Subject: IN/BIO: TEMPO - Subagio Sastrowardojo
INDONESIA-P
PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
_________________________________________________________________
SUBAGIO Sastrowardojo
_________________________________________________________________
Uteran, Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 Agama/Kepercayaan:
Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa
_________________________________________________________________
HIS Arjuna, Bandung (1938)
SMP, Surakarta (1945)
SMA, Yogyakarta (1947)
Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1958)
Department of Comparative Literature, Universitas Yale, AS (M.A.,
1963)
_________________________________________________________________
Guru bahasa dan sastra pada beberapa SMA di Yogyakarta (1948-1954)
Kepala Jurusan Bahasa Indonesia, Kursus B-1 Negeri, Yogyakarta
(1954-1958)
Dosen Fakultas Sastra UGM (1958-1961)
Dosen Seskoad, Bandung (1966-1971)
Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia, Salisbury Teachers College,
Australia (1971-1974)
Senior Lecturer pada Universitas Flinders, Australia Selatan
(1974-1981)
Direktur Muda Penerbitan PN Balai Pustaka (1981 -- sekarang)
Anggota Kelompok Kerja Sosbud Lemhanas (1981 -- sekarang)
Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1982-1985)
_________________________________________________________________
Jalan Balai Pustaka Timur B2, Rawamangun, Jakarta Timur
PN Balai Pustaka, Jalan Wahidin 1, Jakarta Pusat Bergaul dengan buku
sejak kecil, ia mulai menulis pada usia 13 tahun. ''Karya saya yang
pertama ialah sebuah cerpen, Cerita Sederhana tentang Sumur,''
katanya. Ayahnya, Sutedjo Sastrowardojo, wedana Distrik Uteran,
Madiun, Jawa Timur, kebetulan penggemar sastra. Sedang ibunya, Sujati,
pandai menembang.
Anak kesebelas dari 14 bersaudara, Bag atau Bagio, demikian nama
panggilannya, memang bercita-cita menjadi seniman. ''Saya ingin
menciptakan sesuatu. Entah berupa karangan, lukisan, tarian, atau apa
saja yang berbentuk seni,'' tuturnya.
Tamat HIS di Jakarta, ketika duduk di SMP, di Bandung, ia ikut
menyanyi di Radio Jepang bersama Kusbini, Ismail Marzuki, Netty
Herawaty, dan Bing Slamet. Setelah di SMA, di Yogyakarta, ia ikut
mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI). ''Kami membantu polisi
militer di Jebres,'' ceritanya. Pada zaman revolusi itu, ia anggota
Tentara Pelajar (TP) di Front Srondol, Semarang, lantas bergabung
dengan TNI di Gunung Sumbing, Magelang, 1949. Kemudian, ia sempat
menjadi penjaja majalah dan penjaga perpustakaan sekolah.
Setahun sebelum meraih gelar sarjana sastra Timur di Fakultas Sastra
dan Kebudayaan UGM, ia menerbitkan sendiri puisinya, Simponi, 1957.
Semasa kuliah, Bag pernah menyutradarai Selubung Lampu, drama
terjemahan dari karya Tennesse Williams. Karya tulisnya sendiri berupa
buku diterbitkan PT Pembangunan, PT Pustaka Jaya, dan PN Balai
Pustaka.
Buku-bukunya, antara lain, kumpulan cerpen Kejantanan di Sumbing
(1962), kumpulan sajak Daerah Perbatasan, yang meraih anugerah seni
dari pemerintah RI (1970), kumpulan esei Bakat Alam dan
Intelektualisme (1972), dan kritik sastra Sosok Pribadi dalam Sajak
(1980). Prof. A. Teeuw, pengamat sastra Indonesia itu, berkata tentang
Subagio, ''Dari semua penyair modern Indonesia, dialah yang paling
mengasyikkan saya.'' Banyak sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris, Prancis, dan Jepang.
Tiga tahun mengajar di Fakultas Sastra UGM, pada 1963 ia pergi ke AS,
meraih M.A. di Universitas Yale. Lantas ia menjadi dosen dan peneliti
Sosbud di Seskoad dan Lemhanas, 1982. Bag pernah juga menjadi anggota
Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan peneliti di LIPI.
Sepuluh tahun di Australia, sejak 1971, ia mengajarkan bahasa dan
sastra Indonesia pada Salisbury College of Advanced Education, dan
pada Flinders University. Kembali ke Indonesia, Bagio diangkat sebagai
direktur muda penerbitan PN Balai Pustaka, 1981. Menikah dengan
Sumarni, ia kini ayah tiga anak. Bagio mengaku kurang suka berolah
raga. Tetapi, ia melakukan jogging, dan senang melihat senam.[]
_________________________________________________________________