INDONESIA-P
PUSAT DATA & ANALISA TEMPO APA & SIAPA '85/86
_________________________________________________________________
SAPARDI DJOKO DAMONO
_________________________________________________________________
Solo, 20 Maret 1940
_________________________________________________________________
SD, Solo (1952)
SMP II Negeri, Solo (1955)
SMA II Negeri, Solo (1958)
Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta (1964)
Program doktor di Universitas Indonesia (dalam penyelesaian)
Basic Humanities Program, Honolulu, Universitas Hawaii, AS
(1970-1971)
_________________________________________________________________
Pengajar IKIP Malang cabang Madiun (1964-1968)
Pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (1968-1974)
Pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1975- sekarang)
Penyair, karya-karyanya: Kumpulan sajak: Duka-mu Abadi, Jeihan/Pustaka
Jaya, 1969
Mata Pisau, Puisi Indonesia/Balai Budaya, 1974
Akuarium, Puisi Indonesia/Balai Pustaka, 1974 ; Perahu Kertas, Balai
Pustaka, 1983
Sihir Hujan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, 1984; Lainnya:
Sosiologi Sastra, Pusat Bahasa, 1978
Novel Indonesia sebelum Perang, Pusat Bahasa, 1979
Tifa Budaya, ed., Leppenas, 1980
Seni dalam Masyarakat Indonesia, ed., Gramedia, 1983
Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Gramedia, 1983
_________________________________________________________________
Jalan Kalimantan 135, Depok 16421
Fakultas Sastra UI Jalan Daksinapati Barat, Rawamangun, Jakarta Timur
Telp: 485853 Penyair Sapardi Djoko Damono tiba-tiba menjadi jutawan.
Kumpulan puisinya, Sihir Hujan, yang memuat 51 sajak, November 1983
menerima anugerah ''Puisi Putra II'' dari Gabungan Persatuan Penulis
Nasional (Gapena), Malaysia, dengan sponsor Bank Bumiputra. Hadiah
uang yang diraihnya sebesar 15 ribu ringgit -- atau Rp 6,3 juta.
Datang sendiri menerima hadiahnya, Pardi sempat malu hati ketika
majalah Dewan Sastra Malaysia bertanya tentang jumlah hadiah sastra di
Indonesia. ''Saya sebut saja sejuta, hadiah lomba majalah Femina,
supaya kelihatan agak besar,'' katanya. Dosen Jurusan Indonesia FS UI
ini lalu berangan-angan, suatu ketika hadiah sastra di Indonesia bisa
mencapai Rp 10 juta. ''Gapena mampu menggaet sponsor, mengapa kita
tidak?'' katanya.
Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu
mungkin mewarisi kesenimanan dari kakak dan neneknya. Kakeknya dari
pihak ayah pintar membuat wayang -- hanya sebagai kegemaran -- dan
pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak
ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat
sendiri. ''Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,'' ujar
bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan
kelemahannya, Pardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.
Tetapi, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. ''Jadi
dosen 'kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai
petang,'' ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu
meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang
Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro,
Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Pardi mengajar di FS
UI.Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat
pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Kemudian lahirlah
kumpulan puisi Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau, dan Akuarium (1974).
Sihir Hujan lahir ketika ia sedang sakit. Penyair bertubuh kerempeng
itu juga menerjemahkan karya sastra asing, antara lain Lelaki Tua dan
Laut (Ernest Hemingway), Daisy Manis (Henry James), dan Lirik Klasik
Parsi; semuanya pada 1970-an. Kumpulan syairnya Perahu Kertas mendapat
penghargaan Dewan Kesenian Jakarta, 1983.
Para mengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan
kematian. ''Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian
dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,'' tulis
Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan
kritik. Pardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di
redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi:
tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah
ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.
Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini
juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah
Pengantar Ringkas. (1978). Penggemar wayang kulit ini berputra dua
orang. Kabarnya, begitu menerima hadiah sastra Rp 6,3 juta, ia
langsung memborong buku.[]
_________________________________________________________________