Issues: Economy (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sat May 18 1996 - 07:02:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA07896 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sat, 18 May 1996 10:03:12 -0400 (EDT)

Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.apc.org Fri May 17 20:28 EDT 1996
Date: Sat, 18 May 1996 09:19:23 +1000 (EST)
From: apakabar@clark.net
MIME-Version: 1.0
Message-ID: <Pine.BSF.3.91.960518091901.10627I-100000@smople.thehub.com.au>
Subject: IN: Re - IPTN
To: apakabar@clark.net
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: TEXT/PLAIN; charset=US-ASCII
Content-Length: 4433

INDONESIA-L

Date: Fri, 17 May 1996 10:51:20 +0700 (GMT+0700)
From: wisnu am <wisnu@tpse1.pka.bppt.go.id>
To: apakabar@clark.net
Subject: Re: IN: Re - IPTN

> INDONESIA-L
>
> Date: Tue, 14 May 1996 15:23:14 +1000 (EST)
> From: Usmanto Njo <usmanto@coombs.anu.edu.au>
> To: apakabar@clark.net
> Cc: apakabar@clark.net
> Subject: Re: IN: Re - IPTN
 
> Sdr Wisnu Ali Martono,
>
> Saya termasuk yang kurang setuju dengan strategi lompat katak yang
> diprakarsai Pak Habibie, karena melompatnya cenderung terlalu jauh dan
> kemungkinan jatuh di tengah jalannya cenderung lebih besar daripada
> lompatan-lompatan lain yang lebih kecil dan manageable. Taruhlah
> teknologi agro-industri yang nota bene akan menguntungkan banyak sekali
> rakyat Indonesia, sebagaimana yang telah berhasil dicapai Thailand.

Anda yakin bahwa lompatan teknologi bidang agroindustri akan
menguntungkan banyak rakyat Indonesia? Perlu dilihat, apakah yang maju di
bidang agroi industri di Muangthai itu petani kecil, atau petani bermodal
kuat. Saya justru yakin kalau tenaga kerja di bidang pertanian kita
dikurangi, biarkan mekanisasi masuk ke sektor pertanian. Saya pikir,
kuliah the diminishing rate of return akan mudah menjelaskan logika saya.

> Atau
> juga teknologi farmasi, di mana sekarang ini Indonesia disebut mempunyai
> lahan subur bahan-bahan baku (misalnya, di hutan-hutan tropis kita),
> namun industri farmasi kita (dengan tersedianya pasar domestik yang sangat
> besar, sebetulnya) didominasi investor asing dengan ramuan-ramuan yang
> mereka jaga ketat kerahasiaanya.

Itu salah satu imperialisme baru. Dengan kedok property right. Mereka
cari bahan dari hutan kita, kemudian mereka protek dengan copy right,
jual lagi ke negara kita. Itu lah, pada dasarnya negara-negara itu egois
(kalau sudah bicara national interest).

Bahwa banyak yang dibenahi di sektor ini, terutama mata rantai distribusi
yang terlalu panjang, saya ikut mendukung.
 
> Toh, saya kagum juga dengan kegigihan Anda membendung cecaran pihak-pihak
> yang cenderung emosional. Dan saya rasa argumen-argumen Anda cukup
> memuaskan.

Saya tidak sedang membela siapa-siapa. Logika saya yang sedang saya
pertahankan. Perlu anda tahu lagi, saya nggak ada kaitan apa-apa,
terang-terangan atau terselubung, dengan IPTN.

> Saya ingin komentar Anda tentang feasibilitas IPTN yang sebenarnya.
> Mengapa laporan keuangan IPTN begitu tertutup?

Tertutup? Tertutup untuk siapa, dalam kapasitas apa?

> Mengapa untuk proyek yang sebesar dan sepenting ini tidak cukup ada
  informasi untuk rakyat?

Saya bukan lagi main pokrol. Tapi saya perlu tanya, rakyat itu siapa?
Yusfiq sendiri sudah bingung mendefinisikan rakyat. Dan buat saya, biar
nggak bingung, rakyat itu ya DPR lah. Terlepas dari kontroversi tentang
wakil rakyat itu apa (di luar skope posting ini), rasanya tidak benar
kalau IPTN tidak pernah bicara dengan rakyat. Kalau rakyat yang individu
200 juta orang, mungkin iya. Kalau anda mau menganjurkan agar IPTN
bicara sama 200 juta orang, ya terserah anda.

> Saya
> ingat Habibie pernah mengundang ekonom-ekonom Indonesia untuk berdiskusi
> (beberapa tahun yang lalu, tidak ingat persisnya) tentang proyek-proyek
> strategis Indonesia, termasuk IPTN. Sebenarnya ekonom-ekonom kita tidak
> keberatan dengan adanya proyek-proyek seperti itu, asalkan pelaksanaannya
> dibuat transparan. Nyatanya sampai sekarang transparansi itu tidak ada.

Definisi transparansi sendiri yang tidak jelas.

> Laporan atau studi yang ada (sangat sedikit jumlahnya), misalnya tulisan
> David McKendrick di Bulletin of Indonesian Economic Studies, cenderung
> menyimpulkan bahwa meskipun secara teknis IPTN berhasil mengakumulasi
> pengalaman dan tenaga kerja terlatih, toh secara finansial proyek ini
> merupakan suatu kerugian besar bagi ekonomi Indonesia, dengan expected
> returns yang tidak juga meyakinkan untuk masa depan yang jauh. Tolong
> dijelaskan.

Blunder para pengeritik selama ini, menyerang aspek teknologis. Mereka
lemah, kalau aspek ini yang diserang. Tidak ada yang meragukan, terutama
para ahli di bidang penerbangan, tentang kualitas pesawat buatan IPTN.

Aspek finansial, maksudnya? Mereka bisa betul. Tapi aspek ekonomis (yang
tidak selalu sama dg finansial ini?). Kalau anda seorang ekonom, akan
duduk bertahun-tahun cuma bicara aspek ekonomis.

> Usmanto

 Wisnu Ali Martono
Nggak ada kaitannya dengan IPTN