IN/BIO: TEMPO - Spardi Djoko Damono

From: apakabar@clark.net
Date: Mon Apr 22 1996 - 10:21:00 EDT


INDONESIA-P

   PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
     _________________________________________________________________
   
   SAPARDI DJOKO DAMONO
     _________________________________________________________________
   
   Solo, 20 Maret 1940
     _________________________________________________________________
   
   SD, Solo (1952)
   
    SMP II Negeri, Solo (1955)
   
    SMA II Negeri, Solo (1958)
   
   Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada,
   Yogyakarta (1964)
   
    Program doktor di Universitas Indonesia (dalam penyelesaian)
   
    Basic Humanities Program, Honolulu, Universitas Hawaii, AS
   (1970-1971)
     _________________________________________________________________
   
   Pengajar IKIP Malang cabang Madiun (1964-1968)
   
    Pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (1968-1974)
   
    Pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975- sekarang)
   Penyair, karya-karyanya: Kumpulan sajak: Duka-mu Abadi, Jeihan/Pustaka
   Jaya, 1969
   
    Mata Pisau, Puisi Indonesia/Balai Budaya, 1974
   
    Akuarium, Puisi Indonesia/Balai Pustaka, 1974 ; Perahu Kertas, Balai
   Pustaka, 1983
   
    Sihir Hujan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, 1984; Lainnya:
   Sosiologi Sastra, Pusat Bahasa, 1978
   
    Novel Indonesia sebelum Perang, Pusat Bahasa, 1979
   
    Tifa Budaya, ed., Leppenas, 1980
   
    Seni dalam Masyarakat Indonesia, ed., Gramedia, 1983
   
    Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Gramedia, 1983
     _________________________________________________________________
   
   Jalan Kalimantan 135, Depok 16421
   
   Fakultas Sastra UI Jalan Daksinapati Barat, Rawamangun, Jakarta Timur
   Telp: 485853 Penyair Sapardi Djoko Damono tiba-tiba menjadi jutawan.
   Kumpulan puisinya, Sihir Hujan, yang memuat 51 sajak, November 1983
   menerima anugerah ''Puisi Putra II'' dari Gabungan Persatuan Penulis
   Nasional (Gapena), Malaysia, dengan sponsor Bank Bumiputra. Hadiah
   uang yang diraihnya sebesar 15 ribu ringgit -- atau Rp 6,3 juta.
   
    Datang sendiri menerima hadiahnya, Pardi sempat malu hati ketika
   majalah Dewan Sastra Malaysia bertanya tentang jumlah hadiah sastra di
   Indonesia. ''Saya sebut saja sejuta, hadiah lomba majalah Femina,
   supaya kelihatan agak besar,'' katanya. Dosen Jurusan Indonesia FS UI
   ini lalu berangan-angan, suatu ketika hadiah sastra di Indonesia bisa
   mencapai Rp 10 juta. ''Gapena mampu menggaet sponsor, mengapa kita
   tidak?'' katanya.
   
    Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu
   mungkin mewarisi kesenimanan dari kakak dan neneknya. Kakeknya dari
   pihak ayah pintar membuat wayang -- hanya sebagai kegemaran -- dan
   pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak
   ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat
   sendiri. ''Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,'' ujar
   bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan
   kelemahannya, Pardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.
   
   Tetapi, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. ''Jadi
   dosen 'kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai
   petang,'' ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu
   meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang
   Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro,
   Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Pardi mengajar di FS
   UI.Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat
   pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Kemudian lahirlah
   kumpulan puisi Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau, dan Akuarium (1974).
   Sihir Hujan lahir ketika ia sedang sakit. Penyair bertubuh kerempeng
   itu juga menerjemahkan karya sastra asing, antara lain Lelaki Tua dan
   Laut (Ernest Hemingway), Daisy Manis (Henry James), dan Lirik Klasik
   Parsi; semuanya pada 1970-an. Kumpulan syairnya Perahu Kertas mendapat
   penghargaan Dewan Kesenian Jakarta, 1983.
   
    Para mengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan
   kematian. ''Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian
   dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,'' tulis
   Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.
   
    Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan
   kritik. Pardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di
   redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi:
   tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah
   ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.
   
    Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini
   juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah
   Pengantar Ringkas. (1978). Penggemar wayang kulit ini berputra dua
   orang. Kabarnya, begitu menerima hadiah sastra Rp 6,3 juta, ia
   langsung memborong buku.[]
     _________________________________________________________________