada zaman revolusi itu, ia anggota
   Tentara Pelajar (TP) di Front Srondol, Semarang, lantas bergabung
   dengan TNI di Gunung Sumbing, Magelang, 1949. Kemudian, ia sempat
   menjadi penjaja majalah dan penjaga perpustakaan sekolah.
   
    Setahun sebelum meraih gelar sarjana sastra Timur di Fakultas Sastra
   dan Kebudayaan UGM, ia menerbitkan sendiri puisinya, Simponi, 1957.
   Semasa kuliah, Bag pernah menyutradarai Selubung Lampu, drama
   terjemahan dari karya Tennesse Williams. Karya tulisnya sendiri berupa
   buku diterbitkan PT Pembangunan, PT Pustaka Jaya, dan PN Balai
   Pustaka.
   
    Buku-bukunya, antara lain, kumpulan cerpen Kejantanan di Sumbing
   (1962), kumpulan sajak Daerah Perbatasan, yang meraih anugerah seni
   dari pemerintah RI (1970), kumpulan esei Bakat Alam dan
   Intelektualisme (1972), dan kritik sastra Sosok Pribadi dalam Sajak
   (1980). Prof. A. Teeuw, pengamat sastra Indonesia itu, berkata tentang
   Subagio, ''Dari semua penyair modern Indonesia, dialah yang paling
   mengasyikkan saya.'' Banyak sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa
   Inggris, Prancis, dan Jepang.
   
    Tiga tahun mengajar di Fakultas Sastra UGM, pada 1963 ia pergi ke AS,
   meraih M.A. di Universitas Yale. Lantas ia menjadi dosen dan peneliti
   Sosbud di Seskoad dan Lemhanas, 1982. Bag pernah juga menjadi anggota
   Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan peneliti di LIPI.
   
    Sepuluh tahun di Australia, sejak 1971, ia mengajarkan bahasa dan
   sastra Indonesia pada Salisbury College of Advanced Education, dan
   pada Flinders University. Kembali ke Indonesia, Bagio diangkat sebagai
   direktur muda penerbitan PN Balai Pustaka, 1981. Menikah dengan
   Sumarni, ia kini ayah tiga anak. Bagio mengaku kurang suka berolah
   raga. Tetapi, ia melakukan jogging, dan senang melihat senam.[]
     _________________________________________________________________