IN: 'Tragedi' Haryanto

From: apakabar@access.digex.net
Date: Sun Dec 24 1995 - 10:54:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

From: hmctamar@server.indo.net.id
Date: Fri, 22 Dec 1995 18:18:31 +0700
To: is-lam@isnet.org
Subject: Tragedi Haryanto Dhanutirto

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Rekan-rekan Isnetters, berikut ini saya poskan tulisan Saudara Nur Azis,
Koordinator Komite Pembela Kebenaran dan Keadilan, Rawamangun, Jakarta:
          

                        TRAGEDI HARYANTO DHANUTIRTO

                                    
   Dalam pekan-pekan ini Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto betul-
   betul babak belur. Ia dituding seolah-olah menjadi koruptor nomor satu di
   negeri ini. Koran tertentu seperti Suara Pembaharuan (milik Gereja),
   Jayakarta (satu Tauke dengan Suara Pembaharuan), Media Indonesia (milik
   Bambang Trihatmojo, tapi redaktur pentingnya mayoritas dikuasai orang
   Kristen/Katolik dan sekuler), Jawa Pos dan Merdeka (keduanya milik
   Pengusaha Eric Samolayang Kristen dan PT Grafiti Pers yang dikuasai
   kelompok Goenawan Mohammad tokoh sekuler dan sakit hati pada
   pemerintah karena pembredelan majalah Tempo ), terus-menerus
   menyerang Haryanto Dhanutirto tanpa mengindahkan azas cek dan cek
   ulang, sesuai kaidah jurnalistik.
   
   Harap dicatat ketika meletus kasus manipulasi kredit Bapindo sebesar 1,3
   Trilyun - korupsi terbesar yang pernah terjadi di sini - koran Suara
   Pembaharuan dan Jayakarta, diam seribu bahasa. Soalnya, disini jelas
   terlibat secara transparan tokoh-tokoh Kristen/Katolik seperti Sudomo,
   Sumarlin, dan Adrianus Moy. Memo-memo Sudomo terungkap oleh Pers,
   dan Sudomo secara terbuka menjadi juru bicara Edy Tanzil, sayangnya
   berkat pembelaan gigih dari Mensesneg Moerdiono, Sudomo maupun
   Sumarlin, selamat dari jaring hukum. Padahal kas negara bobol 1,3
   Trilyun. Ketika kini yang disorot adalah Haryanto yang tokoh ICMI, maka
   Suara Pembaharuan dan Jayakarta langsung menjadi koran yang seolah-olah
   sangat anti korupsi.
   
   Apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus Haryanto Dhanutirto ?
   
   1. Sejak menjadi Menteri Perhubungan, Haryanto Dhanutirto sangat
        banyak melakukan penertiban di Departemennya. Ia juga banyak
        memindahkan Pejabat yang kurang berprestasi. Contohnya, Direktur
        Utama Perumka, Supriyadi, dipindahkan karena banyak sekali
        kecelakaan Kereta Api. Terbukti setelah Direktur Utama itu diganti,
        kecelakaan kereta Api menurun sampai 40%. Sebenarnya Supriyadi
        seorang yang pintar, hanya tempatnya tak cocok sebagai Dirut
        Perumka. Maka Menteri Perhubungan mengusulkan Priyadi menjadi
        Staf Ahli (artinya eselonnya naik) dan menjadi dirjen di Departemen
        Koperasi. Kini Supriyadi menjadi Dirjen di Departemen Koperasi
        atas usulan Haryanto Dhanutirto itu.
   
        Seorang pegawai eselon tiga, dicopot Menteri Perhubungan, karena
        terbukti sangat kaya, sampai memiliki mobil eks KTT yang harganya
        ratusan juta rupiah. Dirut Merpati, Ridwan F juga dicopot karena
        ternyata Merpati merugi terus-menerus, sejak tahun 1991. Merpati
        pada yahun 1992 rugi Rp 20 milyar, tahun 1993 rugi Rp 30 milyar,
        tahun 1994 rugi Rp 65 milyar, tahun 1995 rugi Rp 63 milyar. Malah
        tahun 1996, BUMN sudah diproyeksikan rugi sampai Rp 200 milyar.
        Ridwan diusulkan oleh Haryanto kepada Menteri Keuangan agar
        dicopot, tapi tak dikabulkan. Sementara itu, Ridwan yang tahu usul
        atasannya itu, segera membuat manuver. Ia mengatakan kepada Pers
        perusahaannya rugi karena dipaksa Menteri Haryanto harus membeli
        Pesawat CN 235 dari IPTN. Padahal setelah diteliti, kerugian itu
        karena penggunaan jam terbang pesawat yang tak efisien (sangat
        rendah) serta pemeliharaan Pesawat yang tak beres sehingga
        mengakibatkan pesawat terbang tak bisa terbang.
   
        Ternyata jam terbang pesawat CN 235 pada 1992 cuma dua
        jam/hari, tahun 1993 cuma 2,3 jam perhari, dan tahun 1994 cuma
        2,3 jam perhari. Selain itu dari 14 pesawat CN 235 cuma tujuh
        pesawat yang bisa terbang. Apakah itu karena pesawat buatan IPTN
        itu berengsek ? Ternyata tidak. Buktinya, dari 5 pesawat ATP buatan
        Inggris yang dimiliki Merpati, cuma 2 buah saja yang bisa terbang.
        Dari situ jelas, yang tak beres adalah sang Dirutnya sendiri.
        Anehnya, Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad tak mau
        mencopotnya syukurlah, belakangan Menteri Mar'ie Muhammad
        terpaksa juga mencopot Ridwan yang sempat dijadikan pahlawan
        oleh koran Media Indonesia, Kompas dan Suara Pembaharuan
        setelah terbukti dia "ada main" dengan sekretarisnya itu yang
        membuat berang Menteri Mar'ie Muhammad.
   
   2. Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto oleh alasan yang mirip
        mengusulkan agar Inspektur Jenderal Departemen Perhubungan
        Mayor Jenderal Muslim Masewa diganti. Penggantinya tentu saja
        pejabat dari ABRI juga. Ternyata usul itu mandeg, karena sang Irjen
        dibela oleh kepala BAKN Soenarko dan Irjenbang Kentot Harseno.
        Mereka bertiga itu teman satu kelas dulu. Maka mereka bertigapun
        balik menyerang Menteri Perhubungan. Dan secara politik, Kentot
        Harseno bekas Pangdam Jaya yang Katolik itu memang termasuk
        kelompok sakit hati. Ambisinya dulu untuk menjadi Gubernur
        Jakarta gagal terwujud, meskipun dia sudah mengaku mengubah
        agamanya menjadi Islam dan sudah masuk keluar Mesjid. Soalnya
        semua orang tahu, Kentot Harseno adalah anak kesayangan bekas
        Pangab LB Moerdani. Dulu setelah Try Sutrisno (kini wakil
        Presiden) menjadi Kasdam Sriwijaya, jabatannya sebagai ajudan
        Presiden, mestinya diganti oleh Hartono (kini Kasad). Hartono malah
        sudah bersiap-siap dengan jabatan barunya, tibatiba serah terima tak
        jadi karena Jenderal LB. Moerdani campur tangan, memasukkan
        Kentot Harseno, menjadi pengganti Try Sutrisno sebagai ajudan
        Presiden.
   
   3. Maka berdasarkan bahan-bahan dari Irjen Muslim Masewa,
        Irjenbang Kentot Harseno membuat surat laporan kepada Presiden
        Soeharto. Isi surat ternyata sebagian besar adalah fitnah yang keji.
        Surat itu juga sangat emosional. Tak layak sebagai surat dinas
        seorang Irjenbang kepada Presiden. Di surat itu, misalnya, dituding
        Menteri Haryanto Dhanutirto yang seorang Ph.D tamatan Prancis,
        sebagai bodoh, arogan dan sebagainya. Haryanto Dhanutirto diejek
        sebagai Meneer Van Danoe, dan sebagainya. Sadar kalau laporan
        fitnahnya akan terbongkar kalau kelak diperiksa dengan teliti, maka
        surat kepada Presiden itu sengaja dibocorkan ke masyarakat luas
        dalam bentuk foto copy. Bila diamati foto copy surat itu ada tertulis
        "arsip" tanggal 10 Oktober 1995 yaitu tanggal surat itu di buat.
        Artinya foto copy surat yang beredar itu tak lain dari arsip si
        pembuat surat sendiri, dalam hal ini, Kentot Harseno. Lalu koran
        seperti Media Indonesia, Jayakarta, dan Suara Pembaharuan, segera
        menyebar luaskan foto copy itu sebagai berita besar tanpa melakukan
        pengecekan isinya. Berita itu bertambah meluas, setelah menteri
        sekretaris Moerdiono, yang sudah lama sangat anti ICMI dan anti
        kelompok Habibie karena cemburu dengan prestasi Habibie,
        sementara paling ia cuma bisa berdangdut dan dekat dengan sejumlah
        artis cantik membumbuinya dengan keterangan pers. Tanpa
        mengindahkan asas praduga tak bersalah, Moerdiono kasih
        keterangan kepada pers bahwa sebagian surat dari Kentot Harseno
        itu punya kebenaran. Tak jelas, bagian mana dari surat fitnah itu
        yang benar. yang jelas pernyataan itu tentu sudah menjadi tuduhan
        terhadap Menteri Perhubungan. Anehnya, Moerdiono dulu mati-
        matian membela Sudomo dan Soemarlin, meski sudah jelas foto copy
        katebelece Sudomo bertebaran, dalam kasus skandal Rp 1,3 trilyun
        Edy Tanzil di Bapindo.
   
   4. Sekarang baiklah diperiksa, mana bagian dari surat itu yang benar.

        A. Di surat itu disebutkan bahwa Haryanto Dhanutirto memiliki
             rumah besar di Lembang, tanah berhektar-hektar di Lembang
             dan Subang. Sebenarnya, seandainya pun tuduhan itu benar,
             apalah artinya rumah di dusun seperti Lembang, Bandung,
             dibandingkan dengan tiga rumah Sudomo di kawasan paling
             mahal Jakarta, di Pondok Indah.
   
             Tapi ternyata tuduhan itupun fitnah besar. Haryanto
             Dhanutirto memang punya delapan hektar tanah di Lembang,
             dan sebuah rumah besar diatas tanah satu hektar, kemudian
             enam hektar tanah di Subang yang dijadika kolam ikan. Tapi
             tanah dan rumah itu, sebagian besar dibelinya secara
             berangsur sejak tahun 1969. Tanah yang ditanami jeruk,
             pemeliharaan ulat Hongkong dan kolam ikan itu, tentu
             memberi hasil yang tak sedikit bagi keluarga Haryanto
             Dhanutirto. Karena itu asetnya disana memang berkembang
             terus. Maka sejak ia menjadi Menteri, Maret 1993 tanahnya
             itu cuma bertambah sekitar 3 hektar saja. Rumah besar dan
             tanah berhektar-hektar milik Haryanto Dhanutirto itu, sudah
             disiarkan koran Republika, ketika menuliskan profil Haryanto
             Dhanutirto yang diangkat sebagai Menteri Perhubungan dalam
             kabinet baru oleh Presiden Maret 1993. Jadi kalau masih tak
             percaya silahkan cek koran Republika edisi Maret 1993.
   
             Bagaimana Haryanto bisa memiliki tanah seluas itu ? Tak
             aneh, soalnya sejak 1966, Haryanto Dhanutirto telah menjadi
             Direktur pabrik tekstil di Bandung milik mertuanya.
             Mertuanya bekas direktur Bank Industri, adalah seorang
             pengusaha. Ayah Haryanto sendiri adalah seorang dokter di
             daerah elite Jakarta.
   
        B. Dalam surat Kentot Harseno disebutkan Haryanto punya
             lapangan golf. Ternyata di rumahnya di Lembang itu cuma
             ada green alias lapangan golf mini yang biasa ditemukan yang
             biasa ditemukan di rumah-rumah para pecandu golf di Jakarta.
             Memang disamping rumah ada lapangan golf seluas 36 hektar,
             tapi itu adalah lapangan golf milik SESKAOU. Jadi tanpa
             mengecek Kentot Harseno dalam laporannya kepada Presiden
             itu main hantam kromo saja dengan sangat emosional.
   
        C. Ditulis Kentot Harseno bahwa Haryanto Dhanutirto telah
             melakukan pungutan liar terhadap BUMN di Departemennya.
             Pungutan itu seluruhnya bernilai Rp 9 milyar. Ternyata data
             yang diperoleh Kentot Harseno dari Irjen Perhubungan itu
             adalah data mentah dan itupun cuma sebagian. Yang
             sebenarnya pungutan itu berjumlah sekitar Rp 12 milyar.
   
             Tapi pungutan dimaksud adalah pungutan yang sudah masuk
             di dalam RKA (Rencana Kerja Anggaran) yang sudah disetujui
             Menteri Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan, dan
             sudah melalui Rapat Umum Pemegang Saham BUMN-BUMN
             itu. Sebagian diantaranya adalah malah sudah diakui oleh
             BPKP. Soalnya dana itu bukan untuk kocek Menteri Haryanto
             seperti dituduhkan Kentot Harseno, melainkan untuk keperluan
             yang jelas di Departemen itu. Antara lain : 1. Pameran Jakarta
             Aero Sport. 2. Seminar klarifikasi Maritim trafics. 3. Rapat
             pemantapan RKA. 4. Biaya operasional pemindahan kantor
             Dirjen, khusus untuk alat-alat sensitif penerbangan. 5.
             Penyelenggaraan Pelra Race. 6. Pembangunan sarana olah
             raga panjat dinding Pelni. 7. Sidang WGOC RI - Belanda. 8.
             Dan yang terbesar adalah PPI 1995, sebesar Rp 4,5 milyar.

        D. Dilaporkan Kentot bahwa ada pungutan U$ 250 ribu dari
             Perumka untuk perbaikan rumah Haryanto Dhanutirto.
             Ternyata Perumka sendiri sudah membantah adanya pungutan
             yang dituduhkan Kentot Harseno itu.
   
        E. Dilaporkan Kentot Harseno bahwa tender FAT 58
             dimenangkan oleh teman Haryanto Dhanutirto secara tidak
             jujur karena campur tangan Menteri Haryanto. Anehnya,
             bagaimana mungkin teman Menteri Haryanto dimenangkan,
             padahal proyek itu sendiri belum diputuskan dimenangkan oleh
             siapa. Proyek itu masih dalam proses.
   
        F. Dalam kasus variasi order disebutkan atas campur tangan
             Menteri Haryanto Dhanutirto, pengusaha diuntungkan Rp 50
             milyar. Ternyata itu fitnah lagi, sebenarnya dalam kasus itu
             terjadi pertentangan antara Sekjen dan Irjen Departemen
             Perhubungan. Maka pengusaha mengadu ke BPKP. Setelah
             diperiksa BPKP akhirnya BPKP memutuskan agar pengusaha
             itu di bayar Rp 50 milyar. Bahkan belakangan BPK pun
             memperkuat keputusan BPKP itu. Semua itu ada dokumen
             tertulisnya.
   
        G. Yang jelas, Menteri Haryanto Dhanutirto beberapa kali
             berhasil menekan nilai proyek sehingga menguntungkan
             pemerintah. Sekedar contoh, berkat campur tangan Haryanto
             Dhanutirto nilai proyek FAT 58 itu turun sebesar U$4 juta.
             Dulu plafon A hanya untuk 24 kereta, kini plafon A menjadi
             sekitar 60 kereta. Hal itu malah membuat ketar-ketir pejabat
             yang lama soalnya kalau BPKP sampai turun memeriksa kok
             dulu bisa begitu mahal ?
   
        H. Pengusaha (pribumi) Indra Bakrie disebut bisa mendapat
             proyek pesawat Haji tahun lalu dengan menggunakan pesawat
             di bawah tahun 1980. Ternyata pengusaha Indra Bakrie saja
             tak ikut tender pesawat Haji tahun lalu, bagaimana ia
             menggunakan pesawat dibawah tahun 1980 sesuai (ketentuan)
             untuk pesawat Haji ? Disinilah fitnah-fitnah itu bertambah
             jelas.
   
   5. Dari uraian diatas, jelas sekali fitnah telah dilancarkan terhadap
        Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto, karena dia dianggap
        Kentot Harseno sebagai pengurus teras ICMI yang harus
        dimusnahkan dengan cara fitnah yang keji dan berani. Karena
        tampaknya fitnah itu akan segera terbongkar bila diteliti dengan
        akurat, maka laporan fitnah itu di bocorkan masyarakat luas dalam
        bentuk foto copy dan segera disebarluaskan oleh Media Indonesia,
        Suara Pembaharuan dan Jayakarta. Dengan demikian berhasil
        dibangun opini bahwa Haryanto Dhanutirto seorang koruptor,
        sehingga akan menjadi korban ditengah semangat masyarakat yang
        sangat anti korupsi. Mereka harapkan masyarakat tak lagi kritis dan
        segera terpengaruh pada pemuatan foto-foto dan berita tentang tanah
        Haryanto Dhanutirto di Lembang dan Subang Jawa Barat. Tanpa
        menjelaskan bahwa sebenarnya tanah dan rumah itu sudah dimiliki
        oleh keluarga Haryanto Dhanutirto sebelum ia menjadi Menteri.
   
   6. Kalau opini publik yang sangat anti korupsi sudah terbentuk bahwa
        Haryanto seorang koruptor, maka demonstrasi-demonstrasipun
        diterapkan untuk menendang Haryanto Dhanutirto dari Kabinet.
        Andainyapun terbukti belakangan dan ini memang sudah terbukti
        bahwa yang dituduhkan terhadap Haryanto Dhanutirto adalah fitnah
        belaka, opini publik yang sudah terbentuk akan tetap memojokkan
        Haryanto Dhanutirto. Rekayasa canggih inilah yang tampaknya
        dilancarkan terhadap Haryanto Dhanutirto, dibantu oleh pernyataan
        Mensesneg Murdiono, serta korban Media Indonesia, Suara
        Pembaharuan dan Jayakarta. Koran Katolik Kompas tak ikut dalam
        permainan ini karena sedang direpotkan oleh surat Kiai Haji Hamid
        Baidlawi dari Pesantren Lasem Jawa Timur, yang membongkar
        betapa Kompas dan PT. Gramedia, Penerbit Kompas memberi uang
        Rp 600 juta kepada Abdurrahman Wahid, untuk membeli Kompas
        Group dalam kasus pembredelan Tabloid Monitor.
   
        Setidaknya dengan rekayasa ini citra pejabat koruptor kakap yang
        selama ini disandang Sudomo dan Sumarlin - karena kasus Edy
        Tanzil Rp 1,3 trilyun - bisa dialihkan Menteri ICMI semacam
        Haryanto Dhanutirto.
   
   7. Sebenarnya Pemerintah mestinya mengusust laporan fitnah itu, apa
        latar belakangnya, setelah terbukti bahwa Menteri Haryanto
        Dhanutirto bukanlah seorang koruptor. Pengusutan itu sebenarnya
        tak sulit karena dalam foto copy yang beredar itu jelas ada catatan
        sebagai arsipnya Kentot Harseno. Dari sanalah mestinya pengusutan
        dilakukan. Menurut Murdiono, ia sudah memerintahkan pengusutan
        itu. Tapi banyak orang meragukan secara langsung atau tak
        langsung, Murdiono tampaknya berpartisipasi dalam kasus ini,
        melalui keterangan persnya yang tak mengindahkan asas praduga tak
        bersalah itu.
   
        Rupanya di era globalisasi dan pers bebas ini fitnah keji sudah
        dijadikan sarana untuk menghantam lawan. Masya-Allah.